Istriku Gendut

Istriku Gendut
5


__ADS_3

“Nduk, wong ki bakal ngunduh woh ing pakerti. Sing penting sampean ngelakoni kebecikan. Mau mereka baik atau nggak itu terserah mereka. Sopo sing nandur pasti bakal ngerah. Pesen bapak, ada atau nggak adanya bapak sama ibu suatu saat nanti, sampean kudu dadi wong sing kuat.”


_______


Seminggu berlalu setelah kejadian pemberian bunga melati malam itu, sifat Mas Rafly masih sama. Seperti cuaca, yang suka berubah-ubah. Kadang menunjukkan sifat sebagai suami pada umumnya, baik. Kadang juga cuek malah cenderung mengesalkan.


Jangan lupakan. Kami masih bergilir kasur untuk sekedar tidur. Aneh bukan? Jadi meski satu kamar kami tak pernah tidur bareng, dalam satu ranjang.


Minggu, ini kami sudah mulai dengan rutinitas masing-masing. Aku kuliah sedang Mas Rafly kerja.


Laki-laki itu keluar kamar sudah lengkap dengan seragam kantornya. Wangi parfum Caron Poivre menguar di Indra penciuman sesaat setelah Mas Rafly duduk. Ia menyomot satu lembar roti yang sudah dioleskan selai nanas. Lalu meneguk air putih yang masih tersisa setelah.


“Kita akan pindah rumah,” ujar Mas Rafly sesuai mengusap mulut dengan serbet.


“Kenapa, Mas? Bukannya kasian kalau mama di rumah sendirian?”


“Mama nggak bakal sendiri. Mas Gio bakal pulang dalam waktu dekat.”


Mas Gio itu kakak kandung Mas Rafly yang masih menyelesaikan studi S-3 sastra Jawa di Belanda. Karena katanya tujuan yang tepat untuk kuliah S-3 sastra Jawa adalah universitas di Belanda bukan Indonesia. Mungkin memang terdengar aneh, mengingat Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan salah satu suku di Indonesia yaitu suku Jawa. Tapi kenyataannya memang begitu.


Bukan di Indonesia tidak ada studi Sastra Jawa, hanya saja menurut para ahli linguistik untuk mendapat gelar magister dan doktor dalam bidang sastra Jawa universitas di Belanda lebih tepat karena kelebihannya dalam banyaknya materi Nusantara.


Aku hanya mengangguk. Mungkin bagi seorang yang kaya seperti Mas Rafly lebih nyaman punya rumah sendiri. Meski sebenarnya rumah ini dipakai orang sepuluh pun masih muat. Selain menjaga privasi rumah tangga, mungkin juga kenyamanan lebih utama.


“Aku berangkat dulu.” Mas Rafly beranjak dari tempat duduknya.


Aku segera meraih punggung tangganya.


Lagi, ia menarik tangan itu, sebelum aku benar-benar menciumnya.


Raut wajah tampan itu selalu berubah saat bersentuhan denganku. Entah ketika sengaja atau tidak. Tapi kenapa? Apa ia benar-benar sangat membenciku hingga bersentuhan saja memberikan efek pada tubuhnya. Bahkan hanya sekedar bersalaman ia sangat enggan.


“Mas?


“Kenapa?”


Ia menghentikan langkahnya. Menoleh sedikit ke arahku.


“Mas mau nggak kalau aku bawakan bekal ke kantor?”


“Akan kupikirkan nanti,” jawabnya lalu meneruskan langkahnya.


Aku menatap punggung itu, hingga mobilnya melaju.


Bendah pipih di meja berdering. Menandakan ada telepon masuk. Tertera nama Citra di sana. Aku segera menekan tombol hijau.


“Assalamualakum pengantin baru.”


“Waalaikumsalam, udah bukan pengantin baru tau!”


Ada suara tertawa di seberang sana. “Pengantin baru sensi amat. Ya kan belum ada sebulan, Ra. Masih termasuk pengantin baru itu.”


“Iya deh terserah kamu. Ada apa nelepon?”


“Hari ini libur, Ra.”


“Masak, sih?”


“Tuh, 'kan. Udah aku tebak pasti kamu belum buka grup kelas. Pak Anggara lagi ada acara pembinaan di Medan. Bu Risty sakit katanya. Matkul Pak Anggara Minggu depan dirangkep. Bantuin aku cari lokal, ya.”


“Kamu penanggung jawab mata kuliahnya?”


“Iya, Ra. Masak lupa, sih.”


“Ok. Insyaallah nanti aku bantu cari lokal.”


