
...~•Happy Reading•~...
Enni sangat jijik dengan tubuhnya. Dia menarik penutup tempat tidur untuk menutupi tubuhnya, lalu berjalan tertati-tati keluar kamar menuju kamar mandi.
Semua sumpah serapa dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya untuk memaki Bargani. Bahkan hampir semua penghuni kebun binatang terucap dari mulutnya yang sedang mengeluarkan darah, karena tamparan Bargani.
Saat di dalam kamar mandi, dia menyiram tubuhnya dan membasuh tubuhnya dengan semua sabun yang ada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Siraman air dari gayung sama derasnya dengan deraian air mata yang tidak bisa berhenti mengalir di pipinya.
Tubuhnya sampai menggigil dan jari-jarinya mulai berkerut karena kelamaan menggosok tubuhnya dan memegang air dan sabun. Dia hanya mau membersihkan bekas tapak tangan Bargani dari tubuhnya.
Sebelum tubuhnya membeku, dia menyambar handuk yang ada dalam kamar mandi lalu membiarkan penutup tempat tidur begitu saja dalam ember. Kemudian dia menguatkan tubuhnya untuk berjalan keluar menuju kamar.
Dia sudah tidak memikirkan akan bertemu dengan Bargani atau tidak. Sudah tidak ada lagi yang perlu dilindunginya. Apa yang paling berharga baginya telah dirampas oleh Bargani dan tidak akan kembali selamanya. Jadi dia tidak memperdulikan sekitarnya lagi.
Dengan perasaan campur aduk dan air mata terus mengalir, Enni mengambil pakaiannya seketemu tangannya dan juga pembalut untuk meredakan rasa peri pada bagian intimnya. Amarah dan sedih bercampur jadi satu, merasuk hati dan pikirannya.
Dia terduduk di lantai dan kembali menangis meraung-raung. Rasanya dia mau melepaskan bagian-bagian tubuhnya yang sudah ternoda. Tidak ada apa pun yang ada dalam pikirannya, kosong.
Tidak lama kemudian Enni berjalan keluar meninggalkan rumah, tanpa tujuan. Kesedihan dan hati yang hancur mengosongkan akal dan pikirannya. Segalanya gelap tanpa ada harapan baginya.
Dia berjalan tanpa arah dan tujuan. Yang ada dalam pikirannya, hanya pergi menjauh dari rumah. Jauh dari tempat yang telah merengut masa muda dan harapan masa depannya.
Dia mengikuti kemana langkah kaki membawanya. Bahkan terlintas dia ingin mengakhiri hidupnya di mana saja, di akhir langkah kakinya.
Tidak ada hal baik dalam pikirannya. Hanya ada keinginan untuk bertemu Ibunya, merindukan pelukannya. Mengingat itu, air matanya makin mengalir membasahi pipinya dan langkahnya makin cepat sekuat tenaganya.
__ADS_1
Tiba-tiba, bunyi derit rem mobil bersahutan menyentaknya. Tanpa disadari, Enni telah berjalan di tengah jalan hendak menyebrang tanpa melihat sekelilingnya. Dia melihat sekitar dengan pandangan yang buram oleh air mata dan terdengar suara bising.
"Enniii.... Kau Enni kan?" Tiba-tiba suara seorang wanita menegurnya. Enni hanya mengangguk, tanpa mengenal siapa yang menegurnya.
"Astaga... Kau sudah gila? Kau bisa ko'it. Ayoo, ke sini." Wanita tersebut segera menarik tangan Enni menjauh dari jalan.
"Kau sedang sakit?" Tanya wanita itu, sebab melihat Enni yang pucat dan sangat berantakan. Enni hanya bisa menggelengkan kepala.
"Mari, ikut aku. Nanti aku antar pulang." Wanita itu mengajak Enni yang sudah berdiri di pinggir jalan dengan bingung untuk naik ke mobilnya.
"Ooh, Lusi." Ucap Enni pelan setelah mengenal wanita yang menariknya ke pinggir jalan.
Enni dan Lusina berteman, karena tinggal tidak berjauhan dan satu sekolah di SMA. Namun Lusina pindah ke kota besar untuk kuliah. Itu yang diketahui Enni, saat mengetahui Lusina tiba-tiba tidak ada lagi di kotanya.
"Iya. Bolehkah, kau mengantarku ke makam? Aku ngga mau pulang ke rumah." Enni berkata pelan, karena hanya tempat itu yang ada dalam pikirannya.
