Jajajaj

Jajajaj
Chapter III


__ADS_3

"Selamat yah!" puji seseorang padaku.


"Terima kasih!"


"Perkenalkan saya Adam, bisakah kita bicara sebentar?" tanyanya.


"Boleh." jawabku.


Aku dan Adam pergi ke sebuah kafe yang letaknya tidak terlalu jauh.


"Saya mau membicarakan tentang-" perkataan Adam dipotong oleh seorang pelayan. "Mau pesan apa?"


"Kopi," jawabnya sembari mengangkat jari telunjuknya, yang menyimbolkan ia memesan satu. "Lalu mba nya mau pesan apa?"


"Saya pesan susu strawberry aja."


"Tunggu sebentar, pesanan yang anda pesan sebentar lagi akan sampai." ucap pelayan itu dengan tersenyum.


"Jadi kamu mau bicara tentang apa?" tanyaku penasaran.


"Saya ingin membicarakan tentang sihir yang kamu bicarakan tadi." pungkasnya.


"Memangnya kenapa?"


Tiba-tiba datang seorang pelayan sembari membawa pesanan yang kami pesan, "ini pesanannya, kopi satu, dan susu strawberry nya satu." ucapnya sembari meletakkannya diatas meja.


Setelah pelayan itu pergi, ia menyeruput kopinya terlebih dahulu lalu menjelaskan padaku alasannya, "sihir adalah sains yang belum kita pahami,"


Ia berhenti dan meminum kopinya, "aku pernah bertemu seorang pemuja, aku tidak tahu pemuja dan penyihir itu sama hanya saja yang aku tahu mereka sama-sama menggunakan sihir atas bantuan iblis, seperti yang kamu katakan tadi."


"Dimana kamu bertemu penyihir itu?" tanyaku, ia mulai menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir, dan aku mendengarkan ceritanya sembari meminum susu strawberry ku."


"Tunggu kamu bertemu dengan para pemuja di gunung sadahurip, gunung yang berbentuk seperti piramida itu, setahuku di sana cuman ada peninggalan-peninggalan bersejarah." tuturku sedikit kaget.


Dia mengangguk, "yah, aku dan temanku disana sedang melakukan penelitian, dan setelah kejadian yang menimpa kami aku langsung pergi meninggalkan barang-barang serta temanku."


Dia bercerita sedikit tentang temannya, aku melihat dalam raut wajahnya ia sangatlah bersedih, aku memahami perasaannya, "yah aku juga mengerti...Jika aku ada di posisi yang sama seperti mu, aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Yang terpenting sekarang kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." lanjutku.


Setelah itu suasana menjadi hening, aku pun memutuskan untuk pulang, "apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan? jika iya aku mau pulang." dengan lembut.


"Tidak, aku ingin bertanya pada mu, apakah kamu bisa membantuku untuk menyelamatkan temanku kembali?" tanyanya, dilihat dari wajahnya aku melihat kalau ia sangat berharap aku membantunya.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa membantumu atau tidak, hanya saja aku tidak bisa membantu sese- "


"Seseorang yang baru kau kenal," potongnya yang sepertinya sudah mengetahui maksudku, "yah aku mengerti, tapi jika kamu nanti berubah pikiran dan mau membantuku, kamu menghubungi nomor ini!"


"Iya, maaf yah!" ucapku dengan perasaan sedikit tidak enak padanya.


"Iya tidak apa-apa aku juga mengerti." pungkasnya.


Aku menghabiskan susu strawberry ku, "kalau begitu aku pulang dulu yah!"


"Iya silahkan!"


"Sekali lagi, aku minta maaf!"


"Iya tidak apa, santai aja!"


Aku pun pergi pulang, dari kejauhan aku melihatnya duduk melamun sembari menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.


Aku mungkin bisa saja membantu nya, hanya saja aku tidak bisa percaya semudah itu, aku takut cerita yang semua ia ceritakan itu hanya dibuat-buat karena aku butuh bukti kalau cerita yang ia katakan itu benar.


Setelah sampai dirumah, aku mengendus-endus badanku dan sedikit bau, aku pun memutuskan untuk pergi mandi dan setelah itu pergi tidur.


Sebelum aku tidur, aku iseng memutar rekaman yang ada di handycam.


Tak lama kemudian aku menyadari, kalau suara orang yang membawa kamera ini adalah Sandi.

__ADS_1


"Jadi, karena itulah mengapa tadi Sandi tiba-tiba menjadi seperti itu." pikirku.


Seperti biasa tidak ada hal aneh, selang beberapa lama aku melihat beberapa kejanggalan dalam video ini, salah satunya ialah saat mereka pergi ke lantai bawah aku melihat sepasang mata didalam tembok sedang melirik-lirik ke arah mereka.


