Janda Manis

Janda Manis
Amnesia sementara


__ADS_3

*


*


*


Rachel sampai di istananya (rumahnya) disambut oleh Bibi Wati yang sudah mengabdi selama dua tahun, dia sudah paham betul sifat dan kelakuan Rachel sangat berbeda saat Rachel bekerja dan saat Rachel di rumah.


Saat bekerja, Rachel, akan sangat fokus. Dia adalah wanita dewasa yang multitasking, seolah semua pekerjaan bisa diselesaikan-nya dalam satu waktu.


Tapi saat sudah di istananya Rachel berubah 180 derajat. Kelakuannya seperti bocil yang masih labil, suka bicara sendiri, menari, tiba-tiba berteriak, loncat-loncat di sofa, kadang juga pura-pura kesurupan untuk menakuti Bi Wati. Entah kenapa dia sangat puas saat melakukan itu.


Apalagi saat hujan, dia akan berlarian berteriak "Hujaaaaaaan!" mengelilingi rumah lalu keluar untuk bermain hujan, tidak jarang juga dia mengelilingi halaman rumah tanpa alas kaki. Kalo kata Bibi, "dia wanita aneh yang independen."


*


*


*


"Ayo makan dulu Mba Rachel, ada seafood sama kangkung kesukaan kamu," ajak Bi Wati.


"Wah, pasti enak banget tuh, terima kasih Bibi. Akan ku makan di depan tv nanti setelah mandi," balas Rachel, tersenyum.


"Kalau begitu saya hangatkan dulu ya,"

__ADS_1


"Oke Bibi."


Setelah mandi, Rachel, makan dengan lahap seafood yang dimasak Bi Wati, di depan tv seraya menonton K-drama di netflix. Seafood segar yang diberi bumbu pedas dan sayur kangkung sebagai pelengkap adalah kesukaan Rachel, sedari dulu.


Karena kekenyangan, tidak terasa dia terlelap begitu saja di depan tv yang masih menyala, dengan posisi terlentang di sofa.


*


*


*


"Kita harus menyelesaikan misi ini sebelum subuh," ucap Avan, serius dengan meletakkan kertas bergambar denah rumah diatas meja.


Itu adalah gambar denah rumah milik Rachel. Ya! Avan dan keempat temannya sedang merencanakan pencurian di rumah Rachel.


Avan adalah otak dari pencurian itu. Dia mahasiswa tingkat akhir dan pekerja paruh waktu di sebuah kafe dekat universitasnya. Karena butuh dana lebih untuk keperluan mendesak, dia menjadi nekat mencuri untuk mengambil resiko itu.


Sama seperti Avan. Denies dan Daniel si anak kembar, juga butuh uang lebih untuk biaya operasi Ayah mereka di rumah sakit.


Sementara Wonu ikut karena dipaksa oleh mereka bertiga. Avan, Denies, Daniel, dan Wonu, mereka berempat kuliah di universitas yang sama. Jurusan yang sama yaitu kedokteran, dan tinggal di kos yang sama.


Sementara itu Devan. Adalah orang asing, korban kecelakaan yang Wonu temui, di sore hari sepulangnya dari berlatih basket. Saat ini Devan mengalami transiet global amnesia atau amnesia sementara, itu yang dikatakan wonu.


*Flashback on

__ADS_1


Debu-debu halus tidak terlihat sedikit-pun. Wonu tersenyum, bersepeda seraya menikmati udara segar sesudah hujan. Matahari yang kini sudah di sebelah barat, sinarnya berwarna jingga kemerahan. Serta kumandang adzan itu tedengar sayup-sayup.


Wonu, yang pulang menuju ke kos dengan sepedanya, tiba-tiba melihat sebuah mobil mengeluarkan asap hitam. Menabrak sebuah pohon besar, di pinggir jalan. Dengan cepat Wonu, memeriksa mobil itu dan ternyata ada seorang pria yang sudah tidak sadarkan diri.


Kemeja putih yang pria itu pakai, dipenuhi bercak merah akibat luka di bagian alis kanan dan darah yang keluar dari hidungnya. Tanpa berfikir panjang, Wonu menelfon Daniel, lalu mengeluarkan pria itu dari mobil, kemudian dengan sigap memberi pertolongan pertama kepada pria tersebut.


"Kenapa tidak ada satupun orang yang lewat?" celetuk Wonu, saat memeriksa detak jantung korban.


Dari kejauhan terlihat tiga orang tengah lari ngos-ngosan ke arah Wonu.


"Apakah dia masih hidup?" tanya Daniel dengan nafas yang terengah-engah dengan wajah panik.


"Dia masih hidup, ayo bawa ke kos!" Jawab Wonu, sembari memeriksa apakah masih ada luka lain di tubuh korban.


"Ke rumah sakit saja, bodoh!" timpal Denies dengan nada sedikit tinggi.


"Memangnya kamu punya uang untuk membayar biaya rumah sakitnya?" ujar Avan.


"Periksa dompetnya" lanjut Daniel.


Wonu memeriksa kantong celana, jas, bahkan masuk kedalam mobil, tapi nihil. Dia tidak menemukan dompet atau bahkan tanda pengenal si korban.


"Bagaimana sekarang?" tanya Daniel


"Kos!" sahut Wonu.

__ADS_1


Si korban digendong di punggung Wonu dibantu oleh, Danies dan Daniel, sementara Avan yang membawa sepeda Wonu, mengikut dari belakang. Mobilnya mereka tinggal begitu saja, tetapi tetap mengambil kuncinya.


*Flashback off


__ADS_2