Istri Pilihan Simbah

Istri Pilihan Simbah
Mahendra Gesang


__ADS_3

Lelaki tampan dan mapan, anak tunggal dari orang terkaya di kota ini. Dijuluki si tangan emas, karena apa yang disentuhnya pasti akan menjadi emas. Apa yang diusahakannya selalu berhasil dan menggurita.


Sudah tak terhitung berbagai jenis usaha yang dimiliki keluarga Mahendra saking banyaknya. Keluarga ini bahkan disebut sebagai pahlawan di kota ini karena kontribusinya menciptakan lapangan kerja bagi ribuan warganya.


Sayang hingga usianya beranjak 30 tahun, Gesang belum beruntung dalam hal asmara. Desas-desus yang mengatakan bahwa keluarga Gesang mendapatkan kekayaan dari jalan haram dan tak kasat mata serta jalan sesat membuat semua gadis menjauh karena takut dijadikan tumbal kekayaan keluarga Gesang.


Gesang duduk terpekur di kursi teras belakang yang menghadap taman. Hubungan asmaranya yang selalu layu sebelum berkembang akibat rumor buruk keluarganya yang santer di penjuru kota membuatnya putus asa dan menerima begitu saja perempuan yang dipilihkan simbah.


Simbah, satu-satunya orang tua yang dia kenal dan dia miliki saat ini. Setelah ibu dan ayahnya meninggal karena sakit beberapa tahun lalu. Kejadian pilu yang semakin memperburuk rumor di luar, bahwa kedua orang tuanya meninggal karena dijadikan tumbal.


Gosh!! Betapa kejam mulut mereka. Dirinya yang saat itu berumur 15 tahun harus menghadapi kepedihan luar biasa kehilangan kasih sayang kedua orang tua. Masih harus dihujam rumor jahat tentang tumbal dan konspirasi neneknya dengan alam gaib. Dimana hati nurani kalian? Batinnya menjerit tak berdaya kala itu.


Padahal keluarganya yang berperan besar memberi makan dengan memperkerjakan ribuan dari mereka. Sejak itu Gesang menutup diri. Dunia begitu kejam, dan dia akan ikut alur. Tak akan peduli lagi pada Dunia yang sudah tak adil padanya.


"Kamu boleh berkenalan dulu dengan Minul Gus, supaya kalian tidak canggung saat nanti benar-benar menikah" Simbah merangkul pundaknya. Gus adalah panggilan kesayangan simbah padanya yang merupakan kependekan dari kata Bagus yang berarti ganteng atau tampan.


"Nggak perlu mbah. Sudah langsung menikah saja. Yang penting perempuan dan tidak menganggapku monster yang akan menumbalkan dirinya pada piaraan simbah" Gesang menjawab ketus. Entah kesal pada siapa iapun tak tahu.


Apakah kesal pada simbah yang membuat orang berpikir negatif pada keluarganya. Atau kesal pada dunia yang sudah memvonis buruk keluarganya. Entahlah.


Simbah malah terkekeh. Perempuan berusia 70 tahun yang masih nampak awet muda itu tak menggubris kekesalan hatinya. Apakah itu berarti rumor di luaran benar? Gesang jadi bertanya-tanya dalam hati.


"Apa kamu mulai percaya pada hujatan orang-orang itu Gus? "


" Entahlah mbah. Aku sudah capek. Kadang aku ingin pergi ke luar negeri saja. Dimana tak ada orang mengenalku sebagai cucumu. Anak keturunan Raden Ayu Bingah Wisanggeni."


"Kamu tega ninggalin simbah Gus? "


" Kalau aku tega, aku tak akan di sini sekarang mbah" Lagi-lagi Gesang berucap ketus.


Simbah memeluk satu-satunya keturunannya yang masih hidup itu. Matanya menerawang entah memikirkan apa.


Perempuan tua itu kemudian menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya.


"Ini Minul Gus. Ayu to? Dia anak desa tapi pinter. Lulusan Akper. Dia sekolah simbah yang biayai."

__ADS_1


"Jadi simbah nagih balas budi dengan memaksanya kawin denganku?" Rutuk Gesang jengah.


Simbah tertawa. Cucunya ini tak pernah bicara sopan padanya. Padahal seluruh kota hormat dan segan padanya, meskipun dia juga tahu mereka hanya hormat di depannya tapi bergunjing di belakangnya.


"Tidak terpaksa. Di desa memang biasa jodoh-menjodohkan seperti itu Gus. Lagi pula kamu ndak bisa cari istri sendiri kan? Simbah sudah bebaskan kamu sampai 30 tahun. Mana hasilnya? "


" Terserah simbah lah."


