
Seorang gadis tengah menyiapkan bekal sekolah untuk ketiga adiknya,agar lebih menghemat uang dan tentunya sehat.
" Nanti pulang sekolah jangan kemana mana ya langsung pulang" ingat nya pada ketiga adiknya.
" Iya mbak" jawab mereka serempak
Cahaya memberikan beberapa lembar uang jajan untuk ketiga adiknya, mereka lantas mengambil, bersalaman lalu pergi ke sekolah masing masing menggunakan sepeda yang cahaya beli.
" Hufttt.... sekarang kita cuci baju, berkemas baru deh ke pesantren" ucapnya sambil melangkah kan kaki nya masuk ke dalam rumah.
Baru akan menutup pintu, ibuk Tatik sudah ada di depan kontrakan nya, dan yang pastinya alasannya kesini ya menagih uang kontrakan.
" Tunggu buk" cahaya mengambil uang di dalam tasnya.
" nih buk uangnya"serahnya pada buk Tatik.
" Nah gitu dong tepat waktu,kalau tadi kamu telat lagi sebenarnya mau saya usir" ucap buk Tatik seraya melirik cahaya tak suka.
"Kebetulan ada uang, Udah sana pergi Lo males gue" ucap cahaya kasar.
Mendengar itu Buk Tatik langsung pergi dari sana setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan kasar.
" Arghh sialan, awas aja si Tatik! Kalau gue kaya, gue bangun rumah gede pakai pagar beton tinggi biar tu mulut ga nyampe ke gue" Cahaya terus saja berceloteh tentang buk Tatik pada dirinya sendiri.
Tapi sambil mengomel tangannya tetap bekerja,Dia sampai tak sadar cucian piring nya kini sudah selesai tinggal merapihkan rumah saja.
" Gini amat jadi gue, siang jadi ibuk malam jadi bapak"
Setelah semuanya selesai dia memutuskan untuk mandi baru akan langsung ke pesantren untuk mendaftar kan adiknya.
" Mau kemana ca" tanya Siska saat melihat sahabatnya sedang mengunci pintu rumah.
Siska memang tinggal sebelahan dengan cahaya, kontrakan mereka itu berdempet hanya di batasi dengan tembok pendek saja.
" Mau ke pesantren" jawabnya
Siska bingung,beberapa detik kemudian dia kaget " maksud Lo?"
" Lo mau sekolah di pesantren yang bener aje, lu itu dah gede, berarti kalau Lo tobat gue ga ada temen melo*t* nya" kata Siska sedih.
Cahaya memutar bola matanya malas,kenapa dia bisa punya sahabat setolol ini.
" Belum juga selesai ngomong udah di Potong"
" Gue ke pesantren mau daftarin si ikhwan sama sanam ngaji karena katanya ustadz Yusuf ga ngajar lagi" mendengar itu hati Siska jadi tenang,karena Siska berjanji dia akan berhenti dari pekerjaan haram itu kalau cahaya juga berhenti.
" Mau gue temenin?" Tawar Siska.
"Kalo Lo mau ayok lagian masih pagi"
" Tapi yakin pakai baju kek gitu" tunjuknya pada pakaian yang di pakai cahaya
Begini lah kira kira pakaian yang di kenakan cahaya untuk ke pesantren 😄
Cahaya menelisik pakaian yang dia pakai, menurut nya biasa saja.
" Iya ,emang kenapa? Salah ?" Siska bingung harus menjelaskan dari mana.
" Liat noh baju Lo itu Its very very pendek belahan dada Lo keliatan kemana mana, duh mana ketat lagi, paha Lo keliatan gak sekalian pakai lingerie ke pesantren"
"Big no kalau di bar, but in... pesantren Lo mikir tolol" astaga cahaya malas sekali kalau mendengar si Siska ngomong b Inggris mending betul ini belepotan kemana mana.
"Heh! pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar ingat sumpah pemuda, menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia" ucapnya seraya mengikuti orang yang mendeklarasikan sumpah pemuda.
" Shitt" umpatnya dalam bahasa Inggris.
" Sat sit sat sit mulut lu gue sembur pakai kembang baru nyahok" cahaya terlihat geram melihat sahabatnya yang sok Inggris ini untung sayang.
" Udah lah yok cepat sana ganti baju"
" Tapi beneran pakai baju kek begitu" Siska ini minta di lempar memang.
" Apa salah nya ege pakai baju begini" tuh kan begini lah kalau kedua orang bodoh jadi sahabat.
" Kita kan mau ke pesantren anj"
" Teruss?"
