
Sella merasa aman karena sebelum Agnes bertanya macam-macam telepon dalam genggamannya berbunyi nyaring. Salah satu karyawannya dari toko bunga menghubungi Sella dan mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Bisa dikatakan Sella hengkang dari hadapan Agnes dengan alasan kedatangan tamu penting. Padahal dia tidak tahu sepenting apa, sih? Dan siapa, sih, orangnya?
Langkah kakinya pelan memasuki toko yang pintunya terbuka sedikit. Sella melongok sedikit saat ada mobil mewah terparkir di depan toko bunga miliknya, lebih tepatnya menghalangi jalan pintu masuk.
Mengesampingkan rasa penasarannya Sella lebih memilih masuk melewati pintu belakang. Tidak enak ketika ada tamu dia masuk lewat depan.
Berjalan pelan terkesan mengendap-endap. Entah kenapa Sella merasakan firasat buruk yang berlebihan. Tapi, itu hanya sesaat sebelum Tama menghadang jalannya. Sontak saja Sella mundur karena terkejut.
“Kaget, Mas!” Sekonyong-konyong pria di depannya dengan santai menyender pada dahan pintu –pintu yang menghubungkan dapur– sambil bersedekap dada.
“Salah siapa keluyuran mulu, kamu pergi malah ada tamu penting. Mana aku belum persiapan apapun lagi.” Tama mendengus. Sedikit cemberut. Memandangnya membuat Sella tidak bisa menahan tawa.
“Masuk, deh, Mas,” ujar Sella menarik ujung kaos yang dikenakan oleh Tama. Diperlakukan seperti itu membuat Tama menurut saja.
“Kenapa nggak kamu aja, sih, Mas? Nungguin aku ‘kan jadi lama,” ujar Sella karena dia sendiri heran. Tidak biasanya Tama menyambut seseorang yang katanya tamu penting. Karena biasanya jika Sella tidak ada di toko Tama yang akan mewakili.
Mendengus jengah sebelum kembali menghisap puntung rokok. “Aku bahkan sampai menawarkan untuk bertemu papa aja, tapi ibu itu cuman mau bertemu kamu saja, Sell. Aku bisa apa coba?” tanya Tama dengan wajah penuh heran.
Sella mendengus menatap Tama yang masih santai. Malah balik bertanya yang justru semakin membuat Sella ragu untuk mememui tamu itu. Kesannya Sella seperti orang penting saja sampai tidak bisa diwakilkan. Lagian kenapa menolak bertemu dengan pemilik toko ini, sih? Sudah jelas ini bukan hanya masalah toko saja, melainkan ada masalah pribadi.
“Kayaknya aku nggak ada riwayat hutang dengan orang kaya, deh, Mas!” seru Sella keki sendiri. Dia semakin cepat merias diri.
Memang! Sella tidak langsung mengiyakan ajakan temu tamu. Sella justru sibuk memperbaiki penampilannya yang bisa dikatakan kusut. Tidak mungkin ‘kan kalau bertemu klien dengan penampilan mirip gembel.
“Masuk aja, Sell! Udah ditungguin lama juga. Itu ibu-ibu bukan bapak-bapak ngapain pake parfum segala, sih?” kata Tama jengah melihat Sella yang masih sibuk dengan penampilannya.
“Yang ada keburu tutup ini tokonya. Astaga!” Tama geregetan sendiri, alhasil dia menarik Sella meski sempat protes namun, tidak sampai hati mempermalukan dirinya sendiri.
__ADS_1
Begitu sampai di ruang tunggu yang sudah disulap sebagai ruang tamu langkah kakinya melangkah lebih dekat. Lebih dekat dengan seseorang wanita yang katanya tamu.
“Kok grogi, ya, Mas?” Menengok ke belakang mendapati Tama yang mengawasinya. Karena posisi tata letak sofa yang mengarah ke jendela membuat Sella hanya bisa menatap punggungnya saja.
Tama menyuruh lewat ekor matanya, lalu berlalu meninggalkan Sella ketika wanita itu memberikan kode ‘oke’ yang artinya bisa ditinggalkan.