"Simbah kirim fotonya ke kamu ya Gus? "


" Terserah",Gesang menjawab malas.


Tring!


Tak lama beberapa buah foto masuk ke aplikasi pesan di ponselnya. Meski malas dibukanya juga pesan foto dari neneknya itu. Paling juga anak desa yang kumal. Nggak modis dan katrok, kampungan. Batinnya menghakimi.


Namanya saja Minul. Apaan tuh? Kaya nama biduan dangdut keliling yang menjajakan suara pas-pasan dan bodi montok doang. Otaknya sudah bergidik membayangkannya.


Namun matanya terbelalak ketika membuka satu foto kiriman neneknya. What the fu*ck? Tak sadar bibirnya mendecak.


"Apa dia pakai aplikasi filter kamera jahat nek?" tanya Gesang ragu.


" Apulkasi opo Gus" simbah mengerutkan dahi.


"Aplikasi mbah. Yang bisa bikin wajah jelek jadi bagus di foto. "


" Maksudmu opo Gus. Kamu pikir wajah Minul di foto itu rekayasa begitu? " tanya Simbah.


" Kurang lebih begitu mbah. Pasti simbah juga belum pernah ketemu Minul yang asli kan? "


" Asal ngomong kamu. Simbah tiap bulan ketemu Minul. Wong Bapaknya itu pegawainya simbah yang mengurus kebun teh di desa. Aslinya malah lebih cantik Gus" simbah menjawab kesal.


Gesang tersenyum. Tiba-tiba dadanya berdesir halus. Kalau benar Minul secantik itu, dia tak akan menyesal meski harus dijodohkan tanpa berkenalan.


"Eh, jangan-jangan Minul bisu atau cacat nggak kelihatan mbah? " Gesang menatap takut, kalau-kalau apa yang dipikirkannya benar

__ADS_1


" Huss.. Malah ngelantur. Makanya simbah suruh kamu kenalan dulu. Biar gak mikir aneh-aneh"


"Baiklah mbah. Kenalkan aku sama Minul. Kalau benar dia asli seperti foto ini. Aku siap menikah kapan saja mbah"


Simbah terkekeh melihat Gesang begitu antusias ingin mengenal Minul.


"Nanti sore dia datang dari desa. Kamu akan ketemu sama dia. Dia akan kerja di klinik kita. Awas jangan macem-macem."


Gesang mendecak malas. "Memang aku mau ngapain mbah? Lagian dia juga bakalan jadi istriku. Mau macem-macem juga nggak papa kan?" Senyum jahil terbit di wajah tampannya.


Simbah menjewer telinga Gesang.


"Nggak boleh! Dia harus tetap utuh hingga kalian benar-benar menikah nanti"


Gesang tertawa tergelak melihat wajah serius neneknya.


"Simbah pikir cucumu ini seperti apa? Mbah... Mbah gara-gara tuyulmu, cucumu ini bahkan belum pernah merasakan namanya pacaran sampai setua ini. " keluh Gesang akhirnya.


" Mulutmu Gus, memang kamu lihat sendiri simbah piara tuyul? " Simbah mendelik.


" Sudah kubilang entah mbah. Aku sudah nggak percaya pada semua orang. Termasuk simbah. Buktinya simbah anteng saja dibilang orang punya tuyul, punya pesugihan. Kalau simbah tak merasa harusnya simbah usaha dong buat menyangkal semua rumor itu."


Simbah mengesah sambil menatap keluar jendela.


"Orang yang benci akan selalu mencari kesalahan kita. Apa kamu pikir bisa membungkam mulut ribuan orang? "


" Setidaknya simbah ngomong dong, kalau usaha kita itu banyak. Simbah memang kaya dari orok. Dan cucumu ini pandai mengelola perusahaan sehingga asetnya kian bertambah hari ke hari."


"Apa itu penting buatmu Gus? Simbah akan melakukannya kalau kamu mau" Simbah menatap sayang pada Gesang.


"Ahh.. Sudahlah mbah. Aku juga sudah terbiasa dengan semua ini. Semoga simbah memang tak seperti yang dikatakan orang-orang itu. Karena sebenarnya aku juga suka ragu sama simbah. Simbah itu penuh misteri"


Gesang menerawang.Ingatannya berlabuh pada malam-malam aneh saat ia mendengar suara tak lazim dari kamar simbah. Juga pada fisik simbah yang tampak tak menua. Pun pada kamar depan yang tak boleh dibuka dan selalu terkunci namun selalu menebar bau harum bunga dari dalamnya itu.


Simbah memang penuh misteri.

__ADS_1


Happy merinding...


__ADS_2