JEJAK LUKA

JEJAK LUKA
10. Jejak Luka 3.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Acel mengangguk mengerti maksud kakaknya, karena itu yang sering dikatakan Ayah mereka, tidak boleh merusak tempat kejadian jika terjadi kejahatan.


"Apa kamarmu ngga diacak-acak?" Tanya Nestri sambil mengajak Acel menjauh dari kamar Enni.


"Ngga ko', Mba. Semuanya biasa saja, seperti tadi pagi. Kamar Mba Nes, gimana?" Tanya Acel yang baru teringat kamar kakaknya, Nestri.


"Mba belum lihat. Mari, kita periksa. Hati-hati, jangan sampai ada yang sembunyi di rumah kita." Bisik Nestri pelan, membuat Acel ke belakang untuk ambil sapu dan pisau dapur.


Ketika melihat kamarnya baik-baik saja, Nestri jadi panik dan bingung. Dia berjalan cepat ke dapur diikuti Acel di belakangnya. Nestri segera membuka pintu kamar mandi dengan sentakan, keras. Dia khawatir ada yang sembunyi di dalam kamar mandi.


^^^Kamar mandinya tidak terlalu besar. Jadi saat pintu terbuka, mereka bisa melihat semua isi kamar mandi. Jika ada yang bersembunyi dalam kamar mandi akan terlihat dengan jelas.^^^


Namun Nestri terkejut melihat seprei tempat tidur Enni ada dalam ember dan berjuntai ke lantai. Dia mengambil sapu di tangan Acel, lalu mengangkat seprei dari dalam ember dengan pegangan sapu. Dia curiga terjadi sesuatu dengan adiknya, karena Enni adalah gadis yang rapi dan bersih. Dia sangat tidak suka berantakan, apa lagi meletakan barang-barangnya begitu saja.


Ketika melihat ada percikan darah di seprei Enni, Nestri terduduk di lantai. Dia jadi takut akan keselamatan adiknya. "Acel, cepat ke sini." Nestri menutup pintu kamar mandi lalu menarik tangan Acel untuk mengikutinya ke ruang tamu.


"Ini, ke warnet untuk telpon Ayah. Minta segera ke sini. Bilang Ayah, Mba Enni alami kecelakaan." Nestri memberikan uang dan nomor telpon kantor Ayah mereka.


Acel mengambil yang diberikan kakaknya dengan wajah panik. Tanpa diminta lagi, dia berlari keluar secepatnya ke warnet yang ada di komplek perumahan mereka. Dia pun jadi takut terjadi sesuatu dengan kakaknya.


Setelah ditinggal Acel, Nestri sangat gelisah. Dia menunggu suami dan Ayahnya dengan rasa khawatir yang terus meningkat, karena Enni belum juga pulang ke rumah.


Tidak lama kemudian, Acel berlari kembali masuk ke rumah. "Mba, nanti Ayah datang." Ucap Acel dengan nafas tersengal-sengal. Matanya mulai berkaca-kaca, saat melihat kakaknya yang sedih dan meneteskan air mata.


Acel segera ke dapur, saat melihat kondisi kakaknya. "Mba, minum ini dulu." Acel memberikan segelas air, karena melihat bibir kakaknya kering dan bergetar.

__ADS_1


"Makasih, Dek. Kita berdoa, semoga Mba Enni ngga papa." Nestri mulai takut memikirkan kondisi adiknya, karena percikan darah yang dilihatnya.


Mendengar bunyi suara motor berhenti di depan rumah, Acel berdiri lalu melihat keluar. Ketika melihat Ayahnya yang datang, dia berlari dan memeluk Ayahnya yang baru turun dari motor.


"Ayaaah..." Selain takut dengan kondisi kakaknya, dia juga merindukan Ayahnya.


"Apa yang terjadi dengan kakakmu?" Tanya Pak Belino sambil memeluk Acel. Pelukan Acel menyadarkan perasaan dan sarafnya sebagai seorang Ayah.


"Ayah lihat saja sendiri." Acel melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan Ayahnya untuk masuk ke dalam rumah.


Tiba dalam rumah, Pak Belino melihat Nestri sedang duduk diam dengan air mata mengalir di pipi. "Ada apa dengan adikmu?" Tanya Pak Belino, menyadarkan Nestri.


"Kami tidak tau, Yah. Tapi ini yang ada di kamar Enni..." Nestri menjelaskan semua kepada Ayahnya. Pak Belino memeriksa semua yang dikatakan Nestri dan Acel tanpa menyentuh apa pun.


