
Beberapa tahun berikutnya
yeah....akhirnya aku masuk SMP juga dan kakak Raysa di SMA.Kami bersekolah di sekolah yang sama.Sekolah Tunas Mulia.Dari SD,SMP,SMA semuanya dalam satu lingkup yang sama.
Hari ini awal pertemuan antara murid,guru dan orang tua.Aku melanjutkan sekolah di sini karena selain ayah tidak perlu repot mencari sekolah baru nilai ku juga tidak begitu bagus hehe.Kalau untuk keluar mencari SMP lain mungkin akan banyak pesaingnya.
Seperti yang sudah sudah para orang tua selalu membanggakan prestasi anak nya,sedangkan ayah hanya senyum saja menanggapi ocehan salah satu orang tua murid yang memamerkan nilai anaknya yang selalu tinggi.
Kadang ayah pernah protes dan menyuruh ku untuk rajin belajar dan minta di ajari oleh kak Raysa,secara kak Raysa memang di anugrah kan otak yang encer selain wajah yang tampan.
Kak Raysa bukan hanya sebagai idola di SMA saja tetapi di SMP juga.Para cewek cewek selalu ingin menjadi pusat perhatian kakak.
Entah berapa pucuk surat cinta yang kakak terima.Seperti hari ini ada sekitar lima surat cinta dan sekotak coklat.
"Kak dapat surat cinta lagi ya,dan ini apa kak,aku boleh liat ga".Aku membolak balik kotak bingkisan yang kakak berikan."Buka saja,paling isinya coklat"."Beneran kak,boleh ku buka",sahutku semangat.Ternyata benar isinya coklat.Kalau dilihat dari harga lumayan mahal ini coklatnya."Kak,kakak mau,sini aku suapin"."Ga usah kamu makan aja"."Alhamdulillah kalau gitu,hehe".
"Kak surat cintanya boleh aku baca ga,penasaran nih dengan isinya.Heran udah ada hp tapi masih aja kirim surat cinta,mungkin biar bisa buat disimpan kali ya kak,trus dibaca baca waktu mau tidur".Aku membayangkan kalau aku mendapatkan surat cinta,pasti aku seperti orang gila yang tertawa sendiri.
"Aduh....sakit kak,jangan di sentil hidungnya,nanti hidung ini hilang dari wajah ini siapa yang mau lagi,sudah lah muka pas pasan begini".Rengek ku ketika kak Raysa menyentil hidungku.
"Makanya jangan ngebayangin yang tidak tidak,bagus lah kalau hidungnya masuk kedalam,kan tambah ga ada yang suka ".
"Kakak tega ya,kakak mau aku jadi perawan tua,dih amit amit kak".Jawabku sambil melotot.
"Yang bilang kamu mau jadi perawan tua siapa,sekarang mikir pelajaran dulu,tuh liat nilai kamu,apa ga bisa tuh telor di pecahin.betah banget dapat telor".
"Siapa bilang pelajaran matematika ku telor semua kak,nih liat,telornya sudah pecah tau,nih liat sekarang nilai ku lima,hehehe.."
"Dapat lima bangga".Sekali lagi kak Raysa menyentil hidung ku."sakit kak",rengek ku lagi.
"Liat saja ya,kalau ga ada yang mau sama aku,kakak harus tanggung jawab"."Dih...malas banget",balas kak Raysa seraya berlari meninggalkan aku.
Bib...bib..WA ku berbunyi,ku lihat layar hp.Ini no siapa ya,batin ku."Hai...Masih ingat ga sama gue,gue Fandi".Begitu bunyi chat yang masuk dengan nomor yang tak ku kenali.Fandi...Fandi mana ya sepertinya aku lupa,sambil berusaha mengingat ingat kejadian dulu.
"Maaf Fandi yang mana ya,sorry gue lupa"."Yakin lu lupa sama gue,boleh gue ingetin lagi"."Ya boleh lah,makanya gue tanya,ini Fandi yang mana,teman sekelas gue ga ada yang namanya Fandi".
