JEJAK LUKA

JEJAK LUKA
09. Jejak Luka 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Enni mengangguk pelan, karena saat ini dia memang tidak mau bertemu dengan keluarganya terutama Bargani. Karena jika bertemu dengannya, dia akan membunuhnya atau akan dibunuh olehnya.


Dia juga khawatir Bargani akan cari alasan menutupi apa yang dilakukan dan menyalahkan dirinya atas perbuatannya. Menyadari kelicikan Bargani, dia bisa salahkan dirinya atas kejadian yang terjadi di depan kakak dan adiknya.


Atau dia akan menyingkirkan kakak dan adiknya seperti ancamannya, agar bisa terus bisa lakukan hal kotor itu padanya. Memikirkan keselamatan kakak dan adiknya dan perbuatan kotor Bargani padanya lagi, Enni merinding dan takut.


^^^Jadi dia tidak mau bertemu dengan kakak dan adiknya, agar tidak menceritakan apa yang terjadi padanya. Karena jika dia bertemu dengan mereka, tidak mungkin mereka tidak akan tanyakan tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan tidak mungkin dia tidak menceritakan yang sebenarnya.^^^


^^^Enni menggelengkan kepala, membayangkan semua itu. Dia akan berhadapan dan dihakimi oleh dua pihak, keluarganya dan Bargani.^^^


^^^Saat ini Enni hanya ingin pergi jauh dan tidak mau bertemu keluarganya. Agar tidak terjadi sesuatu dengan keluarganya, temasuk Ayahnya.^^^


"Bukannya kau kuliah di sini? Apa kau tidak mau lanjutkan kuliahmu?" Tanya Lusina setelah melihat gelengan kepala Enni.


Enni tertegun saat dengar tentang kuliahnya yang sudah masuk tahun kedua. Suatu kondisi yang dia perjuangkan untuk masa depannya dan juga adiknya. Sehingga dia bisa terus dapat beasiswa sampai lulus. Air matanya kembali mengalir. "Iyaa. Tidak lanjutkan lagi." Ucap Enni pelan, putus asa.


^^^Enni berpikir, jika dia masih kuliah, sama saja kondisinya. Keluarganya atau Bargani akan menemukan dia di kampus. 'Jadi untuk apa bersembunyi, dimana pun jika akan ditemukan?' Enni membatin.^^^


^^^Bahkan dia mau mengakhiri hidupnya, jadi untuk apa lanjutkan kuliah. Semuanya berputar dalam pikirannya yang mulai pening dan sangat pusing.^^^


"Kalau memang itu yang kau inginkan, lebih baik kau ikut saja denganku. Kau bisa bersembunyi di tempatku, sambil memikirkan mau lakukan apa." Lusina berkata pelan, sambil berpikir apa yang akan dilakukan untuk Enni.


"Aku tidak bisa ke rumah orang tuamu." Enni berkata lagi untuk menguatkan apa yang pernah dia katakan sebelumnya. Dia merasa takut dan malu bertemu dengan orang tua Lusina dalam kondisi berantakan seperti ini.

__ADS_1


"Iya, aku mengerti. Kita ngga jadi ke rumah orang tuaku." Ucap Lusina cepat, agar Enni sedikit lebih tenang.


"Pak, kita kembali pulang ke tempat saya. Tidak usah ke tempat orang tua saya." Ucap Lusina, saat sopirnya sudah kembali ke mobil.


"Baik, Nona." Jawab sopir cepat, walau tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Padahal mereka baru melakukan perjalanan panjang ke rumah orang tuanya, malah sekarang minta balik pulang.


Lusina sengaja pulang untuk membuat surprise buat orang tuanya dengan menunjukan apa yang sudah diperolehnya. Dia sudah bisa hidupi dirinya sendiri dan memiliki banyak yang tidak dimiliki oleh gadis seusianya.


Dia mau lakukan itu, karena orang tuanya tidak mengijinkan dia pergi ke ibu kota ikuti temannya. Orang tuanya mau dia kuliah seperti teman-teman yang lain. Tapi dia tidak mau, karena tahu kemampuan akademiknya yang pas-pasan.


Tapi keadaan Enni membuat dia memutuskan untuk kembali ke ibu kota. Ada yang lebih penting, dari hanya sekedar menunjukan keberhasilannya kepada orang tuanya.


"Maaf, ya, Lusi. Kau tidak jadi bertemu orang tuamu." Enni merasa bersalah dan tidak enak hati mendengar yang dikatakan Lusina. Dia tidak jadi bertemu orang tuanya, karena dirinya.


