Istri Kecil Tuan Sadis

Istri Kecil Tuan Sadis
Hadiah Kecil


__ADS_3

Helaan nafas berat terdengar begitu Alby menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Hari ini ia menuruti Adelia untuk pindah ke rumah mamah. Sebenarnya Alby sempat menolak, tapi ia juga berpikir Adelia pasti akan kesepian di apartemen tanpa ada yang menemani.


Ya, Alby memutuskan untuk mencoba apa yang dikatakan mamahnya. Menyayangi Adelia. Sepertinya hal itu tidak akan sulit karena Adelia juga sedang berusaha untuk menyayangi anaknya.


"Kak, makan malamnya udah siap."


Adelia berdiri di ambang pintu dengan gaun rumahan yang elegan. Gadis itu sudah sembuh dan menjadi banyak bicara di rumah ini.


"Hm," gumam Alby mengiyakan tapi tubuhnya enggan beranjak dari ranjang.


"Mamah nunggu di bawah, kak," ujar Adelia lagi.


Mau tidak mau Alby bangkit. Ia berjalan malas mengikuti Adelia ke meja makan.


Sesampainya di sana, Adelia langsung menyajikan makanan untuk Alby. Ini bukan hal baru lagi karena dari dulu Adelia biasa membantu mamah untuk melayaninya sejak dulu.


"Kamu benar-benar akan tinggal di sini, Al?" Tanya Gea antusias.


"Bukannya mamah yang menginginkan hal ini?" Balas Alby balik bertanya. Ia melanjutkan makannya tanpa mengindahkan mamahnya yang kini berbagi cerita dengan Adelia. Namun sesekali Alby melirik saat Adelia tertawa kecil mendengar cerita Gea.


"Oh ya, kapan kamu berangkat kuliah lagi?" Tanya Gea sontak membuat Alby menoleh. Menatap Adelia yang terdiam. Gadis itu pasti ingat bahwa Alby melarangnya melanjutkan kuliah.


"Alby tidak mengizinkan Adelia untuk kuliah," ujar Alby karena Adelia tak kunjung menjawab Gea.


Jawabannya tentu saja membuat Gea mendelik tidak percaya.


"Lho, kenapa? Kuliahnya tinggal satu semester lagi, Alby."


"Alby tidak peduli," balas Alby acuh. Ia menyingkirkan piringnya yang sudah kosong.


"Alby--"


"Aku sudah mengizinkannya tinggal di sini. Bukankah itu cukup untuknya?"


"Tapi pendidikannya juga penting!"


"Tidak lebih penting dari anakku. Kuliahnya pasti membuat dia lalai menjaga bayinya. Aku tidak mau sampai hal buruk apapun terjadi pada anakku nantinya."


"Alby!" Gea berseru kesal. Ia hendak bersuara lagi tapi Alby langsung menyelanya.


"Kamu masih ingin melanjutkan kuliahmu, Lia?" Tanya Alby pada Adelia yang masih bergeming.

__ADS_1


Adelia bungkam. Tentu saja ia ingin melanjutkan kuliahnya. Tapi mengingat ancaman Alby waktu itu membuatnya takut untuk mengatakan keinginannya lagi.


"Katakan sejujurnya, Lia. Mamah akan bantu kamu," ucap Gea menggenggam tangan putrinya.


Alby mendecih. Netra tajamnya masih terarah pada Lia. Menunggu gadis itu membuka suara.


"Ak-- aku nggak bisa terusin kuliahku, mah," putus Adelia setelah berpikir cukup lama. Sudut bibirnya terangkat saat Gea menatapnya iba. "Mas Alby nggak mengizinkan aku untuk kuliah. Jadi aku akan menurutinya," lanjutnya.


Berbeda dengan Gea yang merasa kasihan pada Adelia, Alby justru merasa senang. Tentu saja karena Adelia berpihak padanya.


"Mamah dengar?" Tanya Alby menyunggingkan sudut bibirnya. "Adelia tidak ingin kuliah lagi, jadi tolong jangan memaksanya untuk melanjutkan pendidikannya."


Alby beranjak bangkit dan menarik Adelia agar mengikutinya. "Makan malamnya sudah selesai dan istriku harus beristirahat. Selamat malam," pamit Alby.


Ia membawa Adelia ke kamarnya yang bernuansa gelap. Padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menempati kamar Adelia.


"Aku senang kamu tidak membantahku, Lia," ucap Alby sembari tersenyum. Ralat, senyuman itu lebih terlihat seperti seringaian kecil.


Adelia memundurkan langkahnya saat Alby mendekat sembari melepas kaosnya dan membuang benda itu ke sembarang arah.