" Pakai kerudung kek ga enak sama yang punya nanti di kira mau berbuat maksiat di sana"
Perdebatan baju emang tak ada habisnya.
" Lo kalau mau Makai baju gamis pakai aja,sekalian pakai cadar,gue sih apa adanya" baiklah Siska mengalah saja.
Akhirnya Siska selesai berdandan,beh ternyata lebih dari dirinya.
baju yang di pakai Siska untuk pergi ke pesantren 🥵🤟
" Tcih, katanya gak sopan lah ini lah itu lah, mana kerudung Lo ga di pakai" Sindir cahaya.
"Hehehe panas" ucapnya cengengesan.
Mereka berdua pergi ke pesantren menggunakan motor Siska. Saat memasuki kampung sebelah yang di katakan adiknya itu banyak pasang mata yang melirik mereka tak suka.
"Gue terakhir masuk kampung ini waktu mau nyuri mangga" bisik cahaya pada Siska.
" Ho'oh gue juga, kan waktu itu ngambil nya sama elu" mereka berdua terkikik di atas motor mengingat kala itu mereka sangat nakal.
Motor beat itu kini sudah ada di depan gerbang tinggi, di sana bertuliskan nama pesantren itu yaitu 'Al -madaniyah'.
" Gileee cakep bener buset dah, kaya istana sis" cahaya takjub dengan pesantren itu padahal baru luarnya saja mereka belum masuk.
" Iya ya this is byutipul" katanya ikut takjub.
" Katanya sih ini pesantren udah terkenal kemana mana, anak pengusaha juga ada yang sekolah di sini karena emang sebagus itu pendidikan di sini" ucap siska memberikan info.
Cahaya hanya manggut-manggut mengerti. Tak lama seorang yang di ketahui Security menghampiri mereka.
" Assalamualaikum nduk,ada gerangan apa sampeyan sekalian ke sini" ucap pria yang sudah agak berumur menghampiri mereka.
" Oh iya gini pak, saya mau daftarin kedua adik saya ngaji di sini apa boleh" tanya cahaya.
" Boleh saja tapi kalian harus daftar sama yang punya dulu bukan sama pakde"Security itu membuka gerbang nya namun gerbang yang kecil saja yang hanya untuk motor masuk.
" Tengkyu Somat pakde" ucap Siska tersenyum.
Bapak Security itu hanya menggeleng geleng kan kepalanya heran.
" Kok iso ya ada perempuan kayak mereka"
Motor mereka sudah terpakir di khusus parkiran di sana.
Saat akan pergi ke tempat yang di tunjukkan pakde tadi ,semua pasang mata mengucap istighfar berkali kali karena penampilan mereka paling menonjol, apalagi ternyata di dalam pesantren ada persiapan acara milad Astaga mereka jadi malu.
__ADS_1
" Kan apa gue bilang" Siska merasa menang perkataan nya jadi kenyataan mereka pasti akan di pandang rendah.
" Udah jangan dengerin kata orang" cahaya dan Siska terus berjalan hingga bertemu dengan seorang gadis manis berhijab panjang usianya seperti syakila mungkin.
" Hallo adek manis, kita boleh nanya gak" tanya cahaya lembut.
" Eh iya silahkan, mau tanya apa mbak" jawab gadis itu ramah.
"Ning gak usah di ladenin mereka itu pelacur" bisik teman sebayanya yang ada di sebelah nya, cahaya dan Siska masih bisa mendengar nya.
" Astagfirullah Nia,tidak boleh bicara seperti itu mereka ini perempuan seperti kita, tidak baik bicara buruk dengan saudara kita sendiri" jelas gadis manis itu.
Mendengar itu cahaya sedikit tersenyum didikan orang tuanya patut di acungi jempol, dia berharap syakila juga seperti itu.
" Maap ya mbak, jika teman saya sudah meyakiti hati kalian, nia tidak bermaksud seperti itu sebenarnya" katanya nya tak enak.
" Gpp santay aja" ucap cahaya menenangkan gadis remaja itu.
" Oh iya tadi mbak mau tanya apa sama Azizah" sekarang cahaya mengerti gadis di depannya ini namanya adalah Azizah.
" Gini, izah tau gak tempat pendaftaran anak ngaji di sini soalnya gue mau daftarin adek gue ngaji di sini" Azizah paham lalu mengantar mereka berdua menuju ndalem.
Di perjalanan ndalem Azizah bertanya " mbak orang Jakarta ya"
" Iya dulu,tapi sekarang udah pindah ke sini" Azizah hanya ber oh ria saja.
