
Setelah membuatkannya kopi, aku duduk di sampingnya tidak terlalu jauh. "Silahkan dinikmati Tuan," ucapku menaruh kopinya di atas meja.
Kak Furqan terkekeh mendengarnya. Dia mencicipi kopinya lalu mangut-mangut. "Enak banget kopinya, apalagi sambil memandang kamu," tuturnya manis.
"Dih gombal terus," ujarku mendelikkan mata.
"Ini orang rumah pada kemana?" tanyanya karena rumah sepi.
"Kak Asya tadi siang pulang ke rumahnya dulu, terus Mamah lagi di rumah Nenek, Bapak lagi kerja, Bang Daffa juga belum pulang kerja," ungkap-ku dengan detail.
Dia mangut paham mendengarnya, "Ini gak apa-apa di dalem berduaan?" tanyanya merasa tidak enak.
"Terus suruh siapa masuk kalau gak enak di dalem?" tanyaku.
"Tadi kamu suruh aku masuk," jawabnya. "Di luar aja yuk ngobrolnya! Gak enak soalnya," ajaknya sembari membawa gelas kopinya keluar.
Aku hanya diam kebingungan mulai pembicaraan darimana. "kenapa diem? Biasanya bawel," tanya Kak Furqan.
"Bingung aja mau ngomongin apa," jawabku.
Kak Furqan menoleh padaku. "Tentang Septian dulu, kamu udah lupain dia?" tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangguk menjawabnya. "Udahlah, Ya kali belum lupa. Kita udah putus bertahun-tahun."
"Kak Furqan biasanya pulang berapa bulan sekali?" tanyaku penasaran.
"Kenapa emangnya?" tanyanya. "Takut kangen ya sama aku?" Dia tersenyum menggodaku.
"Enggak ya, aku cuman penasaran aja," jawabku berdalih.
"Tenang aja, aku gak bakal selingkuh kaya Septian kok," ucap Kak Furqan begitu saja.
Aku tersenyum mendengarnya. Setidaknya mungkin ucapan Kak Furqan bisa ku pegang untuk saat ini.
Kak Furqan tidak singgah lama di rumah. Kita hanya mengobrol singkat di depan teras. Dia harus segera berangkat karena besoknya ada kerjaan mendadak.
"Hati-hati ya!" pesannya padaku.
Aku terkekeh mendengarnya, "Harusnya aku gak sih yang ucapin itu sama Kak Furqan!" ucapku.
"Kamu juga harus hati-hati dari mata cowok yang jelalatan ngeliat kecantikan kamu," Sebelum pergi dia masih sempat-sempatnya bicara seperti itu.
"Udah ah sana buruan, nanti telat," ujarku menyuruhnya segera pergi. Badanku bisa-bisa panas terus mendengarnya menggombal setiap waktu.
Padahal aku baru saja bertemu lagi dengan Kak Furqan tapi kenapa dia pergi aku merasa kesepian. Apalagi harus menunggu 2 minggu lagi untuk bertemu.
Kak Asya dan Bang Daffa sementara waktu tinggal di rumah orang tuanya Kak Asya karena dia mabuk berat.
Rumah jadi lebih sepi sekarang, hanya aku, Mamah dan Bapak. Setiap harinya, Aku menonton tv, mengecek ponselku berulang kali.
Walaupun setiap malamnya, Kak Furqan selalu menghubungiku tapi rasanya rindu itu ada. Aku mulai merindukannya.
Ini malam ke-7 setelah kita berjauhan. Panggilan masuk dari Kak Furqan terlihat di layar ponselku.
Aku sedang menyiapkan makan malam di dapur. Karena biasanya Kak Asya yang menyiapkannya.
__ADS_1
"Nur ada yang telepon," ucap Mamah teriak dari ruang tengah.
Aku terburu-buru pergi ke kamar untuk menerima panggilannya. "Assalamualaikum Kak Furqan," salamku menerima panggilannya.
"Waalaikumsalam, Lagi sibuk ya?" tanyanya.
"Enggak Kak, lagi masak aja."
"Pantesan tumben angkatnya lama."
"Iya tadi lagi di dapur, hp-nya aku simpen di kamar."
"Masak apa itu? Wanginya sampe ke sini."
Aku terkekeh mendengarnya, "Emang bisa ya wanginya transfer lewat hp?" tanyaku meladeninya.
"Kalau masih sibuk Kakak matiin aja dulu ya! Nanti telepon lagi."
"Temenin aku masak mau gak? Sebentar lagi kok ini juga," pintaku.
Kak Furqan terkekeh mendengarnya, "Bilang aja kalau kangen," sindirnya.
"Ke PD-an banget," sela ku.
Ditengah-tengah obrolan kita, tanganku terkena cipratan minyak yang cukup banyak. Suara rintihan itu bahkan terdengar oleh Kak Furqan.
"Kenapa Neng?" tanyanya dengan panik.
"Gak apa-apa kok A, cuman kecipratan minyak aja dikit. Jadi kaget," ucapku berbohong.
Mamah yang mendengarnya juga langsung pergi ke dapur memeriksa. "Nur kenapa?" tanyanya.