"Ka-- kakak mau apa?" Tanya Adelia meremang. Apalagi saat langkahnya terhalang oleh ranjang di belakangnya.


"Memberimu hadiah kecil, mungkin."


"Aku bilang ingin memberimu hadiah, baby. Bukan menyakitimu," ucap Alby sensual di telinga Adelia.


Alby memberikan dorongan kecil pada tubuh Adelia. Membuat gadis itu jatuh terlentang di atas kasur. Merasakan Alby menguncinya dengan kedua tangan yang diletakan di sisi tubuh Adelia membuatnya sontak menahan dada Alby agar tidak menimpanya.


"Kakak," panggil Adelia takut. Seakan tidak sadar, Adelia meremas dada kekar suaminya itu.


"Yes, baby?" Balas Alby.


Tangan kanan Alby mulai bergerak mengusap pipi Adelia. Kemudian usapan itu turun ke leher kemudian ke bahu Adelia. Wajah Alby mendekat, memberikan kecupan hangat di sana.


"Aku akan membuatmu merasakan kenikmatan malam ini, baby. Anggap itu sebagai hadiahku untukmu."


Adelia melenguh saat lidah Alby menyapu seluruh bagian pundaknya. Kepalanya menggeleng pelan tanda bahwa ia belum siap melakukan ini lagi. Tangannya meremas rambut Alby, berusaha menjauhkan kepala Alby dari tubuhnya. Namun pria itu justru mengunci kedua tangannya di atas kepala Adelia.


"Aku suka aroma tubuhmu," ucap Alby serak.


Ia mengangkat tubuh sisi kiri Adelia agar tangannya bisa menurunkan resleting gaun sialan itu. Kemudian dalam sekali hentakan Alby menariknya kasar. Tidak peduli dengan Adelia yang mungkin terkejut akan perlakuannya. Setelah berhasil meloloskan gaun itu.

__ADS_1


"Kakak aku takut," rengek Adelia.


Kali ini Alby mendengarnya. Pria itu mendengus kecil kemudian mensejajarkan wajahnya dengan Adelia.


"Ini hadiah, jadi aku akan bermain lembut padamu." Alby ******* bibir Adelia sejenak. "Berhenti merengek atau aku akan bermain kasar padamu. Mengerti?"


Adelia mengangguk kecil. Ia membiarkan Alby melanjutkan permainannya.


Alby tidak berbohong. Kali ini ia melakukan itu dengan sangat lembut sampai Adelia sendiri terbuai karenanya.


Tubuh Adelia bergetar saat puncak kenikmatannya menghampiri. Tidak seperti sebelumnya saat Alby terus melanjutkan, pria itu sekarang berhenti. Membiarkan Adelia menikmati pelepasannya.


Alby kembali menghentakan tubuhnya setelah Adelia mengangguk puas. Sampai beberapa menit kemudian ia ambruk di atas tubuh Adelia saat mencapai puncaknya.


Nafas Alby sangat memburu di lekuk leher Adelia. Pria itu belum beranjak dari atas tubuhnya dan justru semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Tubuhmu sangat nikmat, sayang," ucap Alby.


Adelia tertegun saat merasakan Alby terkekeh kecil. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Adelia cukup lama.


"Kamu menikmatinya?" Tanya Alby sontak membuat pipi Adelia bersemu merah.


Adelia mengangguk jujur. Mendapat hadiah kecupan lembut di pipinya dari Alby. Ia memang menikmati permainan Alby meski sesekali merasakan sakit di daerah intimnya.


"Perutmu tidak masalah?" Tanya Alby lagi.


Kali ini Alby menggeser tubuhnya. Ia menggunakan lengan kanannya untuk menyangga agar tetap bisa menatap Adelia. Alby menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka kemudian mengusap perut Adelia begitu lembut.


"Aku sangat menantikan anak ini," gumamnya dengan netra terpejam.


"Kenapa?" Tanya Adelia memberanikan diri. Ia menoleh, mendapati netra coklat terang Alby yang menatapnya sayu. Mungkin pria itu kelelahan karena permainanya tadi.


"Tentu saja karena dia anakku," balas Alby kemudian masuk ke alam mimpinya.


"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Adelia. Ia menghentikan tangan Alby yang terus mengusap perutnya. "Apa setelah anak ini lahir Kak Alby akan meninggalkanku?"


"Aku tidak mungkin melakukan itu. Kamu ibunya, jadi kamu harus mengurusnya sampai dia besar nanti."


"Tapi Kak Alby membenciku."


"Aku akan berusaha untuk menyayangimu, Adelia Kirana."

__ADS_1


###


__ADS_2