"Kalian tidak tau ada orang masuk ke rumah ini?" Pak Belino memeriksa pintu rumah dan yang lainnya.


"Kau bagaimana tinggal dengan adik-adikmu? Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya. Acel, masuk kamar." Pak Belino berkata tegas dan marah setelah melihat seprei di kamar mandi.


"Apa maksud Ayah? Aku tinggal dan mengurusi mereka dengan baik. Lalu Ayah sendiri kemana? Adik-adik masih tanggung jawab Ayah." Nestri jadi menatap marah kepada Ayahnya, sebab tidak terima disalahkan.


"Apa aku harus menjaga mereka 24 jam? Lalu siapa yang akan berikan mereka makan jika aku tidak bekerja? Semua ini terjadi, aku sedang bekerja." Nestri berkata dengan emosi sambil menangis.


^^^Dia menumpahkan semua rasa marah yang dipendam terhadap sikap Ayahnya selama ini. Meninggalkan mereka bertiga begitu saja, tanpa peduli dengan hidup mereka, karena seorang wanita.^^^


"Sekarang tanggung jawab Ayah mencari Enni." Nestri berkata dengan nada suara yang lebih tinggi.


"Bukan cuma Ayah. Semua harus cari secepatnya, sebelum terjadi sesuatu dengan adikmu. Jika bertemu dengan lelaki itu, aku akan memotong k***** (kata kasar tentang barang pribadi pria)." Ucap Pak Belino emosi dan marah.

__ADS_1


"Apa maksud Ayah? Ayah sudah tau, orangnya?" Nestri jadi berdiri, mendengar ucapan Ayahnya tentang laki-laki.


"Kau bodoh atau buta? Yang lakukan ini pada adikmu, pasti laki-laki. Dia mencuri kehormatan adikmu. Adikmu baru saja diperkosa dan semoga adikmu tidak dibawa." Pak Belino berkata dengan emosi, tapi pelan. Khawatir didengar oleh Acel yang ada di kamar.


"Diperkosa?" Nestri seperti orang linglung yang mulai merangkai semua yang dilihatnya di kamar Enni dan seprei Enni di kamar mandi.


"Astaghfirullah... En niiiii..." Jerit Nestri tertahan dengan kedua tangannya yang menutup mulutnya, sangat terkejut.


"Apa Enni sudah punya pacar?" Tanya Pak Belino sambil berjalan mondar mandir dan terus berpikir untuk mencari pria yang memper*kosa putrinya.


"Sepertinya, belum Ayah. Dia lagi konsentrasi belajar untuk tetap dapat beasiswa, jadi belum mau pacaran." Nestri menjelaskan pelan sambil berurai air mata, mengingat ucapan adiknya.


Pak Belino menarik nafas panjang mendengar penjelasan Nestri. Hatinya jadi sangat sedih bercampur kemarahan yang tidak bisa ditahan. "Jika bertemu lelaki bi*adap itu, aku akan menembak otak me*sumnya..." Ucapan kemarahan Pak Belino tertahan, sebab tiba-tiba Bargani sudah ada dalam rumah tanpa mereka sadari.


Bargani terkejut mendengar kemarahan Pak Belino. 'Apa Enni sudah cerita yang dilakukannya kepada keluarganya? Pikiran itu membuat Bargani sedikit tegang dan panik.


^^^Tadi dia berlari masuk rumah, tanpa memberi salam saat melihat motor Pak Belino di depan rumah. Dia  mematikan mesin motornya dari jauh dan dengan cepat masuk ke dalam rumah, ingin tahu.^^^


"Ada apa ini?" Tanya Bargani benar-benar panik dan berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat, jika benar Enni sudah melapor.


"Mas, Enni..." Nestri menceritakan lagi kejadian yang terjadi dengan Enni. Mendengar itu, Bargani sedikit lega. Dia jadi tahu, Enni belum cerita pada Ayah dan kakaknya.


"Ayah yakin, dia diper*kosa?" Tanya Bagani pura-pura, sambil berjalan masuk ke kamar Enni tanpa menunggu jawaban Pak Belino.


Ketika melihat kamar Enni lebih berantakan dari saat dia tinggalkan, Bargani mulai cemas. Dia mau angkat bantal dan guling di lantai, tapi ditahan, karena Nestri sedang bersamanya. "Lalu di mana Enni sekarang?" Tanya Bargani sambil melihat isi kamar. Dia kembali khawatir, jangan sampai Enni ke kantor polisi yang lain untuk melapor.


...~▪︎▪︎▪︎~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2