Istriku Gendut

Istriku Gendut
6


__ADS_3

Benar apa kata pepatah Arab, “Alhuznu huwa an tuhibbu shakhshon lam yufakkir fii hubbuki abadan. Kesedihan itu ialah ketika kamu mencintai seseorang yang mungkin tak pernah memikirkan cintamu selamanya.”


***


Udara subuh masih terasa segar belum tercemar napas-napas kepalsuan. Embun pagi ikut meramaikan, menambah kesan dingin yang menyenangkan.


Gemericik air terdengar dari kamar mandi, menandakan ada orang di dalam sana.


Gadis itu tengah duduk di sisi ranjang. Senyumnya mengembang kala mengingat kejadian tadi malam.


‘Nggak usah baper, Ra. Dia cuma meluk. Nggak lebih. Palingan juga karena kasian,’ batinnya meyakinkan, mencoba meminimalisir kebaperan.


Lengkungan di bibir Fahira perlahan memudar. Bukan karena sadar bahwa Rafly mungkin belum mencintainya tapi karena teringat masalahnya. Ia akan menyakan ini kepada ibu mertuanya barangkali ibu mertuanya itu tahu, sebab ini perkara nasab yang tidak bisa disepelekan.


Laki-laki itu keluar hanya dengan handuk putih yang dililit di pinggangnya. Fahira segera mengalihkan pandangan. Jujur ini baru pertama kalinya ia melihat Rafly bertelanjang dada. Biasanya saat suaminya selesai mandi ia juga tidak di kamar.


Rafly mengambil baju koko dan sarung yang memang sudah Fahira siapkan untuknya di atas kasur.


Perempuan itu sedikit kaget. Saat melihat suaminya membuat pergerakan akan mengganti baju. Pipi chubby itu seketika memerah.


“Kok nggak malu, sih. Ganti baju padahal ada orang,” gumamnya pelan.


Rafly membalik badan setelah selesai mengenakan baju. Dahinnya mengkerut menatap Fahira yang menutup wajah dengan kedua tangannya. Tanpa sadar bibirnya terangkat, samar. Ia mengambil bantal, lalu melemparkannya ke Fahira.


“Duh, kenapa sih, Mas,” protes Fahira. Badannya sedikit terhuyung karena terkena bantal tadi.


“Aku yang harusnya tanya. Ngapain nutup wajah? Nangis lagi?”


“Ya, ngapain, Mas Rafly ganti baju di sini kan ada aku.”


“Ya wajar orang ini kamarku,” jawab Rafly enteng.


Fahira menelan ludah dengan susah payah. ‘Benar juga,’ ujarnya dalam hati.


“Seharusnya kamu yang keluar atau jangan-jangan kamu emang sengaja ya di sini. Mau lihat aku ganti baju? Hmm?” Laki-laki itu menyipitkan mata, menatap serius ke arah Fahira.


“Eh, nggak. Nggak gitu. Orang aku cuma mau ngajak Mas Rafly buat jamaah subuh bareng. Masjid juga udah iqomah dari tadi.”


“Salat sendiri-sendiri aja.”


“Loh, kenapa?


“Malu sama malaikat.”


Perempuan itu menggeleng tak paham. “Malu kenapa?”


“Hafal cuma tiga surah terakhir masak mau jadi imam.”


Fahira sempat akan tertawa tapi urung ketika melihat wajah suaminya. Ia kira Rafly bercanda tapi sepertinya laki-laki itu serius.


“Ya nggak papa, Mas.”


“Aku mau salat sendiri aja.”


Meski sedikit tak rela. Fahira mengamini. Mereka pun salat sendiri-sendiri.


***


“Mau bareng? Mumpung aku lagi baik,” ucap Rafly selesai dari sarapan.


Fahira hanya mengangguk. Ada rasa hangat yang tiba-tiba hinggap di hatinya. Tapi ia coba untuk menangkisnya. Khawatir baper.


Mobil hitam itu merayap menyusuri jalan kota. Jalanan sangat macet mengingat ini merupakan jam kerja. Selama dalam perjalanan mereka sama-sama diam hingga telah sampai di kampus.


“Aku pamit, Mas,” ucap Fahira mencium punggung tangan Rafly.


“Tumben,” ucap perempuan itu lirih. Namun, masih terdengar di telinga suaminya.


“Tumben kenapa?”


‘Tumben tangannya nggak ditarik,’ ujar Fahira dalam hati.


“Nggak papa, Mas. Assalamualaikum.”


“Waalakumsalam.”


Mobil itu kembali melaju, sedang perempuan itu masih tengah berdiri di depan gerbang kampus hingga tiba-tiba ada menepuk punggungnya. Membuat Fahira sedikit melonjak.


“Bikin kaget aja, sih.”


Citra hanya menyengir. Menarik tangan temannya masuk ke kampus. Mereka duduk di gazebo sebentar, karena jam kuliah masih kurang setengah jam lagi.

__ADS_1


“Cie tadi diantarin suami.”


