Istana Pasir II

Istana Pasir II
Setiap hari jantung di sayap pisau


__ADS_3

Pandangannya semakin kabur, buram tidak fokus melihat jarak jauh. Di usia muda yang di rundung duka kepahitan. Wanita itu belum bisa mengikhlaskan apa yang telah menimpanya. Setiap hari hanyalah pertengkaran, amarah, tangisan dan ingin berpisah. Di usia kehamilan ketiga, dia lebih sensitif merasakan dunia kejam menghunus jantung.


Mendengarkan suara dengkuran pria yang tidak berguna itu. Dia bahkan tidak memikirkan besok anak dan istrinya harus memulai hari seperti apa. Sepertinya dia akan membiarkan anak dan istrinya mati kelaparan. Bilqis mengguncangkan tubuh membangunkan Darma. Mata merah menyala menarik selimut bergerak membelakangi.


“Mas, beras habis. Bahan pangan kosong, susu anak mu juga habis. Aku juga harus peksi besok mas.”


“Berisik! Itu di dompet ada dua ratus ribu. Kamu ngutang aja di kedai, masalah peksi kan kamu mandiri. Besok aku ada lembur, lagian hari tua belum gajian udah minta uang!”


Setelah mengomel, dia secepat kilat mendengkur keras. Bilqis berlari ke dapur, dia mengambil pisau menahan lagi amarahnya yang berniat membunuh pria di hadapannya. Apakah ini yang di sebut ayah dan seorang suami? Dia benar-benar menguji tanpa memperdulikan nasib mereka.


Kembang kempis nafas bu Upik melihat Bilqis mengambil bahan dagangannya. Baru saja warungnya sepi, banyak para pelanggan membayar cash. Beberapa dari yang lainnya membayar setengah, di dalam catatan bon Bilqis menunggak selama tiga bulan.


“Lepaskan belanjaan mu Bilqis, tunggu kau bayar hutang mu baru bisa kau berbelanja lagi..” ucap Upik kasar bernada kuat di dengar para pembeli.


Wajah Bilqis bagai tertampar, dia sangat malu di dalam menahan tangisannya yang mulai meneteskan air mata. “Maaf ya kak, bulan depan kalau suami ku gajian pasti aku bayar.”


Dia mengusap perut, mempercepat langkah agar sampai ke rumah. Hari ini tidak jadi peksi, uang yang di berikan Darma hanya cukup membeli susu formula, beras dan mengganti tabung gas yang kosong.


Hari ini lauk menggunakan bawang merah di siram air hangat sebagai pengganjal perut. Dia sudah berpesan pada bu Dila agar ibunya jangan rajin mengirim makanan. Dia ingin belajar mandiri mengurus rumah tangganya.


“Ibu tidak akan mendapatkan keuntungan kalau setiap hari mengirimi ku makanan. Semoga bu Dila menyampaikan pesan ku tadi” gumam Bilqis.


Hari ini, acara keluarga besar di gelar di rumah ibunya. Darma seperti biasa memasang wajah dua berpura-pura baik di depan Bilqis. Dia memberikan perhatian, seolah sangat memperhatikan semua keperluan anak dan istrinya.

__ADS_1


“Sudah sampai kak? Yuk masuk, kamar khusus untuk kakak di rumah ibu tidak pernah ada yang menempatinya” ucap Risa tersenyum sambil menggendong bayinya.


“Wah-wah Wawan sudah besar ya, sini ibu peluk” Bilqis mengusap rambutnya.


Tidak terasa hari cepat berganti, kedekatan Tomi dengan Nani menuju ke jenjang lebih serius. Anak nomor tiga yang sulit tersenyum dan takut mendekati wanita itu tiba-tiba saja ingin melamar anak pak kepala desa.


“Jadi benar abang mau menikahi Nani? Bukankah setau kami kalau Nani adalah sahabat dekat kak Widya? Wanita yang sangat baik dan sopan.”


“Benar Bilqis, tapi pilihan hati abang bulat ke Nani. Do’akan acara abang nantinya lancar ya..”


