
"Iya, tunda lagi rapatnya sampai minggu depan. Katakan pada rekan kerja kita jika saya belum bisa menemuinya."
Alby menutup ponselnya setelah selesai berbincang dengan sekretarisnya. Vina menelfonnya untuk mempertanyakan kelanjutan kontrak kerja dengan perusahaan baru dari daerah barat. Sebenarnya mereka sudah merencanakan rapat untuk minggu ini. Namun berhubung Alby disibukkan dengan masalah pernikahan, jadi ia harus menundanya. Apalagi sekarang Adelia sedang demam.
Istrinya itu ambruk dalam pelukan Alby tadi siang. Dan sekarang Adelia belum sadarkan diri padahal jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
Ting tong!
Alby segera bangkir mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia membukakan pintu agar Mamahnya bisa masuh. Alby memang sengaja menelfon Gea dan memberitahu kondisi Adelia. Karena Adelia terus memanggil Mamah dalam tidurnya.
"Dimana Adelia sekarang?" Tanya Gea begitu melihat Alby. Ia menerobos masuk ke dalam.
"Di kamarku," balas Alby pelan menunjuk kamarnya.
Gea ingin ke sana, namun ia berbalik menatap Alby dengan matanya yang menyipit. "Kamu sudah berjanji membawa Gea ke rumah, Alby! Kenapa kamu malah mengajaknya ke sini?!"
"Adelia milikku sekarang, Mah. Jadi Alby berhak atasnya," balas Alby singkat. Ia membuka kamarnya, mempersilahkan Gea untuk melihat Adelia yang terbaring di ranjang.
"Sayang," panggil Gea sembari mengusap pipi Adelia yang menghangat.
"Kamu nggak bawa Lia ke rumah sakit, Al?" Tanya Gea pada Alby yang duduk di sebelah kaki Adelia.
"Aku sudah memanggilnya. Mungkin lima belas menit lagi dokter datang."
Gea mengangguk kecil. Netranya melirik mangkuk berisi sapu tangan dan air hangat di dalamnya. Kemudian berganti melirik Alby yang sedang menumpukan kedua sikunya di paha dengan telapak tangan menutupi wajahnya.
"Kamu mengompres Lia, Al?" Tanya Gea meski sudah tau jawaban dari pertanyaang Gea. Tidak ada orang lain di sini, jadi yang mengompres Adelia pasti adalah Alby.
"Hm," gumam Alby menjawab.
Gea tersenyum kecil melihat perhatian kecil Alby pada Adelia meski Alby sendiri yang membuat Adelia terkapar seperti ini. Ia beranjak duduk di sebelah Alby dan mengusap bahu anaknya itu.
"Boleh mamah tau apa yang kamu lakukan pada Adelia?" Gea bertanya lagi. Kali ini begitu pelan karena takut menyinggung perasaan Alby.
"Aku hanya marah padanya." Alby berujar tanpa menatap Gea. "Lia tidak mau makan padahal dia melewatkan makan malam dan sarapannya."
"Perhatian kamu berlebihan--"
"Aku hanya tidak ingin anakku kenapa-napa di dalam perutnya, Mah," sela Alby memutus kalimat Gea.
__ADS_1
"Kamu sangat menyayangi anakmu?"
"Tentu saja!" Tegas Alby.
"Kalau begitu sayangi Adelia juga."
"Alby berusaha untuk itu. Tapi Adelia terus saja membuatku marah," balas Alby apa adanya.
Gea tersenyum lagi. Ia berdiri untuk mengusap rambut Alby. Hal itu membuat Alby menyandarkan kepalanya di perut Gea. Senyum Gea bertambah lebar, nyatanya Alby yang jahat pada Adelia ini masih seperti Alby kecil yang menikmati usapan Gea di rambutnya.
"Adelia sangat sayang sama kamu, Alby. Meski kamu tidak pernah memperlakukannya dengan baik, Adelia tetap menganggap kamu sebagai kakaknya. Dulu dia selalu antusias setiap kamu pulang dari luar kota atau luar negeri. Dia akan membantu mamah menyiapkan makanan untuk kamu."
Alby terdiam. Matanya terpejam namun telinganya masih mendengarkan apa yang diceritakan Gea.
"Lia nggak pernah marah waktu kamu menghukum dia. Katanya Lia emang salah jadi wajar Kak Alby kasar sama Lia, gitu. Sampai kemudian kamu memperkosanya."