"gue bukan teman sekelas lu kok,dan kita juga ga pernah satu sekolah dulu.Tapi sekarang kita satu sekolah tau,cuma gue kakak kelas lu".
"Udah deh ya gue males muter muter,kalau lu ga kasih tau siapa lu , nomer lu gue blok".Ancam ku.Sebenarnya aku malas meladeni seperti ini.
"Ok ok ...jangan marah dulu,gue yang dulu tangannya lu gigit.Sekarang lu dah ingat belum".
"Nah kalau begini gue ingat,mau apa lu".Jawab ku." "Astaga,galak amat neng,sebagai kakak kelas lu harus hormat sama gue".Kata Fandi lagi."Idih ogah banget gue hormat sama lu.emangnya lu pahlawan yang harus di hormati".
"Btw lu dapat no WA gue dari siapa".Tanyaku,karena setahu ku aku ga pernah kasih nomor WA ke siapa pun kalau bukan ke yang bener dekat.
"Dari Dinda,ketua kelas lu".Jelasnya."Emang Dinda siapa elu,enak aja ngasih nomor gue ke sembarang orang".Aku protes.Emang Dinda punya nomor hp aku sih karena dia ketua kelas,jadi dia mengambil data dan nomor hp semua siswa di kelas.
"Tenang,tenang.Dinda itu sepupu gue.Tadinya gue ga percaya dengan penglihatan gue kalau lu sekolah di sekolah yang sama sama gue"."Lah trus kenapa lu girang banget,lu mau balas dendam ya,sorry mas bro gue tetep ga takut ama elu".Sahut ku.
"Siapa yang mau balas dendam,malah gue seneng satu sekolah dengan lu".
__ADS_1
"Sudah ah gue mau tidur,gue ngantuk,kalau ada yang perlu besok aja ngobrolnya".Sebelum sempat di balas chat nya oleh Fandi,hp langsung ku off kan.
Apalagi si Fandi itu,udah ga dekat Ama dia sok akrab lagi,semenjak tangannya ku gigit,ga terdengar lagi kabarnya.
Dulu waktu kami kecil rumahnya kan emang dekat dengan warung ayah,dan aku sering main di taman karna itu kami selalu ketemu di taman.Tapi semenjak ada kak Raysa aku lebih suka bermain dirumah dengan kak Raysa,dari pada sama anak anak manja yang ujung ujungnya berantem.
Senang sekali hari ini,pakai baju seragam SMP.Ternyata aku sekarang sudah remaja.
Ternyata menjadi remaja itu tidak seperti yang di bayangkan ya.Salah satu yang bikin mengelus dada yaitu tugas sekolah,Belum lagi pelajarannya yang menurutku kenapa harus di pelajari semua.Apalagi dengan pelajaran matematika.Ya Allah kenapa harus ada sih pelajaran matematika di dunia ini.Otak ku yang beku aja tambah beku di kasih soalan model begini.
Mau tidak mau aku harus ke atas,biasa meminta petunjuk kepada suhu.
Buku dan tugas ku masukan ke dalam tas kain dan aku langsung menaiki tangga menuju rumah kak Raysa.
Sebelum aku mengetok pintu,terdengar sayup sayup obrolan kak Raysa dengan pak Tono.Ternyata pak Tono ada di rumah.Ya udah kalau begitu nanti saja aku balik lagi.Tetapi pembicaraan nya kenapa serius ya.
Aku bukan niat menguping pembicaraan orang,tetapi ini tanpa di sengaja.
Tanggung ku coba menempelkan telinga ku di daun pintu,agar bisa mendengar lebih jelas.
"Pa,apa benar papa dan mama sudah bercerai,kenapa ga kasih tau ke aku".Sepertinya kak Raysa menanyakan mamah nya.Ku fokus kan lagi pendengaran ku.
