
Alby terbangun saat telinganya mendengar suara isak tangis seseorang. Kemudian berdecak saat melihat Adelia duduk meringkuk di sofa panjang di ujung ruangan.
Ia berniat memejamkan mata lagi, tapi melihat jam di ponselnya menunjukan pukul 11 siang membuatnya mengurungkan niat. Alby memilih bangkit kemudian membersihkan dirinya di kamar mandi.
Sekitar sepuluh menit Alby mandi, setelahnya ia langsung keluar dan mengenakan pakaian santainya. Mereka harus check out jam 12 nanti, jadi mau tidak mau ia membereskan kopernya sendiri. Menunggu Adelia berhenti menangis sepertinya tidak mungkin. Karena tangisannya justru semakin keras.
Gerakan Alby menutup koper terhenti ketika teringat sesuatu. Kepalanya menoleh pada Adelia yang masih setia di posisinya.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Alby.
Sepertinya Adelia memang hobi membuat Alby marah. Buktinya sekarang Adelia tetap menundukan kepalanya di atas dekapan lututnya. Gadis itu tidak mendongak atau sekedar menjawab pertanyaan Alby dengan gelengan.
Alby menghela nafasnya kasar kemudian beranjak mendekati istri kecilnya itu. Alby duduk di meja agar bisa berhadapan dengan Adelia.
"Saya bertanya padamu, Lia," kata Alby sembari menarik pelan rambut Adelia agar mendongak.
"Belum," cicit Adelia sesegukan.
"Kenapa?" Tanya Alby dingin. "Restoran bawah menyediakan sarapan untuk kita. Bukannya saya sudah mengatakan itu sebelum tidur?" Lanjutnya mengingat semalam ia berpesan pada Adelia untuk sarapan sendiri jika Alby belum bangun. Alby sangat lelah apalagi setelah menggempur tubuh Adelia selama hampir tiga jam.
"Kamu juga bisa memesannya lewat telfon." Alby berujar lagi.
"Ak-- aku mau pulang," isak Adelia, "aku mau sama mamah! Nggak mau disini!"
Alby mendesah. "Pakai sweater kamu," titah Alby pasrah.
Andai saja Adelia tidak mengandung anaknya, Alby tidak mungkin berusaha bersikap baik padanya.
Adelia yang mendengar itu bergegas menuruti perkataan Alby. Ia memakai sweater-nya kemudian meraih tas. Sedangkan Alby memakai jam tangan kemudian meraih dompet serta ponselnya di atas nakas.
Alby menelfon bawahannya untuk membawakan koper. Setelah itu ia langsung menarik tangan Adelia.
"Berhenti menangis atau saya akan menjauhkanmu dari mamah!" Ancam Alby.
Mereka menuju resepsionis untuk check out kemudian langsung menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu utama. Alby mengangguk kecil saat supirnya membukakan pintu mobil untuknya dan juga Adelia. Kali ini Alby tidak mengemudi sendiri karena ia masih merasa mengantuk.
__ADS_1
Kepala Alby menoleh saat ponsel Adelia berdering menampilkan nama 'mamah' di layarnya. Tanpa basa basi Alby langsung merebutnya dan menolak panggilan itu.
"Kakak," lirih Adelia. Ia berusaha mengambil ponselnya di tangan Alby. "Siniin hape-nya!" Rengek Adelia dengan nada suaranya yang meninggi.
"Deon, putar arah ke apartemen saya!" Titah Alby pada supirnya, Deon, tanpa memperdulikan Adelia.
"Nggak! Aku mau ke rumah mamah, kak!" Adelia berseru pada Alby.
"Tadinya memang kita akan ke sana! Tapi mengingat sikapmu yang selalu bergantung pada mamah membuatku muak." Alby menoleh dan mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah seringaian. "Saya akan mengajarkanmu bagaimana caranya hidup mandiri, Adelia."
"Tapi Kak Alby udah janji sama mamah kalau kita akan tinggal di sana!"
"Saya bisa mengingkarinya."
"Tapi--"
"Kamu ingin saya bungkam?" Sela Alby jengah. Kupingnya panas karena kata-kata Adelia yang selalu membantah ucapannya.
Adelia menunduk melihat tatapan Alby yang sangat tajam. Selalu seperti ini, ancaman Alby membuat nyalinya menciut.
