Istri Sang CEO

Istri Sang CEO
KEBETULAN


__ADS_3

Setelah kepergian Mita, Sella langsung pergi meninggalkan toko bahkan saat Tama bertanya pun tidak Sella hiraukan. Pikirannya kalut dia ketakutan. Ketakutan terbesarnya adalah bertemu dengan keluarga Diantoro. Sella belum siap dan dia merasa tidak akan pernah siap.



Langkah kakinya melambat saat melihat seseorang di seberang sana sedang berdiri menatap dirinya datar. Sella ingin melangkah mundur namun, yang ada dia justru maju menghampiri orang itu.



Terpaku menatap sosoknya yang bisa dikatakan terlihat kacau. Bukan sosok Rishan yang dia nikahi. Bukan seperti sosok suaminya yang gagah perkasa, melainkan sosok pria yang terlihat tidak terurus. Hanya dalam waktu satu bulan sudah membuat sosok Rishan seperti ini bagaimana jika satu tahun? Dan bukankah seharusnya pria ini baik-baik saja karena ada wanita pujaan hatinya yang selalu berada di sisinya. Bukan wanita seperti dirinya yang pembangkang dan egois.



Masih dengan langkah pelan yang penuh dengan keraguan, Sella berusaha terlihat biasa saja. Dia tidak mau menimbulkan kesan janggal di sini.



“Permisi,” ujar Sella saat langkahnya dihadang oleh Rishan. Sella menunduk tidak mau menatap Rishan barang sedetik pun.



“Maaf? Ada perlu dengan saya?” Masih menunduk dan berada di tempat yang sama.



Tanpa diduga oleh Sella pria itu berlalu begitu saja memasuki mobilnya yang membuat Sella bertanya-tanya. Sella kira Rishan akan menyeret dirinya untuk ikut bersama atau bahkan memeluknya sebentar. Dan tindakan Rishan barusan membuat Sella melongo di tempat.



“Kenapa konyol sekali?” Sella menggaruk pipinya yang tidak gatal.



Tidak masalah! Setidaknya untuk saat ini Sella bersyukur dan aman dari Rishan. Semoga saja ini bukan permulaan.



Kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda karena kehadiran Rishan. Jarak toko dan kontrakan miliknya tidak terlalu jauh. Bisa dijangkau jika berjalan kaki memakan waktu lima belas menit. Sella memang lebih suka jalan kaki ketimbang naik angkutan umum atau ojek. Bukan karena urusan hemat saja, melainkan bisa untuk olahraga.



“Sampai!” desah Sella membuka pintu rumah kontrakan kecil miliknya.



Menuju dapur untuk memasak makan malam nanti. Jika biasanya Agnes akan datang membawakan makanan hasil masakan tangannya, kini tidak lagi karena temannya itu harus menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Sella juga berencana untuk mendatangi temannya. Bukan ke apartemennya, melainkan bertemu di suatu tempat. Mana mungkin Sella berani menghampiri Agnes di apartemen. Yang ada dia akan bertemu dengan Rishan.

__ADS_1



Karena unit mereka sama. Jadi, tidak memutus kemungkinan Sella akan bertemu.



“Masak apa enaknya?” Sella nampak berpikir. Jika ibu hamil kebanyakan mogok makan maka, tidak berlaku untuk Sella. Wanita ini makan dengan seenaknya saja tidak ada drama mual saat memasukkan makanan. Itulah yang membuat Sella santai dan nyaman untuk urusan perut.



Dan juga Sella tidak mengalami ‘keinginan’ seperti wanita kebanyakan. Itu yang membuat Sella bersyukur. Seolah calon anaknya tidak ingin merepotkan Sella. Seolah tahu keadaannya.



“Mie instan? Telur?” Sella mengambil dua bahan itu dan meletakkannya di atas meja. Mungkin malam ini cukup makan mie dan telur karena ternyata Sella melupakan waktu belanjanya saking pusingnya ketika bertemu dengan Mita.



Aish! Mengingatnya membuat Sella geram sendiri. Kenapa, sih, dia tidak bisa melawan ucapan Mita? Dan kenapa Sella masih mempertahankan nama baik Rishan di hadapan ibunya sendiri?