"Benar Ray,papa dan mama sudah bercerai.Kami tidak memberitahu kan padamu karena takut kamu akan terganggu".
"Kalau sekarang kamu dengar mama mu sudah menikah dan sekarang memiliki anak ya ga papa lah".
"Pa Ray cuma ga suka sama nenek,kenapa tiba tiba nelpon Ray,minta agar Ray meninggalkan papa dan ikut dengan mama.Apa karna mama sudah menikah dengan orang kaya di Batam,trus dengan seenaknya nyuruh Ray untuk ke sana".
Kembali ku fokus kan pendengaran ini.
"Pa Ray ga mau ninggalin papa,Ray juga ga mau pisah dari ayah,apalagi Imah.Kenapa dulu mama ninggalin Ray pa,padahal Ray sudah memohon.Ray tau mama ga sanggup hidup susah,silahkan saja,toh sekarang mama sudah bahagia dengan pasangan barunya yang kaya raya itu,kenapa lagi harus mengganggu hidup kita".Sepertinya kak Raysa menahan tangis deh
Coba dengar lagi,tanggung udah nguping dari tadi soalnya.
"Pa,apa papa masih cinta sama mama".Suara kak Raysa seperti tertahan."Ray tidak ada perasaan cinta lagi di hati papa untuk mama mu,tapi kamu masih anak dari mama mu Ray.
"Surga mu ada di mama mu Ray,sejelek apapun sifat mama mu,kamu harus sabar.Mungkin sekarang mama mu sudah sadar dan berubah".
"Baik lah pa,kalau itu keinginan papa, Ray akan coba menemui mama".Haaaa kak Raysa mau menemui mama nya.
Setelah mendengar pembicaraan ayah dan anak itu,kaki ku serasa ga ada tenaga untuk berjalan,yang tadinya semangat untuk belajar jadi buyar semua.
Kembali ku turunin tangga dan masuk kembali kerumah.Pikiran ku tak karuan.Apakah aku akan kehilangan Kakak ku.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di benak ku.
Sudah lah tunggu besok,mudah mudahan kakak mau cerita .
Keesokannya di warung ayah.Pak Tono duduk mengobrol dengan ayah.Mereka membahas tentang mantan istri pak Tono.
"Setelah dia pergi dari rumah,kami bertemu,dia sudah mengajukan akta cerai.Saya menyetujuinya pak.Bagi saya biarlah saya mengalah kalau memang dengan itu dia bisa bahagia".Pak Tono mulai cerita.
__ADS_1
"Setelah resmi bercerai dia menikah dengan orang kaya di Batam.Hidupnya sudah senang,dan sekarang sudah memiliki putri yang berumur 6 tahun.Dia ingin menebus dosanya kepada Raysa.Makanya dia menghubungi saya kemarin pak". Lanjut pak Tono.
"Saya harus bagai mana pak,di satu sisi saya sebenarnya tidak mau dia bertemu Ray,kasihan dia.Tapi di sisi lain dia adalah ibu kandung Ray".
"Kalau menurut saya sih pak,biarkan Ray bertemu ibunya,biar Ray yang mengambil keputusan,apa yang Ray mau.Kita hanya mengarah kan saja ke hal yang benar.Semoga saja ibunya Ray benar benar menyesal dan meminta maaf ke Ray sudah meninggalkan dia".
Tak berapa lama handphone pak Tono berbunyi."Sebentar pak,saya angkat dulu.
Dengan malas pak Tono mengangkat telp yang ternyata itu dari mantan istrinya.
"Pak saya permisi sebentar ya"." Silahkan pak".Jawab ayah.Pak Tono beranjak pergi dari warung ayah.
Dengan mengendarai motor pak Tono menuju ke sebuah cafe yang tidak begitu ramai.
Pak Tono melihat wanita yang sekarang jauh lebih cantik dari pada dulu sedang duduk di salah satu meja di cafe.
