
Teriakan itu lagi,dan kali ini terdengar pecahan kaca,sepertinya di lempar,dan sesaat terdengar suara anak laki laki menangis,"mama jangan pergi",anak itu seperti memohon.
"Mama jangan pergi,aku mohon ma,aku masih butuh mama,aku ga mau hanya sama papa ma,papa selalu pergi keluar kota,aku sendirian ma dirumah kalau mama tidak ada,aku takut ma".
Anak laki laki itu terus menghiba memohon belas kasihan mamahnya,tapi mamanya tidak bergeming. "Bilang sama bapak mu itu jangan pernah mencari aku,aku sudah bosan hidup miskin".Sambil melepaskan kakinya dari tangan si anak dengan kasar,ibu itu berlalu dengan tas yang besar,meninggalkan anak laki laki tadi sendirian, sementara sang ayah masih berada di luar kota.
Ayah anak laki laki itu seorang kurir mobil box yang mengantarkan barang keluar kota,dan sekarang tinggal anak laki laki itu sendiri di kontrakannya.
__ADS_1
Terdengar langkah kaki menuruni tangga dengan tergesa gesa,dan bisa ku pastikan itu pasti langkah kaki si ibu tadi.
Sebentar saja suara langkah kaki itu menghilang,ayah dan aku lalu mencoba mengintip di depan pintu dan melihat kearah atas,tampak sang anak laki laki masih menangis di depan pintu rumahnya
Kami saling pandang,mungkin ayah mengerti maksudku,lantas kami pun naik ke atas menghampiri anak itu.
"Sudah sayang jangan menangis lagi ya,sekarang kamu ke rumah ayah saja,kamu boleh tinggal dirumah ayah sampai papa mu pulang".
__ADS_1
Kami pun turun,sebelum menutup pintu ayah melihat ke arah atas,tapi anak itu masih terus menangis. "Ayo masuk,biarkan saja dulu Raysa menenangkan diri ya,sebentar lagi coba kamu bujuk". " Baik ayah",sahut ku sambil ikut melihat kearah atas.
Anak laki laki itu bernama Raysa.mereka baru seminggu menjadi penghuni kontrakan pak Sumaryo.Kontrakan pak Sumaryo hanya empat pintu.Tapi pak Sumaryo membuat seperti rusun,bagian bawah tempat parkir mobil dan motor.
Kami sudah tinggal disini lumayan lama,malah pak Sumaryo tidak mengizinkan kami pindah karena sudah menganggap kami seperti saudara.
pak Sumaryo seorang perantau,beliau sebatang kara di sini.Dulu beliau susah,sanak saudara tidak mau mengakui beliau,tanpa sengaja bertemu dengan ayah,ayah mengajak pak Sumaryo ke warung nasi nya sekaligus rumah bagi kami.Dari sanalah ayah dan pak Sumaryo berteman,ternyata pak Sumaryo lulusan S1 di sebuah universitas swasta.Sayang nasib baik kala itu belum menghampiri pak Sumaryo.Hanya enam bulan pak Sumaryo bekerja membantu ayah akhirnya pak Sumaryo mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan di bidang properti.
__ADS_1
Setelah pak Sumaryo mapan,bahkan bisa mendirikan perusahaan sendiri di bidang properti, dan bisa membangun kontrakan yang sekarang aku tinggali.
Pernah ayah berniat untuk membeli kontrakan yang kami tinggali itu,tp pak Sumaryo tidak mau,katanya itu memang dia peruntukan untuk ayah,karena warung ayah sama kontrakan tidak jauh.Alhasil kami tinggal disini secara gratis,hanya listrik saja yang kami bayar.