
"Kak,ke rumah ku yuk,ayah sudah membuat ayam kecap".Aku berusaha membujuk kakak Raysa. "Kak, apa kakak tidak lapar kak,aku aja lapar loh kak". "Ayo kak,temani aku makan,kapan lagi aku makan ada temennya,selama ini hanya berdua dengan ayah saja".Aku terus merengek kepada Raysa,seperti adik sendiri yang minta di temani oleh kakaknya.
Mungkin bosan dengan rengekan ku,kak Raysa akhirnya mengalah dan mau ikut dengan ku
"Ayah,kita punya tamu istimewa nih",teriakku dari depan pintu". Ayah seperti mematung sebentar dan akhirnya mempersilahkan Raysa untuk duduk di meja makan.
semenjak saat itu kak Raysa sudah tidak canggung lagi dengan aku dan ayah.
Selesai makan,"imah, ayah keluar sebentar ya". "Iya ayah".Sahut ku.
Ternyata ayah pergi menelpon papa kak Raysa,dan membicarakan kalau kak Raysa ada bersama kami.Pak Tono nama papa Raysa itu merasa tidak enak tapi sangat bersyukur ada yang mau membantu menjaga anaknya
Kak Raysa sepertinya sudah nyaman dirumah kami,kami bermain bersama.Hingga hari mulai sore.
Kak Raysa pamit ke rumahnya,katanya mau mandi dulu."Kak,habis mandi kesini lagi ya",kalau Kaka tidak turun aku akan naik keatas Lo"."Iya Imah yang bawel".
sorenya setelah kami sudah selesai mandi,aku ajak kakak ke warung ayah yang berada di persimpangan menuju rumah kami.
Hari ini warung ayah tidak begitu ramai.Bilik di warung ayah masih ada,sengaja tidak di hilangkan ayah,jadi kami bisa bermain di sana.
Bosan bermain di warung kami pun izin sama ayah untuk bermain di taman komplek.
Di dekat warung ku memang ada komplek perumahan gitu,yang ada tamannya,anak anak boleh bermain di situ karena tidak ada penjaganya.Mungkin karena komplek biasa ya.
Sedang asik bermain tiba tiba ada segerombolan anak sekitar lima orang menghampiri kami,berlagak jagoan menendang istana pasir yang aku buat.
"woiii.... Fandi cari gara gara lu ya.Bentaku kaget sambil berdiri."Hai Imah ngapain lu main sama anak yang mamah nya kabur dari rumah". "Apa urusan lu". Jawab ku sambil melotot ke arah Fandi.
"Itu artinya temen lu itu pembawa sial",sahut Fandi lagi."Apa kata lu,ngomong yang jelas".Aku maju beberapa langkah sampai berdiri di depan Fandi,dan langsung ku ambil kerah baju nya,ku dorong sampai dia terjatuh.
"Dengar lu pada ya,gue ga takut sama kalian semua,siapa kalian yang ngatur ngatur gue harus berteman sama siapa"."Sekarang gue sudah punya kakak,ini kakak gue jangan coba coba ganggu kakak gue"." Hai Imah kakak lu dari Hongkong,dia itu anak pembawa sial,kata emak gue adiknya meninggal gara gara dia,sekarang emaknya kabur dari rumah".Balas si Dio." Lu tau dari mana ha".bentak ku." Ya tau lah,dulu dia kan tinggal dekat rumah nenek ku,memang keluarga ga bener"."Diam lu,gue kan udah bilang jangan ganggu kakak gue".Dengan penuh amarah mulutnya Dio ku remas dengan tangan mungil ini,padahal Dio satu tahun di atas ku,tapi aku tidak takut,aku harus membela kakak ku.Kakak ku sudah bisa berdamai dengan waktu untuk saat ini.
__ADS_1
Akhirnya terjadilah perkelahian antara dua lawan empat orang,tidak sebanding memang tapi kami tidak kalah ya dengan empat orang anak manja itu.Aku sudah terlatih menghadapi lawan sedari dulu,aku tidak pernah takut apalagi menghadapi anak manja.
Aku berumur lima tahun,kakak Raysa berumur delapan tahun,sementara komplotan anak manja itu rata rata berumur enam tahun,tapi badan mereka gede gede seakan mereka umur delapan tahun.
Tapi aku tidak peduli,walaupun mereka besar dari jangan harap bisa mengganggu kakak ku.
