Istri Kecil Tuan Sadis

Istri Kecil Tuan Sadis
Pernikahan


__ADS_3

"Aku akan menikahinya."


Kalimat yang dilontarkan Alby membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Begitu juga Papah. Netra tajamnya menatap Alby seakan memberitahu bahwa yang dikatakan anak itu tidak mungkin terjadi.


"Dia adik kamu, Alby!" Bimo, Papah Alby berseru tidak setuju.


"TAPI LIA HAMIL ANAKKU, PAH!" Balas Alby marah. Ia juga tidak menginginkan pernikahan itu. Tapi Alby harus melakukannya. Karena bagaimanapun juga anak yang ada di rahim adiknya adalah darah daging Alby.


"Lagi pula dia bukan adik kandungku! Jadi aku bisa menikahinya!" Lanjutnya.


"Tidak Alby! Selama ini kamu tidak pernah sekalipun berbuat baik sama Lia. Bagaimana kamu akan menjadi suaminya? Dia tidak akan bahagia hidup bersama kamu!"


"Lalu gimana dengan kandungannya? Papah mau mencari pria lain untuk Adelia?" Netra Alby memincing tidak suka. "Alby nggak akan biarin anak Alby jadi milik orang lain!"


"Yang dibilang papah benar, Al." Mamahnya ikut berpendapat. "Adelia tidak akan bahagia hidup sama kamu!"


"Lalu kenapa Mamah membiarkan dia keliaran di sekitarku selama dua puluh tahun ini? Mamah jadiin Adelia sebagai adikku! Secara tidak langsung kita sudah hidup bersama!"


"Tapi kamu selalu menyiksanya," tukas Gea, Mamahnya.


"Setidaknya dia tidak mati karena siksaanku! Mamah sama Papah masih bisa melihat dia setelah menikah denganku!"


"Alby--"


"Alby nggak peduli! Alby ingin anak itu lahir dan Lia harus mengurusnya sampai anakku tumbuh besar nanti!"


"Papah tidak akan mengizinkanmu melakukan itu sampai kapanpun!"


"Terserah!" Alby berdiri dengan kasar sampai sofa yang didudukinya tadi terdorong kecil.


Seakan tau apa yang akan Alby lakukan, Bimo menahannya.


"Lepas! Alby akan bawa Adelia pergi dengan atau tanpa persetujuan dari papah sama mamah!"


Alby menyentak tangan Bimo di lengannya. Kemudian bergegas menuju kamar Adelia di lantai atas.


"Lia!" Panggilnya sembari menendang pintu kamar Adelia. Alby beruntung karena Adelia tidak mengunci pintunya. Jadi ia bisa menerobos masuk dan langsung manarik tubuh Adelia yang hendak menjauhinya. "Ikut saya!"


Adelia tersentak, kepalanya menggeleng erat. Tanda menolak ajakan Alby. "Kakaaak," rengek Adelia ketakutan.

__ADS_1


Melihat Alby membuatnya teringat akan kejadian malam itu. Saat Alby menyentuhnya, seakan Adelia adalah wanita hiburan yang butuh bayaran.


Adelia menyesali perbuatannya. Seharusnya ia tidak kasihan pada Alby dan membiarkannya terkapar di halaman rumah dalam keadaan mabuk. Namun hati nuraninya memaksa dia untuk menolong Alby.


Adelia hanya membantu Alby untuk tidur nyaman di ranjang. Tapi Alby justru menahannya dan menidurinya.


"Aku mau sama mamah di sini. Nggak mau sama Kak Alby," pinta Adelia dengan netranya yang berkaca-kaca.


Alby menggeram. "Tidak. Kamu dan anak itu milikku mulai sekarang."


"Alby!" Panggil Gea dari ambang pintu. Mamahnya itu mendekat ke arah mereka. "Kamu bisa menikahinya," pasrah Gea pada akhirnya.


Lagi pula Gea harus memikirkan masa depan Adelia dan anaknya. Mencarikan Adelia pria lain belum tentu menjamin kebahagiaannya.


"Mamah." Adelia menatap Gea dengan gelengan di kepalanya.


"Sayang." Gea mendekat, memeluk Adelia yang sekarang menangis sampai Alby melepaskan cekalannya pada gadis itu. "Dengerin mamah, Lia. Ini demi kebaikan kamu dan anak kamu. Kamu butuh seorang suami dan anak kamu tidak bisa lahir tanpa ayahnya. Jadi mau ya, menikah dengan Alby?"


Meski Adelia menggeleng, Gea tetap pada pendiriannya. Ia melepas pelukannya kemudian menatap Alby. Sebenarnya Gea menyayangi laki-laki itu. Tentu saja karena Alby adalah anak kandungnya. Tapi melihat sikapnya yang kasar pada Adelia membuat Gea sedikit marah. Gea merasa ia gagal mendidik Alby menjadi pria yang menghormati wanita.


