
...~•Happy Reading•~...
Mendengar yang dikatakan Jerry, Pak Belino melihat ke arah Bargani dan Nestri bergantian. Nestri yang sedang melihat ke arah Bargani, tidak menyadari sedang diperhatikan oleh Ayahnya. Pak Belino melihat Nestri sambil mencerna, keterangan Jerry.
^^^Nestri sendiri terkejut mendengar keterangan Jerry tentang Enni. Padahal Enni tidak mengatakan apa pun padanya di rumah, tentang rasa takutnya kepada Bargani.^^^
"Apa maksud ucapanmu? Bicara yang jelas." Bentak Bargani dengan mata membesar dan melihat Jerry dengan wajah garang, tapi jantungnya berdegup sangat tidak beraturan.
^^^Tadinya dia berpikir, Jerry akan mengatakan tentang posisi Enni pada mereka, bukan mengatakan Enni takut padanya. Jadi dia berusaha mengalihkan pembicaraan Jerry, sebab sudah terlanjur didengar oleh Pak Belino, dengan bersikap garang.^^^
^^^Sekarang mereka tidak sedang di kantor, dan posisi Pak Belino bukan bawahannya, tapi Ayah mertua dan Ayah dari Enni. Sehingga dia harus berusaha meloloskan diri, atau menghindar dari penyelidikan Pak Belino.^^^
"Eeeh, jangan spaneng, Kak. Mengapa kakak emosi? Saya hanya mengatakan apa yang saya ketahui." Jerry berkata sambil mengangkat tangannya ke arah Bargani. Membuat Bargani mundur, dan Nestri memegang tangan Bargani dengan kuat, agar tenang.
Pak Belino segera menghentikan adu mulut mereka, sebab sedang membutuhkan banyak keterangan dari Jerry. "Coba kau katakan yang kau bilang tadi, agar kami bisa mengerti maksudmu." Pak Belino berkata pelan dan mencoba mengendalikan pikiran dan emosinya, supaya bisa berbicara baik.
"Begini, Pak. Bapak Ayahnya Enni? Atau siapanya? Saya tidak mau mengatakan apa-apa lagi, jika begini jadinya." Jerry berkata sambil mengangkat tangannya dan mau pergi meninggalkan mereka.
"Iya. Saya Ayah Enni dan kami sedang mencari keterangan tentang Enni. Saya harap kau bisa membantu, sebab kemarin kau ada bersamanya. Jadi tolong jelaskan yang kau katakan tadi." Ucap Pak Belino pelan tapi serius.
"Ooh, bapak, Ayahnya Enni. Maaf, Pak. Tadi yang saya katakan itu, hanya kesimpulan dari ucapan Enni. Jadi mungkin ngga benar." Jerry mulai mengerti, mungkin pria yang membentaknya, adalah kakak ipar yang Enni maksudkan.
"Ngga papa. Apa yang Enni katakan, sampai kau berkesimpulan begitu?" Pak Belino berbicara dengan nada yang sangat datar dan pelan, agar Jerry mau berbicara. Pak Belino berpikir, jika bertanya seperti sedang interogasi tersangka, tidak akan dapat jawaban atau keterangan yang pasti tentang Enni.
__ADS_1
"Ooh, itu, Pak. Beberapa waktu lalu, kami sedang di depan kampus menunggu angkot untuk pulang, termasuk Enni. Tiba-tiba, Enni dijemput sama seorang pria, tapi Enni ngga mau ikut pulang dengan naik motor bersamanya."
"Dia kembali ke tempat kami berdiri dengan sikap yang tidak tenang dan wajah ngga happy. Saya bertanya itu siapa? Dia bilang itu kakak iparnya dan dia minta tolong kami jangan pulang dulu."
"Dia minta ditemani sampai kakak iparnya pulang, baru kami naik angkot. Karna kakak iparnya masih menunggu, kami pergi minum di warung depan kampus. Jadi saya berkesimpulan begitu. Maaf Pak, kalau saya salah." Jerry menjelaskan tanpa melihat ke arah Bargani yang sedang menatapnya, serius dan was-was.
"Apa benar begitu, Gani? Kau datang menjemputnya di sini?" Tanya Pak Belino, serius. Keterangan Jerry membuatnya berpikir tentang sikap Bargani.
