Jodohku Ternyata Sahabat Kakakku

Jodohku Ternyata Sahabat Kakakku
12


__ADS_3

Aku masih termenung kebingungan dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari tengkuk leher.


Rasa merinding perlahan mulai menghantuiku ketika menatap pintu yang masih tertutup.


Aku segera mengakhiri panggilan Mamah lalu menghubungi Bang Daffa. Tapi teleponnya sama sekali tidak tersambung.


Jalan satu-satunya hanya menghubungi Kak Furqan. Aku segera menghubunginya dengan tangan gemetar.


"Assalamualaikum Neng," salamnya.


"Kak Furqan Hikss...."


Kak Furqan mendengar tangisanku mulai panik. "Neng kenapa?".


"Takut.... hikss..."


"Takut apa Neng?"


"Kak Furqan bisa balik lagi ke rumah gak? Neng takut Kak,"


Dengan rasa bingung dan khawatir Kak Furqan kembali lagi ke rumahku. Padahal dia baru saja sampai di halaman rumahnya.


Aku masih menangis ketakutan di kamar tiba-tiba,


toktoktok....


Mendengar suara ketukan pintu membuatku semakin ketakutan. Takut jika hantu itu pada akhirnya masuk dengan menampakan dirinya lagi.


Padahal bisa saja hantu itu memang sudah berada di kamarku. Suara ketukan itu bahkan mungkin saja hanya ilusiku karena ketakutan.


Tidak butuh waktu lama, motor Kak Furqan sudah masuk ke halaman rumahku. Dia berlari lalu masuk begitu saja karena pintunya tidak terkunci.


"NENG..." panggilnya di depan kamar.


"Kak Furqan," sahutku.


"Iya ini Kakak, Sayang!"


"Beneran Kak Furqan kan?"


"Iya ini Aku,"


Perlahan Aku membuka pintu kamarnya, terlihat wajah khawatir Kak Furqan dengan napasnya yang terengah-engah.


"Kenapa? Ada apa?"


"Tadi ada Mamah di sini, terus tiba-tiba Mamah telepon Neng kalau dia nganter Nenek berobat. Berarti yang pertama kali Neng liat itu bukan Mamah."


Aku masih sesegukan menceritakannya. Kak Furqan menghapus air mataku yang masih basah di pipi.


"Udah ya! Kan Kakak udah di sini,"


"Tapi Neng takut kalau tidur sendirian di sini. Bang Daffa juga gak bisa dihubungi," kataku masih terisak dengan tangisan.


Kak Furqan membawaku untuk duduk di sofa ruang tamu. Dia juga merasa tidak enak jika harus menemaniku semalaman.


Tidak mungkin, itu akan menjadi boomerang untuk kita berdua. Apalagi mulut tetangga yang akan dengan cepat menyebarkan hal yang lain.


"Gimana kalau nginep di rumah Kakak aja?" usulnya.

__ADS_1


"Emangnya gak bakal apa-apa?" tanyaku.


"Setidaknya di sana ada Ica sama Mamah. Kalau Kakak yang nginep di sini, bisa jadi fitnah nanti," jelasnya.


Mamah menghubungiku kembali setelah dia sampai di tempatnya.


"Assalamualaikum Mah," salamku sedikit berbeda.


"Waalaikumsalam, Eh kenapa Nur? Kok suaranya kayak abis nangis gitu," tanya Mamah.


"Nur gak apa-apa kok Mah, Kenapa telepon lagi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Nur malam ini Mamah gak bisa pulang dulu, kata yang ngobatinnya butuh waktu lama. Jadi di suruh nginep di sini," ungkapnya.


"Nur kalau takut sendirian hubungin Bang Daffa aja suruh nginep dulu di rumah semalem. Besok Mamah pulang kok," sambungnya.


Kak Furqan meminta ponselku untuk berbicara pada Mamah melalui telepon.


"Assalamualaikum Mah, ini Furqan," salamnya.


"Waalaikumsalam Furqan, Oh kamu lagi temenin Nur?" tanyanya.


