
Jam menunjukkan pukul 01.30 tepat tengah malam, suara jarum jam pun terdengar jelas detik demi detik. Cahaya lampu otomatis meredup setelah pukul 12.00.
Rachel kini terlelap tidur di atas sofa depan televisi, dia mengenakan daster berwarna putih yang tipis sehingga bagian tubuhnya terlihat samar-samar. Sepertinya, Bi Wati, tidak tahu kalau Rachel tidak tidur di kamarnya.
*
*
*
Kelima orang maling amatir itu, sudah berada di depan gerbang rumah Rachel, untuk menjalankan misi mencuri barang berharga milik Rachel.
"Ayo, mari berkumpul dulu, kita akan berdoa untuk kelancaran misi ini," celetuk Devan, dengan mimik wajah yang serius.
"Baru kali ini ada maling yang berdoa dulu sebelum mencuri," sahut Daniel, cekikikan.
"Ya Allah, lancarkanlah urusan kami malam ini, amin," imbuh Wonu, seraya mengangkat kedua tangannya berdoa.
"Ya Allah, aku mohon jangan biarkan kedua orang bodoh ini menggagalkan rencana yang sudah kususun rapi," sindir Avan, kepada Wonu dan Daniel, agar tidak melakukan kesalahan.
Sementara Denies yang tidak banyak bicara, jalan duluan, perlahan melangkah ke arah halaman belakang. "Pekerjaan akan lama selesai jika banyak bicara," gerutu Denies, berusaha mengecilkan suaranya.
Terdapat tembok putih setinggi dua meter. Dibuat untuk melindungi halaman belakang Rachel, yang terdapat kolam renang dan kolam ikan miliknya.
__ADS_1
"Apa rencanamu tentang tembok ini, Avan?" tanya Denies, melirik Avan.
"Devan," balasnya singkat.
"Ha? aku?" sahut Devan, dengan mimik wajah panik.
"Oh, aku mengerti, karena Devan yang paling tinggi di antara kita. Pasti loncatannya juga tinggi, iya kan?" celetuk Daniel, tanpa sadar dengan suara keras.
"Berapa usiamu sekarang? kenapa masih bodoh juga?" tegur Avan, menahan emosi.
"Maaf, aku terlalu bersemangat," ungkap Daniel, tunduk merasa bersalah.
"Minggir dulu, aku akan coba melompat," Devan bersiap untuk melompat.
"Apalagi astaga, kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat di sini," sungut Avan, yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah.
"Devan, baru saja sembuh dan otaknya belum berfungsi dengan baik. Apa yang akan terjadi jika dia terjatuh? bisa jadi ingatannya tidak akan kembali," lanjut Wonu, yang khawatir dengan keadaan Devan.
"Biar aku saja," sahut Denies, mengajukan dirinya.
"Tidak, aku akan baik-baik saja. Biarkan aku yang melompat dulu, kemudian akan membantu kalian dari dalam," balas Devan, yakin dengan keputusan itu.
"Go ahead!" Avan mempersilahkan.
__ADS_1
Devan berhasil melompat, lalu membantu teman-temannya.
Mereka berhasil masuk ke rumah Rachel, melalui pintu kayu yang tembus ke dapur.
Tujuan utamanya adalah perhiasan seperti emas dan berlian, yang pasti berada di kamar Rachel.
"Kamarnya di lantai dua, ayo naik ke atas," bisik Avan, sembari memperhatikan kanan dan kiri.
Mereka berlima berjalan mengendap-endap. Denies dan Daniel, memeriksa setiap sudut ruang tamu. Berbeda dengan Devan dan Wonu, mereka sibuk memperhatikan foto-foto Rachel bersama keluarga dan temannya, yang tersusun rapi di rak khusus.
"Siapa namanya? Rachel, ya? Masya Allah cantik sekali," ucap Devan, matanya berbinar-binar kagum dengan kecantikan Rachel.
Wonu hanya mengangguk setuju dengan Devan.
"Kalian sedang apa? ayo, cepat!" Avan memanggil mereka berempat, dia sudah berada di tangga bersiap untuk naik ke lantai dua.
Devan, Wonu, Denies, dan Daniel, sontak bergegas menaiki tangga.
"Ada dua pintu di sini, kira-kira yang mana pintu kamar Rachel?" kata Avan, yang pertama sampai di ujung tangga.
"Tunggu! Di sofa ada orang!"
(Bersambung)
__ADS_1