Istri Pilihan Simbah

Istri Pilihan Simbah
Syarat dan Ketentuan


__ADS_3

"Sebulan mbah? Lama sekali, kenapa tidak menikah besok saja?" Gesang merengek pada neneknya.


" Huss, kamu pikir menikah seperti mau ke pasar, ,bisa langsung saat ini juga? Lagipula belum tentu Minul ingin cepat-cepat menikah denganmu. Bukan begitu Nul?" Simbah menatap Minul serius.


Minul tersenyum canggung. Sementara tangannya masih digenggam Gesang. " Iya den ayu..." jawab Minul.


" Iya apa Nul? Maksutnya kamu juga setuju kan kita cepat menikah?" Gesang mencium tangan Minul yang putih dan halus.


" Ehh....lepas tangan Minul Gus!" tegur simbah melihat Gesang yang kian agresif. Gesang mendengus namun menurut juga, melepaskan tangan Minul dari genggamannya meski dengan hati tak rela.


" Jadi Minul juga setuju segera menikah dengan Masmu?" tanya simbah sekali lagi.


" Saya menurut saja den ayu. Tapi kalau bisa sebelum menikah saya sudah bekerja di klinik. Jadi saya ada kegiatan selama di sini."


" Baiklah. Itu soal gampang Nul. Dan mulai sekarang kamu jangan panggil saya den ayu lagi. Panggil simbah saja seperti masmu."


" Inggih Den...maksud saya mbah.." Minul masih merasa canggung dan sungkan menyebut simbah.


" Aku juga tidak mau dipanggil den mas Nul. Panggil saja Mas, atau panggil sayang juga boleh.." Gesang menatap Minul menggoda gadis itu. Minul cuma tersenyum dan menunduk.


" Halah...gombalmu Gus. Sudah sana kamu keluar. Aku masih banyak urusan dengan Minul." Simbah mengusir Gesang.


Gesang melongo menatap simbahnya. " Tapi aku mau menemani Minul mbah?"

__ADS_1


" Tidak usah. Ini urusan perempuan. Kamu ndak boleh ikut-ikutan. Suhh...sana pergj. Besok kamu harus ke kantor. Istirahatlah agar besok badanmu fit saat bekerja." Simbah mengibaskan tangan mengusir Gesang.


Lelaki itu terpaksa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerja simbah. Namun masih sempat tersenyum pada Minul yang membalas tersenyum padanya.


Setelah Gesang keluar Simbah mengunci pintu lalu kembali duduk di kursinya. Hawa dalam ruangan memdadak jadi dingin sekali. Minul sampai merinding merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak menembus pori-pori kulitnya.


Simbah menatap Minul tajam. Wajahnya yang tadi tampak ramah dan lembut sudah tak ada lagi. Kini wajah simbah serius dan dingin. Minul yang tanpa sengaja bertatapan dengan simbah merasa tercekat. Kenapa wajah simbah jadi sedikit menyeramkan begitu? Minul makin merinding hingga tanpa sadar mendesis lirih menahan dingin.


" Kenapa Nul? Dingin?" simbah tersenyum namun lebih tampak seperti seringai bagi Minul. Gadis itu mengangguk menatap Simbah tapi lalu menunduk lagi.


" Ini belum seberapa Nul. Kamu akan melalui banyak ujian dan pelajaran selama sebulan ini sebelum kamu resmi jadi istri Gesang. Kamu harus jadi istri yang kuat dan melindungi suami dan keluargamu dari rumah. Kamu bukan istri biasa. Kamu harus bisa menggantikan simbah jadi pilar keluarga ini."


Minul mengangkat wajahnya dan menatap Simbah. Tak ada senyum di sana. Kenapa kata-kata Simbah terdengar aneh di telinga Minul? Bukankah dalam rumah tangga seharusnya suami yang melindungi istri? Kenapa.simbah bilang istri yang harus melindungi suami?


Simbah kembali tersenyum. Seakan sudah tahu apa yang ada di pikiran Minul.


" Maksud simbah?" Minul mengerutkan dahinya. Sedikit banyak dia sudah tahu bahwa ibunda Gesang meninggal karena kecelakaan bersama ayah Gesang.


