
Gesang tak sengaja melihat Minul melintasi halaman samping ditemani mbok Nah, berjalan menuju paviliun di belakang rumah.
Gadis itu membawa ransel dan tas jinjing,sementara mbok Nah mengekor di belakangnya sambil membawa kopor dan sebuah tas.
Gesang tersenyum sendiri. Rupanya ini alasan Tuhan tak memberinya jodoh hingga usianya 30 tahun. Karena jodohnya adalah gadis cantik dan bertubuh aduhai ini. Dan Gesang sama sekali tak.menyesalinya kini, malah mensyukurinya.
Gadis itu tak menyadari Gesang sedang menatapnya dari balik kaca jendela yang gelap dari luar namun terang dari dalam. Gesang meneguk salivanya . Tenggorokannya tiba-tiba kering demi melihat dada membusung Minul yang tampk begitu menonjol karena gadis itu membawa ransel yang berat.
Gesang merebahkan dirinya ke ranjangnya yang besar dan empuk. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Rasanya tak sabar merengkuh tubuh indah itu ke pelukan. Haisss!! Gesang merutuki sendiri pikiran kotornya.
" Gus, ayo bersiap. Simbah mau ngomong dengan kalian berdua!" suara simbah dari luar kamarnya membuyarkan lamunan Gesang.
" Iya mbah. Aku mandi sebentar!" jawab Gesang lalu segera melesat ke.kamar mandi. Tak lama sudah tampak segar saat keluar dari kamar dan menuju ke meja makan tempat simbah dan gadis cantik itu tengah duduk menunggunya.
Mata Gesang seolah terpaku pada Minul tanpa bisa berpaling. Gadis itu tampak segar dan begitu bercahaya. Gesang sampai bingung mengatakannya. Wajah Minul begitu halus dan bersinar meski terlihat tanpa polesan kosmetik sama sekali.
Sampai di meja makan Gesang malah berdiri melamun menatap Minul.
" Apa kamu mau berdiri terus di situ Gus?" Suara Simbah menyentak Gesang. Lelaki itu tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap Minul sekilas lalu duduk tepat di seberang gadis itu.
Minul tersenyum dalam tunduknya. Den Mas Gesang ternyata lucu juga selain tampan. Lihat wajahnya yang tampak malu-malu saat ditegur den Ayu.
" Kita makan dulu. Baru setelah itu aku mau bicara dengan kalian berdua."
Minul yang terbiasa melayani ayahnya di rumah refleks berdiri dan mengisi piring Den Ayu dan juga Gesang dengan nasi.
" Segini cukup den Ayu?" tanya Minul sopan. Den Ayu mengangguk dan tersenyum.
" Biar lauknya aku ambil sendiri Nul, kamu layani masmu saja" Den ayu mengambil nasi dari tangan Minul dan segera mengambil lauk yang diinginkannya. Sementara Minul mengisi piring Gesang dengan nasi juga.
__ADS_1
" Segini cukup den mas?" tanyanya sedikit canggung.
" Hmm..." Gesang mengangguk.
" Mau lauk apa denmas?" tanya Minul lagi.
Gesang menyebut dan menunjuk beberapa lauk yang diinginknnya. Sengaja berlama-lama agar bisa lebih lama juga bicara dengan gadis cantik itu. Bahkan suara Minul seperti air sejuk yang mambasahi hatinya yang gersang.
Simbah menggeleng sambil tersenyum samar. Gesang sudah terpesona pada gadis desa pilihannnya itu pada pertemuan pertamanya.
Dengan sabar Minul menuruti semua permintaan Gesang. Namun dalam hatinya bertanya-tanya juga. Apa orang kaya makan sepiring penuh sampai mau tumpah begini setiap hari?
"Awas kalau sampai kamu nggak menghabiskan makananmu Gus...!" gerutu Simbah menyadarkan Gesang. Lagi-lagi menggaruk tengkuknya penuh sesal karena melihat piringnya terlalu penuh makanan.
Minul tertawa pelan. Gesang tersenyum jengah melihat gadis itu.
Gesang tertawa . Memandangi piringnya yang membuat perutnya malah kenyang seketika. Tapi mau tak mau dilahapnya juga makanan yang sudah terlanjur masuk ke piringnya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Minul; Dan melihat Minul berulang tanpa sadar makanan di puringnya pun habis.
" Wah Nul, kamu bikin masmu doyan makan. Padahal biasanya masmu ini paling susah kalau disuruh makan. Eh sekarang bisa habis sepiring penuh."
