Istriku Gendut

Istriku Gendut
perubahan sikap..


__ADS_3

“Setidaknya sebagai istri aku berusaha untuk tetap taat. Meski hati kita sama-sama belum saling mengikat.”


_______


Aku benar-benar kaget. Ah, lebih tepatnya bingung. Perasaan tadi malam masih tidur di bawah. Kenapa sekarang jadi tidur di kasur atas.


Mas Rafly kok malah tidur di sofa. Siapa yang mindahin aku ke atas? Masak, iya, Mas Rafly? Tapi, mana mungkin.


Aku masih duduk di atas ranjang, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Dan, sayangnya aku tak ingat kejadian aneh apa-apa. Tadi malam kepalaku pusing, lalu tidur di bawah, hanya itu yang kuingat.


Aku menatap laki-laki yang baru berstatus menjadi suamiku itu masih terlelap dalam mimpi. Duh, kasian. Tidur di sofa pasti sangat tidak nyaman, baginya.


Masih jam dua pagi. Sebaiknya aku menyuruhnya untuk pindah saja. Baru mendekat, ingin membangunkannya tapi kuurungkan.


“Nggak enak juga kalau ngebangunin.”


Aku membalik badan, ingin ke kasur kembali.


“Mau ngapain kamu?”


“Eh?”


Mas Rafly mengucek mata. “Ngapain tadi dekat-dekat aku?” tanyanya lagi, dengan suara khas orang baru bangun tidur.


“Eh, itu, Mas nggak mau pindah ke kasur aja?”


Dia tak menjawab, langsung berdiri, lalu naik ke kasur.


“Emm, Mas?”


“Apalagi?” tanyanya membuka selimut yang tadi menutupi hingga wajah.


“Eh, itu kok aku tiba-tiba bisa tidur di kasur, ya? Kuberanikan untuk bertanya. Kepalang tanggung daripada penasaran.


Mas Rafly yang tadi sudah ingin tidur lagi. Tiba-tiba justru duduk, menyenderkan punggung di kepala ranjang.


“Tadi malam, 'kan kamu ngelindur. Tiba-tiba naik ke kasur terus tidur. Ya jadi aku pindah tidur di sofa.”


“Hah? Masak iya.” Mataku membelalak kaget.


Sekilas aku melihat Mas Rafly tersenyum tipis. Ya, tipis sekali, bahkan nyaris tidak bisa disebut dengan senyuman. Kenapa sebenarnya dia.


“Karena aku baik hati, gimana kalau kita gantian saja. Jadi selama kamu masih sakit, sehari aku tidur di kasur, besoknya giliran kamu.”


Ribet banget punya suami. Kenapa nggak tidur berdua aja di kasur. Lagian kasurnya gede. Meski aku sadar badanku plus size, tapi masih muat itu kasur untuk berdua.


Mungkin kalau tidur denganku dia takut ketiban badanku, terus jadi sesak napas kali, ya. Atau jangan-jangan dia termasuk penderita obesophobia—orang yang phobia punya badan gendut—jadi, mungkin melihatku yang berbadan gendut ini dia jadi terlalu over nggak suka.


“Eh diajak ngomong malah diem aja, nih, orang,” tegur Mas Rafly membuyarkan lamunan singkatku.


“Aku nggak sakit, Mas. Nggak apapa, Mas aja yang tidur di kasur nggak perlu gantian.”


Mas Rafly mengangkat satu alisnya. Memindai wajahku dengan tatapan entah.


“Kenapa natap aku gitu. Apa aku salah ngomong, ya,” batinku.

__ADS_1


“Mulai nanti malem aku tidur di kasur besoknya giliran kamu.” Sejenak ia diam, kemudian meneruskan ucapannya. “Aku tahu lemak-lemak di badanmu bisa menghangatkan tubuh gendutmu tapi tolong pas lagi nggak enak badan jangan tidur di bawah. Minimal tidur di sofa. Atau kamu sengaja pengen sakit biar aku perhatian?”


