Jajajaj

Jajajaj
Chapter IV


__ADS_3

Sekarang kami bertiga telah berkumpul dan sepakat untuk mendatangi bangunan itu kembali untuk mencari petunjuk lebih banyak lagi.


"Meskipun sudah beberapa kali kesini, aku masih saja merasa takut." pungkas Sandi. "Lebay amat sih lo!" sindir Adam, "lihat Zahra, cewek aja gak takut sedikitpun," memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya, "harga diri laki-laki mau taruh dimana!." tegasnya dengan lantang, tetapi apa yang ia katakan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya, "a...aku tidak takut, tenang saja ini tidak terlalu menakutkan." alasan mengapa ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku ialah untuk menyembunyikan kedua tangannya yang gemetaran.


"Halah, sok sokan bicara nya,


padahal takut juga kan," kritik Sandi, "dasar pak tua!" lanjutnya.


"Apa lu bilang? orang tua?"


Setelah itu mereka hanya bertengkar seperti anak kecil dan Zahra hanya menghiraukannya, sebelum masuk kedalam bangunan Zahra memutuskan untuk pergi berkeliling memutari bangunan itu terlebih dahulu dengan meninggalkan mereka berdua yang sedang sibuk bertengkar.


Ditengah-tengah ia sedang berkeliling, ia melihat sebuah tapak ditanah seperti bekas orang yang sedang diseret dengan paksa, dari apa yang ia lihat sepertinya tapak itu masih terlihat baru.


Ia mengikuti kemana tapak itu mengarah, langkah demi langkah ia terus mengikutinya tetapi tak lama kemudian langkahnya terhenti dikarenakan tapak itu tiba-tiba menghilang.


Ia menoleh kanan kiri dan tidak menemukan apapun, Ia meneriakkan nama Sandi dan Adam berkali-kali untuk memanggilnya kemari tetapi tidak ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara teriakan di dekat gedung, dengan cepat ia berlari ke sumber suara, sesampainya di depan bangunan ia tidak melihat Sandi dan Adam.


Ia sampai mengira kalau Adam dan Sandi sudah kembali ke mobil karena takut, tetapi tak lama kemudian terdengar kembali sebuah teriakan dari dalam gedung. Dengan cepat Zahra masuk ke dalam dan mencari dimana sumber teriakkan tersebut.


Setelah sampai Zahra melihat Adam sedang di cekik lehernya, dan yang sepertinya berteriak tadi itu adalah Sandi. Dengan cepat Zahra membuat sebuah pisau yang berada didekat jendela melayang kepada orang yang mencekik Adam, pisau itu dengan pas menancap di ulu hatinya.


Orang itu berteriak dan melepaskan cekikannya, hanya untuk melihat wajah yang mencekiknya Adam yang terjatuh berusaha untuk bangkit sembari memegangi lehernya yang kesakitan.


Betapa terkejutnya Adam ketika melihatnya kalau ternyata yang menyerangnya itu adalah temannya sendiri, dengan ekspresi tak menyangka, "kenapa?" ia tidak bisa menahan tangisnya.


"Maafkan aku Adam! aku terpaksa melakukan ini," ucap temannya, "aku terpaksa, uhuk...uhuk." ucapannya terhenti karena batuknya mengeluarkan darah, "jika aku tidak melakukan ini, dia akan berada dalam bahaya."


Adam sembari menangis, "y...yah tidak apa, ini juga salahku karena telah meninggalkan kalian."


temannya menggelengkan kepalanya dengan pelan, "jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu!" ucap temannya sembari memegangi tangan Adam.


Adam menangis tersedu-sedu, Sandi dan Zahra berjalan ke arah Adam. Sandi mengusap-usap bahu Adam dengan maksud untuk menenangkannya, Zahra tak sengaja menoleh ke arah meja yang berada di sampingnya dan ia menemukan sepotong kertas bertuliskan.


'pemandangan yang indah, ketika berada diatasnya'


"Zahra!" panggil Sandi, "ini." menunjuk ke arah sepotong kertas.


'ini adalah hal yang pertama kali kita pelajari saat bersekolah'


"Apa ada lagi?" tanya Zahra, tetapi Sandi menggelengkan kepalanya, "Cuman itu!"


Zahra berpikir sangat keras untuk memecahkan teka-teki itu, sebelum mati teman Adam mengucapkan satu kata yang membuat Zahra langsung terdiam, "DIML."


Sandi yang melihat Zahra diam mematung, "ada apa Zahra?"


"Tidak bukan apa-apa."


Zahra tiba-tiba teringat sesuatu dengan cepat ia berlari keluar gedung. "Tunggu Zahra! mau kemana?" teriak Sandi dengan keheranan melihat tingkah laku Zahra yang tiba-tiba. Ketika Zahra diluar, ia melihat seseorang memakai tudung hitam sedang berdiri di depannya.


Saat Zahra hendak menanyainya, "kemana kamu membawa mereka pergi?" orang itu mengacungkan tangannya dan menyeringai, seketika seluruh bangunan terbakar.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Zahra masuk ke dalam kobaran api yang membakar gedung, ia masuk sembari menahan kobaran api dengan kekuatannya, "cepat lari!" suruh Zahra sembari berteriak. "Apa ini?" tanya Adam dalam raut wajahnya terlihat kalau ia ketakutan melihat Zahra. Tetapi Sandi langsung menarik tangannya dan membawanya keluar.


