
Tiupan angin sepoi sepoi melambai lambaikan Hijab Panjang dari seorang gadis berbaju gamis, tubuhnya terlihat tinggi semampai, wajahnya berseri seri, berjalan diantara tangkai tangkai Mawar Merah dan Unggu yang ada disisi kiri dan kanan jalan menuju pintu rumah sederhana tapi tetap artistik.
Mengetuk pintu dan kemudian membukanya tanpa menunggu jawaban dari tuan rumah.
"Ayah, Kia Pulang, Kia rindu Ayah ".
Yah..., Gadis itu ARETHA ZAYBA RIZKIA, yang dulu identik dengan rambut cepak, t-shirt, dan rok dibawah lutut berwarna biru, tapi kini tampil dewasa dan berhijab .
Kia mencium tangan Ayah dan Ibunya, lalu lama mereka berpelukan hangat, menangis meluapkan kerinduan
"Alhamdulillah nak, kamu sudah bertambah tinggi dan cantik aja, Ibu senang Kia anak Ibu akhirnya pulang juga ya".
Adawiyah tidak dapat menahan tangisnya karena akhirnya Kia pulang juga ke rumah ini setelah sekian lama. Mengingat Kia dengan keras hati tidak ingin pulang setelah dia menamatkan pelajarannya di pesantren xxx Kota T, Kia lalu melanjutkan jenjang pendidikan S1 nya disana.
Itu karena Kia merasa diusir keluar dari keluarganya saat Ahmad memaksa Kia untuk masuk pesantren di Kota T.
__ADS_1
Dari Ayah.
Ahmad berusaha lupa akan kejadian itu tapi tetap aja terlintas dalam benaknya jika melihat wajah Kia, Ahmad tidak habis pikir kenapa putri kecilnya, putri kesayangan semua keluarganya, rela dipeluk oleh lelaki yang tidak dikenalnya sama sekali, dan Ahmad sangat yakin lelaki itu akan melakukan lebih seandainya dia tidak ada disitu, menelpon menyuruh Kia putri kecilnya segera pulang. Ahmad jelas mendengar desahan bejat pria itu, ya sepertinya pria itu menuntaskan sesuatu yang tertunda sebelum akhirnya keluar dan bertemu dengannya, Putri kecilnya masih terlalu polos untuk tahu tentang itu, dan Ahmad ngak mungkin menjelaskan pada keluarganya, semoga Pesantren bisa memberikan manfaat bagi putri kecilnya.
Untuk Kia.
Dia lupa wajah Pria itu, dia juga emang tidak tahu siapa pria itu, tapi Tamparan Ayah, Tangisan Ibu dan Ezzah kakaknya, dihari dimana mereka tiba dirumah ini.
Masih membayang dalam ingatannya, yah Kia ingat, Kia sangat ingat.
Ayah yang berkeinginan memasukan Kia pesantren Ayah ingin menghilangkan sifat Labil dan Binalnya Kia.
Mendengar semua itu Kia sangat marah tidak terima dianggap Labil dan Binal. Tidak terima harus jauh dari keluarga, Kia benci Ayah yang tidak percaya kepadanya. Kia benci diri sendiri penyebab semua itu.
Tolong percaya Kia, emang Kia sering bolos dan sering bohong tapi tidak untuk mengoda atau merayu, itu salah, Kia ngak harus berubah, ngak harus masuk pesantren, ngak harus jauh dari keluarga ini.
__ADS_1
Kia tahu salah Kia dimana Hisk ... hisk ..... (inilah kata kata yang berulang dimalam malam Kia berada sendirian di pesantren itu.
Hari hari telah berlalu, tahun tahunpun tlah berganti, Jarak dan waktu mendewasakan diri, tidak perlu lagi semua kata maaf, Keluarga adalah segalanya.
"Kak, besok masakin botot telur gulung buat Kia ya".
"Kok kak sih?, masak sendiri dong sayang udah besar ini manja ih...
"Buatan kak Ezzah the Best".
Kia mengacungkan jempol.
"Bisa ya kamu ngerayu Ezzah sayang", Ibu datang menghampiri keduanya yang sedang bercengkrama sambil nonton di ruang tv, Kak Ezzah banyak pesanan bunga loh". Sekarang Ayah, Ibu dibantu Ezzah mengelola usaha tanaman hias serta Karangan Bunga segar yang di order ke Perusahaan dan Hotel.
"Besok Kia harus datang awal ke kantor Bu, pergantian Direktur, Direktur yang lama digantikan oleh anaknya karena sudah tua Ibu, jadi mungkin Kia ngak sempat makan pagi bareng bu".
__ADS_1
Kia bekerja di Perusahaan Kontraktor sebagai Humas saat ini.