Bilqis dan Risa hanya bisa saling menatap tanpa berani membuka suara. Keramaian rumah di tambah kehadiran Dodon dan Naya, pecahan botol anak-anak mereka di giring masuk bersama teriakan Minten dan Naya yang kesulitan mengatur anak-anak mereka. Dodon memberikan sebuah bungkusan untuk Bilqis, dia tau kesukaan adiknya kalau mengidam yaitu buah mangga yang asam.


“Terimakasih bang..”


Glekk__


Pihak-pihak keluarga yang mulai mengetahui belang pria itu memberikan sindiran pedas dan lirikan tajam. Dia menahan tangan memukul wajah adik iparnya itu. Para saudara kandung Bilqis tidak mau mengubah suasana rumah menjadi panas akibat ulah pria itu.


“Ini bawaan anak bang, Bilqis jadi males ngapa-ngapain. Mau makan juga mual..”


Tidak heran lagi kalau melihat Marina pasti selalu membawa peralatan menginang dan benda-benda berbau mistis. Di atas tikar berukuran kecil, dia menggiring cucu-cucunya untuk mengantri menunggunya memberikan mangkuk-mangkuk yang berisi darah.


Lysa merangkak memungut sebuah benda berukuran biji merica. Dia menelan bulat-bulat, karena tersangkut di kerongkongan. Bayi itu menangis memegangi leher. Bilqis menepuk punggung, dia terus menerus memukul dan memijat sampai anaknya berhasil memuntahkan biji yang hampir tertelan. Hal yang mengejutkan melihat wajah Marina tersenyum mengacungkan jempol.

__ADS_1


“Bu, cucu mu mau pingsan kok malah di senyumin saja?”


“Itu cucu pihak besan ku yang top! Dia sanggup menelan bahan ramuan ilmu kekebalan! Tidak apa-apa kalau tadi sempat masuk melewati kerongkongannya. Anak mu langsung mempunyai ilmu penjagaan tubuh!”


“Jangan bu, Bilqis bawa Lysa ke kamar ya..”


Anak-anak kecil yang tersisa di depannya sibuk menonton cara dia menabur ke asap beraroma asing di hidung. Ada Rusli, Soni, Diki, Sincan, Tami, Erli, Raka dan Riki. Naya berpura-pura belum memberi makan anak-anaknya. Dia menolak anaknya mengikuti ritual Marina dengan sikapnya yang terbaca. Sama seperti Minten yang memanggil anaknya dari dapur. Sekarang di depannya cucu kontan dari anaknya Adit, dia mulai memberikan masing-masing cangkir yang berisi darah.


“Opung mau lihat siapa duluan yang bisa menghabiskannya” ucapnya sambil tersenyum.


Dua anak kecil yang tidak tau kalau itu adalah darah ayam hitam, meneguk sesekali membalas senyuman Marina. Tahan selanjutnya memakan ingkung ayam, pada tidak daging harus di cubit sendiri dengan jari tangan.


“Risa, kakak khawatir sama dua keponakan kakak.”


“kakak tenang aja, justru pikiran kakak lebih tenang. Bu Marina kan dukun hebat di kampungnya, ak tau dia berniat melindungi cucunya.”


Dua makhluk tunduk mengikuti perintah Marina. Seumur hidup hingga dia tiada, makhluk-makhluk itu menjadikan dua cucunya sebagai tuan yang harus di jaga. Raka dan Riki mulai terbiasa mengkonsumi darah, ayam setengah mentah yang masih mengeluarkan darah dan darah beku yang rebus.


Raka lebih sering mengeluarkan keringat seperti orang baru membajak sawah. Setiap malam kedua anak Risa seolah sedang bermain dengan teman khayalannya.


“Raka, Riki cepat tidur. Kalian sudah melihat nenek Hani belum? Dari tadi nenek memanggil kalian.”


Keduanya berlari mencari Hani, baju hangat hasil buatan tangan yang baru saja selesai sangat pas di pakai. Hani tersenyum melihat kedua cucunya itu. Saat dia akan mengangkat Riki, berat badan anak kecil itu seperti berat orang dewasa.

__ADS_1


“Kenapa ini! aku tidak sanggup mengangkatnya. Apa yang di lakukan Marina? Aku merasakan ada makhluk lain yang bersembunyi di dalam tubuh Raka dan Riki. Aroma khas mereka seperti orang tua” gumam Hani menurunkan Riky dan Raka.


__ADS_2