Alby bernafas lega saat mereka sampai di apartemen. Tanpa membuang waktu lagi ia langsung membawa Adelia ke unit apartemennya. Sesampainya di sana Alby langsung menarik Adelia ke meja makan. Sudah ada beberapa makanan yang tersaji di sana. Itu karena Alby sudah menyuruh beberapa pelayan untuk memasak di apartemennya setelah Adelia mengatakan bahwa dirinya belum sarapan tadi.
"Nggak mau," balas Adelia. Lagi-lagi gadis itu menangis.
"Apa perlu aku menggunakan kekerasan untuk memaksamu makan, hm?" Lanjut Alby dengan rahang yang mengeras.
"NGGAK MAU!!! AKU NGGAK MAU MAKAN! AKU JUGA NGGAK MAU ANAK INI!" Seru Adelia tiba-tiba. "Aku nggak mau jadi istri Kak Alby, hiks! Kak Alby jahat!"
"Kalau begitu apa yang kamu mau?" Tanya Alby tanpa ekspresi.
"Kamu mau gugurin anak itu? Atau kamu ingin mati bersama anak itu? Mau mencoba bunuh diri lagi?" Lanjutnya sarkas.
Alby bangkit mengambil pisau berukuran sedang dan menaruhnya di hadapan Adelia. "Kalau begitu coba bunuh diri di hadapanku sekarang."
Alby menatap tajam Adelia yang terus menunduk. "Kamu takut sekarang, hm? Mau aku bantu membunuh anak ini?"
__ADS_1
Melihat tidak ada pergerakan dari Adelia membuat Alby geram. Ia menarik Adelia kasar dan menyentaknya sampai punggung gadis itu menabrak meja makan.
"Sama seperti kamu tidak menginginkan anak ini, aku juga tidak ingin kamu hidup, Adelia Kirana. Jadi jawab pertanyaanku, mau aku bunuh kalian sekarang?" Tanya Alby menempelkan ujung pisaunya di perut Adelia.
"Ka-- kakak," cicit Adelia ketakutan. Matanya terpejam erat saat merasakan Alby menekan ujung pisau itu.
"Ya?"
"Jangan begini, ak-- aku takut, hiks." Adelia menahan tangan Alby yang masih memegang pisau.
"Kamu bilang tidak ingin anakku ini!" Sentak Alby membuat Adelia sedikit terlonjak.
"Tapi aku masih ingin hidup, kak! Aku ingin bahagia seperti teman-temanku!"
"Jadi kamu ingin menyingkirkan anak ini demi mendapatkan kebahagiaan kamu?"
"Bukan begitu, kak--"
"Lalu apa maksudmu!" Seru Alby. Ia melempar pisau yang sejak tadi di tangannya dan melepas cekalannya di lengan Adelia. Membuat gadis itu sontak luruh di lantai.
"Jika kamu ingin bahagia aku bisa memberikan itu! Aku bisa membuatmu bahagia sejak dulu jika saja kamu tidak selalu membantah perkataanku, Adelia! Tapi sikapmu sendiri yang membuatku tidak ingin membahagiakanmu!"
Bahu Alby naik turun menandakan seberapa besar kemarahannya. Bahkan urat di lehernya sampai menonjol karena suaranya yang begitu keras.
"Kamu egois karena memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan anak di dalam perutmu!"
"Kak Alby juga egois! Kak Alby cuma mikirin anak ini tanpa mikirin kebahagiaan aku!"
"Aku sudah menikahimu dan berniat memberikan kebahagiaan untukmu dan anak kita. Tapi kamu sendiri yang mempersulit keadaan!"
Alby mengusap wajahnya kasar. Melihat Adelia terduduk lemas di lantai membuatnya sedikit iba. Namun ia tidak bisa menangkal perasaan kesalnya pada gadis itu.
"Kamu ingin menjadi pembunuh dengan menggugurkan anak kita?" Tanya Alby sembari berlutut di hadapan Adelia.
Adelia menggeleng kecil. Meskipun ingin, Adelia tidak mungkin melakukan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu cobalah menyayangi anak itu. Hanya itu yang aku minta, Lia. Setelahnya aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji," ucap Albysembari merengkuh Adelia ke dalam pelukannya.
###