Ketika Fandi menjambak rambutku,aku menendang perutnya,sehingga dia jatuh,dan disaat itulah aku langsung menduduki perutnya,kemudian ku layangkan tinju ku di mukanya,hanya beberapa pukulan saja tiba tiba tangan ku di tahan oleh ibu ibu dan kemudian mengangkat aku.Ternyata ibu itu adalah ibu Ainun,mama Tasya.
"Kalian kenapa sih berantem gini"."Kamu tu ya Imah,kamu anak cewek berantem seperti laki laki,sekarang ayo kalian semua ke warung ayahmu.
Kami semua di giring ke warung ayah.Ku liat Bu Ainun menelpon,entah siapa atau mungkin menelpon semua orang tua anak anak manja ini.
Sebelum kami sampai di warung ayah,emak emak dari anak anak manja ini sudah ada di sana.
"Astaghfirullah,kenapa tangan mu begini Fandi".Tanya ibu nya Fandi sambil memperlihatkan tangan anaknya ke ayah."Lihat nih akibat ulah anak mu,tangan anak ku jadi begini".
"Fandi yang mulai duluan", jawabku."Dia mengejek kakak yah,Fandi bilang kalau kakak pembawa sial,Imah ga terima kalau kakak di bilang begitu"."Ya tapi jangan gigit juga kali".jawab Fandi tapi tetap berlindung di belakang ibunya."Oya,apa gue harus diam aja gitu lu narik rambut gue".
Setelah minyak diolesi ke tangan Fandi ayah lalu menyuruhku untuk meminta maaf.Serasa ada kilatan silet di mataku,ku tatap Fandi dengan tajamnya."Fandi gue minta maaf,tapi lu ingat ya,sekali lagi lu gangguin kakak gue habis lu"."Eh nih anak,masa minta maafnya begitu".
"Ga papa mah,iya aku maafin.Aku juga minta maaf ya janji ga gangguin kakak mu lagi".
Setelah semuanya saling memaafkan,semuanya bubar dan pulang kerumah masing masing.Tapi ayah tetap menghukum ku dan kakak.Kami disuruh mencuci piring yang ada di warung.Setelah selesai kami disuruh ayah balik ke rumah dan tidak boleh main lagi.
"Kak,aku boleh main ke rumah kakak ga",tanya ku."Boleh ayo ikut kakak".Kami lantas menaiki tangga menuju rumah kakak."Kak berantakan sekali,ayo kak kita bereskan".
Dengan sigap kami membereskan rumah kak Raysa yang berantakan.Entah apa yang dipikirkan mama kak Raysa,tega meninggalkan anaknya sendirian dan pergi selagi papahnya kak Raysa di luar kota.
Sambil beberes rumah sesekali ku pandangi kak Raysa.Ada perasaan iba dan juga senang.Iba karena kak Raysa di tinggal mamahnya,dan senang karena aku punya kakak,walaupun bukan kakak kandung
Ku liat kak Raysa sudah terbiasa sepertinya membersihkan rumah."Kak kakak sudah biasa ya mengerjakan pekerjaan rumah",tanya ku takjub."Kamu juga sepertinya sudah biasa juga ya.
__ADS_1
"Iya kak,semenjak ibu meninggal,ayah mengurus sendiri,menjadi ayah dan ibu sekaligus",makanya aku bertekad membantu ayah walaupun cuma bisa bersih bersih begini,aku kasihan sama ayah kak,pulang dari warung capek terus harus membereskan rumah juga.Aku ga tega kak,hehe".
"Kamu memang anak yang baik".Kak Raysa membelai puncak kepalaku.
Akhirnya rumah beres,sudah bersih dan rapi.Tanpa terasa kami pun tertidur di lantai,mungkin juga karena kecapekan.
Di warung ayah berhenti sebuah mobil box."Assalammualaikum,pak Raysa nya ada"."Waalaikum salam,bapak papahnya Raysa ya".sahut ayah."Iya pak,saya papah nya Raysa".
"Mari pak,silahkan duduk dulu,wah ini pertama kalinya kita ketemu ya pak,semenjak bapak pindah"."Iya pak,maaf kan saya merepotkan bapak,saya ga menyangka istri saya tega meninggalkan anaknya sendiri di rumah,untung ada bapak yang mau menjaga anak saya.
"Ga papa pak,oiya nama saya pak Imawan,nama bapak siapa"."panggil saya Tono aja pak"."Pak Tono silahkan diminum teh hangatnya".Sambil ayah menyodorkan segelas teh kepada pak Tono.
