Jodohku Ternyata Sahabat Kakakku

Jodohku Ternyata Sahabat Kakakku
13


__ADS_3

Aku dan Kak Furqan melapor untuk menginap ke Pak RT. Setelahnya, kita langsung tidur karena malam sudah semakin larut.


Keesokan paginya,


Suara ketukan pintu terdengar cukup kencang dari luar kamar Ica. Aku terbangun lalu beranjak membuka pintunya.


Tidak sadar jika sekarang aku menginap di Rumah Kak Furqan. Dengan piyama yang kusut serta rambut yang terlihat acak-acakan.


Aku membuka pintunya, terlihat Kak Furqan memakai kaos santainya dengan celana pendek yang dia kenakan semalam.


"Mau ngapain sih pagi-pagi gini?" tanyaku.


Dia menaruh telapak tangannya dipuncak kepalaku, "Sayang ini dimana emangnya?" tanya Kak Furqan.


Mataku berputar melihat sekeliling rumah yang asing di mataku. Aku baru sadar setelah kembali menatap Kak Furqan yang sudah terkekeh melihatku.


Aku menepis tangannya lalu menutup kembali pintu kamar Ica. "Gila aku! Kan ini di Rumahnya Kak Furqan," gumamku sembari menutup seluruh wajah karena malu.


toktoktok....


"Neng buka lagi!" pinta Kak Furqan.


"Mau ngapain? Neng malu,"


Kak Furqan terkekeh mendengar ucapanku. "Gak apa-apa, gak usah malu Neng. Buka lagi ayo cari sarapan dulu!" ajak Kak Furqan.


Aku langsung memakai kerudungku, kembali membuka pintu kamar dengan wajahnya cemberut.


Dengan gregetnya, dia mencubit pipiku sambil tersenyum. "Gemes banget sih."


"Ini baru jam 6 pagi Kak, masa mau sarapan jam segini," pungkas ku.


"Ya emangnya kenapa? Kan sambil jalan-jalan pagi dulu," jawabnya.


"Masa pake celana pendek gitu!" protes ku.


"Emangnya kenapa? Toh udah biasa pake celana gini," ujarnya.


"Pergi aja sendiri sana kalau gitu, aku gak mau ikut," ucapku melipatkan kedua tangan di dada.


Dia menahan tawanya, "Yaudah iya Aku ganti celananya," setujunya.


Setelahnya, Kita jalan-jalan pagi di sekitaran Rumah Kak Furqan. Beberapa tetangga menyapa kita berdua.


"Ini kita kayak pengantin baru gak sih!" bisiknya.


Aku mendelik padanya lalu menyikut perutnya pelan. Sepulang jalan-jalan pagi, Kita membeli 4 bungkus bubur untuk Ica dan Ibunya Kak Furqan juga.


Aku dan Kak Furqan makan terakhir karena bersih-bersih dulu. Sedangkan Ibunya Kak Furqan dan Ica memilih sarapan lebih dulu karena akan mengantar Ica ke sekolah lalu pergi ke pasar.


Kita makan berdua di teras karena tidak enak di dalam rumah hanya berduaan. Takut jika harus didatengin Pak RT dengan warga lagi.


Mobil polisi baru saja masuk ke halaman Rumah Nenek Bi Ima. Aku menoleh penasaran siapa yang turun dari mobilnya.


"Siapa tuh Kak?" tanyaku sembari menunjuk mobil polisi yang terparkir.

__ADS_1


"Oh itu suaminya Bi Ima," jawab Kak Furqan santai.


Mataku terbuka sepenuhnya setelah melihat sosok Suami Bi Ima yang baru saja turun dari mobilnya. "Pak Yuda," celetukku.


"Kamu kenal sama Om Yuda?" tanya Kak Furqan.


Mataku menoleh pada Kak Furqan tercengang, "Dia Suaminya Bi Ima? Serius?" tanyaku beruntun.


"Iya Neng, emangnya kenapa sampe kaget gitu?" tanya Kak Furqan.


Aku bergeser untuk duduk lebih dekat dengan Kak Furqan. "Kak Furqan, dia tetangga Neng," bisikku.


Kedua alis Kak Furqan bertautan bingung. "Gimana tetangga kamu? Dia orang Bandung tau," ujar Kak Furqan.


"Dia tetangga aku, Kak Furqan. Kalau gak percaya tanyain aja sama Bang Daffa," ucapku.


Mata kita berdua terus memperhatikan Bi Ima yang menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kamu gak salah orang kan?" tanya Kak Furqan memastikan.


Aku menggelengkan kepala, "Enggak Kak, beneran dia tetangga aku. Namanya Yuda kan?" tanyaku dianggukinya.


"Dia udah punya istri tau Kak. Bi Ima gak tau?" tanyaku sedikit pelan.


Lagi-lagi Kak Furqan menoleh terkejut padaku. "Serius kamu? Dia ngakunya gak pernah pacaran sama sekali loh Neng," ucap Kak Furqan.


