
Kakak kembali memperhatikan nilai ulangan ku.Sambil geleng geleng kepala dan seperti menahan kesal kakak lalu menyentil hidung ku.
"Kakak sakit, rengek ku.Kak jangan gini jangan hidung ku yang di sentil,yang lain kek.ini hidung dah tinggal dikit,kakak mau hidung ku jadi tinggal kenangan?." Sahut ku
"Ga papa hidung nya tinggal kenangan,kalau kakak sentil jidat mu,kakak takut nanti otak yang ada di sini bakalan geser." Sambil menoyor kepala ku.
"Apaan sih kak, siapa bilang otak ku bakalan geser.Otak ku terikat erat di dalam sini" balas ku sambil memegang kepala.
"Baik lah kalau hidung mu hilang kakak akan tanggung jawab.Kakak akan menikahi mu."
Deg....Kenapa ini,sesaat aku terdiam.Ahh kak Raysa pasti bercanda.
Sekarang suasana terasa amat kaku.
"Hehe , sambil nyengir ku dorong kakak keluar dari kamar ku."Kak aku mau belajar sendiri ya."
Bergegas pintu ku tutup.
"Jangan lupa belajar,nanti kakak turun lagi".sebelum keluar kak Raysa mengoceh lagi.
Tidak mungkin aku bakalan nikah sama kak Raysa.Gimana bisa,rasa suka aku itu ke kak Raysa hanya sebatas adik dan kakak.
Tidak ...tidak... tidak...Ini tidak benar.
***
"Halo ma, ada apa."Raysa sedang menjawab telpon dari mamah nya.
Sesaat raut muka Raysa berubah.
"Baiklah aku akan kesana."Raysa langsung memesan ojek online.
Tak lama ojek online nya pun datang.Raysa langsung menaiki dan pergi dari kontrakannya.
"Raysa, mama mau kamu tamat dari sekolah ini kamu bersama mama.
Mama ingin kuliah kan kamu ke luar negri,kebetulan papah tiri mu punya rumah di Australia.Mama sudah bicarakan ini dengan nya,dan dia menyambut baik."
"Karena papa tiri mu tidak punya anak laki laki dan dia juga anak tunggal dia mau menerima mu.Sebelum kamu kuliah di Australia mama akan mengenalkan mu dengan Richard papa tiri kamu."
"Tapi ma,aku ga mau kemana mana.Aku sudah betah di sini.Apa papa sudah tau dengan ini semua?" tanya ku.
"Sudah,papa mu sudah tau ini semua,katanya dia akan menyerahkan keputusan kepadamu."
__ADS_1
"Ma tapi aku tetap ga mau,aku mau di sini,kuliah di sini.Aku ga mau meninggalkan keluarga meninggalkan papa, Imah,pak Imawan.Aku ga mau mah" tegas ku
"Mereka bukan keluarga mu.Hanya papa kamu saja keluarga mu.Disini ada mama dan adik mu.Semua ada di sini kamu tidak usah bingung lagi mikirin biaya kuliah kamu nanti,apa yang diharapkan dari papa mu.Mama mau kamu sekolah tinggi,terus bekerja dengan Papa Richard" terang mama.
"Apa mama bilang,mereka bukan keluarga ku.Mama tau mereka lebih dari keluarga bagi ku.Disaat aku sendirian,disaat kami terpuruk dengan papa,disaat aku sakit sementara papa lagi di luar kota,mereka yang merawat ku,dan yang mama bilang keluarga itu mana, khususnya yang waktu dulu ku panggil dengan sebutan mama itu kemana!!"
"Mereka memang tidak ada ikatan darah dengan ku,tapi mereka menyayangi ku dengan tulus, dan sekarang mama dengan seenaknya bilang mereka bukan keluarga ku ,apa mama tidak punya hati !"Sedikit emosi Raysa mengungkapkan apa yang ada di hatinya sekarang.
"Kurasa pembicaraan ini sudah cukup mah,lebih baik untuk sekarang jangan dulu bertemu dengan ku dan memaksa Ku melakukan hal hal yang mama inginkan,jangan sampai saat itu menjadi alasan ku untuk membenci mama".Rasya bergegas meninggalkan tempat itu.Di dalam pikirannya sangat sangat kesal,entah kenapa ada orang tua seegois itu.
Rasya berjalan gontai,berat rasanya kaki melangkah.Rasa ingin berdamai dengan mamanya kini seakan lenyap menguap bagaikan uap embun yang tadinya menyejukkan kini lenyap bagaikan terkena sinar matahari.
***
Pulang dari luar kota pak Tono bergegas membersihkan badan, sementara Rasya menyediakan makanan untuk papahnya makan.
"Pa kalau selesai mandi,papa makan ya sudah ku siapkan di meja." Rasya masih sibuk membuat segelas kopi untuk pak Tono.
"Baik nak,terimakasih ya"lalu pak Tono bergegas masuk ke kamar mandi
Sepertinya akan ada pembicaraan yang serius di meja makan. Raysa berusaha mengontrol emosi nya karena dia tau papa nya pasti lelah dan capek baru pulang dari luar kota.