"Ada apa mencari ku"."Duduk lah dulu ".Wanita itu mempersilahkan pak Tono untuk duduk.
"Apa kau mau minum,atau mau pesan sesuatu".Tanya nya."Tidak usah".Pak Tono menunggu jawaban dari wanita yang pernah menjadi istrinya itu".
"Baiklah aku tidak mau berbasa basi lagi.Aku sudah memantau Raysa semenjak ku tinggalkan dulu,jadi aku tau apa saja yang dia lakukan".Wanita itu berbicara sangat berbeda dari yang dulu,batin pak Tono.
"Dia anakku,walaupun dulu aku meninggalkan dia,tapi aku tidak pernah melupakannya.Semua yang dia lakukan aku tau semua".Sahut wanita itu lagi.
"Sejak kapan kau mengintainya.Kalau kau tau kenapa tidak mau bertemu dengannya.Begitu dalam rasa trauma yang dia rasakan semenjak kau tinggalkan".
"Iya,aku tau.Aku memang salah.Waktu itu aku tidak kepikiran kalau akan menyakitinya".Suara wanita itu melunak.
"Apa??Tidak kepikiran menyakitinya,yang benar saja.Kau tau susah payah Ray untuk menghilangkan trauma nya mengembalikan rasa percaya dirinya dan sekarang kau seenaknya mau bertemu dia dan ingin membawanya ke Batam".Pak Tono tidak percaya dengan pikiran wanita ini.
"Makanya dari itu,aku ingin kembali dekat dengannya.mungkin aku akan mulai dengan mendekatkan diri lagi,Apapun akan ku lakukan agar Ray mau menerimaku lagi.Aku meminta padamu untuk membujuknya,bisa kan".
Seakan habis kata kata,pak Tono berdiri,"terserah padamu,tapi kalau kau suruh aku untuk membujuknya aku tidak mau,aku tidak mau dia malah membenci ku".Pak Tono akan melangkah pergi,tapi wanita itu kembali manggil
"Tunggu,apa kau tidak pikirkan masa depannya.Sebentar lagi dia akan kuliah,bagaimana biayanya,apa kau sanggup,sementara pekerjaan mu sebagai kurir,apa bisa membiayai nya".
Pak Tono tidak percaya dengan apa yang dia dengar.Tanpa menoleh beliau keluar dari cafe itu.
Di tempat lain."Kak keluar yuk".Aku tau kak Raysa lagi banyak pikiran.Semoga dia bisa menceritakan sedikit bebannya padaku.
"Baik lah".Kami menuju taman tempat biasanya kami duduk.Pandangan ku lu layangkan ke atas.Banyak sekali bintang bintang di sana.
"Wah... tumben nih langit cerah,biasanya susah sekali melihat bintang".Ku lihat kak Raysa masih dalam mode off.
"Kak,kenapa.Dari tadi diam aja.Biasanya ngeledekin aku terus".Hanya senyum hambar yang muncul di bibirnya.
Dreeeet... dreeeet... Telepon kak Ray berbunyi."Apa!!.Sekarang".Seakan terkejut kak Raysa saat menerima telepon.
"Ada apa kak".Tanyaku cemas."Kita ke warung ayah"."Kak,ada apa".Tanya ku lagi." Nanti saja kakak jelasin ya,sekarang kita ke warung ayah dulu".
Sambil berlari kami menuju warung ayah.Kulihat raut muka kak Ray seakan akan ada kekesalan dan ketakutan.Ada apa sebenarnya ini.Apa yang terjadi,apa ada sesuatu dengan papa kak Raysa,atau ada sesuatu yang menimpa ayah.Tidak mungkin,kalau begitu aku harus cepat sampai ke warung ayah.
__ADS_1
Sesampainya di warung ayah,betapa terkejutnya kami melihat pemandangan yang begitu baru.