Jajajaj

Jajajaj
Chapter II


__ADS_3

"Ya gue tau lah, kan gue yang lihat gimana sih," jelasnya dengan kesal.


"Iya, tapi jalanin mobilnya pelan-pelan aja jangan ngebut-ngebut!"


Tidak peduli apa yang dikatakan Zahra, ia tetap melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kamu mau dianterin sampai rumah?" tanya Sandi dilihat dari wajahnya mungkin ia sudah sedikit tenang.


"Di tempat tadi kita ketemu aja!" pintaku.


"Yakin? gak mau dianterin sampai ke rumah?" ucapnya meyakinkanku.


Dengan tersenyum aku menganggukkan wajah ku "iya."


.


"Gak sampai rumah aja? jadi gak enak," tanyanya.


"Tenang aja gapapa ko." jawabku.


Dia pun pergi, setelah mobilnya cukup jauh aku melambaikan tanganku untuk memberhentikan Taxi yang lewat.


Taxi itu berhenti di depanku, aku pun segera menaikinya. "Mau kemana mba?" tanya supir Taxi itu padaku.


Aku memberikan handphone yang ada ditanganku "Ini mas, ikuti aja GPS yang ada di handphone saya."


.


"Ini mas terimakasih!" ucapku dengan mengulurkan tangan berisi uang, sembari tersenyum supir itu mengambil uang yang berada di tanganku.


Aku kembali ke bangunan gedung tua itu, alasan kenapa aku kembali dulu tadi ialah agar Sandi bisa pergi pulang. Aku berpikir kalau ia tidak akan pulang sebelum aku pulang.


'seseram apapun situasinya laki-laki tidak akan pernah meninggalkan seorang wanita' mungkin kata-kata itulah yang menggambarkan situasi saat itu.


Dalamnya tidak jauh berbeda seperti aku yang lihat pertama kali, aku mendekat ke arah tangga tangga untuk sekarang tidak akan ada yang mencoba menghentikanku.


Saat aku mendekat aku tidak menyadari kalau ternyata ada 2 buah anak tangga, yang satu menuju ke lantai 2 dan yang satu lagi menuju lantai bawah aku tidak tahu kenapa ada ruang bawah tanah dalam gedung seperti ini.


Aku tidak pergi ke lantai bawah karena pintunya terkunci jadi, aku memutuskan untuk pergi naik ke lantai 2, karena katanya tadi Sandi melihat seseorang didekat jendela.


Kondisi dilantai 2 tidak jauh berbeda hanya ada barang-barang bekas yang tak terpakai, aku mulai menyusuri semua ruang demi ruang yang ada dilantai 2.


Sejauh ini tidak ada yang membuatku tertarik, ketika sedang berjalan-jalan tidak sengaja aku melihat sesuatu dibalik tumpukan buku.


Menggunakan kekuatanku, aku menyingkirkan semuanya dengan cepat dan menemukan sebuah pola gambaran-gambaran aneh seperti seseorang telah melakukan ritual.


Tidak sengaja aku menginjak sesuatu dan tiba-tiba dinding yang berada di sampingku terbuka.


Ada sebuah tangga yang menuju ke arah bawah, aku berpikir mungkin dengan melalui tangga ini aku bisa ke lantai bawah yang tadi terkunci.


Sesampainya aku dilantai bawah, hal pertama yang aku lihat adalah sebuah handycam yang masih menyala tergeletak dilantai.


Ketika aku sibuk mengotak-atiknya dan melihat apa saja yang sudah terekam, tiba-tiba ada sebuah pisau terlempar ke arahku.


Dengan refleks aku menghindar, dalam kegelapan seseorang muncul menggunakan jubah berwarna hitam sembari merapal-rapal sesuatu yang tak ku mengerti.

__ADS_1


Sebuah kobaran api muncul tetapi dengan mudah aku memadamkannya, membuat orang itu kebingungan.


"Siapa kamu? kenapa kamu menyerang saya?" tanyaku dengan lantang.


Ia tidak menjawab pertanyaanku dan terus merapalkan mantera, kali ini ia melemparkan semua barang yang ada disekitar dan dengan sigap aku membuat semua barang-barang yang terlempar padaku mengapung.