"Ngga papa... Aku bisa kembali lagi kapan saja. Sekarang sudah lebih mudah, untuk lakukan perjalanan." Ucap Lusina sambil menepuk tangan Enni agar bisa lebih tenang.


^^^Dia mendapat ide untuk meninggalkan Enni sebentar di makam sambil dia pergi bertemu orang tuanya. Karena dia tidak mungkin meninggalkan Enni dalam mobil. Dia khawatir orang tuanya akan mengantar dia saat pamit dan melihat Enni dalam mobil.^^^


^^^Orang tuanya akan memberitahukan Ayah Enni, bahwa Enni ada pergi dengannya. Sama saja sudah beritahukan keberadaan Enni pada keluarganya.^^^


"Boleh, Lusi. Makasih. Maaf, sudah merepotkan." Enni segera setuju, karena itu yang dia inginkan. Ke makam Ibunya, hanya untuk menumpahkan semua rasa yang menyesak di dadanya.


...~▪︎▪︎▪︎~...


Di sisi yang lain ; Nestri yang sudah pulang dari kantor, langsung masuk ke rumah. Dia pulang sendiri, karena tidak mau tunggu dijemput oleh Bargani.

__ADS_1


Perasaannya sangat tidak enak sejak siang. Dia ingin segera pulang ke rumah untuk menemui adik-adiknya. Hatinya tiba-tiba sangat sedih, seperti saat Ibunya mau meninggal. Oleh sebab itu, dia segera pulang tanpa menunggu suaminya, Bargani menjemput.


Sebelum masuk ke kamar, dia menuju kamar Acel, sebab jam begini, Acel yang biasa ada di rumah. Enni sudah jarang pulang sebelum dia pulang dari kantor.


"Acel, Mba Enni belum pulang?" Tanya Nestri, melihat adiknya sedang belajar di kamar.


"Belum, Mba... Oh iya, Mba, nanti bilang Mba' Enni, kalau mau keluar rumah, jangan lupa kunci pintu. Nanti ada pencuri masuk." Acel berkata kepada Nestri yang masih berdiri dalam kamarnya.


"Apa maksudmu? Tadi pintu rumah ngga dikunci?" Tanya Nestri yang belum mengerti maksud adiknya.


"Iya, Mba. Tadi Acel pulang sekolah, pintu rumah ngga dikunci. Acel kira, Mba Enni sudah pulang. Acel panggil, panggil, Mba Enni ngga jawab. Acel lihat di dapur dan kamar, ngga ada juga." Acel menjelaskan situasi rumah saat dia pulang sekolah.


"Ooh, iya, Mba. Kamar Mba Enni sangat berantakan. Coba lihat, deh.... Apa tadi ada pencuri yang masuk rumah dan mengacak kamar Mba Enni?" Acel berkata lagi, setelah terpikirkan tentang kamar kakaknya.


Mendenger itu, Nestri segera mengajak adiknya ke kamar Enni. Melihat reaksi kakaknya, Acel jadi berdiri dengan cepat untuk menunjukan apa yang dilihat dan dicurigainya tentang pencuri masuk rumah.


"Astaghfirullah... Apa terjadi sesuatu dengan Mba' Enni? Kemana seprei Mba Enni?" Nestri terkejut melihat ranjang Enni tidak bertutup, bantal dan guling berantakan di lantai. Lemari pakaiannya terbuka begitu saja, dan ada beberapa pakaian Enni yang jatuh di lantai.


"Ini yang Acel lihat, tadi. Jadi Acel ngga berani masuk. Biar nanti Mba Enni pulang dan lihat kecerobohannya, ngga tutup pintu." Acel hanya berpikir, mungkin ada pencuri yang masuk rumah dan mencuri sesuatu dari kamar kakaknya.


Nestri yang masih terkejut melihat kamar Enni yang berantakan, hanya melihat sekeliling kamar Enni. Dia berpikir, mungkin ada pencuri yang masuk rumah. Tapi mengapa membawa seprei dari ranjang Enni. Nestri terus berpikir, melihat sesuatu yang janggal dalam kamar Enni.


"Jangan masuk dan dirapikan, Dek. Biar nanti dilihat Kak Gani, supaya diselidiki." Nestri ikut berpikir ada pencuri masuk, jadi TKP jangan disentuh.


...~▪︎▪︎▪︎~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2