Lalu ketika mereka pergi ke lantai atas, mereka menemukan sebuah kertas bergambar, aku tidak tahu apa yang tergambar di kertas itu karena kamera tidak menyorotnya dengan benar.


Karena sudah terlalu larut aku memutuskan untuk pergi tidur.


.


Esoknya aku buru-buru pergi ke kampus dan bertemu dengan Sandi, awalnya dia enggan untuk berbicara padaku tapi aku memaksanya. "Sandi sekarang juga ceritain semua kejadian yang pernah lu alamin, selama ngevlog dibangunan itu!"


"Oke, tapi jangan disini!" pintanya.


Ia membawaku ke tempat sepi dimana tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. "Jadi gini, seminggu yang lalu aku sama temen-temenku nge explore bangunan tua itu, seperti yang pernah kau lihat, yang pertama kali kami temukan hanyalah barang-barang bekas yang sudah tak terpakai-"


"Terus sekarang temen-temen lu dimana? kenapa handycam itu bisa ada dibawah?" tanyaku memotong penjelasannya karena penasaran.


"Iya, iya sebentar gue belum beres ceritanya!" pungkasnya.


Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan-lahan, "handycam itu punya temanku, terus aku ga tahu kenapa handycam itu bisa ada padamu karena saat kami melarikan diri, kami terpisah-pisah."


"Terpisah...bagaimana bisa?" tanyaku heran.


"Kamu lihat kan di tangga itu ada untuk naik dan turun, waktu itu ada 2 alasan kenapa aku melarang mu pergi ke tangga, pertama karena ada orang yang memperhatikan kita di lantai 2, dan yang satunya lagi untuk mencegah kamu pergi ke bawah." jelasnya.


"Yah aku tahu, tapi yang jadi pertanyaan ku kenapa kalian terpisah? terus nasib teman-temanmu bagaimana?" tanyaku.


Ia duduk di tanah sembari menutup kedua matanya dengan tangan kanannya. "Kenapa duduk disitu? itu kotor!" ucapku.


"Saat kami pergi ke bawah, kami bertemu dengan seseorang yang sangat misterius-"


"Oh orang yang kau lihat di lantai 2 itu kan," potongku.


"Bukan, yang ini beda lagi," sangkal nya, "disaat kami ke bawah, pertama kali kami melihat tidak ada yang aneh, tetapi setelah kami berjalan cukup lama kami menemukan sebuah ruangan yang seharusnya kami tidak masuki, di dalamnya kami melihat seseorang sedang memuja-muja patung, dengan disekelilingnya di gambar lingkaran yang isinya di tulis dengan kata-kata yang tak ku mengerti."


"Jadi kau sudah pergi ke lantai atas," sentak nya, "ya aku gak peduli juga sih, tapi saat di lantai atas aku tidak menemukan apapun." tuturnya.


"Kau pergi ke bangunan itu kapan?" tanyaku memastikan. "Sudah seminggu kayaknya, kenapa emangnya?


"Pantas saja kamu gak melihatnya, soalnya lingkaran itu masih terlihat baru." papar ku.


"Soal kenapa kami terpisah, sebab saat itu kami diserang oleh orang itu." ucapnya halus yang sepertinya ingin menangis, "awalnya kami melawan balik, tetapi Ketika melihat orang itu melemparkan benda-benda disekitarnya kepada kami, kami langsung lari terbirit-birit."


"Aku terus berlari, lari ,dan berlari hingga aku tak menyadari kalau aku sudah keluar dari bangunan itu, ketika sudah diluar aku tidak bertemu dengan teman-teman ku," menghela napas, "waktu itu aku berpikir mungkin teman-temanku sudah keluar terlebih dahulu dan meninggalkanku, tetapi esoknya orang tua mereka menghubungiku dan mengatakan kalau anaknya belum pulang dari kemarin," mengalir setetes air mata di wajahnya, "aku langsung syok mendengarnya, dan mengurung diriku sendiri di kamar selama 2 hari." kali ini ia tidak bisa menahan tangisnya.


Aku duduk di sebelahnya dengan mencoba menenangkannya, tetapi untuk sekarang akhirnya aku tahu kalau ternyata ruangan yang dibawah itu sangatlah luas.


Sudah 15 menit berlalu ia menangis, "terima kasih." serunya.


"Untuk apa?" tanyaku.


"Karena sudah mau mendengarkan ceritaku."


"Iya sama-sama." tersenyum, "soal yang kemarin lusa aku-"


"Tenang saja aku gak pernah membencimu ko," potongnya, "udah ah yuk sebentar lagi kelas dimulai!"


