
Angin menjadi semakin dingin, banyak berlian di atas sana yang berkerlap-kerlip. Seolah mengatakan bahwa, besok adalah hari baru yang akan Rachel jalani dengan senyuman penuh kebahagiaan setelah ia terlelap tidur.
Namun, sepertinya wanita cantik ini masih ingin menikmati suasana sepi yang menenangkan. Dia berada di balkon kamar, lantai dua.
Rachel tersenyum tipis, seolah menyambut angin dingin yang menerpa wajahnya. Dia meperhatikan purnama yang bersinar terang, menembus kedalam dinding kaca kamar.
Kini senyum manisnya semakin melebar. Wajah mulus dan polos tanpa make-up-nya, sepertinya dapat memikat siapa pun yang memandang.
Rambut panjang yang hitam legam menari mengikuti arus. "Waaaaah, aku sangat senang sekarang! Anginnya semakin dingin semakin menyegarkan," teriaknya tanpa sadar kalau sekarang sudah tengah malam.
"upssss," Rachel menutup mulut dengan tangannya dan tertawa kecil.
"Aku sangat suka dan bahagia di sini, terima kasih," Rachel mendongak-mengucapkan rasa syukur sambil memeluk dirinya.
Sekarang dia berada di high vibration. (intinya dia merasa senang). "Sepertinya ini waktu yang pas untuk bermeditasi," Dia mengambil matras pink dusty, menghempaskannya, memutar alunan "Ra ma da sa," memperbaiki duduknya, dan mulai bermeditasi.
*
*
*
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 08:00 am, Rachel membuka matanya, menggeliat, "Astagfirullah! Salat subuh, Rachel!" teriak Rachel kaget, sontak berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Sudah dua kali aku sholat subuh di pagi hari," gumamnya merasa bersalah.
Akhir-akhir ini dia mencoba untuk menjadi perfeksionis, semuanya harus sesuai dengan rencananya. Setelah mandi dan bersiap kemudian berangkat ke salah satu dari dua tokonya.
"Hai… sudah lama menunggu Lisa?" Sapa Rachel kepada salah satu pegawainya yang terlihat sudah duduk menunggu di kursi panjang depan toko.
"Tidak juga Kak. aku baru sampai tadi bersama Dila, dia pergi untuk membeli kopi sebentar Kak," balas Lisa dengan senyuman khasnya yang menunjukkan kedua lesung pipinya, terlihat sangat manis.
Rachel hanya balik tersenyum, meletakkan tas, dan mengeluarkan laptop untuk melanjutkan tulisannya. Dia sangat gila kerja, menjadi ibu kost, pemilik toko baju, dan novelis yang sedang merintis.
Ambisinya untuk menjadi novelis begitu menggebu-gebu setelah membaca tuntas semua buku series Tereliye. Dan setelah tahu pendapatan seorang penulis bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta. Apalagi jika tulisan itu dilirik oleh sutradara. Jiwa Rachel bergelora mengetahui itu.
Saat sudah merasa cukup dengan toko yang ini, Rachel segera bergegas untuk mengurus toko keduanya seperti memeriksa barang jualan dan transaksi jual beli.
Rachel mempercayai keempat karyawannya. Dia cukup mengawasi mereka dari CCTV yang sudah tersambung di ponselnya. Tadi pagi saat jam toko dibuka salah satu karyawannya singgah untuk mengambil kunci toko tempatnya bekerja.
*
*
__ADS_1
*
Dan saat malam tepatnya jam 10:00 pm, waktunya untuk menutup toko. "Kalian semua sudah bekerja keras hari ini, terimakasih semuanya. Kalian pasti kelelahan," ujar Rachel yang tampak sedikit kelelahan dengan rambut yang berantakan, meskipun begitu dia masih terlihat cantik.
"Hari ini, pelanggan kita lumayan banyak Kak," ucap Dina-salah satu karyawan antusias.
"Iya. Kakiku sampai gemetar berdiri seharian melayani para customer," timpal Lisa dengan nada bercanda.
"Ayo, cepat pulang! aku ingin buru-buru mandi," keluh Lili dengan mengerucutkan bibirnya. Wajah imutnya sangat cocok dengan jaket dan topi merah mudanya. Dia adalah gadis yang tidak bisa kalau ada bau busuk sedikitpun yang keluar dari tubuhnya.
"Sabar. Dasar cengeng, kita semua sedang menjalankan ritual perpisahan!" Alis menarik topi yang Lili pakai dengan cepat, dengan nada membentak, tapi sebenarnya dia sedang bercanda.
Diantara empat karyawan Rachel, Alis-lah yang paling mudah terpancing emosi, dan jahil. Namun, meskipun begitu sebenarnya Alis adalah gadis baik, dia hanya sedikit bersemangat.
Lili membalikkan badan ke arah Alis seraya menatap tajam-ingin menunjukkan bahwa dia sedang marah. Akan tetapi, ekspresinya malah terlihat semakin lucu.
Lisa merangkul Lili dengan senyum yang terukir di wajahnya, seolah terbiasa dengan keluhan Lili.
__ADS_1
Mereka berlima saling memeluk dan memberikan kalimat-kalimat membangun agar tetap semangat bekerja besok harinya.
Itu adalah ritual yang dimaksud Alis tadi. Rachel sedang mencoba membangun hubungan yang positif dengan para karyawannya.