jalang yang di khitbah anak kiyai

jalang yang di khitbah anak kiyai
mengantar nya pulang


__ADS_3

Malam semakin larut,kiyai Ibrahim dah keluarga akan pulang. Beberapa orang bahagia dengan pernikahan ini sebagain juga tak bahagia.


Cahaya dan Siska mengantar seluruh keluarga Zaidan sampai luar,dengan kanisa di gendongan Siska.


"Baby kecil di sini aja ya tidur sama aunty hemmm..." Siska menciumi seluruh wajah kanisa gemas.


" Tidak boleh!!" Tegas Arga.


" Canda ya elah bapaknya pelit amat"


Siska memberikan kanisa ke Arga tapi sang anak malah menangis kencang.


"Hiks ....bubu..." Tangis kanisa memanggil Siska dengan cadel.


" Bubu mau tidur nanti besok ke sini lagi,Kan ada Abi" Arga berusaha menenangkan anaknya.


Astaga Siska sangat salting di panggil bubu oleh Arga " heh laki orang anj"


Siska menepis kesaltingannya itu suami orang ya ampun.


Anak itu seakan ingin memarahi sang ayah karena memisahkan nya dari Siska, Untung nya anak itu belum bisa bicara hanya bisa mengoceh.


" Kanisa nempel terus deh sama aunty Siska, aunty Izzah jadi cemburu" kata Izzah merajuk ke kanisa.


Semua yaang ada di sana terkekeh dengan kelakuan mereka.


"Aunty gak kemana mana kok di sini aja, baby kecil bobo dulu sama Abi sama ummi nya nanti besok ke rumah aunty"


Seluruh keluarga terdiam mendengar ucapan yang di lontarkan Siska.


Siska merasa ada yang salah dari ucapannya" why? Apa salah gue"


" Mbak......" Perkataan Azizah menggantung.


" Why??"


Azizah mendekat ke telinga Siska dan berbisik " mas Arga duda"


" APAAA?!!!"


siska memekik terlalu keras sampai membuat kanisa kaget dan menangis.


" Mulut lu melebihi kembang api tahun baru" kesal sekali cahaya dengan sahabat goblok nya.


" Cup cup cup.....maaf ya bunda teriaknya keras" Siska mengambil kanisa dari gendongan Arga dan menenangkan baby kecil dahulu.


Arga sedikit tersenyum mendengar Siska menyebut dirinya bunda ingat ya sedikit,semut pun tak tahu dia senyum apa tidak.


" Wahhh Siska cocok lu jadi emak emak hahahaha"


" Sini kanisa biar sama saya" ummi mengambil kanisa paksa dari siska.


" Ehh..."


" Ayo bah ini udah malam, acaranya nya Sudah kan?"


Ummi melenggang pergi dari sana dengan kanisa tanpa pamit, Zaidan tahu sang ummi belum bisa terima dengan keputusan sang Abah.


" Ummi sedang tidak mood biasa perempuan, kami pamit pulang dulu assalamualaikum" Abah pergi menyusul sang istri.


Begitu juga Zaidan,pria kaku itu tidak mengatakan apa pun.


Setelah mobil itu meninggal kan perkarangan rumah,Siska langsung saja memulai sesi gibahnya.


Siska menarik tangan cahaya untuk duduk santay lagi di depan teras dan melanjutkan minum nya yang masih tersisa.


" Eh bener kata adeknya, si Arga duda?"


" Denger dari orang sih begitu"


" Kenawhy?"

__ADS_1


" Istrinya meninggal katanya..." Suasana jadi horor kala cahaya mengatakan nya.


" Kok bisa meninggal"


" Lo tanya aja sama orang nya gue mana tau apa apa"


🐣


Sudah seminggu sejak Cahaya di khitbah Gus Zaidan.


Persiapan pernikahan cahaya dan Zaidan mulai di siapkan.


Kabar tentang Gus Zaidan mengkhitbah seorang ****** tersebar seantero pesantren bukan hanya pesantren tapi juga seluruh desa dan kota karena memang nama mereka seterkenal itu.


Cahaya sedang berada di klub Hari ini untuk memberikan undangan pernikahan sekaligus membatalkan kontrak.


" Mami gue kagak jadi ya sama kontrak selir yang itu,soalnya gue mau kawin"


" Kayaknya setelah menikah juga gue udah gak kerja lagi".


" Tidak bisa cahaya" mami terlihat serius sekarang.


" Lo itu penglaris GUEEHHH" mami terlihat sedih sekali jika harus kehilangan kembang nya sekarang.


" Mam jangan gitu dong" cahaya jadi ikutan sedih.


"Terserah itu kehidupan Lo, mami cuman bisa berdoa yang terbaik buat anak kesayangan mami" mami memeluk erat cahaya begitu juga cahaya membalasnya.


Baginya mami adalah penolong di saat dirinya susah dahulu.


" Dan juga gue tidak mau ganti rugi atas pembatalan kontrak kerja dengan tuan Abelardo, itu urusanmu jika ingin membatalkan bicarakan dengan tuan Abelardo"


••••••••••


Cahaya tengah berjalan di bawah gelapnya malam di temani dengan bunyi bunyi kendaraan di jalan raya.


Cahaya lebih memilih untuk jalan kaki dari pada naik angkot menurut nya jika jalan kaki dirinya merasa tenang.


" Bim! Bimmm!" Suara kelakson mobil menyadarkan lamunan cahaya, hampir saja mobil itu menabraknya.


Seorang pria keluar dari sana, ternyata itu tuan Zaidan.


" Kalau saya tau itu kamu, seharusnya saya tabrak saja sekalian"


"Setress"


Oh ya mumpung ada tuan Zaidan dan ada kesempatan bicara berdua lebih baik di gunakan sekarang saja, zaidan akan kembali ke mobilnya tapi di tahan cahaya.


