Istri Pilihan Simbah

Istri Pilihan Simbah
Minul


__ADS_3

Gadis berwajah cantik manis itu adalah jelmaan dari kesempurnaan seorang wanita. Wajah yang mulus, putih bersih bak pualam ditambah bentuk tubuh aduhai yang membuat semua mata enggan berpaling.


Mata lelaki akan menatapnya penuh harap dan khayalan, andai bisa memiliki kesempurnaan itu. Dan mata perempuan akan memicing iri. Andai mereka yang punya paras dan tubuh seindah itu.


Minul.. Oh Minul. Kembang desa putri pak Bayan yang tak tersentuh. Karena sejak dalam kandungan, Raden Ayu Bingah yang merupakan majikan ayahnya sudah menetapkan jodoh baginya.


"Anakmu nanti akan aku jodohkan dengan cucuku Yan" kata sang Raden Ayu kala itu. Padahal Bayan ayah Minul pun belum tahu jenis kelamin bayi dalam kandungan istrinya itu.


"Kasinggihan(tentu saja) den ayu. Saya merasa terhormat. Mudah-mudahan anak saya benar-benar perempuan. "


" Anakmu perempuan " Den ayu itu begitu yakin mengatakannya. Namun keraguan Bayan dan istrinya itu sirna ketika hari kelahiran tiba dan sang bayi benar-benar permpuan seperti yang dikatakan sang majikan.


Sebagai abdi setia, Bayan dan istrinya dengan legowo (ikhlas) merelakan buah hati mereka untuk dijodohkan dengan cucu sang majikan yang sudah memberikan kehidupan layak untuk mereka sekeluarga.Mereka yang sederhana berpikir, setidaknya putri mereka akan hidup berkecukupan sebagai istri orang terkaya di kota.


Minul begitu dimanjakan orangtuanya. Dia adalah kesayangan semua orang. Termasuk Den ayu Bingah. Majikan Bayan itu sering berkunjung dengan membawakan segala kepentingan bayi. Berlanjut hingga Minul beranjak dewasa. Membiayai semua keperluan Minul hingga menamatkan sekolah keperawatan dan kebidanannya.


Tak terhitung yang melamar dan meminang sang gadis, namun Bayan dengan sopan menolak mereka dan mengatakan bahwa sang putri telah dipinang oleh orang lain.


"Nul kamu harus bisa menjaga diri nak. Kamu bukan gadis yang bebas lagi. Kamu itu calon istri seseorang. Kamu calon istri Raden mas Gesang." Bayan memberitahu Minul saat gadis itu beranjak dewasa dan mulai mengenal lawan jenis.


"Iya pak. Minul tahu. Den Ayu selalu mengatakan itu kalau ketemu Minul" Gadis itu mengangguk patuh.


"Syukurlah kalau kamu sudah memahaminya nduk"


Dan saatnya tiba ketika Den Ayu Bingah memintanya ke kota untuk bekerja di klinik miliknya setelah Minul menyelesaikan pendidikan kebidanannya beberapa waktu lalu.


Tentu saja Minul menyambutnya dengan senang hati. Dia tak perlu susah payah mencari klinik atau rumah sakit. Klinik den Ayu Bingah sudah menunggunya.

__ADS_1


Dengan gembira dan penuh harap Minul berangkat ke kota. Den Ayu sudah mempersiapkan mobil untuk menjemput Minul. Dan pagi itu Pak Bayan dan istrinya melepaskan kepergian Minul untuk pergi ke kota denga hati masygul.


Di satu sisi bahagia putri kesayangan mereka segera mengabdikan ilmunya sebagai bidan. Namun di sisi lain mereka tahu, mungkin Minul tak akan pernah kembali lagi ke desa karena den Ayu sudah mewanti-wanti (berpesan) mulai sekarang Minul adalah tanggung jawab Den Ayu dan Den Mas Gesang.


"Pandai-pandai membawa diri nduk. Bapak dan ibu selalu mendoakanmu. Sering-seringlah memberi kabar agar kami tahu keadaanmu. "


Minul memgangguk sambil berlinang air mata. Meninggalkan orang tua yang selama 21 tahun tak pernah berpisah sebenarnya juga membuatnya gamang. Apakah kehidupan di luar akan seindah hidupnya yang tenang dan damai selama ini?


