Istri Sang CEO

Istri Sang CEO
SIAPA YANG TERSIKSA SELAMA INI


__ADS_3

“Gue kira lo udah tidur, Sell,” ujar Agnes ketika membuka pintu.



Rumah kontrakan Sella memang memiliki satu kamar saja. Itu pun kecil tidak seperti rumah pada kebanyakan. Sella menyewa karena pada waktu itu hanya tersisa beberapa lembar uang saja. Masih untung boleh menyicil namun, setelah mendapatkan pekerjaan tidak pula membuat Sella meninggalkan rumah ini. Tidak ada rencana mencari tempat tinggal baru karena Sella sudah nyaman dan juga tetangga rumahnya yang ramah-tamah.



Menurut informasi yang Sella dapatkan bahwa rumah ini adalah milik seorang wanita paruh baya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Memang diperuntukkan kepada orang yang mau menyewa sedang uang sewanya disumbangkan kepada tempat yayasan seperti masjid dan tempat ibadah lainnya. Itu yang Sella tahu dari beberapa tetangga sebelah. Selebihnya Sella cuek saja asal tidak ada yang mengganggu ketenangannya.



“Sudah selesai?” tanya Sella melempar selimut yang baru saja dia ambil di dalam almari.



Agnes menangkap cepat selimut yang dilemparkan oleh Sella sebelum sempat mampir di lantai. “Bos gue kasih libur!” cengir Agnes.



Perkataan Agnes membuat Sella membeku. Bos yang dimaksud Agnes adalah suaminya yang mana artinya seseorang yang tadi meneleponnya adalah Rishan.



“Kenapa?” Hanya kata itu sebagai respon Sella. Tatapannya terkunci pada sosok Agnes yang sudah merebahkan diri.



“Nggak usah tanya gue tanya aja ke orangnya langsung!”



Sella mencebik mendengarnya.


“Sini lo!” Sella menggerutu tidak jelas jalan dengan hentakan kecil.



“Geser sini, Sell! Kasur lo kecil yang ada jatuh!” omel Agnes yang tidak Sella tanggapi.



Karena posisi ranjang yang kecil membuat mereka tidur saling menghimpit. Karena size ranjang khusus satu orang saja.



\*\*\*



“Geser kanan saja, Nes!” ujar Sella memangku keripik pisang di pangkuannya.



Mereka berencana menonton DVD kartun kesukaan Sella namun, karena posisi antena yang sedikit miring membuat saluran televisi seketika dipenuhi dengan semut hitam. Sella sebagai si tuan rumah hanya menyuruh ini itu sedangkan Agnes yang sedari dua sepuluh menit yang lalu berdiri di depan televisi sesuai arahan Sella.



Demi ibu hamil dan seketika Agnes menyesal diberi hari libur oleh Rishan.


__ADS_1


“Udah belum?!” sewot Agnes karena Sella hanya cekikikan saja tanpa berniat membantu.



“Matikan saja, deh! Nggak usah nonton kalau nggak ada gambarnya, Nes,” ujar Sella dengan entengnya. Bangkit membawa toples keripik menuju dapur.



Dengan respon Sella yang seolah ‘biasa saja’ sukses membuat Agnes mencebik ingin sekali mencakar Sella. “Semoga kalau gue hamil jangan kayak Sella!”



“Nikah aja belum udah mikirin hamil aja, lo!” tegur Sella membawa satu bungkus biskuit kesukaan Agnes. Kemarin waktu belanja Sella membeli banyak cemilan. Salah satunya cemilan kesukaan Agnes.



“Malam nanti nginap di tempat gue, dong, Sell!” Agnes merayu Sella dengan apik. Wajahnya nampak imut di depan Sella.



“Gue nggak mau cari mati.”



“Lo nggak akan gue kasih racun, Sell. Nggak usah lebay!”



Sella menghela napasnya kasar. Sudah sekali bicara dengan Agnes. Agnes memang tidak peka atau berpura-pura saja. Dan Sella akui tidak seharusnya bicara dengan Agnes.



“Gimana?” tanya Agnes lagi. Seolah tidak ingin menyerah begitu saja.




“Sekarang kita mau ngapain, nih? Libur nggak mungkin di rumah aja, ‘kan?” Agnes memainkan alisnya menggoda.