"Biasanya pendaftaran di lakukan di kantor pesantren,tapi karena Abah sibuk ngurus acara,kantor tutup jadinya kita ke ndalem aja ya" Cahaya mengangguk iya.
" Assalamualaikum Abah ada tamu mau ketemu abah" kiyai Ibrahim yang ada di ruang tamu langsung melirik ke luar terlihat ada 2 gadis yang berpenampilan seksi lantas dia menundukkan pandangan nya.
"Tuh aki aki ngapa nunduk" tanya Siska berbisik.
" Diem lu anying" balas cahaya berbisik.
"Assalamualaikum kiyai" salam Siska, cahaya melongo tak percaya masih inget ternyata.
" Walaikumsalam, silahkan duduk anak anakku" Abah mempersilahkan mereka berdua duduk.
" Panggilkan ummi, bilang ada tamu" Azizah langsung menurut dan memanggil sang ummi yang ada di dapur.
Tak lama ummi datang membawa beberapa minuman untuk mereka, cahaya jadi tak enak.
"Ada gerangan apa kalian kemari, apa ada sesuatu" tanya kiyai yang terlihat agak tak nyaman, mungkin karena pakaian yang mereka pakai terlalu terbuka.
Cahaya lantas mengambil bantal kursi yang ada di samping nya untuk menutupi paha nya yang terekspos, Siska juga begitu dia mengikuti apa yang di lakukan cahaya.
"Maap sebelum nya pak kiyai kami ke sini eee... maksudnya saya ke sini mau mendaftar kan kedua adik saya hanya untuk mengaji saja tidak untuk di jadikan santri" cahaya jadi agak gugup kalau seperti ini,entah lah cahaya merasa aura orang di depannya begitu terasa,jadi dia agak segan.
" Hemm begitu ya...boleh boleh saja tapi saya tidak setuju ketika kamu mengatakan adik kamu tidak jadi santri di sini" cahaya bingung dengan perkataan kiyai Ibrahim.
" Semua anak yang belajar di sini itu masih jadi santri anakku, walaupun hanya sekedar mengaji dia tetap santri saya, santri saya ya anak saya" jawab kiyai Ibrahim seolah tau isi pikiran cahaya dengan kekehannya.
" Jadi mulai hari ini juga adik kamu bisa mulai ngaji di sini, jangan sungkan pada kami" kata ummi Nadia ikut menimpali sambil mengelus tangan cahaya dan menggenggamnya.
" Terimakasih banyak pak kiyai,saya senang sekali, emm maap kalau boleh tahu berapa biaya nya" tanya cahaya pelan.
"Tidak usah pikirkan biaya,suruh saja kedua adikmu datang,saya senang kalau anak anak mau mengaji di sini"
Setelah perbincangan ringan itu berlalu, cahaya berserta Siska pamit untuk pulang karena katanya harus bekerja siang.
" Berkunjung lah lagi di sini ya,lusa ada acara milad kamu bisa datang ke sini" ummi memberikan undangan langsung untuk cahaya dan Siska.
Menurut ummi walaupun penampilan mereka seperti itu,kedua gadis itu sangat lah ramah dan juga baik.
" Insyaallah ya ummi,kadang kami banyak job" ucap Siska terkikik sambil melirik cahaya.
" Job affaan tuh" cahaya hanya bisa menahan tawanya.
"Nadira, jaga ucapanmu" kata ummi menegur keponakan nya yang berusia sekitar 18 tahun,yang baru datang dari luar.
" Iya emang, sirik Lo" nah kan Siska sudah tak bisa menahan emosi nya.
" Udah sis jangan di Laden kita pergi yok" cahaya menarik lengan Siska agar cepat pergi dari sana.
" Semua juga tau kalian itu siapa,Anak anak mami germo" sinis Nadira.
" Kak Dira..." Tegur azizah
"Lo kalau gak tau apa apa soal kita jangan sok tau ya anj, sialan lo" tunjuk cahaya di depan wajah Nadira.
" Sudah sudah jangan bertengkar, nadira minta maap dengan mereka" perintah kiyai Ibrahim.
" Nadira kamu sudah keterlaluan mereka tamu bukan binatang" puas sekali cahaya saat Melihat nadira terlihat di omeli ummi.
" Tidak akan pernah dira minta maap dengan ****** seperti mereka" setelah nya dia naik ke atas tanpa permisi.
" Maaf kan keponakan ummi ya...dia memang seperti itu agak kasar" ucap ummi tak enak.
