Istri Pilihan Simbah

Istri Pilihan Simbah
Simbah, Den Ayu Bingah Wisanggeni


__ADS_3

Den Ayu Bingah adalah nama panggilan wanita tua yang masih tampak cantik itu. Entah perawatan apa yang dilakukannya hingga wajahnya masih saja sedap dipandang mata meski usianya sudah uzur. Tak ada kerutan wajah atau lipatan kulit menua seperti layaknya lansia berusia 70 tahun.


Tak salah jika banyak yang menghubungkan kecantikannya dengan hal-hal tak kasat mata. Mengingat sangat mustahil seorang seusia dia punya wajah semuda dan sehalus itu. Anehnya tak seorang pun yang menuduhnya melakukan suntik botox atau operasi plastik. Entahlah. Kehidupan keluarga priyayi itu nampaknya hanya disangkutpautkan dengan hal gaib saja.


"Pasti Den ayu Bingah punya ajian awet muda. Mungkin seperti menghisap darah perawan atau menghisap jiwa perawan. Hingga wajahnya selalu seperti gadis muda, mulus dan kinclong"


"Hus, jangan ngomong sembarangan tanpa bukti"


"Tapi semua orang ngomong begitu. "


"Kalian ini benar - benar tidak tahu diri. Sudah dikasih kerjaan, dikasih makan bahkan sering dikasih bonus juga ngga ada bersyukurnya, malah memfitnah majikan kalian."


"Bukan begitu. Kamu lihat saja, mana ada sudah umur 70 tahun kulitnya masih kenceng begitu. Aku saja kalah.. "


" Itu karena kamu banyak dosa, sering ngomongin den ayu. Makanya dosa den ayu kamu hisap semua, jadi kusut ke muka mu itu. "


" Hahahha.... Iya betul, mungkin begitu ya... "


" Setuju. Makanya sudahlah gak usah ngomongin aneh-aneh. Amal perbuatan manusia, biar dosa dan pahalanya ditanggung sendiri-sendiri. Kita nggak usah ikut bergunjing"


Dan begitulah bola liar gunjingan itu makin meluas hari ke hari. Makin dalam. Melibas seluruh aspek kehidupan simbah dari Gesang. Termasuk kini jadi ikut menimpa Gesang sebagai cucu simbah satu-satunya.


Simbah tak ambil pusing. Tak pernah sekalipun bermaksud membantah atau menentang rumor jahat yang berkembang di masyarakat tentang dirinya.


"Mbah, apa benar simbah punya tuyul atau piaraan yang bantu simbah jadi kaya?"

__ADS_1


"Kamu hidup serumah sama simbah sejak kamu lahir sampai setua ini. Apa menurutmu smbah punya tuyul? "


" Yang kulihat memang nggak ada mbah, tapi yang nggak kulihat mana kutahu? Simbah saja suka penuh misteri sama cucu sendiri."


"Jadi kamu juga curiga simbah punya pesugihan? Kamu nggak percaya sama puluhan perusahaan keluarga kita yang kamu pegang sendiri selama ini? Kamu nggak percaya hasil kerjamu sendiri? "


Gesang memijit keningnya sendiri. Teringat beberapa teman kencannya yang tiba-tiba mundur teratur menjauhinya begitu mengetahui jati dirinya sebagai cucu simbah, Den Ayu Bingah, pengusaha terkaya di kota ini.


" Emboh (nggak tahu) mbah. Nasibku buruk sekali. Ganteng, kaya, tapi nggak laku. Bahkan yang dulu di sekolah dan di kampus mengejar-ngejarku lari terbirit-birit begitu tahu aku cucu simbah. "


" Berarti mereka memang bukan jodohmu Gus. Mereka tak paham, tidak bisa membedakan fitnah dan kebenaran. Kalau mereka benar menyukaimu dengan tulus, mereka tak akan langsung menghakimimu. Melainkan akan mencari kebenaran dari rumor dan gosip yang beredar. Bukannya malah percaya dan menelan mentah-mentah gosip itu."


"Jadi semua gadis dan janda di kota ini memang naif ya mbah.?" Gesang tertawa sumir. Bermaksud menyindir neneknya.


Simbah terkekeh. Cucu kesayangan dan Satu-satunya itu selalu sinis jika sudah menyangkut gosip dan rumor tentang pesugihan yang selalu dihubungkan dengan dirinya.