“Eh, Ra. Pengen main ke rumahmu deh. Tapi khawatir.”

__ADS_1


“Khawatir kenapa?”


“Khawatir deg-degan kalau ketemu, Pak Rafly. Pak Rafly kira-kira ada niatan poligami nggak, Ra?”


Aku mendengkus. Samar aku masih mendengar Citra tertawa.


“Bercanda, Ra. Gitu aja marah kamu.”


Suara pintu diketuk. Apa mungkin Mas Rafly? Tapi, aku nggak mendengar suara mobil masuk. Atau mungkin ibu mertuaku.


“Udah dulu, Cit. Kayanya ada tamu. Assalamualaikum.”


Setelah Citra menjawab salam, aku langsung mematikan telepon. Berjalan sedikit tergesa untuk membuka pintu. Karena ketukan semakin keras. Juga bel yang berbunyi berulang kali.


Kok nggak sabaran? Kalau Mas Rafly pasti tinggal masuk toh pintu juga nggak dikunci.


“Loh, Bulek?” ucapku setelah membuka pintu.


Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan dengan siapa beliau ke sini.


Namun, pekarangan rumah sepi. Tak ada orang. Berarti beliau datang sendiri.


“Monggo, Bulek.”


Bulek Lin masuk. Langsung mendudukkan diri di sofa berwarna kapisa.


“Mana suamimu?”


“Lagi kerja, Bulek. Fahira buatin minum dulu, ya.”


“Nggak perlu. Aku kesini cuma sebentar.”


“Bulek, 'kan baru perjalanan jauh. Apa nggak capek. Kalau mau Bulek mending nginep di sini dulu.”


“Aku ke sini cuma mau minta uang, Ra. Aku butuh uang.”


Perempuan berumur empat puluh lima tahun itu, menatapku tajam. Kedua alisnya saling tertaut, membentuk kerutan dalam di dahi.


“Alasan. Aku butuh sekarang Fahira,” ujarnya dengan suara penuh penekanan.


“Tapi aku benar-benar belum ada uang, Bulek. Nanti aku janji saat Mas Rafly pulang aku akan minta. Sekarang Mas Rafly lagi kerja. Nggak enak nanti ganggu.”


“Sudah kubilang, aku butuh sekarang Fahira.”


“Tapi---.”


“Dasar anak haram. Bisanya cuma nyusahin nggak tahu diri kamu, ya.”


Laksana dihantam batu, dadaku benar-benar sakit. Oksigen seolah-olah enggan untuk dihirup. Sesak. Ya Allah kok beliau tega bilang begitu kepadaku.


“Kok Bulek tega ngomong gitu ke aku. Aku salah apa, Bulek.”


Bulek Lin mengangguk pelan. Netranya nyalang menatapku penuh kebencian.


“Karena kamu sudah besar akan aku ceritakan tentang keluargamu. Mas Rendra itu bukan ayah kandungmu. Ibumu hamil di luar nikah. Dia hanya kasian dengan Ibumu. Kamu tahu? Mas Rendra dibenci oleh keluarga kami karena menikahi ibumu tapi dia tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Makanya selama ini tidak ada yang peduli kepadamu saat kamu yatim piatu. Cuma aku yang mau mengurusmu Fahira. Padahal kau tahu aku janda harus mencukupi kedua anakku ditambah beban dirimu.”


Mataku sudah dipenuhi kabut, jika berkedip sedikit saja, bulir bening akan menetes di pipi.


“Kamu itu memang tidak berguna! Hanya beban untukku.”


Bagaimana bisa Bulek Lin tega mengatakan aku tidak berguna. Sedang selama ini aku selalu membantunya. Uang hasil kerja semuanya kuberikan kepadanya. Aku hanya memakai uang beasiswa dari kampus itu pun kadang masih kuberikan kepadanya jika gajiku tak memenuhi.


Selama sekolah sampai kuliah aku juga mengandalkan beasiswa. Untuk keperluan sehari-hari saat menumpang bersamanya aku selalu membantunya. Nyaris apa yang beliau berikan tak pernah gratis.


Aku selama ini selalu mengutamakan keluarganya ketimbang diriku sendiri. Mereka tak tahu bagaimana aku mencari uang sambil kuliah. Yang mereka tahu hanya, aku yang harus mengirim uang.


Untuk sekolah kedua anaknya— Regi dan Rani—bahkan aku yang menanggung. Kenapa beliau tega mengatakan hal itu.

__ADS_1


“Kamu sama ibumu itu sama saja! Sama-sama sampah.”


Ucapannya nyelekit, menohok tepat di dalam sini.


