
Kalian tau apa itu kekuatan psikosinesis atau biasa disebut dengan telekinetik sebuah kekuatan dimana kamu bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya.
Mengendalikan api, bahkan mungkin bisa membuatmu terbang, dan bahkan banyak hal lainnya hanya dengan menggunakan pikiranmu.
.
"Kita harus berhenti melakukan ini!"
"Kenapa?"
"Dia masih kecil, kasihan kalau tubuhnya terus diperlakukan seperti ini, bisa-bisa mungkin umurnya tidak akan panjang!"
"Tidak peduli dia masih kecil atau dewasa ketika dia memiliki kekuatan yang ada diluar nalar manusia, kita sebagai ilmuwan harus segera bertindak agar dia tidak menyebabkan kekacauan dikemudian hari."
"Ya dia benar, ini semua demi kemanusiaan."
"Apakah kalian sudah gila? yang seperti ini kalian sebut dengan kemanusiaan, kita bereksperimen dengan tubuhnya, kita memasukkan obat-obatan pada tubuhnya, dan kau bilang itu semua demi kemanusiaan."
"Tenang saja, negara sudah mendanai dan mendukung kita jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ."
"Tapi kalau terus seperti ini umurnya tidak akan panjang, mungkin saja dia mati sekarang."
"Memang nya itu penting, jika dia mati kita cukup cari subjek baru saja!"
"Jika kau tidak suka, pergi saja dari sini dan berhenti lah jadi seorang ilmuwan!"
Pagi ini suasana tempat kuliah sangat lah sepi mungkin itu dikarenakan aku yang pergi terlalu pagi.
Aku mulai menggosok-gosokkan tanganku yang kedinginan, aku ingin segera masuk ke dalam kampus agar badanku merasa hangat.
Dari kejauhan terlihat nampak seorang pria sedang berjalan, semakin dekat dia aku baru sadar kalau ternyata dia sedang berjalan ke arah ku.
Dia bertanya padaku apakah pintu gerbang sudah dibuka, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
Setelah itu ia hanya terdiam dan mulai menyandarkan tubuhnya ditembok sembari memainkan smartphone nya. aku kembali menggosok-gosokan tanganku yang kedinginan dan sesekali meniupnya.
"Cuacanya dingin yah." ucap pria iu yang sepertinya sedang mencoba untuk mencairkan suasana.
Aku hanya tersenyum padanya dan kembali menggosok-gosokan tanganku, pria itu tiba-tiba bercerita tentang kehidupan pribadinya dan jelas aku tidak peduli dengan itu.
Dia terus menerus bercerita dan sesekali tersenyum padaku yang sepertinya ingin membuatku tertarik dengan ceritanya, cukup lama pria itu bercerita meskipun dia tahu kalau aku tidak peduli dengan ceritanya.
.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku bisa masuk kedalam kampus dan benar suhu disini cukup hangat.
Aku mengambil bukuku didalam tas, ketika hendak membacanya tiba-tiba ada seseorang mengagetkan ku dari belakang.
Sontak itu membuatku kaget, Aku membalikkan tubuhku dan tidak menyangka ternyata orang itu adalah orang yang kutemui tadi di luar.
"Aku ingin bilang kalau kita se matkul, tapi kirain aku kamu udah tahu , jadi aku gak bilang." ucapnya.
Aku lagi-lagi hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalaku, ketika dia ingin mengatakan sesuatu padaku lagi datang seorang dosen karena itulah dia kembali duduk ditempatnya.
Aku disini mengambil fakultas matematika dan ipa, program studi yang ku ambil adalah fisika. Kenapa aku memilih itu, karena aku hanya ingin tahu dimana kekuatanku ini berasal lalu apakah kekuatan ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu atau semua orang memilikinya hanya saja mereka tidak tahu dengan kekuatannya.
.
Selepas kelas selesai aku menemui dosen itu, aku pun mulai menanyakan semua pertanyaan yang ada didalam benakku dan seperti biasa dosen itu menjelaskannya dengan baik dan mudah dipahami olehku.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantin karena sedari tadi perutku merasa lapar bahkan mungkin sejak kelas dimulai.
Setibanya di kantin aku mulai memesan makanan, tidak banyak makanan yang aku pesan karena aku harus menghemat keuanganku.
Ketika hendak menyantap makanan yang ada di depanku, pria itu duduk didepan ku kali ini yang ia lakukan hanyalah memandangiku.
Tetapi tak lama pria itu bangun dari duduknya dan pergi, "akhirnya dia pergi juga." gumamku.