.


Sesudah kelas selesai aku langsung pergi pulang, sesampainya di rumah aku kembali melihat-lihat isi handycam itu.


Aku terkejut, kenapa aku tidak pernah menyadarinya, dalam video ini untuk sesaat aku melihat wajah penyihir itu dengan jelas.


Dan yang membuatku tidak bisa berkata-kata ialah ternyata salah satu dari penyihir itu adalah temannya Adam.


Seketika aku langsung mencari sebuah kertas yang berisikan nomor Adam, aku menghubunginya dan mengajaknya bertemu.


"Halo, apa saya berbicara dengan Adam?"

__ADS_1


"Iya, ini dengan Adam. Siapa ya?"


"Ini aku Zahra, apa kita bisa bertemu?"


"Ketemu? oh...apa sekarang kau sudah berubah pikiran?"


"Yap, mungkin,"


"Baiklah, kita mau bertemu dimana?"


"Nanti aku akan share lokasinya!"


"Ok."


Aku mengambil jaket ku dan langsung pergi. Aku telah sampai di tempat dimana kami akan bertemu, didalam telah ada Adam yang sepertinya sedang menungguku.


"Hai! maaf lama," sapa ku. "Hai! tenang saja aku juga baru sampai."


Setelah aku duduk seorang pelayan datang, "mau pesan apa?" sembari memberikan menu kepada kami. "Kopinya satu!" pesan Adam. "Lalu mba nya mau pesan apa?" seperti biasa yang ku pesan hanyalah susu strawberry. "Tunggu sebentar pesanan anda akan segera sampai." ucap pelayan itu sebelum pergi.


Adam melihat ke arah kamera yang aku gantungkan di leherku. "Kamera nya bagus."  pujinya.


"Ya terima kasih!" ucapku dengan tersenyum.


"Jadi kamu mau berbicara tentang apa?"


"Sebelum itu apakah kamu bisa melihat rekaman ini." pintaku sembari menyodorkan kamera padanya.


"Rekaman?" tanyanya heran.


"Tidak ada yang aneh," ujarnya bingung. "Yah aku juga pada awalnya seperti itu, tapi coba kau zoom dan lihat ini dengan teliti." suruhku.


Setelah melihatnya ia terdiam mematung, "Ini bohong kan?" tanyanya tak menyangka.


"Sayang sekali itulah kenyataannya."


ia langsung menutup kedua matanya dengan salah satu tangannya.


Seorang pelayan datang dan meletakkan pesanan kami di meja, setelah sang pelayan pergi tak lama kemudian Sandi datang, aku menghubunginya karena ada sesuatu yang aku bicarakan juga dengannya.


"Hai!" sapa Sandi.


"Hai!" balasku.


Ia menunjuk ke arah Adam, "siapa?" 


"Duduklah nanti akan ku jelaskan," suruh ku. "Jadi kamu mau berbicara tentang apa?" tanya Sandi. "Tidak mau pesan dulu?" tanyaku.


"Tidak perlu," jawab Sandi, aku mulai meminum susu strawberyku. "Terus dia siapa? apakah dia ada hubungannya dengan ini?" tanya sandi.


"Dia Adam, dan orang yang menyerang kalian adalah salah satu dari temannya." jelas ku. "Jadi dia yang menyerang kami?" nada suaranya meningkat sampai-sampai orang di sekitar kami mendengarnya, Sandi mencengkeram kerah leher baju Adam.


"Tidak, tapi temannya, temannya yang menyerang mu dan teman-temanmu bukan dia!" tegas ku.


Setelah Sandi melepaskan cengkeramannya, aku mulai menjelaskan semuanya yang aku ketahui.


"Jadi seperti itu." Sandi menundukkan kepalanya kepada Adam, "maaf karena telah melakukan hal seperti itu pada anda, tadi aku tidak bisa menahan emosiku jadi-"


"Tidak apa-apa, aku mengerti perasaanmu." potong Adam.


"Oh iya, kertas yang kamu temukan di sana, apa kau bawa?" tanyaku pada Sandi. Sandi merogoh pada saku jaketnya, "Bawa, nih!" Sandi memberikan kertas itu padaku.


Aku melihat isi kertas itu, isinya adalah ' /_\19-1-4-1-8-21-18-9-16' , "apa maksudnya ini?" tanyaku kebingungan. "Aku juga tidak tahu." terang Sandi.


"Kita pikirkan saja besok, udah larut bagaimana?." saran Adam.


Kami pun sepakat untuk pulang dan bertemu lagi besok disini.


Next....

__ADS_1


__ADS_2