Janda Manis

Janda Manis
Ketahuan


__ADS_3

"Aaaargh!" Teriak Rachel yang merasa kesal, karena merasa paginya dirusak dengan datangnya tamu bulanan. "Spreiku yang berharga, padahal baru kemarin aku menggantinya,"


"Mbak Rachal? Kenapa mba?" Bi Wati mengetuk pintu kamar Rachel, dia terdengar khawatir dari balik pintu kamar.


"Tanggal merah, Bi Wati, tolong berikan kunci toko ke Lisa, ya? Sebentar lagi dia datang, hari ini aku tidak ke toko,"


"Iya, Mbak Rachel."


Devan yang semalaman di bawah kasur Rachel, sontak kaget mendengar teriakan keras itu. Kepalanya terbentur bagian kayu ranjang sehingga terdengar bunyi. Rachel yang menyadarinya terdiam, omelannya terhenti dengan rasa penasaran.


"Apa itu? Tikus? Kucing?" Rachel yang masih memakai daster, mencoba berlutut menunduk kebawah ranjang. "Maling!" Matanya melotot kali ini dia tidak berteriak "Keluar sekarang atau aku akan melaporkanmu ke polisi?" Rachel mengancam dengan nada tenang menyembunyikan emosinya yang hampir meledak.

__ADS_1


Devan tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menurut, tidak mungkin dia akan memukul dan membuat Rachel pingsan sehingga dia bisa melarikan diri dengan mudah. Rachel melipat tangannya, wajah kesalnya yang menakutkan membuat Devan tertunduk merasa bersalah.


"Sejak kapan kamu di bawah kasurku?"


"Sejak tadi malam, saat kamu terbangun dari sofa, rencananya aku ingin keluar setelah kamu tertidur, tetapi ternyata aku ikut ketiduran," Devan menjelaskan dengan nada rendah, masih tertunduk.


"Siapa kamu? Aku belum pernah melihatmu di daerah sini," Rachel bertanya tegas.


"Kamu salah sasaran jika berpikir aku menyimpan harta berharga di sini. Tidak mungkin kamu cuma sendiri, dimana temanmu? Kamu pikir dengan aku seorang perempuan maka aku tidak bisa melawan mu?" Rachel terus bertanya mengambil langkah satu demi satu membuat Devan terus melangkah mundur hingga terpojok di dinding.


"Badanmu besar dan tinggi, tetapi penakut dari yang kukira, jangan bilang kekuatanmu juga lemah. Tunggu apa maksudku? Tidak! tentu saja kamu takut, ini rumahku!" Bentak Rachel yang begitu kesal.

__ADS_1


"Bukan itu yang membuat ku takut, coba lihat pakaian mu. Aku takut tidak dapat menahan diri." Devan menatap mata Rachel sedetik kemudian kembali menunduk.


Rachel terdiam, dia lupa kalau masih memakai daster tembus pandang itu. Dia terdiam selama lima detik "Tutup matamu! Berbalik ke tembok!" Perintah Rachel setelah memproses perkataan berbahaya Devan.


Segera Rachel menyambar sweater oversize di belakang pintu kamar lalu masuk ke toilet dan mengunci pintunya. "Pagiku yang harusnya cerah kenapa begitu suram?" Keluh Rachel di depan kaca setelah memakai sweater.


Dia membasahi wajahnya, berusaha menjernihkan pikirannya. Lalu kemudian keluar dari toilet. "Apa yang harus kulakukan padamu?"


"Apapun, asal jangan bawa aku ke polisi kumohon," pinta Devan dengan wajah memelas minta dikasihani. "Jadikan aku pembantu? Sopir? Kamu bisa menyuruhku apa saja. Apapun, aku bisa diandalkan, kumohon," lanjutnya.


"Kamu bodoh atau bagaimana? Mana mungkin aku percaya pada maling yang mencoba mencuri di rumahku," Rachel menghembuskan nafas panjang berusaha tenang. Kemudian suasana senyap Rachel berusaha berpikir. Devan masih menunduk belum berani melihat Rachel.

__ADS_1


"Mba Rachel? Mau saya siapkan masakan apa? Saya mau ke pasar beli bahan," tiba-tiba Bi Wati mengetuk pintu kamar, belum sadar bahwa Rachel tidak sendiri di kamar.


"Mau sup dan telur dadar gulung Bi," teriak Rachel dari balik pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tau Bi Wati orang yang gampang panik. Jika tau ada maling di rumah, Bi Wati akan terus bertanya sementara Rachel terlalu malas untuk menjelaskan.


__ADS_2