__ADS_1
Baru beberapa sendok aku menyantap makananku sekarang ia malah membawa makanan pesanannya dan makan bersama denganku.
Pria itu sering kali tersenyum ke arah ku, ketika aku melihat kearahnya dan muka kami saling bertatapan ia selalu tersenyum padaku
"Kenapa sih?" tanyaku dengan nada kesal.
Aku tidak peduli dia duduk didepan ku kalau hanya untuk sekedar makan, tapi sedari tadi yang ia lakukan hanyalah memandangiku.
Pria itu kembali tersenyum "Akhirnya kamu bicara juga," pria itu menjulurkan tangan kanannya yang sepertinya ia ingin mengajakku bersalaman "Nama ku sandi."
Aku pun membalas salaman nya "Zahra, nama gue Zahra jadi sudah diam dan biarkan aku menyantap makanan ku!" tegasku dengan nada kesal karena ingin segera mengakhiri percakapan itu dan mulai menyantap makananku.
Pria itu mulai menyantap makanannya tetapi baru beberapa suap ia memakan makanannya ia lagi-lagi mengatakan sesuatu padaku dan mencoba memulai obrolan denganku.
Yang ia katakan tidak lah cukup penting, hanya saja ada beberapa yang membuatku tertarik apalagi ketika dia bilang, kalau dia pernah melihat seseorang yang bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya.
"Dimana kamu melihatnya?" tanyaku penasaran.
"Kenapa? apa sekarang kamu mulai tertarik?" ejek pria itu.
Aku tidak menanggapi ejekannya dan mulai memasang raut wajah serius.
Pria itu menyadari kalau aku sedang tidak ingin bercanda dan ia mulai menceritakannya.
Tidak sama seperti sebelumnya kali ini aku mendengarkannya dengan baik, bahkan aku lupa memakan makananku.
Terlalu fokus aku mendengar ceritanya sampai-sampai aku tidak menyadari kalau kelas selanjutnya akan segera dimulai.
Aku pun segera menghabiskan makananku dan segera pergi. Sebelum pergi, aku berkata pada pria itu untuk datang ke suatu tempat saat kelas telah selesai.
Pria itu hanya mengangguk, setelah melihatku pergi pria ini pun pergi "padahal tidak bersama saja pergi ke kelasnya." gumamnya dan pergi kembali ke kelas.
.
Ketika dikelas aku tidak bisa fokus sama sekali, aku terus-menerus memikirkan apa yang di ceritakan pria itu.
Pria itu lagi-lagi mengagetkan ku "jadi, ayo kita pergi kesana!" ajak pria itu.
Sebelum aku membereskan buku-buku ku, aku melihat ke arah pria itu "bisa gak? ga usah ngagetin!" dengan menatap sinis pria itu.
"Lagian ngapain sih lu ngelamun terus dari tadi."
Aku bangun dari dudukku dan segera lekas pergi, saat didepan pintu aku menghentikan langkahku "ngapain diem, ayo!"
Pria itu pun mulai mengikuti ku, ketika ia berjalan disisi ku lagi-lagi ia mencoba mencairkan suasana tetapi ketika melihatku membaca buku ia pun mengurungkan niatnya.
Ketika kami telah sampai di sebuah kafe, dia melanjutkan ceritanya yang tadi.
Sembari meminum milkshake strawberry aku mendengarkan ceritanya, dan saat dia menceritakan kalau tempat itu ada dekat disekitar daerah ini aku mulai bertanya padanya apakah besok ada kelas.
"Engga, ga ada emang nya kenapa?" tanya pria itu dengan meniup-niup kopinya yang panas.
"Kalau begitu besok kita ketemuan lagi disini pagi-pagi, sekitar pukul 07.30!" pintaku.
"Boleh sih, tapi aneh juga ya kamu,"
"Aneh gimana?" tanyaku heran.
Pria itu menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya "Ya... Itu loh kamu kan pas awal aku cerita gak ada tertarik nya, tapi pas aku cerita itu ko kamu tiba-tiba jadi tertarik?"
"Besok juga kamu pasti tau!" jawabku singkat.
.
Keesokkan harinya seperti biasa cuaca pagi hari ini sangatlah dingin, aku pergi ke tempat kafe itu lagi untuk bertemu dengan dia, diluar dugaan ternyata Sandi telah sampai lebih dulu daripada aku.
__ADS_1
Padahal aku mengira kalau dia pasti datang terlambat. Sebelum kami akan pergi aku melihat dia berjalan ke sebuah mobil yang tidak berada jauh didekatnya.
"Naik mobil aja, biar cepet!" pintanya.
