
Kak Furqan menunjuk rumah di samping rumah nenek yang bahkan hampir tidak terlihat karena terhalang panggung.
"Bi Ima gak punya anak?" tanyaku.
"Belum mungkin. Dia baru nikah setahun lalu," jawab Kak Furqan.
Aku menoleh sedikit terkejut mendengarnya. "Dia nikah diusianya udah 35 tahun Neng," lanjut Kak Furqan.
Tidak lama dari itu, Adzan dhuhur pun berkumandang. Acara dihentikan sementara untuk istirahat dhuhur.
"Kamu sholat gak?" Tanya Kak Furqan.
"Sholat lah, kan muslim Kak," jawabku.
"Gak salah sih jawabannya," gumamnya pelan.
"Yaudah yuk masuk dulu! Sholat dulu," ajaknya. Aku mengangguk sambil mengikutinya masuk ke dalam.
Ibunya Kak Furqan terlihat sudah menangis keluar dari kamarnya. "Loh Mamah kenapa nangis?" Tanya Kak Furqan terkejut.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya. Tangannya di tahan oleh Kak Furqan sebelum dia mendapatkan jawaban dari Ibunya.
"Mamah kenapa?"
"Mamah tadi kelepasan nampar Bi Ima," ungkapnya.
Mata Kak Furqan terbelalak mendengarnya. Sebelumnya, Ibunya tidak pernah bersikap sampai seperti itu.
"Emangnya kenapa Mah? Pasti ada alasannya Mamah sampe marah kayak gitu," tanya Kak Furqan melanjutkannya.
"Dia bilang kalau kamu dan Nur anak yang gak sopan. Mamah juga udah capek di bikin babu sama dia," ujar Ibu Kak Furqan.
"Mamah gak usah nangis lagi, Bi Ima emang pantes di kasih pelajaran kayak gitu," ucap Kak Furqan.
Ibunya hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi untuk segera berwudhu. "Emangnya Mamah selama ini bantu-bantu di rumah nenek gimana Kak?" Tanyaku penasaran.
"Dia bantu-bantu sampe malem bahkan kurang tidur beberapa hari ini. Tapi Bi Ima dengan enaknya hanya mengatur semua orang yang bekerja di sana termasuk Mamah," ungkap Kak Furqan.
"Dia kenapa bertingkah kayak gitu?" Tanyaku heran. "Kok ada orang kayak gitu ya!" Gumamku pelan setelahnya.
"Dia nikah sama anggota kepolisian beda sama Kakaknya yang nikah sama buruh, makanya merasa paling tinggi. Padahal suaminya aja baik," jawab Kak Furqan. Aku mengangguk paham mendengarnya.
Setelah berwudhu, Kak Furqan menyuruhku untuk sholat di kamarnya karena Ica tidak membuka pintunya. Sepertinya dia ketiduran.
"Gak apa-apa kan kalau sholatnya di kamar Kakak?" Tanya Kak Furqan sedikit canggung.
Aku mengangguk mengiyakan, "Gak apa-apa Kak, asal Kakaknya gak ikut masuk aja." Dia terkekeh mendengarnya.
Sajadah yang sudah terpasang di lantai dengan mukena di atasnya sudah disiapkan Kak Furqan sebelumnya.
Dia meminjam mukena Ibunya untukku sholat. Aku tersenyum lalu segera melaksanakan sholat.
Setelahnya, sembari melipat mukena dan sajadah. Terlihat beberapa foto masa kecil Kak Furqan yang terpajang di kamarnya.
"Lucu banget dia waktu kecil," Aku tersenyum melihat foto masa kecilnya.
Bahkan fotonya bersama Kak Daffa pun masih ada. Aku tersenyum melihatnya hingga keasikan berdiam diri di kamar.
__ADS_1
Toktoktok....
"Neng udah selesai belum?" Tanyanya dari luar.
"Iya Kak sebentar, pake kerudung dulu," jawabku buru-buru memakai kerudung lalu keluar dari kamarnya.
Kak Furqan sudah terlihat menunggu di depan pintu kamarnya. Aku tersenyum manis melihat Kak Furqan karena mengingat foto-foto masa kecilnya tadi.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Kak Furqan.
Aku menggelengkan kepalaku, "Enggak, Kak Furqan gemes aja waktu kecil."
Matanya terbelalak ketika sadar foto-foto kecilnya masih terpajang saat aku masuk. "Kamu liat semuanya?" tanya Kak Furqan.
Aku mengangguk mengiyakan, "Emangnya kenapa? Gak boleh ya?" tanyaku beruntun.
"Bukan gak boleh, malu aja," jawabnya pelan.
Aku terkekeh mendengarnya, "Gak usah malu, kan wajar kalau masih kecil pake Pampers," ujarku sembari mencubit pipinya.
"Mau es doger gak?" Tawarnya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangguk karena menyukainya, "Emangnya dimana ada pedagang es doger?".
"Tuh," tunjuknya ke depan rumah.
Ica terlihat sedang berdiri dengan pedagang es doger. "Loh tadi dia bukannya tidur?" Tanyaku.
