
"Ada orang di sofa!" seru Daniel, dengan suara pelan.
"Sepertinya dia tertidur, hati-hati!" lanjutnya setelah sedikit mengintip di sofa.
"Dia pasti Rachel, aku ingin melihat wajah aslinya, pasti lebih cantik daripada di foto," harap Devan seraya mendekati sofa, dia begitu penasaran dengan Rachel.
"Wah, pemandangan indah ini," ucap Devan terpesona dengan bentuk tubuh Rachel.
"Tidak! Jangan ke sini, haram!" Kata Devan, kepada mereka berempat yang sudah mengambil ancang-ancang mendekati sofa.
Namun Avan yang penasaran kini sudah terlanjur melihat Rachel yang tertidur pulas. disusul Denies, dan Daniel, yang kini ikut terpesona.
Daster Rachel yang tipis, dengan bentuk tubuh yang sempurna serta kulit yang mulus membuat keempat pria dewasa itu, tidak dapat berpaling dan sesekali menelan ludah. Hasrat mereka membara.
"Jangan sampai misi pencurian kita tidak berkah karena ulahmu," celetuk Wonu, kepada Avan yang menahan liur dengan mata yang masih terfokus pada tubuh Rachel.
Namun sepertinya dia terlalu fokus sampai tidak merespon perkataan Wonu.
"Wanita ini merawat tubuhnya dengan baik," kata Daniel, yang sedari tadi kagum dengan pemandangan itu.
"Astagfirullah! Kalian harus sadar, jangan biarkan nafsu mengendalikan kalian!" tegur Wonu lagi, dia begitu menghargai wanita. Anak lulusan pesantren yang mampu mengendalikan emosi dan nafsunya itu menarik tangan Denies, dan Daniel.
Avan yang sedari tadi berlutut di dekat sofa, segera berdiri berusaha mengendalikan hawa nafsunya. "Ini sangat berbahaya, ayo cepat selesaikan lalu keluar!" perintah Avan, mengarah ke salah satu pintu.
"Di denah tidak menjelaskan yang mana kamar Rachel, jadi aku akan coba membuka yang kiri, dan Wonu, kau buka yang kanan," jelas Avan berusaha fokus.
"Oh, ini sepertinya tempat Rachel menari," kata Avan, setelah membuka pintu di sebelah kiri mengangguk-angguk seolah sudah tahu bahwa Rachel sangat suka menari.
__ADS_1
Ruangan 6×4 yang di sekelilingnya dipenuhi dengan cermin setinggi dua setengah meter. Dilengkapi dengan speaker serta televisi 50 inch, dan lampu panjang yang berwarna biru di setiap sudut atas yang juga terdapat pendingin ruangan di dalamnya.
"Kamarnya di sini," panggil Wonu setelah membuka pintu di sebelah kanan.
"Devan, kamu di luar saja ya? untuk berjaga-jaga," Avan memasuki kamar Rachel terlebih dahulu.
"Kamu pasti kedinginan ya? Bajumu tipis sekali," decak Devan celingak-celinguk mencari apa saja untuk bisa menutupi badan Rachel.
Sebuah handuk merah muda, tergeletak di lantai dekat televisi segera diambil oleh Devan lalu kemudian menutupi pemandangan indah itu.
Di sisi lain keempat teman Devan mulai berhamburan di kamar, untuk mencari barang berharga milik Rachel.
"Banyak sekali bukunya, dia pasti sangat pintar," celetuk Wonu sibuk dengan buku-buku yang menarik perhatiannya.
"Di sini make-up" Daniel membuka satu demi satu laci meja rias di samping ranjang.
"Make-up lagi," membuka laci meja tengah
"Bukan bodoh! Itu skin care," Denies yang sedari tadi gemas memukul pundak adiknya, melihat Daniel yang berulang kali membuka tutup laci yang tersusun lima tingkat itu.
"Dimana dia menyimpan perhiasannya?" Gerutu Avan yang mulai kesal.
"Kalian, ayo kesini, aku menemukan sesuatu," panggil Wonu yang sudah memegang kotak hitam terbalut kain bludru.
"Ayo cepat buka," kata Avan yang bergegas menghampiri Wonu.
Kilauan satu set emas murni 24 karat, 80 gram. Di sertai lipatan surat tersusun rapi di dalam kotak. Mereka berempat serentak menganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
"Ini sudah cukup untuk kita berlima, ayo pulang, sebentar lagi waktu kita habis," ajak Wonu kepada teman-temannya yang masih menganga belum tersadar.
Lalu kemudian Wonu menepuk dada Avan, untuk menyadarkan. "Aku tidak percaya kita benar-benar mencuri," kata Avan lalu melirik Denies.
"Ini idemu, tolol!" Ketus Denis.
"Taruh kotak itu di tas ku," lanjut Denies lalu menyodorkan tas kearah Wonu.
*
*
*
"Dia manis sekali, jika kusentuh apakah dia akan bangun? Tidak! Tahan saja, kenapa imanku rapuh sekali?" Devan mematung berbicara kepada diri sendiri.
"Devan, kamu mau tinggal di situ? Ayo cepat!" Panggil Avan yang kini tergesa-gesa menuruni anak tangga.
Devan pun mulai menuju ke tangga namun, pandangannya masih tertuju pada wanita itu. Tanpa sadar kakinya menendang sebuah toples kaca berisikan snack kesukaan Rachel.
Toples itu jatuh tergelinding ke tangga, menghasilkan suara yang lumayan keras, tetapi untungnya tidak pecah.
"Si bodoh itu!" Avan yang pasrah mendahulukan Denies, Daniel, dan Wonu yang sudah panik untuk menuruni tangga.
Rachel tiba-tiba terbangun tanpa sadar adanya pencuri di rumahnya.
Karena panik tidak terkontrol, bukannya ikut teman-temannya, Devan malah masuk ke kamar dan sembunyi di bawah kolom ranjang Rachel.
__ADS_1
"Aku tertidur di sofa lagi," gumam Rachel kemudian berdiri untuk mematikan televisi lalu masuk dan mengunci kamarnya. Setelah itu merebahkan tubuhnya ke kasur, dia terlalu mengantuk untuk menyadari ada pria di bawah tempat tidurnya.