Aku menarik orang itu dari jauh, lehernya pas berada dicengkeramanku. "Siapa kamu?" lagi-lagi ia tak menjawab, aku pun mencoba melepaskan tudung yang menutupi wajahnya.


Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan mataku dan ketika mataku sudah pulih orang itu sudah tidak ada, aku melihat-lihat keadaan sekitar dengan waspada takut ada serangan dadakan.


Sepertinya sudah aman, melihat jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 02.00 siang.


Aku pun memutuskan untuk pergi pulang, karena sepertinya sudah tidak ada apa-apa lagi.


.


Keesokkan harinya seperti biasa cuaca di pagi hari ini sangat dingin, sembari berjalan aku melihat rekaman-rekaman yang ada didalam sebuah handycam yang aku temukan kemarin.


Saat aku tengah fokus menontonnya tiba-tiba Sandi mengagetkanku dari belakang, tidak sengaja aku menjatuhkan handycam dari tanganku.


"Kaget yah," candanya dengan tersenyum.


Aku mengambil handycamku yang terjatuh dan menatap wajah Sandi dengan sebal "bisa ga, gak usah ngagetin."


"Canda Zah, canda."


"Liat gara-gara kamu handycam nya jatuh, gimana kalau rusak." bentakku.


"Ya udah kalau rusak, sini gue benerin!" pintanya mengambil paksa dari tanganku.


"Mau tau aja!" jawabku masih merasa kesal.


"Engga, engga, engga serius ini dapet darimana?"   tanyanya sembari memegang kedua bahuku dengan erat.


"Sakit lepasin."  risikku.


"Cepet jawab! lu dapetin ini dimana?" bentaknya dengan memaksa.


"Kubilang sakit, sakit!" seketika bam tubuh Sandi terpental ke belakang, tidak sengaja aku menggunakan kekuatanku.


Aku melihat ekspresi ketakutan sekaligus terkejut dalam wajah Sandi, "kamu pernah bertanya padaku kenapa aku tertarik dengan ceritamu itu, inilah jawabannya!" ucapku sembari pergi meninggalkannya seorang diri.


Setelah kelas selesai aku melihat-lihat semua rekaman yang ada didalam handycam, didalamnya hanya berisi vlog yang biasa dilakukan oleh para youtuber.


Aku hanya berasumsi kalau handycam ini terjatuh secara tidak sengaja, dari semua rekaman yang kulihat mereka tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang seperti aku temui kemarin.


Ketika mereka menuju lantai bawah, mereka tidak melalui jalan yang sama sepertiku tetapi langsung melewati tangga yang ada di dekat tangga menuju lantai 2.


Aku berjalan keluar kelas, ketika di lorong kampus aku berpapasan dengan Sandi, ia tidak mengatakan sepatah kata pun dan langsung saja pergi menjauh dari ku.


Aku tahu ketika dia menatapku tadi, ia sangat membenci sekaligus takut padaku.


"Zah, Zahra!" seseorang memanggilku.


"Iya pak, ada apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Saya hanya ingin memberitahukan tentang teori yang kamu tulis di tugas mu."


"Memangnya kenapa pak? apa ada kesalahan dengan teori yang saya buat?" tanyaku panik.


"Tidak," jawabnya. "Malah itu sangatlah bagus, sangat sangat bagus." jelasnya memujiku.


"Oh, makasih pak." ucapku dengan tersenyum.


"Bukan cuman itu yang mau saya beri tahu kan," menghela nafas, "Tapi kamu juga di undang untuk mempresentasikannya di seminar yang akan diselenggarakan oleh perusahaan Franchisca lusa jam 09.00 pagi." jelasnya.


"Oh gitu ya pak, makasih pak!" ucapku dengan penuh senyum ria sekaligus tidak menyangka. "Kalau begitu saya permisi dulu."


.


Aku pergi ke kantin memesan sebuah susu strawberry lalu duduk sembari meminum minuman yang aku beli, aku melamun cukup lama.


