
Setelah memastikan keadaan hatinya baik-baik saja Rishan kembali mengendarai mobilnya menuju rumah orangtuanya. Dia tidak berniat untuk kembali ke kantor karena nantinya akan percuma saja. Dia tidak bisa fokus, untuk beberapa hari ini.
Semenjak menghampiri Sella di tengah jalan. Seolah ingin datang merengkuh namun, Rishan tidak seberani itu. Dia adalah pria kaku yang sama sekali tidak mengetahui cara menaklukan wanita. Termasuk istrinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Rishan diam dengan kesendiriannya.
Jika dia seorang lelaki dengan keberanian tinggi, mungkin Sella tidak akan lama lagi tinggal di rumah kecil. Namun, sayangnya Rishan memilih diam dan membiarkan Sella terbang bebas tanpa kembali membawanya pulang ke sangkarnya.
“Sialan kenapa ramai?” decak Rishan mendapati rumah orangtuanya sedang ramai. Dia membuka ponselnya, mengecek kalender yang ternyata akhir bulan. Pantas saja rumahnya ramai.
Jadwal rutin berkumpul bersama sanak saudara selalu menjadi agenda keluarganya. Tidak seharusnya Rishan pulang saat ini, tapi untuk berbalik arah rasanya sangat malas, apalagi mobil sudah terparkir sempurna.
“Bang Rishan!” Suara pekikan anak gadis menyambut pendengaran Rishan begitu pintu mobil tertutup. Bisa dipastikan dia akan dijadikan bahan bualan para saudaranya.
“Ya,” respon Rishan lesu.
Mendapat sapaan dari Rishan membuat gadis SMP itu tersenyum ceria. Menggandeng lengan seseorang yang dipanggilnya ‘abang’.
“Sendirian aja?” sapa Mita menyambut uluran tangan Rishan.
Anggukan Rishan dipahami oleh Mita, meski tidak banyak keluarga yang mengetahui bahwa Rishan sudah menikah, karena yang mereka tahu bahwa Rishan batal menikah dengan Bella yang sukses membuat Rishan menjadi bahan ejekan. Itulah sebabnya dia nekat menikahi Sella bukan hanya karena permintaan Mita pasca bangun dari koma. Ada alasan lain yang hanya diketahui oleh Rishan seorang.
\*\*\*
“Kenapa nggak kamu saja, Mas? Aku mana tahu, sih!” desah Sella tidak terima. Tama memintanya untuk mengantarkan pesanan bunga, sedangkan Sella sendiri tidak tahu dengan alamat yang dituju.
“Sama aku, dong!” sela Tama langsung.
Sella mengernyit tidak suka.
“Naik motor nggak pa-pa, ‘kan?”
Sella tambah mengernyit.
Dalam pikirannya jika memang Tama tahu alamat ini dan jika dia bisa sendiri kenapa harus dengan dirinya? Kenapa seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Udah gitu Agnes tiba-tiba pulang meninggalkan Sella di sini.
“Sekalian kita tutup toko, ya.”
__ADS_1
“Masih ada waktu satu jam lagi, Mas. Kenapa ditutup lebih awal? Ada acara?” todong Sella. Tama hanya menunjukkan senyumannya saja yang justru menimbulkan banyak pertanyaan di benak Sella.
Namun, sekali lagi bahwa Sella ini wanita yang cuek. Dia manut saja saat Tama menyuruhnya menutup gerbang belakang toko. Karena ternyata Tama seperti sudah merencanakan tutup lebih awal.
“Sekalian antar aku, ya, Mas.” Sella nyengir lebar. Lumayan tidak jalan kaki pulang ke rumah. Karena rasanya hari ini sangat lelah, padahal dia hanya berdiri tidak banyak berjalan ke sana ke mari.
“Nggak usah khawatir! Kayak sama siapa saja kamu ini,” cibir Tama terkekeh-kekeh.
Seulas senyum lebar Sella tunjukkan. Cerianya Sella semakin membuat rasa sayang Tama kian bertambah. “Buruan naik! Mau hujan kayaknya.”
Memang benar langit nampak mendung. Dilihat dari sekilas saja sudah jelas akan turun rintik hujan. Namun, sayangnya Tama setidak peka itu seharusnya dia mengganti motor dengan mobilnya malahan membiarkan mereka berjalan di bawah rintik hujan.