Sella mendengus. Agnes memang libur, tapi tidak dengan Sella yang tetap masuk meski telat. Sella sudah telat sepuluh menit. Dia bahkan belum mandi. Dan yang Agnes tahu bahwa Sella tidak masuk kerja karena masih di rumah padahal jam kerja sudah dimulai.



“Ikut ke toko aja, gimana?” tawar Sella. Tidak tega meninggalkan Agnes di rumah seorang diri.



“Kalau gue ikut di sana ngapain? Nungguin lo kerja?”



“Boleh aja, kok. Tapi kalau nggak mau ya sudah di sini saja sendiri. Rumah nggak gue kunci, kok.”



Agnes menimbang lebih baiknya bagaimana. Dia tidak mau di rumah seorang diri, apalagi tidak mengenal warga sini. Jadi ... ikut lebih baik, ‘kan?


__ADS_1


“Lo belum mandi, ‘kan?” Sella menggeleng.



“Lo mandi gue siap-siap!” putus Agnes. Dia sudah mandi lebih awal, jadi tinggal siap-siap saja.



\*\*\*



Begitu sampai di toko ternyata sudah ramai. Mas Tama yang biasanya datang paling lambat saat ini justru sudah berdiri di meja kasir. Melayani para pelanggan. Sella memang sengaja masuk lewat pintu belakang karena pintu depan ramai pelanggan. Tidak enak nantinya.



“Ramai juga, ya? Setiap hari kayak gini, Sell?”



“Iya,” jawab Sella seadanya. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang tersedia. Begitu pula dengan Agnes.



“Terima kasih,” ujar Sella saat seorang pramusaji menghidangkan teh di atas meja.



“Kayaknya jabatan lo di sini tinggi, ya?” tanya Agnes melihat bagaimana temannya diperlakukan sopan oleh para pegawainya.



“Untuk mendapatkan yang spesial tidak perlu jabatan, kok.”



Agnes tidak suka dengan jawaban Sella yang terkesan merendah. Jelas-jelas Sella memiliki kuasa di sini. “Ngaku aja, sih!”



Sella menghela napasnya kasar. “Lo duduk di sini aja. Mau kerja, ‘kan? Gue mau ke depan dulu.” Agnes hanya mengangguk karena setelahnya dia sudah tenggelam dalam berkas.



Melangkah masuk ke depan toko. Di sana Sella berdiri di sebelah Tama yang sedang melayani pelanggan. Seolah sadar dengan keberadaan seseorang di sebelahnya Tama menengok. Mendapati keberadaan Sella yang nampak segar membuat Tama tersenyum. Memberikan tangannya untuk disalami oleh Sella. Rutinitas mereka memang sedekat ini.



“Tumben Mas Tama berangkat lebih pagi dari aku?” Sella bertanya heran sebagai basa-basi saja. Sebenarnya dia merasa canggung, sih, tapi sebisa mungkin tidak Sella tunjukkan secara nyata.



“Aku kira kamu butuh libur jadinya aku datang menggantikan tugas kamu. Kalau tahu kamu berangkat lebih baik aku tidur lagi aja, deh,” jawab Tama dengan nada bergurau sembari memberikan uang kembalian kepada pelanggan.



Sella mengerucutkan bibirnya tidak suka. Menepuk lengan kekar milik Tama dengan jengkel. Mungkin jika orang asing melihat interaksi mereka akan mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Dilihat dari perawakan Sella dan Tama, apalagi keakraban keduanya yang bisa saja menimbulkan fitnah. Sama halnya dengan seseorang yang berada di dalam mobil hitam. Tangannya mengepal erat begitu melihat interaksi keduanya.



Dengan jendela transparan membuat kegiatan toko terekspos dari luar, apalagi bangunan toko yang dikelilingi dengan dinding kaca.

__ADS_1



Niat awal Rishan hanya ingin melihat Sella saja. Dia merasa perlu mengetahui keadaan wanitanya namun, yang ada dirinya merasa diremas. Sakit hati melihat bahwa wanitanya baik-baik saja tanpa dirinya. Jadi selama ini hanya dirinya saja yang tersiksa?


__ADS_2