JEJAK LUKA

JEJAK LUKA
11. Jejak Luka 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pak Belino yang berada di ruang tamu, berjalan mondar mandir sambil berpikir. Nalurinya sebagai seorang polisi mulai menganalisa semua petunjuk yang ada dalam rumah.


"Acel, hari ini Mba Enni ngga kuliah?" Tanya Pak Belino pada Acel yang ada dengannya di ruang tamu.


"Mba Enni pergi kuliah, Yah. Tadi berangkat sama Acel." Jawab Acel cepat. Dia baru teringat, kakaknya berangkat kuliah bersamanya dan kakaknya yang kunci pintu.


"Berarti kakakmu pulang ke rumah sebelum kau?" Tanya Pak Belino menyelidik.


"Mungkin, Ayah. Tapi Acel pulang, ngga ada Mba Enni." Acel menjawab dan tidak mengerti yang terjadi dengan kakaknya.


"Belakangan ini, Mba Enni biasanya pulang setelah Mba Nes pulang kerja, Yah... Makanya tadi Acel kaget, pintu ngga terkunci."


"Saat cari Mba Enni ke kamar dan lihat keadaan kamar, Acel jadi pikir, ada pencuri yang masuk dan mengambil sesuatu di kamar Mba Enni." Acel menjelaskan sambil mengingat yang terjadi.


Pak Belino melihat Acel dengan serius. Putranya masih kanak-kanak, walau tubuhnya sedikit tinggi. Bayangan putrinya Enni yang cantik dan ayu, saat melihatnya di pernikahan Nestri, menghantam hati dan pikirannya. Pasti banyak lelaki yang melihatnya, akan menginginkan dia.


Rasa penyesalan membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa perlindungannya membuat matanya berkaca-kaca. Pak Belino merasa sangat bersalah pada anak-anak dan Almh istrinya.


Sambil mencengkram kuat rambutnya dan dengan rahang kaku, Pak Belino melihat isi rumahnya yang dengan mata memerah. 'Hanya rumah ini yang tersisa dari semua harta yang dimiliki.' Pak Belino membatin, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kalian semua pegang kunci pintu rumah ini?" Tanya Pak Belino kepada Acel, sambil menunjuk pintu depan.


"Iya, Ayah. Kami semua pegang, supaya ngga saling nunggu untuk masuk rumah." Nestri yang baru keluar dari kamar Enni bersama Bargani menjawab.


^^^Pertanyaan Pak Belino membuat Bargani makin cemas. Dia berusaha bersikap tenang, karena tahu Pak Belino sedang menyelidiki. Biar bagaimana pun, mereka sama-sama polisi.^^^

__ADS_1


^^^Walau pun pangkatnya lebih tinggi, tapi Pak Belino lebih lama bertugas darinya. Jadi pasti sudah menangani kasus lebih banyak dan lebih berpengalaman darinya.^^^


"Ooh iya, tadi Mba Enni pergi kuliah kan, Acel?" Tanya Nestri yang baru teringat. Biasanya Enni berangkat lebih dulu darinya dan Acel. Tapi tadi pagi, dia dan Bargani sudah berangkat kerja, Enni belum siap-siap.


"Iya. Tadi Mba Enni bilang ada tugas kuliah yang mau diserahkan, jadi berangkat agak siang, sebab kepalanya agak pening." Jawab Acel mengingat yang dikatakan kakaknya, saat mereka berada di angkot.


"Jadi Mba Enni sudah pulang ke rumah lagi sebelum Acel pulang sekolah. Apa ada yang mengikutinya, hingga masuk ke rumah ini?" Nestri mulai berpikir situasi yang terjadi.


"Pasti ada yang ikuti, karna pintunya tidak dibongkar." Jawab Bargani sambil pura-pura menyelidiki pintu rumah dengan memeriksa lobang kunci pintu.


"Tidak ada yang pulang ke rumah sebelum, Acel?" Tanya Pak Belino, menyelidiki lagi. Agar bisa tahu mau menyelidiki dari mana. Mereka belum bisa lapor polisi, karena masih berharap Enni akan pulang. Namun pertanyaan Pak Belino membuat Bargani tersentak.


Perubahan wajahnya tidak terlihat, karena sedang memeriksa kunci pintu. "Tadi pagi aku pulang untuk ambil berkas, tapi pintu ini aku kunci lagi." Jawab Bargani, karena dia khawatir Pak Belino bertanya pada tetangga dan ada tetangga yang mengetahui dia pulang ke rumah. Dia tidak berani berbohong, sebab tadi dia tidak memperhatikan situasi di luar rumah.