"Sebenarnya saya malu pak,saya gagal sepertinya sebagai suami.Sebenarnya sudah lama istri saya minta cerai,dia tidak tahan hidup miskin.Dulu kami sempat hidup berkecukupan malah lebih,dan saat itu istri saya tergoda untuk ikut investasi sama temannya,saya tidak mengizinkan,diam diam dia meminjam pinjaman online.Ternyata istri saya tertipu sama temannya sementara orang pinjaman online terus menagih hutang,lama lama hutang yang tadinya hanya beberapa juta berbunga menjadi puluhan juta.Bukan hanya satu pinjaman online yang diajukan istri saya,tapi ada di tiga tempat,kalau di total semua sampe ratusan juta itu sudah sama bunganya"." Saya mulai menjual aset saya,mobil,rumah,tanah.Saya mencoba mencari kerja,akhirnya saya dapat kerjaan kurir ini.saya selalu keluar kota, meninggalkan Raysa ,istri saya dan adiknya".PAK Tono bercerita dengan muka yang sangat sangat sedih dan tertekan."Raysa punya adik pak,kemana sekarang".Tanya ayah bingung. " Adik Raysa meninggal ketika masih berumur tiga bulan"."Innalilahi,meninggal kenapa pak,sakit ya".Tanya ayah dengan muka serius.
"Tidak tau meninggalnya kenapa,tetapi ketika itu adiknya di tinggal sama Raysa,sementara istri saya pergi sama teman temannya."Raysa yang baru berumur enam tahun tidak mengerti apa apa,adiknya terus menangis,ibunya memang selalu menyetok ASI nya,jadi dia pikir kalau pun dia pergi lama ASI-nya ada sehingga dia tidak perlu khawatir meninggalkan bayinya dengan Raysa.
"Raysa dan adiknya memang sudah biasa di tinggal oleh istri saya,tapi hari itu istri saya memang sudah kelewatan, meninggalkan anak anak sampai malam.Sepanjang hari adik Raysa menangis walaupun sudah diberi ASI oleh Raysa,karna bingung Raysa menidurkan adiknya di ayunan,hingga Raysa tidak sadar kalau adiknya meninggal di atas ayunan.Semenjak saat itu Raysa selalu dihantui rasa bersalah dan ibunya terus terusan mengungkit masalah itu,sampai dia di bilang membunuh adiknya sendiri".
"Untuk menghilangkan trauma Raysa,saya memilih pindah rumah,dan akhirnya tambah parah,istri saya tidak tahan di kontrakan itu,sumpek katanya".
"Yang sabar ya pak,kalau itu memang keinginan istri bapak,biarkan saja,semoga dia mendapat kebahagiaan di luar sana.Kalau soal Raysa bapak jangan khawatir,dia boleh tinggal dirumah saya kalau bapak lagi mengantar paket keluar kota.Oiya,ngomong ngomong bukannya bapak pulangnya besok ya".
"saya minta tolong sama teman pak yang kebetulan searah dengan paketan yang akan saya antar, Alhamdulillah dia mau,makanya saya bisa pulang cepat".
"Pak Imawan saya kerumah dulu ya,mau mandi dulu"."Baik pak silahkan,anak anak juga ada di rumah pak".Pak Tono segera bangkit dari duduknya dan menuju ke rumah nya
Betapa kagetnya dia ketika mendapati kedua anak itu tertidur di lantai.Pak Tono tidak tega membangunkan kedua anak itu,secara perlahan pak Tono memindahkan mereka satu persatu ke kamar.
Pak Tono menelpon ayah memberitahukan kalau anaknya tertidur di rumahnya.Sesudah ayah menutup warungnya ayah naik ke atas untuk menggendong aku."Terimakasih ya pak, Imah saya bawa dulu".Ayah bergegas menggendong aku,dengan hati hati menuruni anak tangga
Anak ini sangat semangat mendapatkan seorang kakak,sampai sampai rela berantem membela Raysa.Semoga kalian berdua saling menjaga ya nak,walaupun tidak ada pertalian darah di sana.
__ADS_1
Semakin hari kamu semakin besar nak,walaupun tanpa seorang ibu,ternyata aku juga bisa mendidik mu nak.Jadilah anak yang Sholehah dan baik,jangan kau dengar perkataan orang nak.Ayah membatin sendiri sambil memandangi wajah ku yang masih polos.