
"Kamu ingin saya mandikan secara paksa?" Tanya Alby menggunakan intonasi rendahnya.
Adelia sontak menggeleng. Berada di dekat Alby saja membuat tubuhnya meremang. Apalagi dimandikan olehnya.
"Aku mandi sendiri aja," balas Adelia bergegas menuju kamar mandi.
Alby yang melihatnya tersenyum miring. Ia melepaskan jas, dua kancing atas kemejanya, setra jam tangan mahalnya. Sebenarnya ia ingin kembali ke pesta karena ia belum menyapa seluruh teman kerjanya. Tapi merasakan suasana menenangkan di kamar hotel ini membuatnya ingin segera beristirahat.
Lima belas menit Alby menunggu Adelia keluar dari kamar mandi. Sampai kemudian suara gemercik air dari dalam terhenti.
"Kakak," panggil Adelia sembari mengetuk pintu kamar mandi dari dalam.
Alby hanya bergeming menatap pintu itu tanpa mau repot-repot menjawab. Tebakannya simpel, Adelia pasti ingin menyuruhnya mengambilkan baju di dalam koper.
Mungkin karena Alby tidak menjawab, Adelia memberanikan diri keluar dengan kimono handuknya. Rambutnya yang basah menjuntai di pundak kanan dan kirinya.
Alby meneguk ludahnya melihat tetesan air yang turun dari tubuh adiknya itu. Apalagi di bagian pahanya. Telapak kaki Adelia yang cantik juga berhasil menarik perhatiannya begitu ia berjalan.
"Aku mau ganti baju. Kakak jangan masuk ke kamar mandi dulu," kara Adelia sembari memillih bajunya.
"Kamu bisa memakai baju di hadapanku. Lagi pula saya sudah melihat seluruh bagian tubuhmu, Adelia." Alby berujar dengan senyum dingin tercetak di bibirnya.
"Aku malu," balas Adelia begitu pelan.
Alby hanya mendengus. Ia menyangga tubuhnya dengan meletakan kedua tangannya di ranjang, di samping kanan dan kiri pinggulnya. Tatapannya terarah lurus pada Adelia yang bingung memutuskan mau memakai baju yang mana.
"Saya membawakan baju tidur untukmu," kata Alby langsung membuat Adelia menoleh. Dagu Alby terangkat menunjuk kotak berukuran sedang di bawah tv yang menggantung di dinding.
"Pakai itu!" Titah Alby menggeram saat Adelia mengabaikan kotaknya dan kembali mengacak-acak koper.
"Aku mau pakai baju hangat, kak," ucap Adelia.
"Memangnya kamu pikir saya memberikan baju seksi untukmu? Kamu berpikir saya membeli lingerie untukmu?" Tanya Alby menebak apa yang ada di pikiran Adelia.
"Ti-- tidak!" Ucap Adelia menyangkal tebakan Alby meski ia memang berpikir begitu.
"Kalau begitu cepat ambil dan pakai itu! Saya ingin menggunakan kamar mandi!" Kesal Alby.
Adelia membuka kotak itu. Netranya berbinar melihat isi di dalamnya adalah baju tidur panjang yang begitu lucu.
"Kamu tidak mau memakainya?" Tanya Alby jengah.
__ADS_1
"Mau. Ini lucu banget," puji Adelia tanpa sadar.
"Kalau begitu cepat pakai sebelum saya menyuruhmu tidur tanpa mengenakan baju!"
Mendengarnya Adelia langsung masuk ke kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuk memakainya. Setelahnya ia bergegas keluar.
Namun langkahnya mematung melihat Alby berdiri di ambang pintu kamar mandi. Alby melangkah masuk, sontak Adelia memundurkan langkahnya. Hal itu tentu saja memudahkan Alby untuk mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
"Kakak mau apa?" Tanya Adelia bergetar karena Alby terus memojokannya sembari melepaskan kemeja yang ia pakai.
Alby tersenyum miring. Ia melepaskan sabuknya, kemudian melilitkan kepala sabuk itu di tangan kanannya. Satu sisi sabuk itu dibiarkan menjuntai.
"Kamu pernah merasakan benda ini?"
Adelia menggeleng takut saat Alby mengangkat sabuknya.
"Mau merasakannya?" Tanya Alby.
Adelia sudah tidak bisa melangkah mundur. Membuat Alby lebih mudah mengikis jarak mereka.
"Aku mau ke luar, kak!"
Plak!!!
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan saya, Adelia."
