
Sejak kejadian rumor tersebut, banyak spekulasi yang beredar antara hubungan Feng Li Yue dan Tan zhi xue.
Spekulasi yang beredar bukan tanpa dasar, semuanya bermula dari keingintahuan Shen You Ran yang akhirnya menanyakan masalah lalu dengan Fei wei wei. Fei wei wei yang mengerti maksud dari pertanyaan Shen You Ran segera menjelaskan kesimpulan dari analisisnya kemarin.
Shen You Ran sedikit kaget mendengar penjelasan Fei wei wei, tapi semua perkataan Fei wei wei masuk akal.
Kalau ia kaji lebih dalam, ia pun tau dari mana asal muasal rumor Feng Li Yue beredar. Awalnya rumor itu beredar dalam lingkup pertemanan pemuja Tan zhi xue yang melihat gelagat Tan zhi xue yang seolah dimanfaatkan oleh Feng Li Yue. Hingga tanpa perlu tan zhi xue cerita, para pemuja tan zhi xue akan dengan sendirinya menyebarkan rumor buruk tentang Feng Li Yue.
Para pemuja Tan zhi xue tidak seperti Shen You ran yang berani menyuarakan pendapatnya secara langsung,
mereka hanya berani bermain dibelakang Feng Li Yue karena takut dengan keluarga Feng.
Feng Li Yue sendiri tidak peka akan keadaan disekelilingnya, ia terlalu baik dan berpikiran pendek. Bahkan
sampai ular membelit kakinya pun ia tetap menyadari bahwa saat ini ia sedang dililit dan sebentar lagi akan di gigit agar bisanya bisa masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya mati.
Shen You Ran dan Fei wei wei tidak bisa membicarakan hal-hal yang mereka ketahui secara langsuang karena mereka tidak memiliki bukti dan belum tentu Feng Li Yue akan mempercayai mereka begitu saja. Akhirnya mereka hanya bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tan zhi xue, menyebarkan desas desus bahwa tan zhi xue memanfaatkan pertemanannya terhadap Feng Li Yue.
Ini merupakan hasil yang bagus, karena tan zhi xue yang sangat peka terhadap lingkungan menyadari bahwa ia
tidak bisa bertindak seperti dulu. Perlahan sikapnya terhadap feng li yue mulai berubah, kadang ia mendekat tapi tidak terlalu dekat dan menjauh tapi tidak terlalu jauh.
Feng Li Yue yang memiliki karakter tak peka dan terlalu memeprhatikan lingkungannya, berpura-pura tidak menyadari perubahan sikap Tan zhi xue. Bagi Feng Li Yue, setidaknya untuk sementara ia akan tenang. Karena seranga terbesar yang dilancar tan zhi xue akan datang saat ia sudah memasuki universitas.
***
Saat ini Feng Li Yue menjalani kehidupannya dengan tenang tanpa terganggu dengan kehadiran tan zhi xue. Keluarganya pun tak banyak bertanya tentang kehidupan sosial Feng Li Yue yang bagi mereka terlihat baik-baik saja.
Saat ini Feng Li Yue tengah menikmati waktu santainya di beranda samping rumah bersama kakak ketiganya.
Feng Li Yue tengah memainkan game di ponselnya sedangkan kakak ketiganya membaca.
“baby Yue, dimana kamu?” teriakan yang sangat dihafal Feng Li yue menghentikan permainan di ponselnya.
Dengan riang ia menuju ruang tamu dimana kakak perempuan keduanya berada. Di sana ia melihat seorang wanita
cantik yang mirip dengannya sedang berbincang dengan ayah dan ibunya. Ia berlari menghampiri kakak perempuannya dan segera memeluknya.
“KAKAKKK,” teriak Feng Li Yue yang sudah terbiasa menirukan sifat manja Feng Li Yue dunia ini.
“Baby Yuee,” pekik senang kakak perempuanya pun terdengar.
Keduanya berpelukan ria sambil terkikik senang. Diantara semua saudaranya, Feng Bai Li yang merupakan kakak
perempuannya adalah saudara favoritnya, hal ini dikarenakan kakak perempuannya lebih sering menemaninya dan mengajarinya banyak hal. Sementara Feng Bali, ia pun sangat menyanyangi adik bungsu nya, apalagi kalau ia mengingat keimutan adik perempuan yang sangat dimanjakannya ini. Sifat sisconnya akan keluar tanpa ia sadari.
“kenapa lama sekali,” ujar Feng Li Yue yang cemberut saat mengingat rasa rindu pada kakak perempuannya.
“maaf maaf, baby yue. bukan kakak ingin berlama-lama tapi kerjaan kakak banyak,” ujarnya sambil mencubit pipi
cemberut adik bungsunya. “jangan marah baby Yue, sekarang kakak akan meluangkan waktu yang banyak buat baby Yue, selepas ini kita akan jalan-jalan ke tempat yang baby Yue inginkan.”
