
Sella sudah menduga kalau kedatangan Agnes bukan karena kebetulan, melainkan ada tujuan khusus. Setelah selesai makan Agnes dengan terang-terangan mengatakan kalau kedatangannya bukan karena keinginan dia. Ada sosok laki-laki yang sangat mengkhawatirkan Sella. Agnes yang tidak bisa menutupi rahasia apapun dengan sukarela memberitahu yang sebenarnya, padahal dia sudah diwanti-wanti untuk tidak memberitahu kebenarannya.
Sosok Tama yang sudah menganggap Sella seperti adiknya sendiri begitu pula dengan Sella yang sudah menganggap Tama seperti kakaknya sendiri. Diperhatikan sedemikian rupa oleh laki-laki yang hampir dua bulan bersamanya setiap saat membuat Sella terbawa perasaan. Ingat saja dia gampang untuk menaruh rasa, tapi memang siapa yang mau menerima dirinya dengan status ‘hendak menjadi ibu’ tentunya Tama juga berpikir kalau menyukai wanita yang sedang mengandung anak pria lain. Dan Sella membatasi dinding dalam hatinya untuk tidak terbawa suasana karena bagaimana pun Tama menganggap dirinya adik perempuannya.
Namun, karena perhatian ‘tak terduga dari Tama membuat Sella ketar-ketir sendiri, padahal dia sempat mengira bahwa kedatangan Agnes karena perintah dari Rishan. Sekali lagi jangan terlalu berharap, Sella!
“Mau langsung belanja atau duduk dulu?” Pertanyaan Agnes yang terkesan biasa saja, seolah tidak merasa bersalah telah membocorkan segala perhatian Tama terhadapnya.
Sella menatap temannya dengan alis bertaut. “Kenapa lo mau-mau aja, sih, disuruh sama mas Tama?” protes Sella tidak suka menjadikan Agnes sebagai alat oleh Tama. Biar bagaimana pun Agnes tidak mengetahui perkara kedatangan suami dan mertuanya.
“Kayaknya opsi kedua lebih tepat, deh. Lo masih mau duduk,” balas Agnes tanpa berniat menjawab pertanyaan Sella barusan.
Mendengar nada penuh sindiran dari Agnes membuat Sella membuang muka. “Belanja aja daripada kita diam-diaman.”
Agnes hanya mengangguk saja. Berdiri dari bangku tanpa menunggu Sella yang sedang membereskan tasnya. Sella memang tipikal wanita rempong. Ketimbang makan saja dia hampir mengeluarkan seluruh isi tasnya hanya untuk mengambil tissue basah. Lagi pula anehnya tempat makan besar tidak menyediakan peralatan dengan lengkap.
“Kenapa berhenti?” tanya Agnes saat Sella berdiri di sebelahnya. Sejajar dengan tubuhnya.
Sella mengernyit tidak suka. Dia padahal hanya mengikuti Agnes yang berhenti melangkah. Temannya ini seakan ingin membuat Sella badmood saja.
“Lewat sini!” ujar Agnes saat Sella hendak melawati kerumunan. Di sana ada pertunjukan seni yang entah mengapa membuat jiwa penasaran Sella melonjak saja. Namun, sayangnya Agnes sudah lebih dulu menarik lengannya untuk melanjutkan tujuan utama mereka.
Belanja kebutuhan sehari-hari yang sudah Sella rangkap dalam beberapa bulan adalah rutinitasnya. Biasanya Sella akan diantar oleh Tama karena lelaki itu sangat suka berbelanja. Dan kali ini untuk pertama kalinya Sella pergi bersama Agnes yang hanya mengekor ke sana ke mari. Agnes tidak benar-benar belanja.
\*\*\*
__ADS_1
“Teh saja, ya, udah malam yang ada lo nggak bisa tidur.” Sella meletakan secangkir teh hangat dan juga biskuit sebagai pelengkap.
Agnes sudah berencana menginap di tempat kecilnya bahkan perempuan itu sudah bersiap dengan seperangkat alat tempurnya. Berkas dan pena. Seperti sudah terencana. Memang benar, sih sudah terencana. Dengan senang hati Sella menyambutnya dengan tangan terbuka malah lebih bagus jika dia tidak berdiam diri sendirian.