" Tidak apa ummi, kami ngerti" cahaya dan Siska bersalaman lantas meninggal kan ndalem.
Karena tak melihat sekitar cahaya menabrak tubuh tegap seseorang.
" Anj-"
" Astagfirullah"
Mereka saling pandang, cahaya kaget siapa yang di tabraknya.
" Lo?" Kagetnya mengingat pria yang semalam pergi ke klub nya.
Dengan cepat pria itu mengalih pandangannya jadi menunduk.
" Tutuplah dadamu itu, penglihatan saya sangat terganggu" kata pria itu dengan nada seram.
"Sok suci Lo di kasih juga mau" balas cahaya remeh.
"Tidak tertarik, berikan ke orang lain saja" Siska tertawa terbahak saat pria itu menolak kemolekan cahaya.
" Apa?"
" Saya bilang tutup dadamu, tidak baik seorang wanita muslim berpenampilan nyentrik dan terlalu menor" mendengar itu telinga cahaya jadi agak panas.
" Lo itu siapa, ga usah ngatur hidup gue!!" Ucap cahaya sedikit membentak.
Tapi pria itu malah memilih meninggalkan cahaya percuma di kasih tau tidak mau dengar.
Cahaya jadi agak kesal dengan pria itu karna meninggalkan nya begitu saja,dia melepas sebelah high heels nya dan melemparnya ke arah pria itu.
" Pukk"
" Astagfirullah" kaget nya menahan sakit.
Pria itu membalikkan badannya dia mengambil high heels itu, ia kembali ke arah cahaya dan temannya berada.
" Keterlaluan,dasar tidak sopan"
Cahaya hanya tertawa kecil karena berhasil membuat pria itu marah.
" Gus Zaidan, sampeyan di panggil sama kiyai" baru akan menceramahi, seorang santriwan datang memberikan amanah.
__ADS_1
" Hemm baiklah, saya akan segera ke sana" Gus Zaidan menaruh high heels itu pelan di taruh nya di dekat kaki cahaya agar wanita itu mudah memakai nya.
" Assalamualaikum" tubuh tegap itu sudah menghilang dari penglihatan cahaya dan Siska.
" Gileee demi apa ganteng banget anj-" heboh Siska seperti tak pernah lihat orang tampan saja.
" Biasa aja kaya monyet"
" Dih,Muke lu kaya monyet enak aja orang ganteng di bilang monyet katarak Lo" omel Siska.
Di lain tempat Gus Zaidan sudah duduk di depan kiyai Ibrahim.
" Apa kamu tadi berpapasan dengan kedua wanita cantik hemm?" Tanya kiyai menggoda anaknya.
" Iya,tapi aneh" kiyai Ibrahim terkekeh mendengar nya.
"Abah mau kamu cepat menikah le,lihat umurmu sudah 28 tahun belum juga punya istri"Gus Zaidan menghela nafasnya lelah dia sudah tahu pembahasan ini pasti di ulang lagi.
"Nanti bah,Zaidan masih bingung mau menikah dengan siapa"
" Abah sebenarnya sudah menemukan gadis yang pas untuk kamu, dia anak teman Abah kiyai Zulfi anak nya cantik, pintar, lembah lembut, agamanya kuat dia lulusan sekolah di Kairo cocok untuk kamu yang pendiam dan tidak banyak tingkah" tawar Abah.
" Kalau kamu setuju, kamu bisa ta'aruf dengan dia,nanti Abah yang bilang" Melihat Abah nya terlihat berharap membuat Zaidan tak kuasa menolak.
" Terserah Abah"
" Alhamdulillah" ucap semuanya yang ada di ruang tamu, kecuali Nadira dia seperti orang tak suka.
" Kebetulan keluarga nya akan datang di acara milad di pesantren kita lusa" kata ummi ikut senang.
"Yaaa....mas Zaidan nikah terus Izah gak ada temen" lirih Azizah sedih.
" Mas mu itu ndak akan kemana mana kan cuman menikah tinggalnya tetap di sini"
" Iya sih mi tapikan ndak bisa bebas sayang sayangan nya"
"Dik izah bisa sedih juga ternyata kirain cuman pas nonton Drakor aja sedihnya" goda Gus Zaidan malah membuat adiknya ngambek.
🍒🍒🍒🍒
Di perjalanan pulang cahaya dan Siska mampir sebentar untuk makan mengisi perut mereka di warung bakso pinggir jalan.
" Eh si ponakannya ummi itu, gak tau kenapa firasat gue, tuh orang bukan orang baik" ucap Siska mengawali pergibahan.