Gea mengambil nafas sebelum melanjutkan, "Adelia depresi di hari selanjutnya. Dia selalu bilang dia nggak salah waktu itu. Lia hanya berniat menolong kamu yang pingsan karena mabuk."
"Alby, sangat wajar jika Lia tidak mau menuruti apa yang kamu mau. Dia masih memiliki rasa takut itu. Jadi tolong, kamu harus bisa lebih sabar menghadapi Lia," pesan Gea.
"Tapi Lia tidak menginginkan anakku, Mah!"
Alby bergeming. Lidahnya kelu bahkan untuk mengucap satu katapun.
"Kamu bisa?"
"Hm?" Gumam Alby tidak mendengar jelas pertanyaan Gea.
"Kamu bisa menyayangi Lia kan, Al? Setidaknya lakukan itu demi anakmu."
Alby menghela nafasnya. "Alby akan mencobanya."
###
Adelia terbangun saat matahari menyelinap masuk ke jendela kamar. Tangannya menyentuh dahinya yang lembab. Kemudian mengernyit menemukan sapu tangan basah itu di dahinya.
Ia berusaha bangkit meski kepalanya masih terasa berat. Alisnya menyatu, mungkin bingung dengan tempat asing ini.
"Kakak," gumam Adelia saat sekelebat ingatan kemarin siang melintas di kepalanya.
__ADS_1
Adelia ingat, Alby memberinya pelukan hangat. Sebuah pelukan yang sejak dulu Adelia inginkan dari Alby. Ia tidak percaya rasanya begitu menenangkan meski Adelia merasakannya sangat singkat karena harus kehilangan kesadarannya saat itu.
Lamunan Adelia buyar saat Alby keluar dari kamar mandi menggunakan celana bahan pendek serta kaos polos hitam. Ah, kakaknya itu memang sangat menyukai warna hitam, jadi tidak heran jika hampir setiap hari Adelia melihat Alby memakai baju dengan warna itu.
"Sudah bangun, merasa lebih baik, kan?" Tanya Alby sembari menyentuh dahi Adelia yang tidak panas lagi. Syukurlah, demamnya sudah turun.
Adelia mengangguk pelan. Melihatnya Alby tersenyum untuk beberapa sekon. Bahkan Adelia tidak sempat melihat senyuman itu.
"Aku akan mengambil makan malam untukmu," ucap Alby.
Langkah Alby terhenti saat merasakan tarikan di ujung kaosnya. Ia menoleh, menatap Adelia yang menahannya. Satu alis Alby terangkat, menanyakan alasan kenapa Adelia menahan dirinya.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Alby saat Adelia tak kunjung bersuara.
Adelia menggeleng. Lantas Alby menyentak tangannya dan berniat melanjutkan niatnya ke dapur.
"Kakak," panggil Adelia.
Kali ini Alby berbalik dengan wajah jengahnya. "Aku akan mengambil makananmu dulu," ucapnya tak ingin dibantah.
Tadi saat dokter datang, beliau menyarankan agar Adelia diberikan makan kemudian meminum obat darinya. Mamahnya juga sudah mewanti-wanti Alby agar tidak melupakan itu. Jadi Alby segera ke dapur untuk mengambil makanan yang dibawakan Gea tadi.
Ah ya, Gea sudah pulang karena harus mengantar Bimo ke bandara untuk perjalanan bisnis. Jadi mamahnya tidak bisa menunggu Adelia siuman.
"Kenapa?" Tanya Alby setelah sampai di kamar. Ia membenarkan letak selimut agar menutupi kaki Adelia lagi. Kemudian duduk di sebelah Adelia dengan tangan memegang makanan.
"Kakak nggak akan nyakitin aku lagi, kan?" Tanya Adelia mengingat janji Alby semalam.
"Ya, jika kamu tidak perintahku membantahku," balas Alby datar.
Alby menyodorkan satu suapan untuk Adelia. Namun Adelia menggeleng kecil.
"Aku makan sendiri nanti," ucapnya cepat melihat raut kesal Alby.
Alby menghela nafasnya. Meski begitu ia tetap mengangguk dan menaruh makanannya di nakas.
"Aku akan mencobanya, kak," ucap Adelia. "Aku akan mencoba menyayangi anak ini asal Kak Alby tidak menyakitiku lagi."
###
__ADS_1