" Sudah deh mbah, Aku selalu saja salah. Makan sedikit salah, makan banyak masih juga di omongin" Gesang memotong perkataan simbahnya.
Minul cuma tersenyum sambil meneruskan makan. Dia sempat berpikir kehidupan bangsawan macam den ayu akan dipenuhi peraturan dan unggah-ungguh (sopan santun) yang sangat kaku dan mengikat. Nyatanya denmas Gesang kelihatannya bicara santai saja dengan neneknya.
Usai makan, Simbah mengajak Minul dan Gesang ke ruang kerjanya yang luas. Simbah duduk di kursi kebesarannya sementara Gesang dan.Minul duduk di seberang meja dengan kursi berdekatan. Seperti dua orang yang sedang di sidang.
" Gesang, kamu.sekarang sudah melihat Minul, calon istrimu. Bagaimana Minul menurutmu? " tanya simbah santai. Tapi Gesang malah jadi canggung apalagi orang yang dibicarakan ada di depan mata.
Gesang menatap simbah agak lama. Tatapan matanya seolah memprotes neneknya itu. Simbah issh...
__ADS_1
" Nggak usah malu atau sungkan. Sebentar lagi dia akan jadi istrimu. Kamu harus sudah mulai belajar jujur mengungkapkan perasaanmu pada calon istrimu. Apapun itu baik atau buruknya pasangan harus tahu. Tidak boleh jadi ganjalan dalam hati Karena itu yang akan merusak.hubungan kalian."
" Iya iya mbah...sudah tahu" Gesang menggerutu, memotong ucapan neneknya agar tak semakin panjang dan lama seperti iklan coklat...
" Jadi Bagaimana, Minul cantik tidak Gus?"
" Sangat mbah..." dan seksi...sambung Gesang dalam hati. Tubuhnya sudah panas dingin berdekatan dengan gadis ini. Aroma harum yang menenangkan sekaligus menggairahkan seakan menguar dari tubuh Minul. Merasuki penciumannya dan merambat ke otak dan hatinya yang langsung melayang-layang ke angkasa. Halah...lagi-lagi Gesang merutuki pikiran mesumnya.
Simbah terkekeh mendengar jawaban Gesang. Wanita tua itu tentu saja tahu gelagat Gesang yang sudah terpikat pada Minul sejak pertama bertemu tadi. Bahkan sejak melihat foto Minul beberapa hari lalu.
" Kalau Minul bagaimana. Suka tidak sama masmu Gesang?"
Minul terkejut mendapat pertanyaan yang sama dari simbah. Ia tak.menyangka Simbah pun akan memanyainya hal itu.
" Emm...iya...suka den ayu.." Minul menjawab terbata sambil menelan sendiri salivanya. Malu tak terkira. Tapi bagaimana lagi bukankah den ayu bilang mereka berdua harus saling jujur dan tidak malu-malu lagi sebagai calon suami istri?
Kalau boleh, tentu saja Minul ingin menyimpan perasaannya yang sejak melihat Gesang juga langsung terpesona akan ketampanan pria bertubuh tinggi tegap itu.
Mendengar jawaban Minul, Gesang langsung menoleh dan tersenyum ke arah calon istrinya itu. Ditatapnya lembut gadis itu sambil berucap lirih dekat telinga Minul " Aku juga suka sama kamu Nul"
Wajah Minul semburat merah mendengar bisikan Gesang. Badannya tiba-tiba memanas dan bergetar. Dadanya berdetak sangat keras dirasakannya hingga Minul merasa perlu memegang dadanya sendiri agar detaknya tak terdengar dari luar . Senang tapi malu sekali.
" Gus, kamu bisik-bisik apa sampai Minul gemetar begitu? " tegur simbah pada cucunya karena melihat wajah Minul merona dan tangannya gemetaran.
" Aku juga suka sama Minul mbah. Ayuk lah. Mau nikah sekarangpun aku mau mbah" Jawab Gesang tak tahu malu lagi.
Simbah kembali tergelak. " Baiklah kalau kalian saling menyukai, sepertinya kita nggak perlu menunggu lama-lama lagi. Setelah Minul menjalani beberapa ritual dengan simbah, kalian akan menikah resmi sebulan lagi" putus Simbah.
Gesang tersenyum lalu meraih jemari Minul. Mere*masnya lembut sambil menatap wajah gadis itu yang tampak bingung dan kaget karena tiba-tiba tangannya di re*mas Gesang.
__ADS_1