Ucapan Enni membuat Lusina terkejut. Apa lagi melihat penampilan Enni yang berantakan. 'Apa dia sedang ribut dengan Ibu tirinya?' Tanya Lusina dalam hati. Sebab dia pernah dengar berita dari orang tuanya, bahwa Ayah Enni sudah menikah lagi.
"Naik dulu ke mobilku, nanti kita bicarakan dalam mobil." Lusina berkata sambil berpikir, lalu menarik tangan Enni ke mobil yang sudah menepi di depan mereka.
^^^Tadi Lusina yang sedang pulang ke kota kelahirannya bersama sopir. Ketika hendak menuju tempat tinggal orang tuanya, dia melihat seorang wanita berjalan di depan mobilnya tanpa melihat kiri dan kanan. Seakan sedang berjalan di dalam rumah, tanpa takut dengan kendaraan yang lewat.^^^
^^^Sopirnya dengan cepat memperlambat mobilnya dan rem sebelum menabrak wanita itu yang tidak berhenti berjalan. Begitu juga dengan mobil yang ada di belakang dan sampingnya. (Karena jalan searah, jadi membuat macet dan bising dengan bunyi klakson).^^^
^^^Lusina yang lebih dekat dengan posisi wanita tersebut segera turun untuk membawanya ke pinggir jalan, agar mobilnya dan mobil lain bisa lewat. Semua sopir marah dan meneriaki Enni dengan kata-kata kasar. Karena tindakan Enni bisa membuat terjadi tabrakan beruntun.^^^
__ADS_1
^^^Lusina melihat wanita yang mengganggu lalu lintas itu sangat terkejut dan kebingungan dengan keadaan. Dia juga terkejut saat menarik tangan dan melihat wajah wanita tersebut. Dia memberi isyarat kepada sopirnya untuk menepi, karena dia mengenal wanita yang sedang ditolongnya.^^^
"Ini, Enni. Minum dulu. Sebelum ke makam, kita ke rumahku dulu, ya. Nanti sopirku antar ke tempat tujuan." Ucap Lusina, saat mereka sudah berada dalam mobil. Enni menggeleng, lalu minta diantar dulu ke makam. Sebab dia tidak mau bertemu orang tua Lusina. Dia sangat malu dengan keadaannya.
^^^Dia tidak menyangka akan bertemu Lusina dan dia akan menolongnya. Sebab saat mereka bersekolah, hubungan mereka tidak baik dan juga tidak akrab. Enni hampir tidak mengenali Lusina, karena penampilannya sudah seperti orang kota dengan baju dan dandanan yang cantik.^^^
^^^Dia memegang tangan Lusina dengan erat dan minta diantar ke makam saja. Dia mengatakan terus terang, tidak mau bertemu dengan orang tua Lusina.^^^
Lusina menyadari, ada kejadian yang lebih dasyat dari sekedar ribut dengan ibu tirinya. Dia segera minta sopirnya untuk berbalik arah dan mencari tempat parkir yang tenang.
"Pak, tolong pergi cari minuman dan tinggalkan kami sebentar." Lusina berkata kepada sopirnya, agar bisa membiarkan mereka sendiri, berdua saja. Lusina jadi ingin tahu apa yang terjadi dengan Enni yang membuatnya sangat berantakan.
"Baik, Nona." Sopir segera turun meninggalkan mereka, tanpa bertanya lagi.
Setelah tinggal berdua, Lusina bertanya kepada Enni, tentang kejadian tadi di jalan dan juga mengapa mau ke makam pada waktu yang tidak biasa seperti hari itu.
Enni menumpahkan semua yang terjadi padanya, hingga membuat dia hampir kehilangan akal dan sudah hampir memecahkan dadanya kepada Lusina.
Enni sudah tidak kuat menahannya. Lusina tercengang mendengar semua yang diceritakan Enni dengan bercucuran air mata. Dia tidak menyangka yang dialami Enni begitu luar biasa. Dia melihat, pinggiran bibir Enni masih mengeluarkan darah saat berbicara.
"Jadi kau mau ke makam, hanya karena tidak ada tempat tujuan dan mau bersembunyi dari keluargamu? Atau tepatnya menghindar dari iparmu?" Tanya Lusina yang mulai mengerti maksud Enni. Dia mengambil tissu dan minuman lalu berikan kepada Enni. Dia khawatir Enni akan pingsan, sebab wajahnya masih pucat dan tangannya bergetar.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1