Gesang menatap tajam neneknya. Wajah wanita itu penuh kesungguhan dan tegas. Tak ada raut keraguan sedikitpun. Membuatnya menunduk dan merasa sedikit menyesal telah menuduh neneknya sembarangan hanya karena kesal.


" Maafkan aku mbah. Harusnya aku membela dan mendukung simbah, karena akulah yang tahu bagaimana simbah. Bukannya malah ikut menyudutkan dan menghakimi simbah."


Simbah tersenyum lalu menepuk dan merangkul bahu bidang sang cucu.


"Simbah tahu kamu kesal. Mulai sekarang jangan dengarkan gosip dan rumor di luaran. Fokus saja pada pekerjaanmu. Terus tingkatkan pendapatan dan aset kekayaan keluarga kita. Sejelek-jeleknya kita di mata mereka, toh merka masih butuh kita. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi balas kejahatan dengan kebaikan. Sekarang menurutmu siapa yang jahat dan sesat? Orang yang menuduh kita tanpa bukti, atau kita yang tetap berbuat baik meskipun dihujat dan dituding sesat? "


Gesang meringis." Ah simbah memang pintar bicara! "

__ADS_1


Simbah kembali tergelak," Kalau simbah gak pintar ngomong, mana mungkin perusahaan kita semaju sekarang Gus? "


" Ya.. Ya.. Ya... Sudahlah terserah simbah. Sekarang aku malah pengen simbah benar-benar pakai ilmu gaib saja sekalian. Piara tuyul atau nyi blorong... Hahaha... Jadi adil, nggak melakukan juga dituduh, mending nyebur sekalian.. "


" Hahaha... Begitu seharusnya cucuku. Jangan terpengaruh hal-hal nggak penting. Sekarang kamu siap-siap saja. Nanti sore Minul akan datang."


"Beneran mbah? Nnggak sabar ketemu calon istri nih. Tapi aku masih kuatir mbah. Bagaimana kalau Minul juga mendengar gosip di luaran. Bisa-bisa dia kabur juga. " Sekelebat kecemasan mampir di kepala Gesang.


" Percayalah. Minul bukan gadis sembarangan. Dia adalah gadis pilihan. " Simbah memjawab.


" Tentu saja. Dia gadis pilihan simbah" Gesang mencibir neneknya.


"Bocah nglamak ( nggak sopan). Dia akan jadi pengganti simbah kalau simbah sudah nggak ada nanti. Kamu harus menjaga dan mencintainya seperti kamu menjaga simbah. " Simbah tersenyum.


Gesang tercekat. Membayangkan simbah tiada dan dia tak punya siapa-siapa lagi.


" Simbah jangan ngomong begitu. Iya mbah aku akan menjaga dan melindungi istriku tentu saja. Dan Simbah harus tetap disisiku terus. Sampai aku menikah dan punya anak. Simbah nggak pengen melihat cicitmu? "


" Ya pengen to Gus, tapi yang menentukan umur kan Yang Di atas sana. Simbah pengennya bisa menemanimu terus. Tapi... "


Simbah tersenyum namun ada sedikit keraguan dan tatapan sedih di sana. Simbah merasa umurnya tak akan lama lagi. Dia merasakan firasat itu. Beberapa hari ini simbah bermimpi hal yang sama berulang-ulang. Mimpi yang membuatnya merasa perlu bergegas mempersiapkan pengganti dirinya untuk menemani Gesang.


Dan siang itu juga saat mimpi sama berulang untuk ke tiga kalinya, Simbah langsung menghubungi Bayan ayah Minul dan meminta Minul secepatnya pergi ke kota untuk menjalankan khithah (peranan) nya sebagai penerus dan pewaris semua ilmunya.


Sudah sejak dua puluh tahun lalu ketika simbah bermimpi ada seorang ratu yang mendampingi Gesang cucunya yang waktu itu juga masih remaja 10 tahun,Simbah langsung yakin dan tahu bahwa bayi dalam kandungan istri Bayan itu adalah sang Ratu yang dicarinya. Penggantinya yang punya kekuatan dan kemampuan lebih seperti dirinya.

__ADS_1


3 ⚂


__ADS_2