
Aku keluar dari tenda dan menghampiri Sandi dan Adam yang sedang menungguku dari tadi didekat pohon, "Dia bertanya apa padamu?" tanya Sandi.
Aku berbohong pada mereka kalau aku telah direkrut olehnya. "Yah, dia hanya menanyakan tentang informasi pribadiku."
Aku melihat wajah Adam yang merasa bersalah karena tak sengaja memberi tahukan kekuatanku pada orang tak dikenal. "Tidak apa-apa Adam, yang lalu biarkan berlalu." aku mungkin sedikit marah kepada Adam, tetapi itu juga tidak sepenuhnya salahnya.
"Lalu tentang teka-teki itu, bagaimana apa kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Sandi.
"Yah aku sudah tahu."
"Apa jawabannya?" tanya Sandi meminta penjelasan dariku. Aku memberitahukan jawabannya pada mereka, "apa kau yakin?" tanya Sandi memastikan.
Aku mengangguk. "ya aku 100% yakin, kalau itulah jawabannya."
"Begitu ya, jadi semuanya terhubung." gumam Adam. "apa maksudmu dengan semuanya terhubung pak tua?" dalam raut wajahnya terlihat kalau Sandi masih belum mengerti. Adam menjelaskan semuanya pada Sandi, tentang temannya dan apa hubungannya dengan jawaban Zahra.
"Itu bukan hanya terhubung, tapi dilakukan oleh kelompok yang sama." pungkas Sandi. Adam yang tiba-tiba teringat sesuatu bertanya padaku. "Zahra apa kau tahu sesuatu tentang kata-kata terakhir yang diucapkan temanku?"
"Bukan hanya tahu, tapi aku pernah didalamnya." terangku sembari mengingat-ngingat masa laluku yang kelam selama berada disana.
Dengan enggan aku menceritakannya pada mereka. "DIML kalau disingkat berarti Devil Is My Lord,"
"Mereka adalah sekelompok orang-orang sesat dan kau pernah ada didalamnya?" potong Sandi, "diamlah bodoh, dengarkan penjelasannya dulu!" bentak Adam.
"Berisik pak tua cengeng!" ejek Sandi.
Sebelum mereka bertengkar, aku melanjutkan kembali ceritaku, "Ini adalah masa lalu yang sangat ingin kulupakan," aku menjelaskan semuanya pada mereka. "Jadi karena itu kau mencari orang-orang yang bisa mengendalikan benda tanpa menyentuhnya," simpul Sandi.
"Yah aku tidak ingin mereka bernasib sama denganku." jelasku.
Selang beberapa menit kami pergi pulang, dan memutuskan berkumpul kembali lusa, untuk pergi kesana kami perlu bersiap-siap terlebih dahulu; Kenapa kami harus bersiap-siap? karena kita akan langsung pergi ke markas musuh.
.
2 hari kemudian.
Kami telah berkumpul ditempat yang dijanjikan. "Kalian sudah bawa semua barang yang kalian perlukan?" tanyaku.
"Iya sudah." jawab mereka berdua.
Aku tidak tahu kapan awalnya tapi sekarang mereka jadi lebih sering bertengkar. "Pak tua jangan cengeng yah." ejek Sandi.
"Lu juga sama, bocil go**ok." balas Adam. "Udah, udah sekarang kita naik ke mobil dan segera pergi!" suruhku karena kesal melihat mereka bertengkar.
Sebelum masuk kedalam mobil Sandi menahan Adam yang akan duduk di bangku depan, "hei pak tua, kau dibelakang saja!" serunya.
"Iya, iya." Adam membalasnya dengan senyum mengejek. "Dasar anak mamih."
Sandi langsung berlari ke arah Adam. "Siapa yang lu bilang anak mamih?" Kali ini mereka saling pukul.
Aku geram dan terpaksa memakai kekuatanku untuk melerai mereka. Setelah mereka tenang kami langsung pergi menuju gunung Sadahurip.
__ADS_1
Ditengah perjalanan menuju tempat yang kami tuju, Sandi seperti biasa selalu menceritakan sesuatu padaku dan Adam sering mengganggu Sandi yang sedang bercerita.
Setelah kami memasuki tol Adam tertidur dan suasana kembali tenang;sedari tadi mereka terus bertengkar dan bertengkar.
"Zah!" panggil Sandi.
"Apa?"
"Kok kamu mau sih bantu kita?" tanya Sandi.