^^^Pertanyaan Pak Belino juga, menguatkan dugaan Jerry, pria yang bersikap garang padanya adalah kakak ipar Enni. Jerry jadi berhati-hati menjaga ucapannya.^^^
"Iya, Ayah. Waktu itu, aku ada lewat di depan kampus ini dan lihat Enni sedang berdiri, jadi ajak dia untuk pulang bersama." Bargani mencoba menjelaskan dengan tenang sambil melihat Pak Belino, agar tidak dicurigai.
"Benar, Ayah. Enni sudah cerita juga ke aku dan minta kasih tau ke Mas Gani supaya jangan menjemputnya. Nanti ada pria yang naksir dia jadi mundur, karna dikira dia sudah punya pacar." Nestri menguatkan keterangan Bargani. Membuat Jerry dan Pak Belino melihat Nestri sambil berpikir, apa benar Enni yang katakan itu, atau sedang menutupi sesuatu tentang suaminya.
"Eeehh... Kalau soal naksir, menangksir, suka-suka orang muda, Kak. Apa lagi sama Enni yang primadona kampus. Jangankan kami sesama mahasiswa, asisten dosen dan dosen muda juga pada naksir dia."
"Enni dibilang paket lengkap. Sudah cantik, pintar dan baik hati. Kalau ada yang tidak suka sama dia, mungkin iri hati atau bola matanya bisulan." Jerry membalas Bargani tanpa rasa takut.
'Pantas Enni takut pada iparnya ini. Sangat tidak menyenangkan.' Jerry berkata dalam hati.
"Ngga usah ngeles ..." Ucapan Bargani dipotong oleh Pak Belino, karena apa yang dikatakan Jerry masuk akal dan bisa diterima. Gambaran Jerry tentang Enni sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
"Jadi benar, kau ngga tau, menau dengan keberadaan Enni, setelah mengantarnya kemarin?" Tanya Pak Belino untuk menyakinkannya dan tidak membuang waktu.
__ADS_1
"Begini, Pak. Saya ngga mau bersumpah demi apa pun untuk menguatkan kebenaran yang saya katakan tadi. Dibawa ke kantor polisi pun, saya akan mengatakan hal yang sama." Jerry menjawab dengan serius, sambil melihat ke arah Pak Belino. Dia tidak menghiraukan Bargani yang terus menatapnya.
^^^Jerry menyadari, ada terjadi sesuatu dengan Enni dan tidak ada yang tahu keberadaannya. Mereka mencecar dia dengan berbagai pertanyaan, karena ada mahasiswa yang memberi keterangan, dia dekat dan sering berdua dengan Enni. Jadi dia tidak mau terkeco dengan sikap dan provokasi ipar Enni.^^^
"Saya sangat yakin dan percaya diri dengan keterangan saya, karena ada saksi yang bisa mendukung keterangan saya." Jerry tidak mau diintimidasi oleh Bargani dan melindungi dirinya dari jeratan keluarga Enni, karena hubungan baiknya dengan Enni.
"Bapak bisa bertanya pada teman kuliah saya dan juga dosen yang mengajar kemarin. Saya ada di ruang kuliah dan ikut kuliah sampai selesai. Setelah itu, saya langsung pulang ke rumah."
"Yang kedua, bapak bisa tanya tetangga di rumah Enni yang ada pohon belimbing buah di depan rumahnya itu. Saat Enni turun dari motor saya, ibu yang ada di rumah itu panggil Enni dan kasih belimbing buah untuknya."
"Ibu itu juga tahu, saya hanya turunin Enni di depan rumah dan langsung balik tinggalkan tempat itu. Saya langsung ngebut, sebab takut terlambat masuk ruang kuliah." Jerry berkata serius untuk meyakinkan Pak Belino.
"Benar, Ayah. Ada beberapa belimbing buah di meja dapur." Nestri menguatkan keterangan Jerry, sebab dia melihat belimbing itu saat mencari Enni di dapur.
Keterangan Jerry tentang tetangga rumah membuat Bargani merasa jantungnya hampir copot. Dia jadi berpikir dan takut, tetangga tersebut melihat dia juga saat pulang ke rumah.
Jika benar demikian, tetangga tersebut sangat tahu dia pulang ke rumah setelah Enni ada di rumah. Padahal dia sudah bilang ke Pak Belino, dia pulang ke rumah, Enni tidak ada di rumah.
Jika Pak Belino berbicara dengan tetangga tersebut, dia harus siapkan alibi atau alasan yang tepat dan tidak mencurigakan. Agar bisa lolos dari amarah Pak Belino.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1