" Ho'oh gue juga begitu,tatapan matanya sadis bener"
"Bi bi bi" cahaya sedikit mendengar suara anak kecil di dekat nya.
" Lu denger gak sis"
" Iya gue denger di mana ya"
Siska mencoba mencari sumber suara anak kecil itu namun nihil tak ada di sekitar mereka, apalagi kan sekarang sedang hujan panas, Siska jadi merinding.
" Apaa anaknya mbak Kunti ya" cahaya menggeplak mulut Siska dengan tisu ada ada saja.
" Ihh ca lagian ini lagi ujan panas tau" Siska Langsung mepet ke cahaya.
" Mistis"
" Ihh ga boleh gitu tau, nanti kena tulah" peringat Siska.
"Bi bi bi" panggil anak itu lagi.
" Aaaaaa cacaaaaa gue takut ******" heboh Siska,dia malah mengumpat mamang bakso nya yang pergi entah kemana meninggal kan jualannya.
" Ayo cari pasti ada di sekitar sini, gue mau abisin bakso gue dulu Lo cari duluan" baiklah Siska menurut, kasihan cahaya dari tadi tak bisa makan karena ulahnya.
Siska mulai mencari di setiap celah meja dan kursi siapa tau nyelip.
" Dedek kecil di mana ini aunty"
" Biii bi bi" Siska mulai tau dari mana sumber suara itu, seperti nya ada di bawah meja kecil dekat gerobak.
"Haaa ketemu" Siska menggendong seorang anak kecil imut seperti nya masih bayi.
" Caca Omaga lucu BINGITZZZZZ pakai zzz" Siska begitu girang karena berhasil menemukan baby kecil yang imut.
"Nah kan apa gue bilang mistis"
" Iya maapin aunty ya karena udah kira baby kecil anak Kunti" baby kecil itu malah menganggukkan kepalanya yang semakin membuat kedua gadis itu gemas.
" Gue mau gendong gue mau gendong" pinta cahaya mohon.
" Big no no, tangan Lo kotor liat abis makan bakso kuah nya pedas entar badannya panas" omel Siska.
Cahaya jadi menunduk sedih karena tak bise menggendong baby kecil.
" Cuci tangan dulu sana" cahaya menurut lalu mencuci tangannya.
" Baby kecil cama ciapa ke cini kenapa ada di dekat gelobak" tanya Siska meniru suara anak kecil membuat baby tertawa.
" Ihhh lucunya" Siska menciumi seluruh wajah anak itu sayang.
Tampak Siska merasa bahagia berinteraksi dengan baby kecil itu bahkan cahaya yang melihat nya turut bahagia, sudah hampir 1 jam baby kecil bersama mereka bahkan mamang bakso sudah selesai solat nya.
Cahaya saja sampai tertidur karena menunggu orang tua anak itu menjemput.
" Kanisa astagfirullah nak" tiba tiba saja seorang pria menyambar baby kecil dari tangan Siska.
" Loh kok di ambil" tanya Siska Polos.
" Dia anak saya mbak" Siska jadi terlihat sedih.
"Sis siapa?" Tanya cahaya terbangun dari tidurnya.
" Bapaknye" lirih Siska pelan.
" Mas lain kali anaknya di jaga,jangan lengah, untung di temuin sama temen gue kalau sama orang lain udah di jual" omel cahaya ke pria itu.
" Iya maaf, sekali lagi saya terimakasih karena sudah melindungi anak saya" ucap pria itu tulus dan terlihat jelas wajah kekhawatirannya.
" Boleh cium cium gak" tanya Siska terdengar ambigu.
" Hah?" Cahaya saja sampai bingung.
" Maksud mbak cium apa" tanya pria itu.
" Maksud gue mau cium anak Lo, masa mau cium bapaknye,gitu aja harus di jelasin" kesal Siska.
" Owhhhh gue kira cium bapaknya" cahaya sudah menahan tawanya.
Pria itu memberikan kanisa ke Siska untuk di cium.
" Dadah baby,nanti kalau ketemu aunty jangan lupa sapa solanya aunty matanya agak katarak" Siska menciumi seluruh wajah kanisa, bayi itu tampak tertawa kecil.
" Aaaa pengen culik" gemas nya.
" Udah jangan lama lama bapaknya nunggu" dengan penuh tidak keikhlasan Siska memberikan nya.
__ADS_1
Kanisa sudah manaiki mobil bersama ayahnya, mobil itu mulai menjauh tapi Siska masih terlihat sedih.
~|🌱🍒|~