Ya Salaam. Ini orang niatnya mau perhatian atau mau ngehina.


“Kalau dibilangin tinggal nurut apa susahnya,” ucapnya lagi.


“Iya, Mas,” jawabku sedikit tak enak dengannya.


Lebih baik aku menurut saja. Lagian sebagai istri aku hanya bisa manut. Daripada dosa. Surga istri 'kan ada pada suami.


Aku jadi ingat kata almarhumah ibu dulu, beliau sering menceritakan tentang ketaatan Ummu Mutiah, wanita pertama yang menghuni surga karena ketaatannya dengan suami.


Ah, aku jadi kangen kedua orang tuaku. Ingin rasanya mendengar nasihat mereka lagi, ingin rasanya memeluk tubuh mereka lagi, ingin rasanya bertemu mereka lagi. Ya hanya sebatas ingin, jangankan untuk memeluknya untuk sekedar melihat pun sudah tak mungkin. Karena kita telah berbeda alam. Alfatihah untuk ibu bapak.


***


Hari ini sampai bulan depan, ibu mertuaku, menginap di rumah saudara, untuk persiapan pernikahan sepupunya Mas Rafly, katanya. Aku juga tak begitu paham.


Simbok juga sudah pulang. Beliau memang hanya bekerja sampai jam 18.00 WIB. Terkadang kalau sudah memasak dan mencuci, pagi beliau pulang terus kembali lagi rada siangan. Makanya hari ini sepi.


Meski baru dua hari menikah. Aku sudah ripuh dengan tugas kuliah, membuat jurnal, meresensi buku yang teramat tebal, belum lagi tugas makalah.


Aku memilih mengerjakan tugas di atas rooftop. Rumah ibu mertuaku ini memiliki rooftop yang cukup luas, ada taman bunga yang berisi berbagai macam bunga dan satu pohon berukuran sedang, yang aku tak tahu jenis tanaman apa. Yang jelas di sini sangat sejuk. Ada satu gazebo di pojok kanan serta meja dan kursi di pojok kiri. Mungkin tempat ini memang disediakan untuk bersantai.


Baru mau membuka laptop, benda pipih di atas meja itu bergetar. Aku menatap layar pop-up, ada notifikasi pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau. Segera kuusap layar ponsel, ada chat dari Fatih ternyata.


Fatih. Pemuda dengan lesung pipi itu, pernah membuatku jatuh hati. Anggap saja aku baper. Namanya juga perempuan, terkadang sebuah perhatian sering disalahartikan. Dia hanya menganggapku teman tak lebih.


Tapi itu dulu. Lagipula aku sudah menikah dengan Mas Rafly, sungguh berdosa jika masih memikirkan laki-laki lain.


[Raaaa.]


[Kenapa?]


[Nikahan Dhea kamu Dateng, nggak?]


Astagfirullah. Aku menepuk dahi, hampir lupa, kalau ada undangan pernikahan dari temen sekelas, besok malam.


[InsyaaAllah. Ijin suami dulu.]


[Duh, iya deh yang udah nikah. Kudu izin dulu.]


[Wkwk.]


[Ra, aku mau gombalin cewek. Tolong dinilai, ya.]


[Hu'um]


[Kamu tahu nggak bedanya, kamu sama narkoba?]


[Nggak tahu.]


[Kalau narkoba bisa bikin candu, kalau kamu bisa bikin rindu. Eaaaa.]


Aku mengangkat bibir ke atas, demi membaca pesan dari Fatih. Walaupun aku tahu dia juga tak akan melihatnya.

__ADS_1


[Nilai dong berapa.]


[20]


[Dikit amat. Elah]


[Terlalu mainstream gombalannya.]


[Bodo amat, Ra. Bukan temen lagi kita.]