“Silakan kalau, Bulek mau menghinaku tapi tolong jangan hina almarhumah ibuku.”


“Kenapa, kamu marah Fahira? Aku juga marah padamu dan ibumu.” Bulek Lin tersenyum miring. “Kamu seharusnya bersyukur almarhum Mas Rendra menjodohkanmu dengan keluarga ini. Kalau tidak aku pun sama seperti mereka ... akan membuangmu.”


Perempuan itu berdiri, lalu pergi. Menyisakan rasa nyeri dalam hati.


Cukup lama, aku masih terduduk. Cairan bening terus mengalir membasahi pipi. Lemas rasanya untuk sekedar menghapus air mata.


Dengan tertatih aku mencoba untuk berdiri. Badanku sedikit terhuyung karena tiba-tiba rasa pusing menyerang kepala. Keputusan untuk mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan shalat dhuha.


Mengadukan semua permasalahan ini kepada Allah. Aku kembali menangis dalam sujud.


***


Aku menarik laci. Mengambil album foto yang telah usang. Benakku menerawang. Mengingat ucapan Almarhum ayah.


“Nduk, wong ki bakal ngunduh woh ing pakerti. Sing penting sampean ngelakoni kebecikan. Mau mereka baik atau nggak itu terserah mereka. Sopo sing nandur pasti bakal ngerah. Pesen bapak, ada atau nggak adanya bapak sama ibu suatu saat nanti, sampean kudu dadi wong sing kuat.”


“Maafin Fahira, Pak. Fahira nggak bisa jaga pesen bapak. Fahira nggak kuat, Pak.”


Semua bagiku jadi terasa sulit. Pikiranku dipenuhi ucapan-ucapan dari Bulek Lin. Apa benar aku anak haram? Apa benar ibu hamil diluar nikah? Apa benar aku bukan anak bapak?


Aku duduk di sisi kasur. Menaikkan kaki sembari memeluk lutut. Menenggelamkan wajah di sana.


Rasanya sungguh seperti tak lagi ada asa. Hati ini lelah. Pun dengan raga dan atma yang ikut payah.


Bagaimana yang kurasakan. Aku sendiri tak bisa mendefinisikan. Hanya sakit.


“Ra.”


Aku langsung mengangkat kepala. Menatap Mas Rafly yang tengah berdiri di tengah pintu.


Punggung tangan segera mengusap sisa air mata. Tak mau laki-laki itu melihatku menangis.


Dia semakin melangkah mendekat, ikut duduk di bibir ranjang. Bersebelahan denganku.


“Kenapa? Ada masalah?”


Aku menggeleng pelan. “Nggak papa, Mas. Emangnya aku kenapa?”


“Aku udah salam beberapa kali. Kamu nggak nyaut. Malah diem di sini.”


“Wah maaf, Mas. Nggak kedengaran tadi,” ucapku dengan senyum mengembang.


“Beneran nggak ada masalah?” tanyanya untuk kedua kalinya, demi memastikan.


Aku menggeleng lagi. Mencoba meyakinkannya.


“Tapi kalau nggak ada masalah kenapa matamu sembab kaya habis nangis?” Sesaat ia diam. Menghela napas panjang, sebelum akhirnya meneruskan ucapannya. “Aku tahu mungkin aku bukan suami yang baik. Tapi kalau ada masalah cerita aja. Siapa tahu aku bisa bantu.”


Mas Rafly menatapku lekat. Membuatku tenggelam kedalam mata indahnya.


“Ra.”


Kali ini ucapannya lembut. Yang justru membuat air mata tak terasa jatuh begitu saja. Sungguh aku tak ingin ia melihatku menangis. Tapi kenapa buliran bening itu keluar tanpa aba-aba. Membuatku terlihat cengeng di depannya.


Pelan, Mas Rafly mengusap pipiku lembut. Menghapus sisa air mata yang malah keluar lagi.


Ada desiran halus dalam dada. Kala tangan kekar itu, menyentuh pipi.


Astagfirullah. Kenapa aku ini. Bukannya berhenti menangis. Malah semakin menjadi.


Perlahan, Mas Rafly merengkuh tubuhku dalam dekapannya. Tangannya lembut, membelai punggungku. Kemeja yang ia kenakan telah basah karena air mata.

__ADS_1


Kami sama-sama diam dalam pelukan. Sesekali terdengar aku yang sesenggukan dan ia yang mencoba untuk menenangkan.


Bibirku terasa kelu. Jangankan bercerita, untuk sekedar membuka mulut saja sulit.


__ADS_2