Aku masih tidak menyangka kalau teori yang kubuat sebagus itu, "diucapkan bagus oleh seorang dosen saja mungkin tidak apa-apa, tapi disuruh mempresentasikannya, di perusahaan sebesar itu lagi, apakah aku sedang bermimpi." pikirku.


.


Esoknya aku tidak masuk kelas karena harus bersiap-siap untuk presentasi lusa nanti.


Aku melatih public speaking ku agar tidak gugup saat menjelaskannya didepan nanti, setelah itu aku pergi tidur.


.


Aku bangun dari tidurku, pergi mandi, sarapan, lalu pergi ke tempat Francisca, aku pergi sangat pagi dikarenakan tempatnya yang sangatlah jauh.


Setibanya disana aku melihat banyak ilmuwan ternama yang ada di seluruh dunia berkumpul, lantas itu membuatku sangat gugup.


Acara nya telah dimulai, dan tak lama kemudian sang pembawa acara memanggilku, "kali ini kita kedatangan seorang mahasiswi, dengan teori nya yang sangat bagus ia diundang kemari, perkenalkan inilah dia, Zahra!"


Aku pun berjalan sembari melambai-lambaikan tanganku, aku bersalaman dengan sang pembawa acara, "salam sejahtera semuanya, perkenalkan nama saya Zahra, sebelumnya saya ingin berterima kasih pada perusahaan Franchisca karena telah mengundang saya."


Aku menelan ludahku, "sihir adalah sains yang belum kita pahami itulah kata yang diucapkan oleh Sir Arthur C.Clarke."


Terdengar suara orang-orang. "Sihir?", "Sihir dan sains?", "Apa maksudnya?", "Belum dipahami lol," "apa hubungannya dengan Clarke?"


"Karena pada awalnya sains itu dianggap sihir, seperti apa yang pernah Tesla lakukan, ia pernah membuat sebuah kapal mainan yang dapat bergerak sendiri dan orang-orang menganggap kalau itu karena sihir, padahal kita tahu kalau itu digerakkan oleh tombol." jelasku.


Aku berjalan dengan pelan, "memang benar kalau menurut beberapa pandangan kalau sihir itu adalah sesuatu yang berada diluar nalar manusia, tapi apakah sains pernah sesuai dengan nalar?" dengan melebarkan tanganku sebahu, "tidak, bukan."


"Kita telah banyak melakukan hal gila, contohnya seperti ingin mengetahui ada kehidupan apa setelah kematian, penyihir dan esper bukankah sama saja mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa." jelasku.


Dalam sekejap aku berhenti berbicara dan melihat sekeliling, semua orang tengah memperhatikanku dengan serius "aku tidak tahu apakah para esper mendapatkan kekuatannya karena berkah dari Tuhan atau dari iblis, hanya saja kita telah mengetahui kalau para penyihir mendapatkannya dari iblis, contohnya kenapa ada penyihir yang bisa berpindah tempat, sebab mereka di bantu oleh iblis," jelasku, "meskipun saya tidak tahu kalau esper dan penyihir itu benar-benar ada."


"Apa kita juga bisa?" tanyaku pada semua orang, tapi mereka hanya diam yang sepertinya menunggu jawaban dariku, "ya, kita juga bisa, tapi bagaimana caranya?" aku menunjuk layar yang ada di belakangku, "lupakan tentang penyihir dan esper tadi karena itu hanyalah sebuah basa-basi belaka, dan ini adalah teori yang saya buat, bagaimana jika semua partikel atom yang ada ditubuh manusia dipindahkan? apakah dengan itu manusia dapat berpindah-pindah tempat?"


"Saya juga tidak mengetahui apa ini benar-benar bisa terjadi, hanya saja saya berpikir mungkin jika seluruh partikel atom dipindahkan dengan kecepatan yang melebihi cahaya, mungkin saja bisa."


"Pada akhirnya teori hanyalah teori tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidaknya tergantung dengan praktek yang dilakukan, itu saja yang akan saya katakan, mohon maaf bila ada kata-kata yang menyinggung, saya Zahra sekian dan terima kasih."


Tiba-tiba semua orang bertepuk tangan meriah, aku hanya menghela nafas dengan lega dan berpikir syukurlah.


Next....

__ADS_1


__ADS_2