Sembari menunjuk ponselku di atas rak yang tidak jauh dari kompor. Mamah menghampiriku dengan suara yang lebih pelan.
Dia melihat luka bakar di tanganku cukup parah karena mulai memerah. "Basuh dulu terus oles-in salep di kamar Mamah sana!" suruhnya.
"Ini biar Mamah yang lanjutin," ucapnya pelan.
Aku mengangguk pasrah, walaupun tidak tega membiarkan Mamah untuk memasak makan malam.
Aku mematikan teleponnya karena tidak ingin Kak Furqan khawatir lagi mendengar rintihanku yang jelas-jelas perih saat di olesi salep.
6 hari berlalu, luka bakar itu mulai terkelupas bahkan tinggal sedikit lagi. Kak Furqan hari ini pulang bersama dengan keluarga pamannya yang juga tinggal di sana.
Baru saja dia bilang sampai di rumahnya. Suara motornya sudah terdengar terparkir di halaman rumah. Dia mengetuk pintu rumah dengan semangat.
"Waalaikumsalam, sebentar Kak," jawab salamku sembari membuka pintu.
Dia tersenyum padaku setelahnya, "Mau senyum-senyum aja di situ? Atau mau masuk?" tanyaku.
Aku senang dia kembali dengan baik-baik saja. Kak Furqan masuk lalu duduk di kursi ruang tamu.
Aku membawakannya segelas air minum lalu menaruhnya di atas meja. Kak Furqan menatapku tanpa sadar.
"Saking kangennya sampe gak mau berpaling dari aku?" tanyaku.
__ADS_1
Dia tertawa mendengarnya, "Abisnya 2 minggu gak ketemu," keluhnya.
"Kan Video call juga, masih kangen?" tanyaku.
"Itukan beda sama liat langsung Neng," jawabnya. Aku terkekeh mendengar jawabannya.
"Besok jadikan ikut aku di nikahan sepupu?" tanya Kak Furqan.
Aku bingung menjawabnya, tanganku masih terlihat belang saat ini. Walaupun lukanya tinggal yang tertutup lengan baju.
Kak Furqan menatapku bingung. "Jadi gimana? Gak mau ya?" tanyanya beruntun.
Aku tersenyum menatapnya, "Mau kok," jawabku.
Mamah datang menemui Kak Furqan yang ada di ruang tamu bersamaku. Kak Furqan bersalaman padanya, menanyai bagaimana kabar Mamah.
"Furqan mau ajakin Nur undangan ya besok?" tanya Mamah. Kak Furqan mengangguk mengiyakannya.
"Emangnya bisa Nur? Tangannya udah gak sakit?" tanya Mamah keceplosan.
Mataku terbuka sepenuhnya mendengar pertanyaan Mamah. Kak Furqan langsung menoleh padaku penuh pertanyaan.
"Emangnya tangan kamu kenapa Neng?" tanya Kak Furqan.
"Loh, kamu masih belum kasih tau Kak Furqan tentang ini?" tanya Mamah membuatku menggelengkan kepala.
"Kamu jelasin aja deh sama Kak Furqan, apa salahnya juga dia tau kan," usul Mamah lalu izin kembali ke ruang tengah.
Kak Furqan menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Neng, kenapa?" tanya Kak Furqan dengan tutur lembutnya.
Aku membuka sedikit lengan bajuku, terlihat luka-luka bekas siraman minyak panas waktu itu.
Mata Kak Furqan terperanjat melihatnya, "Ini kenapa Neng?" tanya Kak Furqan sembari memegangi tanganku.
"Jangan-jangan ini karena cipratan yang kamu maksud waktu itu?" tanya Kak Furqan menatapku.
Aku hanya mengangguk, tidak berani menatap wajahnya yang terlihat kesal. "Neng, kamu bilang cuman kecipratan waktu itu. Kenapa lukanya bisa sampe segini?" tanyanya khawatir.
"Neng gak apa-apa kok Kak. Waktu itu, Neng cuman gak mau Kak Furqan khawatir aja," ujarku.
"Gak apa-apa gimana? Orang ini lukanya gede," omelnya.
"Udah berobat? Atau diobatin pake apa?" tanyanya mulai melembut kembali.
"Pake salep yang di kasih Mamah," jawabku.
"Lain kali hati-hati! Kan bahaya juga," peringat-nya. Aku hanya mengangguk mengiyakannya.
"Yakin besok bisa ikut undangan?" tanya Kak Furqan malah jadi tidak tega setelah melihat tanganku.
Aku mengangguk yakin menjawabnya, "Yakin Kak, lagian ini tinggal dalem-nya aja kok."
Kak Furqan menatapku dengan tatapan sedihnya. Aku menangkup wajahnya sembari tersenyum. "Gak usah sedih gitu, kan Neng udah gak apa-apa tuh," ucapku menghiburnya.
"Tapi kamu rahasiain ini dari aku," protes-nya.
__ADS_1
"Kan Kak Furqan jauh, kalau nanti tiba-tiba pulang karena aku ngadu. Gimana?" ucapku becanda.
"Lain kali jangan rahasiain apapun ya?" pinta-nya. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.