Pak Belino melihat Bargani dengan serius. "Jadi tadi kau pulang, Enni belum ada di rumah?" Tanya Pak Belino sambil berpikir tentang keterangan Bargani.


Pak Belino kembali berjalan mondar-mandir dalam rumah dengan rasa khawatir dan geram yang makin meningkat, karena tidak ada tanda-tanda Enni pulang ke rumah.


"Acel, ambil jacket dan ikut Ayah. Kita akan cari kakakmu." Pak Belino berkata cepat, sebab memikirkan keselamatan putrinya. Pak Belino tidak mau membuang waktu dengan bertanya dan menyelidiki di rumah saja. Sikap Bargani dan cara dia masuk ke kamar Enni membuat Pak Belino curiga.


"Ayah, mau cari kemana?" Nestri mengalihkan pandangannya dari Bargani ke arah Ayahnya yang terilhat geram dan sangat marah.


"Ke rumah sakit, ke kantor polisi, ke kuburan, kemana saja yang bisa didatangi adikmu. Semoga adikmu tidak berpikiran pendek." Jawab Pak Belino yang jadi emosi dengan situasi yang terjadi.


^^^Beliau berpikir, tidak mungkin orang yang mengambil kesucian Enni membawanya pergi dari rumah. Melihat seprei tempat tidurnya ada di kamar mandi, pasti Enni yang meletakan di situ, saat mandi.^^^


^^^Walau pun marah, Pak Belino sangat khawatir. Sebab banyak hal buruk bisa terjadi dengan Enni dalam kondisi hati dan pikiran yang sedang hancur.^^^

__ADS_1


"Acel, ambil golok yang Ayah minta kau simpan untuk jaga kakak-kakakmu." Ucap Pak Belino pada Acel yang lari keluar dari kamar sambil memakai jacketnya.


"Aku bertemu dengan bin*tang itu, aku akan mencincangnya, hingga tidak berwujud." Ucap Pak Belino geram, setelah Acel menjauh dari mereka.


Ucapan Pak Belino membuat Bargani was-was. "Ayo, kita ikut mencari juga." Ucap Bargani kepada Nestri. Dia takut Pak Belino lebih dulu menemukan Enni dan Enni menceritakan yang sebenarnya kepada Ayahnya.


...~▪︎▪︎▪︎~...


Di sisi yang lain ; Setelah Enni menyetujui untuk tunggu di makam saat Lusina bertemu dengan orang tuanya, dia berbicara dengan sopir untuk mengantar Enni ke makam.


"Enni, nanti kami hanya turunin saja, ya. Biar kami bisa cepat kembali menjemputmu." Lusina mulai menyusun rencana dan mengatur waktu yang tepat, agar bisa jemput Enni sebelum sore.


"Iya, Lusi. Makasih..." Enni menyetujui dan berterima kasih untuk pengertian Lusina.


^^^Seperti yang dikatakan Lusina, setelah meninggalkan Enni di makan, dia langsung menuju rumah untuk bertemu dengan orang tuanya.^^^


^^^Dia meminta sopir untuk beristirahat di mobil selama dia bertemu dan berbicara dengan orang tuanya, sebab mereka akan kembali lanjutkan perjalanan bersama Enni.^^^


Sedangkan Enni yang sudah ditinggal Lusina, berjalan lunglai menuju nisan Ibunya. Air matanya terus mengalir, memikirkan nasibnya yang begitu pahit. Semua angan-angan akan masa depannya yang lebih baik dan indah bersama adiknya, hancur berkeping-keping.


Enni berencana selesai kuliah, bisa bekerja di tempat yang baik, supaya bisa menyekolahkan adiknya, Acel. Dia berpikir, mau meringankan beban kakaknya yang sudah mengurus mereka berdua. Dia ingin Acel bisa kuliah lebih darinya. Namun semuanya sirna dalam sekecap.


Sampai di tempat makam Ibunya, dia berlutut di atas kuburan tanpa bisa berkata-kata. Hanya nama Ibunya yang dipanggil berulang kali di sela tangisannya. Rasanya dia ingin mengakhiri hidupnya yang dianggap sudah tidak berguna lagi.


Rasa sakit dan sesak di dada sangat menyiksanya. Dia melunjurkan kedua tangannya di atas kuburan dan meletakan kepalanya di atas lengannya lalu menangis untuk menumpahkan semua rasa yang ada di hatinya.


...~▪︎▪︎▪︎~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2