[(Aku mengirim emot ketawa)]


“Ngapain kamu senyum-senyum gitu, kaya orang gila,” ucap seseorang yang langsung membuatku mendongak. Meski tanpa mendongak pun aku tahu itu pasti Mas Rafly.


Aku meletakkan ponsel di meja. “Nggak papa, Mas.”


Mas Rafly menggeser kursi, lalu mendudukkan diri di depanku. Dia membawa tas berisi laptop. Aku kira dia akan mengerjakan tugas kantor, tetapi sepertinya tebakanku salah karena ternyata dia membuka laptop bermerek Asus ROG GX800.


‘Dasar anak sultan,’ ujarku dalam hati. Aku menggeleng pelan. Terkadang aku tak paham kenapa laptop gaming seperti itu sangat mahal. Dan, anehnya para gamers dengan senang hati akan membelinya. Tapi kata orang, tak ada kata mahal, kalau berhubungan dengan hobi.


“Aku kesini buat nyari udara segar sambil nge-game. Bukan maksud untuk menemani kamu. Jadi kamu nggak usah ge-er.”


Nah, 'kan. Padahal aku sama sekali nggak ngarepin dia menemaniku. Kenapa juga laki-laki ini sering negatif thinking.


Aku melirik ke arah Mas Rafly yang terus fokus menatap layar laptop. Rambut hitam sedikit pirang itu ikut menari, seiring arah sapuan angin, memberi kesan cool pada dirinya.


“Aku tahu aku tampan, tapi tolong jangan menatapku seperti itu,” ucapnya tanda sedikit pun menoleh ke arahku, masih menatap layar laptopnya.


Ya Salaam, sok ganteng banget dia. Tapi, memang ganteng, sih. Halah mbuh.


“Tolong hp-mu di silent, aja. Dari tadi getar terus ganggu aku main game.”


Aku mengambil ponsel, yang ternyata ada banyak pesan masuk. Salah satunya dari Bulek Lin, adik dari almarhumah ibuku, yang tinggal di desa.


[Tolong kirim uang, Bulek lagi butuh.]


[Maaf, Bulek. Tapi aku baru mau cari kerja lagi. Jadi sekarang lagi nggak ada uang. Tunggu seminguan lagi, ya. InsyaaAllah nanti aku kirim.]


Kuliah sambil kerja, bukan sesuatu yang mudah. Apalagi harus menyesuaikan jadwal kampus, yang kadang bergonta-ganti. Membuatku harus cari kerja yang mau supel dengan jadwal kampus.


[Tinggal minta suamimu, 'kan kaya. Orang suamimu kaya masak kamu tetep kerja.]


[Aku nggak enak, Bulek. Masak baru nikah udah minta-minta.]


Bulek Lin ini yang mengurus aku saat kedua orangtuaku meninggal ketika baru lulus SMP. Selama tinggal bersamanya aku selalu membantu beliau sampai kuliah pun aku masih mengiriminya uang, sebagai tanda balas budiku kepada keluarganya yang berbaik hati mau mengurusku. Beliau kadang memang kasar, tetapi aku yakin beliau sebenarnya sayang padaku.


Terkadang terbesit di pikiran bahwa Bulek Lin hanya memanfaatkanku. Namun, aku segera menangkis pikiran itu. sungguh berdosa jika sudah bersuudzon dengan orang yang selama ini merawatku.


[Bilang aja kamu nggak mau kirim uang.]


[Nggak gitu, Bulek.]


[Jangan mentang-mentang kamu sudah kaya, kamu melupakan Bulekmu, ya. Jangan jadi kacang yang lupa kulitnya.]


Aku mengembuskan napas dalam-dalam. Sejenak aku menatap Mas Rafly, tetapi nggak enak jika harus minta kepadanya.

__ADS_1


Mas Rafly yang mungkin menangkap perubahan wajahku, lalu bertanya, “Kenapa?”


***


__ADS_2