Dengan napas grogi Sella menarik napas perlahan. Perlahan tapi pasti tubuhnya lebih dekat dengan sang tamu.
“Selamat—”
‘Deg!’
‘Deg!’
‘Deg!’
Hanya bisa merenung dalam hati. Seketika Sella menyesal lepas dari Agnes jika kedapatan sosok yang juga sedang dia hindari.
Beberapa kali mereka bertemu, atau bahkan ketika resepsi saja, tapi Sella hafal dengan betul siapa orang yang berada di depannya saat ini. Sella hafal dan sangat hafal, kenapa dunia seolah begitu sempit. Sampai dia harus bertemu orang-orang yang sama.
Setelah dirasa bisa mengendalikan diri. Sella duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Mita. Sebisa mungkin Sella bersikap biasa saja. Dan semoga saja wanita paruh baya di depannya tidak mengenali dirinya, meski kecil kemungkinan karena dilihat dari senyumannya saja sudah bisa disimpulkan. Tapi … Sella tidak ingin menyimpulkan!
“Silakan diminum, Bu,” ujar Sella ketika seorang pelayan masuk meletakan secangkir teh dan makanan ringan.
Sella memalingkan wajahnya ke sembarang arah saat Mita menatapnya intens. Suasana cukup kening, hanya terdengar tiupan angin yang berasal dari jendela.
Sella bisa merasakan tatapan Mita yang terus saja mengarah padanya.
__ADS_1
“Apa kabar, Sella?” Sapaan pertama kali setelah sekian lama hanya menatap saja. Sella yang disapa seperti itu justru ketar-ketir sendiri. Dia tersenyum canggung menghormati Mita sebagai tamu.
“Kabar baik, Bu,” jawab Sella sesopan mungkin.
Mita tersenyum sinis. “Mungkin hanya kabar putra saya yang tidak baik,” ujar Mita dengan tatapan yang menyorot sinis ke arah Sella.
Mendengarnya Sella berusaha bernapas dengan benar, meski pasokan udara dalam paru-parunya kian menipis namun, sebisa mungkin dia menanggapinya dengan santai, jantungnya berdebar membuat situasi terkesan—
“Boleh saya memohon?” pinta Mita kepada Sella yang terdiam.
Dalam benak Sella ingin menjerit. Tahu akan seperti ini lebih baik dia tidak menemui tamu yang dimaksud. Firasatnya memang tidak pernah salah. Sejauh ini dan selama ini Sella merasa aman dan sekarang ....
“Saya tidak memaksa, tapi saya minta agar kamu mempertimbangkannya. Tidak seharusnya kamu pergi dengan membawa anaknya.”
Bagai tersambar petir, jantungnya kembali berdetak kencang. Apa lagi ini? Kenapa seolah dunianya tidak bisa tenang.
Sella mengira dengan pergi jauh dari kehidupan Diantoro dia akan merasa tenang, hanya dalam kurun waktu satu bulan saja Sella merasa tenang. Selebihnya dia harus siap untuk diusik.
Dengan perkataan yang dilontarkan oleh Mita membuat Sella takut sendiri.
Anaknya?
Perkataan itu berhasil mengusik Sella dan tanpa sadar tangannya yang gemetar memeluk perutnya yang masih terlihat rata. Jadi dari mana Mita bisa tahu perihal kehamilannya.
Dengan perlahan, dengan sisa keberanian yang dimilikinya Sella menatap tepat pada manik bulat milik Mita. Pancaran bola mata yang sama dimiliki oleh Rishan. Menyebutnya membuat Sella merasakan sesak yang teramat dalam.
Tatapan keduanya bertemu. Bisa Sella rasakan dan Sella lihat sarat permohonan. Namun, jika untuk berpikir ulang Sella masih ragu dengan keputusan pertimbangan yang diminta oleh Mita.
__ADS_1
Karena sejujurnya Sella masih sangat takut akan kehilangan maka dari itu, Sella lebih memilih meninggalkan daripada ditinggalkan.