"Nggak mau, kak," balas Adelia. Gadis itu mulai terisak kecil.
"Kalau begitu cobalah mengerti batas kemarahanku, Lia! Jika saya menuruhmu melakukan sesuatu maka lakukanlah. Jangan membuat saya mengulangi perintah itu!" Geram Alby. Ia melempar sabuk nya ke sembarang arah.
Alby menjauh, memberikan ruang bagi Adelia untuk bernafas tenang. "Siapkan air hangat untukku!" Titahnya membuat Adelia mengangguk cepat.
Selagi menunggu Adelia mengatur suhu air di bathub, Alby bersandar pada wastafel. Menatap adik yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.
"Sudah, kak," kata Adelia.
Alby mengangguk kemudian melepaskan celana bahan serta ********** di hadapan Adelia. Membuat gadis itu langsung berbalik cepat. Alby mendengus kemudian langsung masuk ke dalam bak besar itu.
"Gosok punggungku," titah Alby lagi.
"Tapi--"
__ADS_1
"Kamu benar-benar ingin saya cambuk?" Tanya Alby geram.
"Enggak mau," keluh Adelia.
Ia terpaksa berbalik. Tangannya meraih spons dan menuangkan sabun di atasnya. Ia menggosok punggung Alby pelan. Membuat pria itu memejamkan matanya merasakan kenikmatan di punggungnya.
"Sudah cukup!" Kata Alby menghentikan gerakan tangan Adelia di punggungnya. Ia memang harus menghentikannya sebelum dirinya lepas kendali. Bisa-bisa Alby menyerang Adelia di sini.
"Aku boleh ke kamar?" Cicit Adelia sembari menunduk dalam.
"Ya, siapkan bajuku sekalian," balas Alby. "Kuncinya di saku celana saya," lanjutnya memberitahu.
Adelia mengangguk kemudian bergegas keluar. Tidak ada yang tau bahwa sejak tadi dirinya bergetar berada di sekitar Alby.
"Mamah," gumam Adelia saat tubuhnya kuruh ke lantai. Ia meringkuk. Menyandarkan punggungnya di ranjang dan melupakan perintah Alby untuk menyiapkan bajunya.
Adelia tidak tau harus bagaimana sekarang. Seharusnya ia tidak mencoba bunuh diri saat dirinya hamil agar Alby tidak tau bahwa anak itu adalah anaknya. Seharusnya Adelia menggugurkannya saja ke dokter kandungan atau tempat manapun yang bisa membunuh bayinya.
Namun sekarang sudah terlambat. Alby sudah bertanggung jawab. Dan pria itu sangat menginginkan anaknya. Adelia tidak bisa melakukan apapun dibawah kendali Alby.
"Mana bajuku?"
Alby keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi pinggangnya. Adelia yang mendengar itu langsung gelagapan. Ia mengusap pipinya yang sembab dan langsung menuju koper.
"Aku lupa, kak. Maaf," ucap Adelia.
Alby mengeraskan rahangnya. Ia paling tidak suka melihat Adelia menangis. Entahlah, tangisan itu memuakkan untuk Alby.
Mengabaikan Adelia yang masih menyiapkan baju untuknya, Alby menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama.
"Kakak!" Seru Adelia terkejut. Adelia memang takut dengan suasana gelap. Terlebih sekarang ia hanya bersama Alby. "Aku nggak bisa lihat bajunya kakak!"
Ya, Adelia hanya bisa melihat ranjang serta kedua nakas di sebelahnya yang terdapat lampu tidur. Alby bahkan menyalakan lampu itu dengan cahaya yang begitu kecil.
"Tidak perlu mencarinya lagi." Alby menarik tubuh Adelia dan menyentaknya ke ranjang. "Lepaskan pakaianmu!" Marahnya pada Adelia.
"Ka-- kakak mau apa?" Tanya Adelia berusaha bangkit.
Namun percuma saja, Alby menindihnya dan mengunci kaki Adelia dengan kedua lututnya. Tangan Adelia juga Alby tahan.
"Tadinya saya tidak berniat melakukan ini. Tapi sikapmu membuatku ingin sekali menyiksamu, girl. Lagi pula jika dipikir-pikir kamu sudah menjadi milik saya seutuhnya. Jadi sudah seharusnya aku bisa menikmati tubuhmu ini," ujar Alby kemudian memulai aksinya melucuti semua pakaian Adelia.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa Adelia lalukan selain menangis. Untuk kedua kalinya, ia hanya pasrah saat Alby menyentuhnya dengan cara kasar.
###