Tiba-tiba dari dalam gedung terjadi sebuah ledakan, sementara orang yang memakai tudung hitam itu hanya tertawa dan semakin menjadi-jadi ketika melihat ledakan dari dalam gedung. Setelah puas tertawa ia pun pergi meninggalkan lokasi dengan tanpa menghilangkan senyumannya sembari berkata.


"A Noble Life Satan."


.


Berkat ledakan tadi orang-orang yang mendengarnya langsung menghubungi polisi. Tak lama kemudian tidak hanya polisi yang datang melainkan TNI dan petugas Damkar pun datang ke lokasi dan dikarenakan api yang tak kunjung padam para polisi meminta bantuan kepada petugas pemadam kebakaran untuk segera memadamkan apinya.


Setelah api padam, dengan cepat para satuan unit masuk kedalam gedung itu, di dalam ia melihat 3 orang yang selamat yang tak lain Zahra, Sandi, dan Adam.


Para media menyebutnya keajaiban dari Tuhan, dikarenakan tidak ditemukan luka sedikitpun dari tubuh mereka dan berkat itu berita tentang mereka menjadi trending topik di seluruh negeri.


Kami telah menjelaskan semua apa yang telah terjadi tetapi petugas itu tetap saja tidak percaya sampai ada seorang petugas berkata. "Lapor pak! kami tidak menemukan barang yang menyebabkan gedung itu terbakar."


"Jadi maksudmu gedung itu terbakar sendirinya?"


"Iya pak, itulah yang membuat kami bingung."


"Lalu tentang ledakan itu?"


"Sama pak, kami juga tidak tahu kenapa terjadi sebuah ledakan."


"Baiklah kau boleh pergi!"


Setelah petugas itu pergi. "Sudah kubilang apa!" seru Sandi.


"Jika kebakaran dan ledakan itu disebabkan oleh sihir lalu bagaimana caranya kalian bertahan?" tanya petugas itu dengan tegas.


"Zahra lah yang telah menahannya." jawab Adam dengan penuh percaya diri. "Adam, bisakah kau diam!" bentak Sandi. Adam mengangkat kedua tangannya, "kenapa?" tak lama ia baru sadar, kalau ia telah membongkar rahasia Zahra, "maaf aku tidak tahu kalau itu rahasia."


"Makanya kalau mau bic-"


"Tidak apa-apa Sandi." potong Zahra.


Petugas itu melihat data-data yang berada ditangannya, "Zahra... Zahra... Zahra," ia mencari data demi data, entah itu yang berada di mejanya ataupun didalam tasnya, "ah ketemu."


"Apa itu?"


"Tidak...bukan apa-apa!"


"Kalau begitu aku ingin berbicara empat mata dengan gadis ini!" pinta petugas itu.


"Tap-" sebelum Adam menyelesaikan ucapannya Zahra memotongnya. "Tenang saja."


Mereka berdua pun pergi keluar dan hanya menyisakan Zahra dengan petugas itu berdua.


"Maaf karena belum memperkenalkan diri, namaku Joni dan aku ingin merekrut mu!"


"Hah...rekrut? menjadi polisi?" Zahra kebingungan mendengarnya.

__ADS_1


"Bukan, tapi masuk ke dalam satuan yang ku pimpin."


"Apa untungnya bagiku?"


"Kau dapat dengan bebas menggunakan kekuatanmu."


"Aku saja belum memberi tahu mu apa kekuatanku udah sok-sok mau memberiku kebebasan."


"Maaf saja tapi aku sudah mengetahuinya berdasarkan data yang kulihat."


"Data?"


"Yah, lebih tepatnya hasil penelitian." menunjukkan datanya kepada Zahra.


Zahra terkejut matanya melebar dan mulutnya menganga, ia dengan keras memukul meja berada didepannya, "apa kau salah satu dari mereka? atau mereka membayarmu untuk membawaku kembali? atau untuk membunuhku?"


"Tenang, tenang rileks." pinta Joni, "aku tidak bekerja pada semua apa yang kau sebutkan itu,"


"Aku tidak bisa beritahu, aku bekerja untuk siapa," menghembuskan nafasnya, "hanya saja aku tidak bekerja pada apa yang semua kau sebutkan."


"Kalau begitu bagaimana cara aku percaya kalau kau tak membohongiku?"


"Itu terserah padamu, apa kau akan percaya atau tidak, yang terpenting aku sudah jujur dengan apa yang ku katakan."


"Apa tujuan tim ini?"


"Tujuan?"


"Jika sebuah tim tidak memiliki tujuan, berarti tim itu ada hanya untuk bermain-main!"


"Tujuan tim ini adalah kebebasan."


Zahra menertawakannya, "kebebasan?" Meskipun Zahra menertawakannya, Joni hanya menatapnya dengan serius.


"Ok ok, tetapi untuk sekarang aku tidak bisa."


"Yah, aku paham,"


"Sekarang kau selesaikan urusanmu, dan aku akan merekrut anggota-anggota baru." lanjutnya.


"Merekrut? memangnya baru ada berapa orang yang kau rekrut?"


"Kau yang pertama."


Zahra memukuli jidatnya beberapa kali, "yah...sebelum itu aku ingin mengetahui apa nama tim ini?"


"______" jawab Joni dengan tersenyum, "saat kau datang nanti, kita akan berkumpul dalam sebuah ruangan, duduk di meja yang sama dan makan-makan dengan anggota lainnya." jelasnya.


"Aku menantikannya!" Zahra tersenyum dan pergi meninggalkan Joni.


Next....

__ADS_1


__ADS_2