" Jangan sentuh saya!!!"


" Hehehe maaf kelepasan" ucapnya tak enak.


"Tuan Zaidan,gue kan kemarin pas hari dimana lu khitbah gue nah tuh siangnya mami kasih kontrak kerja dari tuan Abelardo, isinya gue harus jadi selir dia ke 47 selama 5 tahun,jadi gue gak tau harus gimana bantuin ya ngomong sama dia" mohon cahaya.


"Maksud?"


" Ihhh gue itu udah tanda tangan kontraknya peak,kalau gue Dateng sendiri yang ada dia bunuh gue kan lu temennya bilang lah ke dia, ya ya ya"


"Kau semurah itu menjual dirimu ke Abelardo?"


Zaidan tak habis pikir kenapa wanita di depannya ini tidak takut dosa.


" Namanya juga cari idup"


" Apa isi perjanjian kontrak nya?" tanya Zaidan agar dia lebih mudah bicara dengan Abelardo.


Cahaya menggeleng tak tahu sambil memamerkan cengiran bodoh nya.


" Bagaimana kau bisa menandatangani sebuah perjanjian sah tanpa kau baca dasssar..." Geram Zaidan.


Cahaya malah cengengesan" gue buta huruf" lirihnya pelan

__ADS_1


"Banyak sekali kekurangan mu sampai kelebihan mu tak pernah saya lihat sama sekali"


Cahaya menunduk sedih,apakah dirinya se buruk itu?


Gus Zaidan pergi berlalu dari sana dengan mobil nya meninggalkan cahaya di tepi jalan tanpa ingin menawarkan tumpangan.


"Tcih, lelaki jaman sekarang emang pada setress, gue kan calon istrinya ya di tawari tumpangan kek, se kul kul nya lelaki belum pernah gue liat model yang begitu"


Dirinya benar benar harus ekstra sabar jika sudah menjadi istri Gus Zaidan, pasti akan mengalami tekanan batin setiap hari belum lagi omongan anak anak pesantren.


Cahaya duduk di kursi yang ada di tepi jalan dia sudah lelah berjalan dia ingin naik angkot saja.


Dari kejauhan ada yang mengawasinya itu Gus Zaidan.


Angkot berhenti di depan cahaya, dia langsung naik dan duduk di dalam.


Di rasa cahaya sudah masuk ke dalam, Gus Zaidan juga ikut masuk tapi dia duduk di dekat pintu menghadap jalanan supaya dirinya tak di lihat cahaya.


" Mas masih ada tempat duduk kosong di dalam masuk saja nanti masuk angin loh" peringat supir angkot.


Cahaya melirik pria itu, angkot yang di tumpangi nya gelap tak ada lampu hanya mengandalkan lampu lampu jalanan.


" Mas ayo masuk ke dalam jangan duduk di pintu, bahaya" omel cahaya ke Zaidan.


Zaidan hanya berdehem sebagai jawaban tapi tak kunjung menurut.


Zaidan merutuki dirinya kenapa harus mengikuti cahaya segala dia juga tak tahu dengan dirinya.


" Padahal dia setiap hari sudah biasa seperti ini" gumam Zaidan merutuki kebodohan nya.


" Setelah angkot nya berhenti saya akan pulang" monolog nya.


" Dah sampai neng"cahaya turun duluan memberikan uang.


Zaidan juga ikut turun Dan mengikuti cahaya dari belakang,janjinya mau langsung pulang tapi masih ngekor cahaya◉⁠‿⁠◉.


" Bagaimana bisa dia jalan kaki melewati jalan gelap ini setiap malam" heran Zaidan, menurut nya cahaya adalah wanita yang berani.


Cahaya berhenti di tempat nasi goreng biasa dia beli " mang nasinya 4 bungkus"


" Siap nengg"


Gus Zaidan menunggu cahaya membeli makanan dengan bersembunyi di balik pohon rindang.


"Hemm dasar monyet ....."


Sebenarnya dari tadi cahaya sudah tahu ada yang mengikuti nya sejak turun dari angkot, cahaya melihat sekilas Zaidan yang tengah mengambil uang untuk bayar angkot.


Cahaya memilih untuk pura pura tidak tahu saja,biarkan monyet itu bahagia.


Zaidan mengikuti cahaya sampai ke rumah nya dengan jalan kaki.


Di bawah sinar rembulan malam ini kedua insan itu berjalan berjauh jauh an,pria yang di sangka cahaya tak perhatian ternyata lebih dari perhatian,dia tetap menjaga cahaya dengan cara tidak berdekatan. Cahaya jadi teringat perkataan Gus Zaidan terhdap nya.


"Astagfirullah,kamu bukan mahram saya, jauhi saya nanti kita dosa"


Cahaya terkekeh kala mengingat pertemuan kedua mereka.apa Gus Zaidan mengantar nya pulang diam diam karena takut dosa, pikir cahaya


"Tidak perlu mobil mewah cukup jalan kaki seperti ini sudah buat aku bahagia" gumam cahaya tersenyum.


Cahaya ingin sekali berbalik dan mengatai Gus Zaidan manusia gengsi tapi dia tahan nanti dia malu.


" Dia kuat sekali bisa jalan kaki sejauh ini"  Zaidan benar benar kelelahan menemani calon istrinya pulang.


Zaidan bisa melihat kedua adik laki laki cahaya menyambut kakaknya pulang dengan senyuman mereka.


Di kejauhan dia hanya tersenyum samar melihat itu kemudian berlalu dari sana karena di rasa gadisnya sudah pulang dengan selamat.


" Terimakasih" lirih cahaya tersenyum memandang punggung Zaidan mulai menjauh.


🦚

__ADS_1


__ADS_2