
"Bang!!, Lion mohon Bang, lepasin Lion". Ucap Liondra yg sudah ada di dalam mobil bersama Leon dan teman teman nya.
"Diem!, jangan nyusahin gua!". Balas Leon, matanya tetap fokus pada kemudi, seakan tidak perduli pada adik nya.
"Adek cantik nurut ya sama kita, ga sakit kok malah enak, Udah itu dapet duit". Ucap teman Leon.
"Trus duit nya kasih ke kita!, Ahahahahah!!!". Lanjut teman Leon yang lainnya.
Di Bar.
"Jagain adek gua, jangan sampe lepas". Ucap Leon sambil menatap tajam kearah Lion.
"Siap, udah sana lo!. Panggil si Mammy". Ucap salah satu teman Leon. Setelah itu Leon pergi menuju pintu yang nampak tersembunyi.
5 menit kemudian.
Leon membuka pintu mobil. "Ikut gua sini!". Leon menarik tangan Lion.
"Sakit bang". Ringis Lion yang terpaksa ikut keluar mobil.
"Leon ini anak nya?". Tanya Mammy.
"Iya Mammy". Leon mengiyakan.
"Cantik sih, tapi kok nangis gitu?". Tanya Mammy.
__ADS_1
"Berhenti nangis Lion". Ucap Leon pelan sambil mengeratkan pegangan nya di lengan Lion, sedangkan air mata Lion semakin mengalir di pipi nya.
"Yaudah yaudah, kamu bawa aja ke ruangan 103. Disana udah ada yg nungguin". Ucap Mammy tanpa peduli keadaan Lion. Ia langsung pergi begitu saja, sedangkan Leon dan Lion diantar oleh bawahan Mammy.
"Silahkan masuk, dan untuk kamu!. JANGAN MASUK!". Ucap bawahan Mammy yg hanya mengizinkan Liondra saja dan langsung menatap tajam Leon.
"Hahah, baik bos ini saya bakal langsung pulang". Ucap Leon segan.
"Bang!!". Teriak Liondra saat didorong paksa masuk.
Saat pintu tertutup, Liondra kembali menangis, kini ia menumpahkan semua kesedihannya sambil berteriak teriak. Ia menangis sambil menatap orang yang mungkin umurnya seumuran dengan almarhum ayah nya. Apakah malam ini..
"Sudahlah jangan menangis nak". Ucap nya dengan nada dingin. Sungguh ia bingung bagaimana cara menenangkan seorang anak gadis.
Liondra hanya diam, sesekali terdengar suara sesenggukan dari tangis yg berusaha ia tahan.
Kali ini Liondra langsung berani memelototi mata lawan bicaranya. "Bagaimana bapak bisa tau?". Tanya Liondra.
"Tidak penting, bisakah kau hapus air mata mu?. Aku benci sekali melihatnya". Hal itu membuat Liondra langsung mengusap air mata nya.
"Saya Aga Adyata, apa kau mengenal keluarga Adyata?". Aga kembali berucap.
Liondra menggeleng, "Persis seperti yang istri ku ucapkan, kau memang bodoh". Ucap Aga.
"Om, darimana Om tau ayah saya?". Tanya Liondra.
__ADS_1
"Saya tau semua tentang kamu. Intinya saya punya permohonan dan kamu harus mengabulkan nya". Ucap Aga.
"Kenapa saya harus mengabulkan nya?". Tanya Liondra.
"Karna saya mem-, ahh tidak, ini karna kamu membutuhkan saya". Ucap Aga.
"Saya membutuhkan bapak?". Tanya Liondra.
"Untuk keluar dari sini". Aga melanjutkan.
"Bapak akan menolong saya?!". Tanya Liondra antusias.
"Iya, jadi ikuti semua kemauan saya". Ucap Aga.
"Satu syarat". Ucap Liondra.
"Astaga anak ini, kamu mau saya tolong tidak?". Tanya Aga merasa kesal.
"Saya mohon!". Ucap Lion.
"Baiklah!, cepat katakan". Ucap Aga.
"Asalkan kemauan bapak tidak menyentuh saya, saya akan mengikuti kemauan bapak". Ucap Liondra.
Aga memutar bola mata malas, "Itu tidak akan pernah terjadi".
__ADS_1
"Baiklah, jadi apa kemauan bapak?". Tanya Liondra sedikit tenang.
"Menikahlah dengan anak laki-laki saya!". Aga berucap tegas.