“Ngapain di cie-cie. Biasa aja.”


“Kalau dilihat-lihat, Pak Rafly itu kayak pemain Bollywood, ya, nggak sih?”


“Siapa? Sharukh Khan?”


“Bukan Sehun.”


“Sehun itu personil boyband Korea, Citra. Bukan pemain Bollywood,” ujar Fahira gemas.


“Oh aku kira Sehun itu penyanyi dangdut. Itu kan, tahu lagunya nggak yang, ‘Sehuntum mawar merahhhh, yang kau berikan kepadaku, di malam itu ....” ucap Citra melantunkan tembang lagu milik Elvy Sukaesih di akhir kalimatnya.


Gadis berkhimar krem itu menggeleng, sembari mendaratkan punggung tangan di dahi temannya. “Nggak panas. Kamu nggak lagi sakit, 'kan, Cit.”


“Jelas-jelas aku sehat aja,” sahut Citra merapikan poninya.


“Ya udah terserah. Jadi cari lokal nggak nih?”


“Udah dapet, Ra. Gedung Biru lantai 5 kelas 6-B. Kemarin aku nanya-nanya temen ada yang kelasnya hari ini kosong.”


Gadis bermata sipit mirip orang China itu, membenarkan tesmak yang membingkai netranya. Sedikit menyipit, memindai penampilan Fahira dari atas sampai bawah.


“Kamu kurusan, ya, Ra?”


“Nggak usah ngeledek deh, Cit.”


“Dih seriusan. Ya masih gendut, sih tapi kayaknya berat badanmu turun. Lagi diet, ya? Atau lagi banyak masalah?”


“Perasaanmu aja kali, Cit.”


“Jangan-jangan pernikahanmu nggak bahagia? Suamimu jahat?”


Kali ini gadis itu menerbitkan senyum. Meyakinkan temannya bahwa ia baik-baik saja. Tentu ia tak akan menceritakan permasalahan rumah tangganya. Selain Fahira bukan termasuk golongan orang yang terbuka, Ia juga tahu biar bagaimanapun istri harus menjaga marwah seorang suami. Seperti dalam Albaqarah ayat 187. Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lahunna, mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.


Setiap ayat dalam Al-Qur'an kita harus berusaha mengaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Termasuk dalam berumah tangga. Al-Qur'an iku kudu diugemi. Dalam mengaplikasikannya pun tidak boleh sembarangan. Harus bertanya terhadap orang yang alim, karena pada dasarnya memahami Al-Qur'an bukan hanya letterlek tapi harus paham terkait susunan kata—nahwu shorof—, tafsirnya, asbabun Nuzul, dll. Begitu kata Ustadzahnya Fahira yang ia ingat.


“Males ngomongin berat badan. Mending kita ke kelas sekarang.”


Tak berselang lama setelah mereka tiba. Anggara—dosen mata kuliah psikologi sosial terapan—datang. Waktu empat SKS berlalu sangat cepat karena penjelasan Dosen Anggara yang mudah dipahami serta pembawaan yang tidak membosankan. Sesekali dosen muda itu juga memberi selipan lelucon saat menjelaskan.


“Ya nggak boleh gitu dong. Ngambil psikologi harus suka mata kuliahnya.”


“Suka kok aku mata kuliah psikologi asal bahas teori cintanya Strenberg udah hatam aku malah.”


“Udah diem nanti kita di tegur--.”


Belum sampai Fahira selesai berbicara Anggara sudah berdehem. Menatap mereka dengan santai, lalu tersenyum tipis. Bukan itu bukan senyum biasa. Tapi itu senyum isyarat untuk penambahan tugas, sepertinya.


“Nanti kalian ke ruangan saya sebentar, ya.”


“Mati, Ra,” cicit Citra.


***


Seusai ke ruangan Anggara. Mereka sedikit bernapas lega.


“Nggak masalah tugasnya mudah, ya, 'kan?”


“Karena mudah makanya kamu aja yang ngerjain,” cibir Fahira.


“Ya, jangan gitu dong, Ra. Kan cuman disuruh bantu-bantu Pak Anggara doang. Kalau aku sendiri yang ngerjain jadi berat.”


“Apanya yang dikerjain berat?” tanya Fatih yang tiba-tiba datang.


Mereka berjalan bersisian, dengan Citra berada di posisi tengah, diantara Fahira dan Fatih.


“Itu Pak Anggara.”


“Lagian kalian ngapain ngobrol bukannya ngedengerin.”


“Orang kita nggak sengaja ngobrol, ya, kan, Ra?”


“Mana ada ngobrol nggak sengaja, Citra,” protes Fatih, menggelengkan kepala.


“Mau bareng kita atau dijemput suami, Ra?” tanya Fahit ketika sudah sampai di parkiran.


“Kalian duluan aja. Santai nanti aku dijemput, kok," ucap Fahira sembari mengulum senyum. Padahal ia tak yakin suaminya itu akan menjemputnya. Rafly biasa pulang jam delapan malam sedangkan ini masih jam lima sore.