Ingat saja! Sella melakukannya semata-mata demi anaknya. Dia tidak mau terjadi hal buruk pada ayah calon anaknya. Meski saat ini Sella sudah berpikiran buruk mengenai Rishan. Mengenai bagaimana Rishan terlihat kembali dekat dengan Bella. Itu membuat Sella sedikit … sakit. Hanya sedikit, selebihnya dia merelakan karena nantinya Rishan bukan miliknya, apalagi milik anaknya.




Bunyi ponsel yang tergeletak di atas meja membuat Sella mengalihkan fokusnya pada kompor. Mengecilkan api kompor lebih dulu sebelum beranjak karena dia tidak mau terjadi kebakaran seperti Minggu lalu.



“Kenapa, Nes?” sapa Sella pertama kali begitu tahu siapa yang menghubunginya.



“Mau makan di luar nggak? Gue jemput, deh!”



Sella berpikir sejenak. Menimbang jawaban yang akan dia berikan kepada Agnes nantinya. “Lo udah nggak papa?” Sella bertanya takutnya Agnes sibuk dan juga temannya itu masih dalam masa pemulihan.



“Ya nggak papa, kok. Emang gue kenapa?” tanya balik Agnes di seberang sana.

__ADS_1



“Takutnya lo sibuk.”



“Sebenarnya gue mau belanja bulanan, sih, malam ini.” Sella melanjutkan niatnya.



“Gampang! Habis makan kita belanja bareng, deh!” Agnes berseru semangat yang ikut serta membuat Sella tersenyum. Sella hanya tidak mau mengganggu waktu Agnes, tapi tampaknya temannya itu tidak sama sekali terganggu. Ya sudah, tidak ada salahnya juga mengikuti ajakan Agnes.



Tidak sampai dua puluh menit Agnes sudah memarkirkan mobilnya di depan kontrakan milik Sella. Sella sendiri sampai heran kiranya kapan Agnes mengabari dirinya. Perasaan baru saja mereka bertelepon dan temannya itu udah ada di depan mata. Tidak apa, sih, karena sejujurnya Sella juga sedang sangat lapar, tapi … tidak secepat itu, ‘kan?



“Untung udah sempat ganti baju. Nggak papa, ya, gue nggak mandi, Nes. Airnya dingin,” ujar Sella meringis.



Agnes mengangguk saja. Meski tidak mandi satu pekan pun Sella akan tetap terlihat manis. Nggak masalah buat Agnes. Nggak malu-maluin lah kalau diajak main. Begitu pikir Agnes.



“Nggak bau asem, ‘kan?” Sella mengendus-endus tubuhnya sendiri. Karena malas menanggapi Sella yang selalu merasa tidak enakan, alhasil Agnes memilih melajukan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan milik Sella.



Diacuhkan oleh Agnes tidak membuat tingkah Sella surut. Dia terus berceloteh, bahkan meminta parfum kepada Agnes yang tidak juga ditanggapi.



Sesampainya di pelataran mall Agnes membukakan pintu mobil untuk Sella. Menahan kepala temannya agar tidak terbentur kap mobil. “Udah mau jadi emak-emak masih aja suka ceroboh, Sell!” geram Agnes saat Sella hanya nyengir lebar tanpa merasa sakit saat ujung bajunya tersangkut pada pintu mobil.



“Lo diam kalau lagi ngemut permen aja. Selain itu lo berisik parah ngalamin kaleng bekas minuman!” Sella terkekeh mendengarnya. Salah siapa Agnes menyediakan satu bungkus permen lollipop di dashboard mobil. Sudah pasti Sella ambil, dong, mumpung gratis.



“Duduk aja nanti gue yang pesan,” kata Agnes saat Sella hendak beranjak mengikuti Agnes untuk mengantri. Di mall ini salah satu favorit mereka berdua karena untuk makan di cafe ini bisa request sendiri. Tinggal ambil mau makan apa. Itu yang membuat mereka betah berlama-lama di sini bahkan saat cafe hendak ditutup mereka masih santai.


__ADS_1


Sella mengedarkan sekeliling menatap bagaimana padatnya mall malam ini yang membuat Sella senang adalah dia bisa menghibur diri di sini. Ajakan Agnes seolah tahu dengan suasana hati Sella saat ini.


Atau memang kebetulan?


__ADS_2