Sebenarnya Minul pun merasa penasaran akan sosok Den Mas Gesang yang belum pernah dilihat ataupun dikenalnya. Padahal menurut ayah ibunya, juga den ayu, Gesang adalah calon suaminya.


Apakah dia tampan? Apa dia galak, atau malah lemah lembut? Ah tidak. Minul tak berani membayangkan. Juga tak berani berharap terlalu tinggi. Minul sadar siapa dirinya. Hanya gadis desa yang beruntung karena mendapatkan bantuan dari Den ayu Bingah. Dan kini mendapat kehormatan dijadikan calon menantu keluarga kaya itu.


Siang hari setelah menempuh perjalanan selama empat jam, Minul sampai di depan kediaman Den Ayu Bingah.


Turun dari mobil Minul ternganga menatap rumah di depannya. Sebuah istana megah yang bahkan tak pernah terbayang dalam mimpi sekalipun. Halaman luas dengan taman dan air mancur serta pepohonan yang diatur rapi. Rumah megah dan besar yang dihias pilar-pilar besar dan kokoh. Dadanya berdebar. Apakah aku pantas tinggal disini?


"Den ayu silakan masuk. Sudah ditunggu di dalam" suara seorang wanita setengah baya yang berdiri di hadapannya membuyarkan lamunan Minul.


"Panggil saja saya mbok Nah den ayu. Saya abdi dalem den ayu bingah"


" Ah iya mbok nah. Saya Minul. Nggak usah pake den ayu.. Saya cuma orang desa.. " Minul tersenyum sungkan.


Mbok Nah ikut tersenyum. ," Tapi sebentar lagi den ayu jadi istri den mas Gesang"


Minul lagi-lagi tersenyum. "Saya tetap orang desa biasa mbok Nah.'"


Mbok Nah tersenyum mendengar Minul berkata-kata. Cantik dan sopan, kesan pertama mbok Nah melihat Minul. Dibawakannya beberapa tas yang dibawa Minul.

__ADS_1


"Terima kasih mbok Nah. " Minul yang merasa kesulitan membawa barangnya merasa senang dibantu.


" Iya den ayu. Mari saya antar ke kamar den Ayu dulu untuk menaruh barang-barang. Setelah itu baru menemui den ayu Bingah dan den mas Gesang.


Minul mengikuti langkah mbok Nah dengan hati yang ragu. Mereka masuk melalui samping rumah, agak ke belakang dan tiba di sebuah paviliun kecil yang ada di sana.


"Sementara sebelum menikah, den ayu tinggal di sini. Untuk menjaga nama baik den ayu sendiri dan menghindari fitnah. Setelah menikah, baru den ayu tinggal di rumah utama. "


Minul memgangguk pelan. Rumah ini saja begitu bagus dan mewah. Perabotannya lengkap dan berkualitas tinggi. Apalagi rumah utama? Minul masih saja terpana dengan apa yang dihadapinya.


" Den ayu mau mandi dulu atau langsung menemui Den mas dan den ayu Bingah? " tanya mbok nah sambil memasukkan barang-barang Minul ke dalam kamar.


" Saya mandi dulu mbok. Gerah dan bau mobil bau keringat."


"Baik. Silakan bebersih, setengah jam lagi saya ke sini menjemput den ayu. "


" Terima kasih mbok Nah"


Wanita paruh baya itu mengangguk hormat lalu keluar dari paviliun.


Minul memasuki kamar pelahan. Sinar matahari masuk dari jendela kaca yang terbuka. Kamar ini terasa terang dan segar karena udara bebas masuk dari jendela. Dari dalam kamar ini Minul bisa melihat pemandangan taman yang indah di luar.


Kamar ini sangat luas. Ada kamar mandi di sudut ruangan dan dilengkapi dengan shower dan bathtube. Minul tertawa sendiri. Membayangkan dirinya berendam dalam bak pualam berwarna coklat muda itu.


Dalam mimpi pun tak pernah Minul membayangkan semua ini. Semua sangat megah dalam pandangan gadis desa yang terbiasa hidup apa adanya itu.


Apakah semua akan indah sampai akhir seperti apa yang kini dilihatnya?

__ADS_1


Minul merebahkan tubuhnya di ranjang besar yang indah dan empuk itu. "Pak... Bu... Doakan Minul selalu bahagia.." gumamnya lirih.


Tak lama nafas teratur terdengar dari arah ranjang besar itu. Minul tertidur sangat lelap.


__ADS_2