Istri Lugu Pria Dingin

Istri Lugu Pria Dingin
Siapa suruh dia pakai dress


__ADS_3

Liu membawa Aling ke kamar, dia membaringkan wanita itu ke kasur dan memanggil pelayan.


"Urusi dia!" Pinta Liu. "Setelah berpakaian rapi, suruh dia turun dan makan, temui aku di meja makan, ada hal penting yang harus kami bicarakan, aku tidak suka terlalu lama menunggu!" Ketus Liu dengan sorot matanya yang tajam.


"Dan kau!" Liu menendang ujung kaki Aling. "Berhenti pura pura tidur, kau pikir aku mudah dibohongi. Kau dengar apa yang aku katakan kan!"


Aling tak merespon dan membuat Liu kesal, dia mendelikkan mata sambil menyeka rambut yang turun di dahinya. 


Sementara Aling masih berlagak seperti mayat hidup.


"Kalau dia masih belum bangun, lemparkan dia dari lantai dua!" Ujar Liu pada pelayan.


Sontak ucapannya itu membuat Aling langsung mengangkat punggungnya dengan wajah terkejut. 


Liu mendecakkan lidah dengan wajah sinis. "Dasar kau kurang perhatian!" Ujarnya sembari meninggalkan kamar yang akan menjadi tempat tinggal Aling selama di rumah ini.


"Aish…" Aling berdesis pada dirinya sendiri, dia masih basah kuyup ketika Liu menidurkannya pada ranjang mewah berukuran queen ini.


Dia mendongakkan kepala, menatap wajah pelayan dengan dress seperti pelayan Eropa ini. "Ah, maafkan aku ya, karena aku sekarang ranjangmu basah. Aku akan menjemur bed cover ini." Ujar Aling dengan wajah memelas, dia merasa bersalah sudah meninggalkan bayangan dirinya yang telentang di atas kasur.


"Tidak perlu nona, itu adalah tugas saya, tugas nona adalah membersihkan diri, saya akan mengambil pakaian nona di kloset room, tuan Liu sudah menunggu anda di meja makan. Saya harap nona bisa diajak bekerjasama." Ujar pelayan yang tadi kewalahan meladeni Aling, seandainya Aling tidak lari dan kabur darinya mungkin drama basah basahan ini tidak akan terjadi.


"Ah, aku mohon maaf," Aling tampak malu dengan tingkahnya sendiri, dia mencoba menyembunyikan wajahnya. "Lalu, dimana kamar mandinya?" Tanya dia mencoba untuk menahan rasa merona yang membakar wajahnya.


"Mari nona, saya tunjukkan kamar mandinya." Ujar pelayan meminta Aling mengikuti langkahnya, dengan sungkan dan mata yang siaga, Aling mengikuti langkah si pelayan.


--ya ampun, ruangan ini sangat besar dan mewah, furniture yang digunakan juga bukan benda yang sering aku lihat, perabotan di sini tampak asing dengan desain yang aneh. Aling memperhatikan tiap detail interior ruangan dengan mata takjub.


"Silahkan nona." Pintu kamar mandi terbuka dan membuat mulut Aling ikut terbuka.


Dengan tangan tertangkap di depan pahanya, dia melangkah perlahan menuju ke kamar mandi yang pelayan tunjukkan.

__ADS_1


Pertama kali masuk dia menginjak alas kaki yang terasa hangat dan beruap, dia menginjakkan kakinya ke lantai marmer tapi si pelayan dari belakang mengambilkan sepasang sandal karet dengan kepala bebek berwarna kuning.


"Nona, kau bisa pakai selop ini untuk ke kamar mandi." Ujar si pelayan.


Aling menatap selop yang ditaruh di depan kakinya saat ia berbalik, selop kuning cerah yang tampak lembut dan menggemaskan. "Ba, baiklah." Ujarnya patuh.


Ah, ini bukan selop murah sepuluh ribuan di merchant online, saat kakinya masuk dan menginjak alas karet, rasanya begitu empuk dan lembut, lekukan sandal langsung mengikuti lekukan kakinya, sandal ini sangat nyaman.


"Nona bisa membersihkan tubuh nona, saya sudah mengisi air Mandian, anda bisa menggunakan semua fasilitas di sini, tuan Liu sudah memberikan izin untuk Anda nona," ujar si pelayan sambil menarik pintu di ujung lorong, berjarak sekitar lima meter dari posisi Aling berdiri.