"Kalau dia kuat, saat ini dia pasti masih ada dan menggantikanku menjaga trah ini. Kenyataannya dia sudah pergi mendahuluiku dan juga Gesang putranya."


" Bukankah itu takdir mbah? Kita tak bisa melawan kehendak Yang Maha Kuasa." Minul tak setuju kecelakaan yang dialami orangtua Gesang dihubungkan dengan masalah garis keturunan dan hal-hal tak kasat mata seperti derajat manusia yang dikatakan simbah.


" Apapun yang kamu katakan, kenyataannya dia sekarang sudah tak ada di dunia. Yang juga berarti dia tak bisa meneruskan tampuk kekuasaan dari leluhurnya. Benar begitu Nul?"

__ADS_1


Minul mengangguk pelan. Ya ...itu benar. Alasan apapun tidak perlu, karena yang terpenting adalah kenyataan yang terjadi saat ini.


Minul tiba-tiba merasa takut. Seperti apa kekuatan dan kekuasaan yang dimaksud simbah. Dia hanyalah gadis desa yang ingin hidup tenang dan sewajarnya saja. Bahkan kalau boleh memilih Minul ingin tetap di desanya. Hidup sederhana bersama bapak dan ibunya sudah cukup baginya.


Kalau saja Bapak dan ibu tidak terlanjur mengikat janji perjodohan dengan simbah alias den ayu Bingah ini. Kalau saja kedua orang tuanya tak berhutang banyak budi pada wanita ini. Tentu Minul masih ingin menikmati masa remajanya. Masih ingin bergaul dengan teman-temannya. Tapi semua harus terjadi. Minul tak ingin membuat orang tuanya kecewa. Minul harus ikhlas menerima pengaturan ini.


" Kamu kenapa gelisah begitu?" Simbah meihat perubahan wajah minul.


" Saya cuma gadis desa mbah. Bagaimana saya bisa menjaga dan memegang semua yang simbah katakan tadi? Saya bodoh, tidak bisa apa-apa. Saya akan membuat simbah kecewa nanti." Minul mengungkapkan isi hatinya.


Kalau saja Minul berani dia ingin perjodohan ini batal saja. Syaratnya terlalu berat. Tapi apa dayanya, dia takut menyinggung perasaan simbah. Apalagi den mas Gesang sudah demikian senang dan menerimanya dengan suka cita. Apa jadinya kalau dia membatalkan perjodohan ini?


Simbah tertawa tergelak. Tapi tawanya membuat bulu kuduk Minul merinding. Suara tawa yang seakan mencabik isi dadanya. Tolong...berhenti tertawa mbah. Teriak Minul dalam hati. Anehnya saat itu juga simbah menghentikan tawanya.


" Kenapa.kamu ketakutan begitu Nul. Simbah memilih kamu karena simbah yakin kamu gadis yang kuat. Simbah yakin kamu mampu memegang amanat leluhur ini dengan baik. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sucikan dirimu, besok simbah akan mengajakmu ke kawah candradimuka pertama yang harus kamu lalui." Simbah berdiri.


Minul ingin menolaknya. Dalam hatinya berteriak tak mau mengikuti apa kata simbah. Namun anehnya kepalanya malah mengangguk dan mengikuti langkah simbah. Minul ingin menangis. Tubuhnya mengkhianati hati dan pikirannya.


" Bapak ibu...tolong Minul....Minul nggak mau begini. Minul nggak mau aneh-aneh" teriak Minul dalam hati. Namun itu cuma berakhir dalam hati saja. Mulutnya seakan terkunci.


Minul.merasa hatinya menangis, merasa simbah.memaksakan kehendaknya, namun dia tak kuasa menolaknya. Tubuhnya seperti dikuasai oleh orang lain. Bahkan Minul sendiri tak bisa menggerakkan dan melakukan apapun sesuai keinginannya. Apa ini? Minul merasa inilah akhir hidupnya.


*********

__ADS_1


Relax....jangan ikutan tegang....ini baru mulai.


Happy reading....


__ADS_2