Sekali lagi Sella ingin menghilangkan bayang-bayang bahwa rencana Agnes juga atas permintaan Tama namun, entah kenapa untuk menanyakannya tidak sanggup. Apalagi melihat bagaimana sibuknya Agnes dengan begitu justru menemani dirinya belanja.
“Gue tinggal ke dapur, ya. Mau beresin belanjaan dulu,” pamit Sella.
Mendengarnya Agnes mendongak lalu mengangguk dengan senyum tipis. “Kalau butuh bantuan panggil gue, Sell!” kata Agnes memberikan usulan. Dia sedari tadi mengacuhkan keberadaan Sella karena sedang fokus dengan laporan akhir bulan.
“Lama-lama bisa rontok ini otak!” gerutu Agnes. Helaian rambut mencuat dari ikatannya ketika dia mengusap kasar.
‘Drtz ... drtz ... drtz ....’
“Halo, Pak Rishan. Ada yang bisa saya bantu ‘lagi’?” tanya Agnes menekankan kata terakhirnya. Seolah paham jika hadirnya Rishan menghubunginya sudah pasti berhubungan dengan pekerjaan yang tiada habisnya.
“Sedang di mana kamu?” tandas Rishan tanpa berniat menjawab pertanyaan bernada sopan tapi memiliki arti milik Agnes.
Agnes mendengus mendengarnya. Helaan napas kesal dia hadapkan saat ini. “Saya sedang berada—”
“Gue ke kamar dulu, Nes. Kalau udah selesai masuk aja, ya?” pamit Sella ketika memasuki ruang tamu. Terlihat sedang memperhatikan Agnes yang sibuk menggerutu dengan ponsel menempel di telinganya.
Anggukan Agnes Sella dapatkan. Begitu Sella tidak terlihat barulah Agnes fokus kembali dengan ponsel yang masih tersambung.
“Em ... apa Bapak sudah merasa lega saat ini? Maksud saya ... setelah mendengar suara Sella tentunya.” Agnes buru-buru meralat perkataannya yang kadang suka terbelit-belit.
__ADS_1
“Terima kasih dan besok tidak usah datang ke kantor. Saya kasih libur satu hari.”
'Tut'
Agnes melongo di tempat. Masih belum paham dengan sikap kekanakan Rishan. Rasa cinta bisa mengubah segalanya, ya?
Agnes semakin merasa lega untuk melepas Sella pada pelukan seorang Rishan. Terlihat jelas bahwa atasannya itu sangat memuja temannya.
Karena mendapat hari libur dadakan dari Rishan membuat Agnes dengan semangat merampungkan pekerjaannya dengan segera.
\*\*\*
Setelah tadi berpamitan dengan Agnes Sella tak lantas berbaring memejamkan mata. Dia justru duduk termenung menatap jendela kamarnya yang belum ditutup. Sengaja Sella lakukan agar udara angin malam masuk. Sejuk.
Dia termenung memikirkan segala ucapan Mita dan juga tingkah Rishan. Sella merasa dirinya memang salah dengan pergi dari Rishan. Pergi dari kehidupan Diantoro memang sudah dia pikirkan sejak dulu, tapi entah mengapa kini dia menyesalinya. Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Mika dengan tiba-tiba.
“Tapi ini yang ayah mau,” gumam Sella setelahnya. Meski dia sudah bukan lagi bagian dari Romli namun, Sella ingin menunjukkan pada ayahnya itu bahwa dia bisa tanpa kekuasaan Romli dan juga tanpa lindungan suaminya.
Sella memang merasa sakit hati bahkan menolak dengan keras saat Romli meminta dirinya untuk berpisah dengan Rishan, tapi justru dia sendiri yang memakan ucapannya. Tidak sepatutnya Sella membantah di depan Romli sedangkan di belakangnya dia justru menuruti keinginannya.
Tindakan Sella pun berdasar, kok. Dia hanya terlalu takut akan apa yang bisa saja terjadi, meski belum mengalami hal itu.
Sella sudah pernah ditinggalkan dulu dan di masa depan dia tidak mau kembali ditinggalkan. Mungkin alasan yang cukup klasik, namun begitulah adanya.
Sebisa mungkin Sella menghindari menghadapi situasi serupa. Agar dia tidak kembali sakit. Agar dia tidak kembali menyalahkan dirinya sendiri.
“Kenapa kangen mama, sih?!”
__ADS_1