Aku melihat keluar jendela, memandangi awan. "Aku tidak membantu kalian, aku hanya ingin menyelesaikan urusanku."
Tiba-tiba Adam berteriak mengagetkan kami. "Bocah... cepet berhenti!" sembari memegangi anunya ia terus menerus menyuruh Sandi untuk berhenti. "Gue udah kebelet nih."
"Iya sabar, jangan disini t**ol!" Murka Sandi. "Nanti di rest aja!"
Suasana di dalam mobil kembali bising karena ulah mereka berdua. Untuk menghindari kebisingan mereka aku memasangkan kabel headset pada ponselku.
Mendengarkan musik sembari memandangi langit, selalu mengingatkanku dengan Professor.
.
"Itu rest area, cepat belok! cepat." Perintah Adam yang sepertinya sudah berada di ujung tanduk.
"Iya bentar." Sandi membelokkan mobilnya ke rest area, setelah mobil terparkir dengan tergesa-gesa Adam membuka pintu dan dan berlari mencari toilet.
"Apakah kita akan makan dulu? atau langsung pergi?" tanya Sandi meminta usulku.
"Ok, setelah pak tua itu kembali kita langsung pergi."
Kami menunggu Adam lumayan lama, sehingga itu membuat Sandi kesal dan menyusulnya.
Saat sandi hendak menyusul Adam ke toilet, ia sedang melihat Adam mengobrol dengan seorang wanita. "Oh...kita nunggu lama di mobil, dan lu disini malah godain cewek."
Adam yang terkejut langsung buru-buru meminta nomor wanita itu dan segera pergi menuju mobil meninggalkan Sandi seorang diri.
"Eh tunggu!" teriak Sandi. "Dasar udah tua genit."
Dari dalam aku melihat mereka berdua kembali bertengkar. Adam membuka pintu mobil, diikuti dengan Sandi.
"Kenapa?" tanyaku heran dengan tingkah mereka.
"Kita nungguin dia lama disini, eh dia malah godain cewek disana." Ucap Sandi marah-marah.
"Sebenernya gue tadi mau langsung kesini, tapi keburu lihat tuh cewek. Gue jadi belok dulu!" jelas Adam.
"Tapi cantik juga yah." Puji Sandi.
"Ya jelas, pasti cantik."
"Nanti lu bagi-bagi yah kontaknya!" pinta Sandi.
__ADS_1
"Santuy."
Aku tidak tahu kenapa mereka tiba-tiba akur. Sekarang kami telah keluar tol, tetapi tujuan kami masihlah sangat jauh.
Entah itu sedang bertengkar atau akur mereka selalu sangatlah bising, kali ini juga aku hanya mendengarkan musik dengan headshetku untuk menghindari kebisingan mereka.
.
3 jam kemudian kami telah sampai.
Kenapa waktu yang kami tempuh sangatlah lama; terjebak macet, mobil mogok, salah jalan, kehabisan bensin,dll.
Sebelum pergi mendaki, kami memesan tenda terlebih dahulu. "Pak saya mau menyewa tendanya 2."
"Buat berapa hari?"
"Mau berapa hari Zah?" tanya Sandi berbisik.
"2 hari aja." Ucapku.
"2 hari pak, berapa?"
"Rp.______" jawab bapak itu.
"Pak tua!" panggil Sandi.
"Apa?" tanya Adam.
"Bayar!" pinta Sandi sembari mengambil tenda dari bapak itu.
"Lah aku yang bayar?" tanya Adam bingung.
"Iya lah, kan lu yang paling tua!" jelas Sandi.
Karena terpaksa Adam membayarnya. Setelah memesan tenda kami langsung pergi mendaki.
Kami bertiga berkumpul memandang ke arah langit dan saling memberikan motivasi.
"Kali ini aku tidak akan lari seperti waktu itu." Ucap Adam.
"Aku akan menyelamatkan temanku." Ucap Sandi.
"Kita bisa mati kapan saja." Ucapku.
Adam dan Sandi langsung menggigil, melihat ke arahku. "Zahra motivasi macam apa itu?" ucap Sandi.
"Iya benar Zahra, jangan membuat kami menjadi takut." Ucap Adam.
"Apa? Aku benar bukan?" tanyaku heran.
"Yah tapi jangan mengatakan dengan jelas, itu bisa membuat kami pesimis." Tegas Sandi dan Adam disebelahnya mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
Next...