“Benarkah?” tanya Feng Li yue.
__ADS_1
Feng Bai li mengangguk dan tersenyum senang begitu mendengar pekikan gembira adik bungsunya.
“Hahaha, sepertinya cerita tentang dirimu yang memiliki sifat siscon itu benar,” ujar sebuah suara yang menyadarkan Feng Li Yue bahwa sedari tadi tidak hanya ada keluarganya di ruangan ini. Hatinya tergelitik begitu ia mengenali suara yang sangat familiar baginya.
Perlahan ia melepaskan diri dari kunkungan kakak perempuannya untuk melihat wujud tamu yang tidak diketahui Feng LI Yue. Begitu ia melihat tamu tak diundang tersebut, hati Feng Li Yue berdenyut kencang dan tanpa sadar air matanya mengalir di pipi lembutnya.
Semua yang melihat keluarga kecil mereka yang imut menangis mulai kebingungan.
“Baby, kenapa kau menangis?” tanya Bai Li yang mengusap air mata Feng Li yue.
“Eh, aku?” Feng Li Yue tersentak dan memegang pipinya yang basah. “ini, aku ngga apa-apa, aku juga bingung
kenapa air mataku keluar,” sahutnya pura-pura bingung.
“Em, kalau gitu Yue mau ke kamar aja,” ujar Feng Li Yue sebelum keluarganya menanyakan hal-hal yang sluit
dijawabnya, kemudia ia berpamitan dan tersenyum ramah pada tamu keluarga serta tamu kakaknya.
***
Feng Li Yue kembali menangis bila mengingat kembali jantungnya yang berdetak kencang ketika melihat tamu kakak perempuannya.
“Xaio Bai, itu tadi... diaa..”
Xiao Bai keluar dari tubuh Feng Li Yue dan hinggap di pundak Feng Li Yue yang sedang memegang dadanya yang terasa sesak.
“Xiao Bai, apakah dia.. jiwa dari penyelamatku?” tanyanya berharap.
beberapa jiwa yang pernah berkorban untuknya.
“Xiao Bai tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dewi mengatakan kalau yang bisa merasakan dan menentukan jiwa
yang berkorban hanya dirimu sendiri,” ujar Xiao Bai.
Feng Li Yue memejamkan matanya, air matanya tidak bisa dihentikannya. Semakin lama ia semakin terisak manakala ia mengingat tentang laki-laki yang akan menjadi tamu keluarganya.
Dikehidupannya yang lalu, pria itu bernama Li Guan, seorang prajurit biasa yang ditugaskan untuk menjadi
penjaganya. Hidup sebagai seorang prajurit biasa, tidak ada keistimewaanya tetapi ia sangat mencintai pekerjaannya dan juga sangat setia pada tuannya.
Saat itu Feng Li Yue berstatus sebagai seorang putri kecil yang tak diinginkan. Keadaanya yang menyedihkan membuat orang-orang yang dipekerjakan untuknya sangat menyayanginya termasuk si prajurit kecil yang bertugas menjaga gerbang depan kediamannya.
Pada hari-hari tertentu, Feng Li Yue yang merasa kesepian akan berlari ke depan gerbang dan melihat situasi
diluar kediamannya di depan pintu gerbang. Li Guan, penjaga gerbang yang sederhana akan selalu menemani sang putri dan menghibur sang putri kecil. Bagi Feng Li Yue, Li Guan adalah temannya bukan bawahannya. Begitu juga Li Guan yang sudah menganggap Feng Li Yue seperti adiknya sendiri meski itu melanggar etika aturan istana.
Saat bencana yang terjadi pada Feng Li Yue berlangsung, Li Guan adalah orang pertama yang mati saat berusaha
melindunginya. Ia mati dibawah pedang jendral kerajaan istana yang mengganggap diri Li Guan salah satu pemberontak kerajaan.
Saat perpisahan terakhirnya dengan Feng Li Yue, Li Guan menyerahkan tusuk rambut giok putih Feng Li Yue. Ia
menggenggam tangan Feng li Yue sambil berkata “yang mulia Yue, maaf jika saya tidak bisa memenuhi janji untuk merayakan hari ulang tahun yang mulia bulan depan, saya berdoa agar yang mulai bisa segera menemukan kebahagiaannya.”
__ADS_1
Feng Li yue mengingat jelas kejadian dan perkataannya saat itu, setelah Li Guan mengucapkan kalimat itu
Feng Li Yue segera di tarik oleh pelindungnya yang lain untuk bersembunyi. Li Guan melakukan tugas terakhirnya untuk melindungi tuannya sebagai pengalih perhatian jendral kerajaan yang ingin menangkapnya.