Lorong ini saja sudah membuat Aling takjub, ada rak dengan bathrobe, handuk, uap hangat beraroma terapi, cermin besar di dinding, berbagai alat pembersih gigi dan wastafel dengan desain futuristik.


Ternyata itu saja belum cukup.


Ketika pintu dibuka, di dalam sana sudah ada ruangan yang lebih tampak mengagumkan. 


Bathtub dengan bahan mengkilap, lengkap dengan lemari berwarna putih yang bisa di geser, semua memuat rangkaian produk kecantikan dan perawatan dari atas hingga ujung kaki.


"Silahkan nona, saya akan meninggalkan nona, nona hanya bisa menghabiskan waktu lima belas menit saja untuk hari ini, karena tuan Liu masih banyak urusan jadi dia tak bisa menunggu nona terlalu lama." Ujar pelayan menunjuk pada arloji yang melingkar di tangannya.


"Apa! Lima belas menit saja!" Suara Aling setengah berteriak.


Si pelayan mengangguk tanpa keraguan lalu meninggalkan Aling dengan senyuman penuh makna.


Aling menautkan alisnya, "bahkan aku butuh seharian untuk mengagumi kekayaan kamar mandi seorang Liu." Ujar Aling pada dirinya sendiri sebelum ia harus memacu kecepatan untuk membilas diri. 


Dia lebih takut dengan konsekuensi kalau mengecewakan Liu.


***


Liu sudah bersiap di meja makan, semua makanan masih tertutup sempurna di meja bundar dengan etalase putar pada bagian sumbu meja.

__ADS_1


Dia menatap seorang pria yang berpakaian rapi dan mengenakan kacamata yang berdiri tak jauh dari posisi kursi dimana ia duduk.


"Berikan padaku, aku akan membacanya sekali lagi." Ujar Liu dengan sorot mata dingin.


Pria berkacamata itu memberikan pada Liu dokumen bermap hitam di tangannya. "Ini, tuan!" Ujarnya sopan.


Liu mulai membuka lembar demi lembar isi dokumen itu. "Jadi akhir pekan ini aku harus menunjukkan diriku di hadapan mereka?" Tanya Liu dengan nada tidak mengandung unsur tanda tanya.


"Iya, tuan. Mereka sudah lama menginginkan tuan untuk datang, keluarga Mu sangat ingin mempertemukan anda dengan putri mereka, mereka selalu mengatakan tentang perjodohan yang sudah lama di atur pada masa kakek nenek kalian." Jelas pria berkacamata itu.


Mendengar semua itu membuat Liu tertawa sinis.


"Mudah sekali mengatur takdir seseorang bahkan sampai detail hingga ke jodoh. Mereka pikir aku seekor anjing atau seekor kucing yang lucu." Desis Liu sinis.


"Kita masih ada waktu sampai akhir pekan, aku mau dia menjadi wanita yang pantas aku gandeng, aku akan membawa dia pada acara ini dan memperkenalkannya sebagai tunangan ku." Ujar Liu.


"Tapi tuan." Sepertinya pria berkacamata sedikit cemas dengan keputusan Liu. "Anda tahu keluarga Mu, mereka tidak akan mudah menerima keputusan sepihak dari anda." Jelas si berkacamata dengan wajah cemas.


Suara ketukan heel di lantai marmer terdengar, Liu menutup dokumen di tangannya dan memberikan pada pria berkaca mata.


"Aku tidak suka saat aku makan harus bercampur dengan pekerjaanku. Setelah aku selesai makan, bawa kontraknya padaku, aku akan membuat dia menyetujui apa yang sudah aku tetapkan!" Ujar Liu pada pria berkacamata tanpa menatap wajahnya, saat ia mengangkat wajah, dia hampir saja tersedak saat melihat penampilan Aling.


"Uhuk uhuk!" Liu terbatuk.


"Tuan, anda baik baik saja?" Tanya pria berkacamata sambil mengambilkan air minum. 


Liu menggelengkan kepalanya, mencoba menjaga wibawanya.


--Sialan! Siapa suruh dia memakai dress di jam segini! Ini masih terlalu pagi untuk mendapatkan tubuh seorang wanita yang tampak begitu vulgar.


__ADS_1


__ADS_2