Aku menaikkan alis sebelah kananku, dan sedikit tercengang, wow mungkin satu-satunya kata yang keluar saat itu.
tanpa basa-basi kami pun segera pergi ke tempat yang ia ceritakan kemarin.
Didalam mobil ia ingin bercerita sesuatu padaku tetapi tidak jadi karena mungkin ia melihatku sedang fokus membaca buku.
Tapi karena aku berpikir mungkin di beberapa ceritanya ada yang berguna juga buatku "kalau pingin cerita, cerita aja aku dengerin ko!"
Terlihat nampak senang dalam raut wajahnya, lalu ia pun mulai bercerita. Dalam ceritanya hanyalah cerita tentang kehidupan pribadinya atau tidak hanyalah sebuah dongeng, tapi ada beberapa cerita yang membuat aku penasaran.
Setibanya di sana aku hanyalah melihat jalan setapak yang mengarah ke arah sebuah hutan.
Aku pun berjalan ke arah jalan setapak itu, dan aku melihat wajah ketakutan dari sandi.
Aku hanya berpikir itu hanyalah hal yang normal, ketika berjalan sejalan demi sejalan dari kejauhan aku melihat sebuah bangunan yang sudah terbengkalai.
Ketika aku akan berjalan ke sana Sandi menghentikan langkahku, ia menggenggam pergelangan tanganku.
"Ayo kita pulang aja, gue punya feeling ga enak." usul sandi.
"Gak akan ada apa-apa ko, tenang aja!" hiburku.
Meskipun begitu wajahnya sangatlah pucat pasi, tangannya kedinginan begitu iba aku melihatnya.
Aku menyuruhnya untuk menunggu dimobil atau tidak untuk segera pulang aja, aku mengatakan bukan karena aku kesal atau apapun hanya saja aku merasa kasihan padanya.
Aku melihat dia seperti sudah melihat hantu atau sesuatu yang sangat menyeramkan.
Dia menolak untuk menunggu di mobil atau pulang, berapa kali aku memaksanya tapi dengan gigih dia menolaknya, aku hanya berpikir mungkin dia sedang mencoba melawan rasa takutnya.
Kami pun berjalan ke arah gedung itu, ketika sampai didepan pintu tidak ada apapun hal aneh terjadi.
Didalam area gedung juga tidak ada apapun, hanya tersisa barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Aku melihat sebuah tangga, karena penasaran aku pun pergi ke sana dan lagi-lagi sandi menghentikanku, kali ini bukan wajahnya saja yang pucat pasi tetapi nafasnya sangat lah berat.
Bahkan untuk berbicara saja ia kesulitan, yang ia lakukan hanyalah menatap serius ke arah ku dari tatapannya itu kali ini aku merasa bahwa dia ingin kami segera pergi dari sini.
Karena kupikir kalau mungkin dilantai atas cuman area kosong yang hanya ada barang-barang rusak tak terpakai seperti dibawah ini, aku pun mengiyakannya.
Terlihat lega dari raut wajahnya, ketika kami keluar tiba-tiba sebuah tulisan terpampang di dinding bangunan itu.
Aku cukup yakin kalau tadi ketika kami masuk tidak ada tulisan ini. aku melihat-lihat kesekitar bangunan karena mungkin ada orang iseng yang sedang mencoba menakuti kami.
Tulisan dinding itu ialah 'jika kalian terlalu lama ada disini, kalian berdua akan mati!'
Sementara itu aku tidak menyadari kalau sandi sudah tidak ada, karena takut kenapa-napa aku pun mencarinya dan ketika aku menemukannya ternyata dia sudah ada didalam mobil.
Ketika aku sudah masuk kedalam mobil, dengan tergesa-gesa sandi menghidupkan mobilnya.
Sepanjang jalan ia tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya terdiam terlihat masih ada sedikit ketakutan dari wajahnya.
Karena merasa bersalah aku pun meminta maaf padanya, dan ia hanya memandang ke arahku tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Tidak lama kemudian ia akhirnya bicara, kalau ternyata tadi sebelum dia masuk ke sana dia melihat seseorang di jendela lantai 2 bangunan itu, makanya ketika aku akan pergi ke arah tangga dia menghentikanku.
Dan aku hanya berkata padanya mungkin itu adalah orang yang bisa menggerakkan benda tanpa menyentuhnya yang kau maksud itu.
Sandi menggelengkan kepalanya "tidak itu bukan dia," tuturnya.
"Ko kamu bisa tau kalau itu bukan dia?" tanyaku heran.
Next....
__ADS_1