“Antik banget, sih, Mas. Kebanyakan cowok pasti lebih milih pakai mobil, apalagi Mas Tama ‘kan punya, tapi ini malah ke mana-mana pakai motor.”
Celotehan Sella ditanggapi kekehan oleh Tama. Tidak usah membayangkan bahwa sosok Tama adalah penyuka motor besar yang harganya selangit. Tidak, Tama lebih nyaman menggunakan motor matic yang gampang dibawa ke mana-mana.
“Udah mulai matre, ya, kamu?” balas Tama dengan nada bercanda. Sella memukul bahu kekar milik Tama dengan gemas.
“Melamun aja sampai aku senggol nggak sadar-sadar!”
“Lah?”
Sella cengo sendiri, apalagi kini berdiri di depan rumah megah yang sialnya sesuai dengan alamat pelanggan. Dia menatap Tama menuntut. “Ayo!” ajaknya.
Mereka masih di depan gerbang. Posisi gerbang yang dikunci membuat Sella harus melapor kepada satpam yang bertugas.
“Terima kasih, Pak,” ujar Sella lalu berbalik kembali menghampiri Tama.
“Suruh masuk aja katanya. Padahal bisa dititipin ke satpam, ‘kan?” Tama hanya tersenyum menanggapi.
“Ayo, Mas!” Sella geregetan sendiri. Tatapannya menatap langit atas yang semakin menghitam. Rintik hujan juga berdurasi cepat. “Mau hujan, lho,” beritahunya.
“Justru itu, Sell. Aku di sini aja jagain motor. Kamu masuk, gih.”
__ADS_1
“Mas ... ini beneran?” Agaknya Sella tidak percaya. “Aku nggak kenal sama yang punya rumah, lho.” Sella menakut-nakuti Tama.
Terpingkal-pingkal bahkan sampai mengeluarkan bulir air mata. “Dikira aku kenal sama mereka?” jeda sejenak mengatur napas yang kian surut akibat tertawa. “Memang harus kenal dulu sama pelanggan?”
Sella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tungguin, ya!”
Setelah itu pergi, masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah dibuka lebar. Namun, bukan Sella namanya kalau berdiam diri menunggu sang tuan rumah keluar.
“Permisi!”
Karena dirasa pintu terbuka dan juga terdengar suara ramai dari dalam. Sudah begitu Sella juga buru-buru tidak tega membuat Tama menunggu lama, alhasil dia menyelonong saja.
“Eh?” kaget Sella saat seorang gadis yang menepuk pundak Sella. Rasanya sudah seperti maling saja yang tertangkap basah warga.
“Anu ... saya mau mengantarkan pesanan atas nama ... alamat ini.” Sialnya Sella lupa menanyakan kepada Tama siapa nama pelanggannya. Takut-takut saja kalau sewaktu-waktu anak ini berteriak meneriaki dirinya maling. Bahkan Sella nampak risih ditatap sedemikian rupa oleh gadis di depannya ini.
Duh, elah.
“Apakah—”
“Aunty!” teriak gadis itu kesetanan.
Sumpah demi apapun Sella merasa takut saat ini. Sudah seperti ini barulah dia menyesal karena tidak memaksa Tama ikut bersamanya.
“Dek ... saya ... saya bukan maling, kok,” desah Sella. Dia ingin pergi, tapi gadis itu memegang lengannya dengan erat.
Sakit, sih, tapi akan lebih sakit kalau diteriaki maling.
Aduh, masih kayak gini malah membuat Sella was-was. Dia tidak mau menjadi janda muda dengan satu anak akibat masuk penjara karena disangka maling.
Jangan sampai ya Tuhan
“Mas Tama tolong aku!” jerit Sella dalam hati.
Sedangkan Tama yang berada di depan gerbang memilih menyalakan motornya meninggalkan halaman megah rumah itu. Dia cukup membantu Sella sampai sini saja, lagi pula Tama percaya jika Agnes mengatakan kalau Sella akan baik-baik saja dengan wanita paruh baya yang diketahui adalah mertua Sella.
__ADS_1