Dalam pelariannya, Feng Li Yue dapat mendengar teriakan kematian Li Guan dengan jelas. Saat ia berada di
tempat yang aman, ia menggunakan kekuatannya untuk membuka cermin kebenaran. Dalam bayangan cermin kebenaran yang dipantulkan, ia dapat melihat kematian Li Guan. Ia mati dengan keadaan perut tertusuk dan tangannya yang terpotong. Tidak ada sedikit pun rasa sedih dalam tatapan matanya, yang ada rasa bangga dan bahagia.
Feng Li Yue tak menyangka kalau jiwa pertama yang ditemuinya adalah jiwa Li Guan. Penjaga kecilnya yang
menjabat sebagai sahabatnya.
“Kakak Li, maaf maaf maafkan aku.”
***
“Ada apa dengan baby Yue?” tanya Feng Bai Li memandang kedua orang tuanya sambil menyesap teh yang disuguhkan pelayan. "Apakah ada sesuatu yang terjadi pada baby Yue saat aku pergi?"
"Tidak ada sesautu hal yang buruk terjadi padanya, tapi baru-baru ini ia sedikit berubah" ujar nyonya Feng.
"Berubah? memangnya apa yang terjadi?" tanya Bai Li.
"Bukan hal yang buruk malah sebaliknya. Ia berubah menjadi lebih baik. Ia lebih mandiri, tidak pernah lagi meminta bantuan bibi Shu untuk mengurus dirinya," jawab sang ibu dengan senyuman bahagia dan bangga.
Tuan Feng menganggukkan kepalanya menyetuji ucapan istrinya, "Sebenrnya, ayah juga khawatir dengan keadaan si bungu yang terlalu kalian manjakan, Aku takut ia akan mengalami kesulitan dengan sifat manjanya yang terlau berlebihan, tapi syukurlah ia mulai merefleksikan dirinya sendiri," ujar sang ayah.
"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada baby Yue, aku dan kakak akan melindunginya bila terjadi sesuatu padanya," ucap Feng Zhi Xing yang diangguki Bai Li.
Kedua orang tuanya tampak sangat senang mendnegar ucapan Zhi Xing, mereka senang dengan keharmonisan diantara putra putri mereka.
Tamu yang sedari tadi diabaikan oleh keluarga Feng, tidak merasa terganggu dan berkecil hati, sebaliknya ia malah menikmati pembicaraan tentang si putri bungsu. Sejak awal ia memang agak penasaran dengan si putri bungsu yang mampu mengubah temannya yang dingin dan elegan menjadi siscon dala skejap bila membicarakan tentang adiknya.
Sesuai dengan gambaran Bai Li, adiknya memang imut dan cantik. Prilakunya pun sangat menggemaskan sehingga membuat orang yang melihatnya ingin segera melindungi dan menjaganya.
"Heh Li Guan, apa yang kau pikirkan? Kau sedang memikirkan adikku ya?" tanya Bai Li membangunkan lamunan Li Guan.
Li Guan tersentak kaget, "apa? ti tidak!" sahutnya gugup.
Bai Li menyipitkan matanya menatap tajam partner kerja nya yang tiba-tiba ingin berkunjung ke rumahnya ini, "dengar Li Guan, tidak peduli sebaik dan sekeren apa kau di luar sana, kau tidak boleh mendekati adikku bahkan memikrkannya pun tidak, bila kau memikirkannya akan ku patahkan lehermu," ancam Bai Li yang membuat Li Guan meneguk ludah.
"Hahaha, itu tidak mungkin, mana mungkin kau memikirkan hal yang macam-macam tentang adikmu," ujar Li Guan berusaha menghilangkan kegugupannya dihadapan Bai Li.
"Baguslah," ujar Bai Li santai.
"Baiklah, hari sudah semakin sore, sebaiknya saya bergegas pulang," ujar Li Guan, "paman, bibi terimakasiha tas keramahan kalian, senag sekali dapat bertemu anda."
Tuan dan nyonya Feng mengangukkan kepalany seraya tersenyu, " sama-sama, sampaikan salamku pada tuan Li," ujar Tuan Feng sembari berdiri ingin mengantarkan kepulangan Li Guan.
"saya pamit dulu, salam buat putri kecil," ujarnya yang mendapatkan pelototan Bai Li.
Li Guan segera kembali ke apartementnya sebelum diamuk Bai Li. Di apartementnya, entah kenapa ia teringat si putri bungsu keluarga Feng. Ia memegang dadanya yang sedikit terasa sesak dan tidak nyaman, seperti menahan sedih tapi tidak tau asal dari kesdihannya.
"Kenapa aku merasa familiar dengan nya? dan kenapa aku merasa ikut sedih saat melihatnya?" batin Li Guan yang semakin merasa ketidaknyamanan perasaannya. "ah sudahlah, sebaiknya aku tidak usah memikirkannya terllau jauh, bisa-bisa leherku patah beneran nanti," ujarnya mencoba mengabaikan kegelisahan hatinya.
__ADS_1