"Ini kamu masak sendiri ? " tanya pak Tono."Iya pa,pak Imawan yang ngajarin Ray."Ray kan sering membantu pak Imawan di warungnya.
"Boleh lah lumayan enak ,tidak sia sia pak Imawan mengajari kamu."Jawab pak Tono.
"Apa papa bertemu mama akhir akhir ini"tanya Raysa. "Ya , papa bertemu mama beberapa kali" Jawab pak Tono sambil terus memasukan nasi ke mulutnya.
"Terakhir mama kamu membicarakan kalau dia mau membawa kamu kuliah di Australia"terang pak Tono lagi.
"Papa hanya menjawab semua tergantung pada mu,karena semuanya kamu yang menjalani.Apapun keputusan yang kamu ambil pasti itu keputusan yang terbaik" jelas pak Tono lagi.
"Aku sudah menjawabnya pa,aku akan kuliah disini,sambil cari kerja.Soal biaya kuliahku papa jangan khawatir ya,biar aku yang memikirkannya.
"Baik lah nak,apapun yang menurut kamu baik papa selalu mendukung mu "kata pak Tono lagi.
"Terimakasih pa,sudah ngertiin aku"jawab ku sambil memeluk papa.
****
"Ray mama akan balik ke Batam,kalau ku berubah pikiran kamu telepon mama ya,mama akan selalu senang hati kamu ada di tempat mama"begitu suara mama terdengar di sambungan telepon.
"Baik lah ma,mama hati hati di jalan."sahut Raysa di ujung percakapan.
__ADS_1
Sambil menatap langit-langit kamar, Raysa merasa bersyukur sudah di pertemukan dengan keluarga pak Imawan."Tidak mungkin aku akan meninggalkan kalian,kalian adalah keluarga ku"batin Raysa.
***
"Kak,kenapa mukanya sekarang bahagia banget sih,kemarin di tekuk aja ?"tanya ku.
"Emang gitu ya?"."Iya,di tekuk terus kaya lagi nyari uang koin"sahutku.
"Kemarin kakak lumayan ada yang di pikirkan,sekarang udah plong dah lega,kaya bunyi ini, pruuut...Wangi kan"kak Raysa mengibaskan tangannya ke arah bokongnya.
"Kakak bau banget ini,kakak makan apaan sih,makan kain pel ya" langsung ku menutup hidung,sumpah bau banget astaga.
"Kakak,jangan lari,awas ya suatu saat akan ku balas tau"sambil berlari mengejar kak Raysa yang sudah meninggalkan ku.
***
Sesampai di taman kak Raysa memilih duduk di ayunan,aku pun memilih duduk di ayunan sebelah nya.
"maaf ya, kemarin kakak ga banyak bicara sama kamu.Kakak ga mau kamu jadi kepikiran makanya kakak belum cerita sama kamu"terang kak Raysa.
"Ga papa kak,aku tau kakak lagi banyak pikiran,kakak ga mau cerita juga ga papa" jawabku lirih,padahal dalam hati berharap banget kakak cerita.
"Mama kakak mau kakak kuliah di Australia,om Richard juga setuju.Alasannya karena nanti bisa bantu di perusahaan om Richard." kata kakak.
"Bagus lah kak,berarti ayah sambung kakak orang baik,tidak membeda bedakan antara anak sambungnya dengan anak kandungnya"sambung ku.
"Tapi kakak sudah menolaknya,kakak sudah nyaman di sini.Disini ada kamu ada keluarga kakak,sedangkan di sana sangat asing bagi kakak"sambil menatap langit Raysa bicara seakan tertahan.
"Mungkin mamah kakak mau dekat dengan kakak,atau bisa jadi kan bentuk permintaan maaf dan mama kakak mo nunjukin permintaan maaf nya,orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya kak"ku berusaha membesarkan hatinya.
"Sudah lah ga terasa ya,bentar lagi kakak lulus,dan kamu masih pake baju putih abu abu hehehe...masih bocah ternyata"ledek Raysa.
"iya iya yang bentar lagi lulus"jawabku
"Kakak udah putuskan ambil fakultas apa?",tanyaku
"Belum,kakak belum memikirkannya,sekarang Kakak hanya fokus untuk ujian dulu,mudah mudahan kakak dapat beasiswa".
"Mau ambil dalam negri apa luar negri kak?" tanyaku lagi.
"Mungkin di dalam aja ya,nanti siapa yang bakal ngajarin kamu kalau kakak kuliah di luar negri"jawab kak Raysa lagi.
"Tapi aku ga bisa Lo kak bayar kakak jadi guru les aku hehehe".
__ADS_1
"Kamu ga usah bayar kakak,cukup kamu tersenyum dan ga macam macam,kakak selalu ada untukmu",sambil memegangi pucuk kepalaku.
"Deg, tatapan kak Raysa membuatku merasa aneh.Seakan akan tatapan kak Raysa mengandung sesuatu, tetapi aku tidak tau itu apa.