Kak Furqan terkekeh mendengarnya, "Dia kalau sama makanan langsung bangun mau nyenyak gimanapun."
Aku ikut terkekeh mendengarnya, "Yaudah yuk keluar beli!" Ajak Kak Furqan.
"Bapak Kak Furqan kok gak keliatan sejak tadi? Aku kan belum ketemu sama dia," tanyaku.
"Orang Bapak di luar kota, dia gak pulang Neng," jawab Kak Furqan.
"Loh jadi tadi Kak Furqan bilang mau bantuin Bapak dulu, bohong?" Tanyaku. Dia mengangguk menjawabnya.
"Kalau Kakak bilang mau ngasih pelajaran sama Bi Ima, pasti kamu gak izinin kan?" Tutur Kak Furqan. Aku tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.
"Kak Nur kalau gak ada Kak Furqan juga sering-sering dong main ke sini. Biar Ica ada temen main," kata Ica.
"Emangnya dia gak sibuk kayak kamu yang main game seharian," sindir Kak Furqan pada adiknya sendiri.
"Iya kapan-kapan pasti main ke sini," jawabku. "Atau Ica aja yang main ke rumah Kakak," sambung-ku.
"Emangnya boleh Kak?" Tanya Ica.
"Bolehlah, masa gak boleh. Pulang sekolahkan deket ke rumah Kakak tuh, kamu bisa mampir dulu," ujarku.
"Siap, nanti main deh ke rumah Kakak," ucapnya tersenyum.
Sorenya, setelah cukup lama bermain di rumah Kak Furqan. Aku izin untuk pulang pada Ibunya dan Ica.
"Padahal nginep aja di sini," ucap Ibunya.
"Lain kali aja Mah. Mamah gak ada yang nemenin soalnya di rumah," ucapku.
__ADS_1
"Emangnya Bang Daffa sama istrinya kemana Nur?" Tanya Ibunya mengenal Bang Daffa.
"Bang Daffa kan pindah sementara ke rumah mertuanya Mah. Soalnya Kak Asya lagi hamil muda," ungkap-ku.
"Ya ampun, Alhamdulillah udah hamil," senang Ibunya Kak Furqan.
"Yaudah Mah, kalau gitu Nur pamit dulu ya!" Pamit-ku sembari bersalaman padanya.
Kak Furqan kembali mengantarkan pulang. "Kak Furqan berangkat laginya kapan?" Tanyaku di tengah perjalanan pulang.
"2 hari lagi," jawabnya singkat.
"Terus pulang laginya kapan?" Tanyaku.
"Gak tau, Kakak gak bisa nentuin sendiri," jawabannya membuatku sedikit sedih.
Sesampainya di rumah, Aku langsung turun dan mengucapkan terima kasih padanya. Selama perjalanan tadi aku menahan air mataku agar tidak terjatuh.
"Hey kenapa?" Tanya Kak Furqan.
Aku menggelengkan kepalaku, "Gak mungkin kalau gak kenapa-napa kayak gini," ujar Kak Furqan.
"Gak tau, Neng cuman sedih aja," jawabku.
Dia tersenyum manis mendengarnya. "Neng dengerin Kakak," pintanya sembari menatap mataku.
"Kakak lagi ngajuin pindah tempat kerja ke tempat yang gak terlalu jauh dari sini. Setidaknya, Kakak bisa pulang sebulan sekali dengan biaya yang murah," ungkap Kak Furqan.
"Beneran Kak?" Tanyaku menatapnya.
Dia mengangguk mengiyakan, "Tapi jangan terlalu berharap banyak ya! Soalnya ini baru pengajuan aja," ucap Kak Furqan.
"Udah jangan sedih lagi! Kakak pulang dulu ya!" Pamitnya.
Aku mengangguk mengiyakan lalu melambaikan tangan padanya.
Sewaktu masuk ke rumah, Mamah sudah terlihat duduk di sofa ruang tengah. "Assalamualaikum Mah," salamku.
Dia menoleh, "Kamu udah pulang Nur," ucapnya dengan senyuman yang menyeringai.
"Iya Mah, Nur ke kamar duluan ya!"
Aku merasa sedikit takut melihat senyum Mamah barusan. "Mamah senyumnya agak serem gitu, dia juga gak jawab salam aku. Tumben!".
Tiba-tiba panggilan masuk ke ponselku dari Mamah.
"Mamah ngapain telepon? Orang dia di depan kamar," gumamku pelan.
Aku mengangkat teleponnya, "Assalamualaikum Mah."
"Waalaikumsalam Nur,"
"Mamah kenapa telepon segala? Tinggal ke kamar Nur aja padahal," ujarku.
"Justru Mamah telepon karena Mamah gak bisa ke kamar Nur. Ini Mamah lagi di jalan sama Nenek sama Bibi juga. Mau anterin Nenek berobat di pengobatan alternatif yang deket sama tempat kerja Kakek kamu dulu," ungkap Mamah.
JLEB....
__ADS_1
Aku terdiam mendengar pernyataan Mamah.