
“Sultan Muhammad al-Fatih umur 21 tahun udah bisa menaklukkan konstantinopel. Nah kamu? Umur hampir 22 tahun menaklukkan hati perempuan saja nggak bisa.”
_______
Sinar mentari semakin meredup, melengser pelan kembali ke peraduan. Laki-laki berkaus hitam itu masih bergulat dengan berkas-berkas yang berserakan. Ruang kerjanya tepat berada di sebelah kamar. Pintu ruangan itu berada di samping yang langsung bisa terhubung dengan kamar kami.
Aku mengetuk pintu sebagai tanpa permisi, meski sebenarnya pintunya juga tak ditutup.
“Ya, ada apa?” tanya Mas Rafly tanpa menoleh kepadaku. Jemari tangannya bergerak menorehkan tinta pada kertas-kertas itu. Walau jam kerja kantor masih libur. Namun, sepertinya dia memang tetap sibuk.
“Mas, nanti malam aku mau ijin datang ke pernikahan teman boleh?”
Kali ini ia menoleh, menatapku sekilas, lalu meletakkan kaca mata yang bertengger di hitung mancungnya. Oh, aku baru sadar kalau Mas Rafly menggunakan kaca mata saat bekerja seperti ini.
“Terserah kamu saja.”
Nah, 'kan, jawabannya terserah mulu kaya cewek.
“Silakan kalau mau pergi ke acara pernikahan temanmu tapi aku nggak ikut.”
Sesaat aku berpikir, sebenarnya nggak masalah kalau aku datang sendirian ke sana. Tapi apa nggak aneh kalau orang udah nikah datangnya nggak sama suami.
“Mas lagi sibuk banget, ya?”
“Sibuk nggak sibuk aku tetap nggak mau datang sama kamu ke acara apapun. Kamu seharusnya sadar.”
Sudut kecil hatiku sedikit teriris. Sakit. Ah, tak masalah seharusnya aku sudah terbiasa bukan? Ini bukan pertama kalinya dia bersikap seperti ini.
“Ya udah maaf, ya. Udah nganggu, Mas kerja. Terima kasih sudah izinkan.”
“Hmm.”
Aku segera beringsut keluar ruangan.
***
Aku mengenakan gamis abaya berwarna biru tua dengan motif sederhana di bagian pinggang. Kata orang jika memakai pakaian berwarna gelap sedikit kalem dengan motif simple, sangat cocok untuk perempuan gemuk sepertiku, biar menyamarkan badan agar tidak terlalu kelihatan gendut, katanya.
Aku menghampiri Mas Rafly yang sedang menonton telivisi di ruang tengah, bermaksud untuk berpamitan. Belum sempat mengeluarkan suara, ia sudah menyerahkan kunci mobil kepadaku.
“Bisa bawa mobil sendiri, 'kan? Pak Prapto lagi jenguk keluarganya yang sakit.”
“Aku nggak bisa bawa mobil, Mas.”
“Terus? Suruh nganterin aku gitu? Ck, merepotkan sekali.”
Ia berdecak. Memasang wajah malas. Namun, Mas Rafly segera beranjak dari tempat duduknya, menyambar kunci yang tadi diberikan kepadaku.
“Aku bisa naik taksi aja, Mas. Nggak perlu diantar.”
Jadi bingung, aku 'kan nggak minta untuk diantar. Tapi, sekarang Mas Rafly justru tampak semakin kesal saat aku bilang anak naik taksi.
“Kamu lebih milih naik taksi daripada dianter suami? Oh ok.”
Aku gelagapan. “Eh, nggak gitu, Mas. Maksud aku tuh lebih baik, Mas istirahat aja, daripada nganterin nanti capek.”
Aku tidak yakin, tapi air mukanya samar menampakkan kekecewaan. Tapi kenapa?
__ADS_1
“Yaudah sana,” ucap Mas Rafly mengibaskan tangan, mengisyaratkan kepadaku menyuruh pergi.
Segera kuraih tangannya, lalu singkat aku mencium punggung tangan itu dengan takzim, karena ia buru-buru menarik tangannya.
“Assalamulaikum, aku berangkat dulu, ya.”
“Waalaikumsalam,” jawabnya sangat lirih. Namun, masih mampu terdengar di indra penderanganku.
***
Resepsi pernikahan Ajeng diadakan di ballroom hotel four seasons. Salah satu hotel yang terkenal dengan pelayanan baik di Jakarta. Aku menyapu ruangan yang sudah tampak ramai oleh tamu undangan.
“Ra, hey.”
Aku menoleh, laki-laki itu melambaikan tangan. Fatih memakai kemeja putih dibalut jas hitam, berjalan mendekat ke arahku.
“Pengantin baru sendirian aja, mana suamimu, Ra?”
“Lagi sibuk. Oh, ya, Citra mana, katanya kalian berangkat bareng.”
“Kebelakang tadi.”
Aku mengangguk. Laki-laki itu mentapku dengan senyum yang mengembang, memperlihatkan lesung pipinya. Masih ada debaran halus, saat tanpa sengaja mata kami saling bertemu. Astagfirullah, ingat, Ra. Kamu udah nikah.
“Udah tahu berita headline terkini?” tanya Fatih.
“Soal apa?”
“Hagia Sophia.” Laki-laki itu membasahi bibir bawahnya, sembari menyugar rambut dengan jari tangan. Lalu melanjutkan ucapannya. “Sesama klan Fatih aku bangga, dong.”