"Kamu bisa menikahinya. Tapi mamah mohon, tinggal di sini setelahnya. Setidaknya sampai mamah percaya bahwa kamu bisa membuat Adelia bahagia," pinta Gea memohon.


Alby mendecih. Ia tidak suka saat Gea memihak pada Adelia. Tapi dalam situasi sekarang Alby harus menurutinya. Ia harus mendapatkan Adelia terlebih dulu. Selanjutnya ia bisa memaksa gadis itu ikut ke apartemennya.


"Tapi persiapannya--"


"Alby akan mengatur semuanya. Mamah hanya perlu menjaga Lia. Pastikan dia tidak kabur atau membunuh anakku diperutnya!" Sela Alby.


Tanpa mendengar persetujuan Gea, Alby pergi meninggalkan mereka. Ia butuh menenangkan dirinya setelah mendengar kabar kehamilan Lia dan menentang Bimo tentang pernikahannya.


####


Adelia tersentak saat Alby menarik tangannya. Hari ini resepsi pernikahannya sudah setengah jalan. Mereka sudah melakukan sesi foto. Dan sekarang waktunya untuk menyapa tamu undangan.


"Berhenti menangis, bodoh. Kamu harus menyapa seluruh kolegaku," bisik Alby tanpa melepaskan tangan Adelia di genggamnya.


Adelia hanya menurut. Ia berusaha tersenyum di depan seluruh teman-teman kakaknya itu. Namun raut sedihnya tetap tidak bisa dihilangkan.


"Aku mau sama mamah," kata Adelia begitu pelan.

__ADS_1


Alby hanya meliriknya sejenak tanpa memperdulikan Adelia. Ia terlalu larut dalam pembicaraannya dengan kolega bisnisnya.


Sampai Alby tidak menyadari kedatangan segerombol wanita yang menyapa Adelia.


"Liaaaa!" Seru Laras, teman dekatnya sejak sekolah menengah atas. "Ih gue pikir lo masih sama Dirga! Taunya udah resepsi aja nih!"


"Iya tau nih! Kuliah lo gimana? Bukannya bulan lalu lo bilang mau kejar skripsi biar cepet lulusan. Katanya mau lanjut ke S2!" Timpal Citra.


"Lihat nanti aja," balas Adelia sembari menampilkan senyum kecilnya.


"Gila sih, Li! Suami kamu perfek banget." Kini Ayu yang bersuara sembari melirik Alby yang masih sibuk mengobrol.


"Iya! Intinya lo hutang cerita sama kita-kita! Gimana caranya lo nikah sama Kakak lo yang gantengnya kebangetan gitu!"


Suara Citra rupanya mampu mengundang tatapan beberapa orang yang berdiri di dekat mereka. Alby salah satunya.


"Jangan-jangan dia having a crush on you sejak kecil, Li! Wah pokoknya lo harus cerita sama kita! Titik." Laras yang tidak tau situasi masih menyeletuk keras.


Adelia hanya menanggapi mereka dengan senyuman kecil. Tidak ada yang tau bahwa tangannya panas dingin sekarang. Apalagi merasakan seseorang mendekatinya dari arah belakang.


"Maaf mengganggu, tapi Adelia harus istirahat sekarang," kata Alby sembari menggenggam tangan istri kecilnya.


Tanpa menunggu Adelia berpamitan pada temannya, Alby langsung membawanya masuk ke dalam lift. Kamar yang mereka tempati berada di lantai 35. Alby sengaja memesan kamar dengan lantai yang berbeda dari yang lain agar tidak ada yang mengganggu nantinya.


"Mulai sekarang saya tidak akan mengizinkan kamu menemui siapapun lagi!" Kata Alby tidak ingin dibantah.


"Tapi kuliahku belum selesai, kak." Adelia berujar lirih.


"Saya tidak peduli! Lagi pula kamu hanya perlu melahirkan anakku dan mengurusnya. Pendidikan itu tidak akan berguna!"


"Satu semester lagi. Aku mohon, kak," rengek Adelia. "Skripsiku sudah hampir selesai."


"Saya bilang tidak, Adelia." Alby mendorong Adelia menuju kamar mandi. "Bersihkan tubuhmu lalu istirahatlah."


"Kuliahku dulu," isak Adelia sembari menghentakkan kakinya.


Hal itu bukannya membuat luluh tapi Alby justru merasa geram akan tingkah Adelia. Ia memutar paksa tubuh itu lalu menurunkan resleting gaun Adelia.


Tangan Adelia refleks memegang bagian depan gaunnya agar tidak jatuh dan membuat tubuhnya terekspos lagi di depan Alby.

__ADS_1


"Kamu ingin saya mandikan secara paksa?" Tanya Alby menggunakan intonasi rendahnya.


####


__ADS_2