"Kak Furqan, anaknya Pak Yuda bahkan udah ada yang Sekolah loh," ungkap ku.


"Jadi dia selingkuh sama Bi Ima?" tanya Kak Furqan. Aku mengerdikkan bahuku tidak tahu.


Siangnya, Mamah sudah kembali ke rumah. Aku segera meminta Kak Furqan untuk mengantarku pulang.


Tidak lupa, berpamitan pada Ibunya Kak Furqan juga. "Makasih ya Mah, udah mau nampung Nur semalam kemarin," ucapku sembari bersalaman.


"Kamu ini kayak sama siapa aja, gak usah sungkan."


"Nur pulang dulu ya Mah, salam sama Ica," ucapku berpamitan.


Kak Furqan segera mengantarku untuk pulang. Sesampainya di depan rumah, "Makasih ya udah anterin Neng," ungkap ku setelah turun dari motornya.


"Kalau ada apa-apa hubungi Kakak lagi ya!" pintanya diangguki olehku.


"Masuk rumahnya salam dulu, nanti ada yang begituan lagi kalau asal masuk," sambungnya.


Kak Furqan terkekeh melihat wajahku yang ditekuk. Lagi-lagi dia mencubit pipiku greget.


"Udah ya Kakak pulang dulu!" pamitnya lalu pergi.


Aku langsung masuk ke rumah, Mamah sudah menungguku di sofa ruang tengah. sama persis saat aku melihatnya kemarin, bahkan dengan baju yang sama.


Dengan mata yang masih tertegun, tangan yang mulai bergetar menatapnya. "Ngucapin salam Nur kalau masuk," protesnya.


Aku menghela napas mendengar protesnya. Setidaknya itu benar-benar Mamah.


"Kamu kenapa sih Nur?" tanyanya sembari menatapku aneh.

__ADS_1


"MAMAH..." teriakku sembari menghambur pada pelukannya.


Mamah segera melepaskan tanganku bingung, "Kamu kenapa sih?" tanyanya.


"Gak apa-apa kok Mah," jawabku tersenyum.


"Gimana nginep di Rumah Kak Furqan?" tanyanya dengan sedikit tatapan nakal.


"Apaan sih Mamah. Gak ada apa-apa, yang ada aku didatengin sama Pak RT katanya ada warganya yang protes," ucapku.


Mamah tertawa mendengarnya. "Udah suka sama Kak Furqan sekarang?" tanya Mamah kembali usil.


"Gak tau. Udah ah Nur mau masuk dulu ke kamar," ucapku langsung kabur begitu saja.


Pagi harinya,


Aku pergi ke toko buku, mencari beberapa novel yang akan aku baca untuk dijadikan referensi.


Iya, Aku menjadi seorang penulis di sebuah platform yang cukup terkenal. Baru belajar, tapi bukan berarti tidak ada harapan bukan?.


Awalnya Aku menghubungi Kak Furqan untuk mengantarku. Tapi ternyata pagi ini dia ada urusan sebentar dan memutuskan untuk menyusul saja.


Aku sedang berjalan sendirian dengan santainya, sembari menikmati aroma bau buku yang tercium di sekelilingnya.


Tiba-tiba bahuku ditepuk seseorang dari belakang, "Nur," panggilnya.


Sontak aku langsung menoleh pada sumber suara. Mulutku membisu melihatnya. Dia laki-laki yang pernah berada di hidupku.


Dia Septian....


"Septian," gumamku memanggil namanya.


"Masih inget aku ternyata," ucapnya tersenyum.


"Kamu lagi cari buku?" tanyanya.


"Iyalah mau cari apa lagi kalau di sini," jawabku sedikit jutek.


Aku langsung melengos begitu saja meninggalkannya, tapi Septian terus mengikuti di belakang.


Dia menahan tanganku setelah cukup lama menghindar, "Nur ayo kita mulai lagi dari awal!" pintanya.


Aku segera melepaskan tangannya, "Maksudnya dari awal?".


"Iya kita pacaran lagi atau kita langsung menikah aja aku udah siap kok," ujarnya dengan percaya diri.


Aku mendengus kesal mendengarnya, "Percaya diri banget sampe ngajakin aku nikah."


"Kamu juga gak punya pacar kan?" tanyanya.


"Iya aku gak punya pacar," ucapku. Kak Furqan yang baru saja akan memanggilku langsung menghentikan langkahnya tertegun. Dia langsung kembali setelah mendengar itu.


"Tapi aku punya calon suami," sambung-ku. Tapi Kak Furqan tidak mendengar itu.


"Jadi stop gangguin aku. Sekalipun aku gak punya siapa-siapa, aku gak bakal tertarik sama kamu lagi," ucapku langsung pergi dari toko buku.

__ADS_1


Sebagus apapun kamu mengembalikan keutuhan setelah retak bahkan hancur, akan tetap ada yang tersisa walaupun hanya sedikit dan hampir tidak terasa.


__ADS_2