“Jangan samakan Sultan Muhammad al-Fatih sama kamu, ya. Jauuhh lah.”
“Sultan Muhammad al-Fatih umur 21 tahun udah bisa menaklukkan konstantinopel. Nah kamu? Umur hampir 22 tahun menaklukkan hati perempuan saja nggak bisa.”
Fatih mendengkus. Sementara aku mengekeh pelan.
“Bukan nggak bisa, tapi belum nemu yang cocok aja. Eh pernah nemu yang cocok sih tapi dia udah nikah sekarang.”
Aku mengernyit, membuat kerutan di dahi. “Siapa gebetanmu yang udah nikah. Aku kok nggak tahu.”
Sejenak ia mengalihkan pandangan. Lalu kembali menatapku.
“Mantan gebetanku itu, ya kamu.”
“Eh?”
Sesuatu dalam dadaku seperti melonjak ingin keluar. Kaget.
Detik kemudian tawa Fatih berderai. “Canda, Ra. Jangan serius-serius amatlah.”
Aku mendelik. “Nggak lucu.”
“Ya maaf, aku cuma bercanda tapi kalau dianggap serius juga nggak papa.” Fatih mengekeh lagi.
“Hay, Fahira.” Citra yang tiba-tiba muncul langsung memelukku. “Duh kok kangen, ya. Padahal baru beberapa hari nggak ketemu. Oh iya mana suami gantengmu itu?” tanyanya sesaat setelah mengurai pelukan.
“Nggak ikut, lagi sibuk, Cit.”
__ADS_1
“Tahu gini, tadi kamu bareng aku sama Fatih aja.”
“Ya nanti pulangnya bareng kita aja, Ra,” tawar Fatih.
***
Setelah bersalaman dengan Ajeng dan suaminya aku memutuskan untuk segera pulang. Pun dengan Fatih dan Citra yang tadi sudah menawarkan tumpangan.
Mobil silver itu melaju sedang membelah jalanan kota yang lumayan sepi. Selama dalam perjalanan hanya suara Citra yang mendominasi. Ia bercerita tentang banyak hal dari cerita tentang perpustakaan baru yang akan dibangun oleh kampus sampai bercerita tentang ia yang sedang dekat dengan Pak Adi, salah satu dosen manajemen di kampus kami. Aku hanya sesekali menanggapi, sementara Fatih hanya menyimak sembari fokus menyetir.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya sampai di rumah. Aku segera turun tak lupa mengucapkan terima kasih. Kemudian mobil itu kembali melaju.
“Assalamualaikum.” Aku menyalakan lampu. Mendapati Mas Rafly yang ternyata duduk di sofa.
‘Ngapain dimatiin lampunya kalau dia masih duduk di situ,’ batinku.
“Dianterin cowok?”
“Oh itu tadi temanku. Nggak cuma berduaan kok, Mas. Tadi aku bareng Fatih ada Citra juga.”
Mas Rafly menatapku datar. “Nggak perlu dijelasin aku juga nggak bakal cemburu. Kamu mau berduaan sama cowok atau nggak, ya itu terserah kamu.”
Aku menghela napas pelan, kemudian mendudukkan diri di sebelah Mas Rafly. Sudut netraku melirik buket bunga melati yang tergeletak di meja.
“Bunga buat siapa, Mas?”
“Buat kamu.”
Sedetik jantungku bergeming, lalu berdegub lebih kencang dari biasanya. “Seriusan buat aku, Mas?”
“Ya iyalah emang istriku siapa lagi.”
Meski dia berucap tanpa ekspresi tapi entah kenapa seketika hatiku menghangat, yang menjalar dalam tubuh.
Sulit dipercaya. Dia kenapa? Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba ngasih bunga.
“Oh, tadi Mas keluar juga, ya? Kemana?”
Mas Rafly hanya diam.
“Kenapa ngasih bunga melati, Mas. Nggak bunga mawar gitu?” tanyaku lagi.
“Karena kata orang mawar itu lambang cinta. Aku 'kan nggak cinta sama kamu.”
Ya Salaam, nggak bisa romantis memang dia.
Aku mengangguk. “Oh gitu. Dikasih melati cocok kok sama aku. Mas tahu nggak nama Fahira itu artinya apa? Fahira itu artinya bunga Melur alias bunga melati. Bunga melati melambangkan kepercayaan pada pasangannya.”
“Nggak usah dikasih tahu aku juga udah paham.”
“Bunga melati itu kan putih, cantik melambangkan kesucian dan keelokan budi.”
“Kalau nama itu di implementasikan ke kamu aku setuju soal keelokan budi karena menurut aku kamu lumayan baik lah. Soal melambangkan kecantikan ya benar sih bunga melati itu memang cantik, tapi aku kurang setuju kalau itu di implementasikan ke kamu. Karena itu berbanding terbalik sama kamu.”
“Maksudnya aku jelek gitu?”
Ia mengendikkan bahu, tersenyum miring, mengejek. Lalu beranjak berdiri berdiri, melangkah masuk menuju kamar.
__ADS_1
“Ish, ngeselin banget, sih. Sok ganteng,” desisku pelan.
Mas Rafly menghentikan langkahnya. Menoleh ke arahku. “Aku denger loh, Ra.”