“Ya udah kita duluan, ya, Ra.”

__ADS_1


Fahira mengangguk. “Hati-hati.”


Sebenarnya ia merasa tak nyaman jika mereka pulang hanya berdua, meski itu sudah biasa mereka lakukan. Bukan cemburu, hanya saja mereka bukan mahrom. Mau menasihati, tak enak hati, khawatir tersinggung. Mau ikut dengan mereka, biar nggak hanya berduaan saja, tapi nanti nggak enak sama Rafly. Mengingat jarak rumah Citra yang lebih dekat, otomatis nanti sampai rumah. Ia dan Fatih terkesan hanya berdua dalan satu mobil. Khawatir jadi fitnah.


***


Perempuan dengan kaus lengan panjang berwarna coklat susu itu menopang dagu di atas balkon. Udara malam membuat hijabnya sedikit berkibar.


Tamaram bohlam membuat siluet bayangan tubuh gempalnya. Ia Berulangkali mengela napas panjang.


Derap langkah kaki mendekat. Namun, Fahira belum sepenuhnya menyadari.


“Nggak ada tugas kamu?”


Fahira mengelus dadanya. Sedikit kaget. Ia juga tidak tahu kenapa, akhir-akhir ia sering melamun dan berakhir kaget seperti ini.


“Kenapa, Mas?”


“Kalau nggak ada tugas bantuin aku bentar.”


Rafly masuk ke dalam, diikuti Fahira yang mengekor di belakangnya. Mereka duduk di ruang tengah.


.


“Tolong bantu garisin ini.” Rafly menyerahkan penggaris dan beberapa kertas.


“Jadi nanti setelah digaris kaya gini.” Rafly memberi contoh. “Tolong isi data ini sama kayak yang atas, ya.”


Jarak mereka sangat dekat, membuat Fahira menahan napas. Jika menoleh sedikit saja mungkin wajah mereka akan saling bersentuhan.


Perempuan itu sedikit menggeser tubuh, demi menjaga jantungnya yang berdegup tak karuan.


“Rada sini, Ra. Nanti nggak paham lagi. Dari situ mana kelihatan.”


“Kelihatan kok, Mas.”


“Udah paham, ya?”


“Iya udah.” Tanpa bertanya Fahira langsung mengikuti apa yang diarahkan suaminya.


Benda pipih di atas meja berdering. Laki-laki itu sesaat menatap layar ponsel. Seperkian detik seperti menimbang. Lalu memutuskan untuk mengangkat teleponnya.


“Iya, Zah?”


“Bisa ikut, nggak. Ajak istrimu nggak papa. Sekalian aku mau kenalan.”


Bukan maksud menguping tapi Fahira mendengar apa yang Rafly dan orang yang dipanggil Zah itu berbicara, karena sepertinya Rafly memang sengaja menyalakan mode speaker.


“Nggak bisa aku sibuk. Maaf, ya.”


Terdengar kekehan dari sana. “Iya deh. Pengantin baru sibuk terus.”


“Maaf, ya.”


“Santai, Raf. Jadi suami yang baik, ya. Bye see you next time.”


“Siapa, Mas?” tanya Fahira sesaat setelah suaminya itu mematikan teleponnya.


“Mantan.”


“Masih sayang, ya?” Fahira menutup mulut. Keceplosan.


“Ya,” ucap Rafly menutup laptopnya. Sekilas ia menatap Fahira. Raut wajah tampan itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam. “Kami putus karena perjodohan ini.”


“Jangan menanyakan sesuatu yang itu justru akan menyakiti hatimu, Ra,” ucap Rafly lagi.


Laki-laki itu melempar pandangan keluar yang menembus kaca jendela. Menatap deretan bunga yang terbias remang oleh sinar bulan.


Perempuan itu menggigit kecil bibir bawahnya. Rasa bersalah menjalar dalam hati. Lalu sedetik kemudian berubah menjadi titik-titik kecil yang membakar, merambat pada labirin hati. Cemburu.


Fahira merasa jadi tokoh antagonis dalam hubungan Rafly dan mantannya. Namun, ia juga cemburu saat suaminya itu mengatakan bahwa masih mencintai mantannya.


Benar apa kata pepatah Arab, “Alhuznu huwa an tuhibbu shakhshon lam yufakkir fii hubbuki abadan.


Kesedihan itu ialah ketika kamu mencintai seseorang yang mungkin tak pernah memikirkan cintamu selamanya.”


Fahira mencoba tersenyum. Merangkum perasaan yang semakin gamang. “Maaf, ya. Gara-gara aku kalian putus.”


“Nggak perlu meminta maaf, bukan sepenuhnya salahmu juga. Nanti kalau udah selesai bawa ke ruang kerja aku, ya.”


Rafly beranjak dari tempat duduknya. Mengayunkan kaki masuk ke ruang kerjanya. Menyisakan Fahira yang masih di sana dengan perasaan entah.

__ADS_1


__ADS_2