"Iya Mah, ini Furqan lagi temenin Nur tadi dia hubungi Furqan katanya sendirian di rumah, takut. Abangnya juga gak bisa dihubungin tadi, makanya ini nemenin dulu," ungkapnya.


"Aduh maaf ya Furqan jadi ngerepotin," ucap Mamah tidak enak.


Kak Furqan tersenyum menanggapinya, "Gak apa-apa kok Mah. Sebelumnya, Furqan mau minta izin buat bawa Nur nginep di rumah Furqan aja gimana?" usul Kak Furqan.


Mamah awalnya terdiam, tapi khawatir jika aku harus sendirian di rumah semalaman. Karena ini pertama kalinya, aku ditinggal sendirian di rumah.


"Yakin gak bakal apa-apa?" tanya Mamah.


"Yaudah kalau gitu, Mamah titip Nur dulu ya Furqan," kata Mamah setuju.


"Iya Mah siap."


Mamah mengakhiri panggilannya setelah itu, Kak Furqan tersenyum sembari memberikan ponselnya padaku.


"Sana ambil bajunya, kamu nginep di rumah aku aja," suruhnya.


Aku mengangguk dengan sedikit ragu. Tapi jika harus sendirian di sini semalaman membuatku lebih memilih menginap di rumah Kak Furqan.


Setelah membereskan pakaian untuk tidur dan untuk besok. Kak Furqan membawaku kembali ke rumahnya.


Sesampainya di sana,


Ibu Kak Furqan dan Ica sedang duduk di teras rumah. Ibunya langsung tersenyum lalu menyuruh Ica untuk mengantarku ke kamarnya.


"Kak Nur gak apa-apa kan kalau tidurnya sama Ica?" tanya Ica saat di dalam kamarnya.


Aku tersenyum mendengarnya, "Gak apa-apa dong Ca!".


Di luar, Ibu dan Kak Furqan masih berbincang kenapa Aku bisa mau diajak menginap di rumah Kak Furqan.


"Tadi Nur telepon Furqan sambil nangis, Mah. katanya tadi dia liat hantu yang jadi ibunya," tutur Kak Furqan.


Ibu Kak Furqan mengernyitkan keningnya sedikit tidak percaya. "Mamah gak percaya kan pasti," ucap Kak Furqan dianggukinya.


"Furqan juga awalnya gak percaya tapi waktu masuk ke rumahnya emang kerasa dingin banget. Terus liat dia nangis sampe terisak kayak gitu, gak mungkin kalau cuman khayalan dia," pungkas Kak Furqan.

__ADS_1


Ibu Kak Furqan mulai percaya setelah mendengarkan cerita dari anaknya.


Malamnya, Ibu Kak Furqan mengajakku untuk makan malam bersama. Kita sudah duduk di kursi meja makan bersama.


Baru saja akan memulainya, pintu rumahnya terdengar di ketuk oleh seseorang.


toktoktok....


"Biar Aku aja Mah yang buka," ucap Kak Furqan.


Kak Furqan membuka pintu rumahnya, terlihat Pak RT dengan beberapa bapak-bapak kampungnya.


"Ada apa ya Pak?" tanya Kak Furqan dengan ramahnya pada Pak RT.


"Bapak dapat laporan katanya kamu membawa seorang perempuan ke dalam rumah hingga malam seperti ini," tanya Pak RT.


"Saya emang bawa calon istri saya untuk menginap di sini dan rencananya habis makan malam saya mau lapor ke Bapak," ucap Kak Furqan.


"Tuh Bapak-bapak sudah dengar sendiri bukan, kalau Furqan ini mau lapor sama saya dan perempuan yang dibawa pun calon istrinya," ucap Pak RT pada warganya.


"Kamu juga gak berduaan di dalam rumah kan Furqan?" tanya lagi Pak RT.


"Enggak kok Pak, di dalem ada Mamah sama adik saya," jawab Furqan.


"Maaf sebelumnya Furqan, Bapak-bapak ini takut jika ada yang berzina di kampung kita. Apalagi keluarga kamu ini terkenal dengan baiknya," ucap Pak RT.


Kak Furqan tersenyum mendengarnya, "Gak apa-apa kok Pak, nanti saya sama dia lapor ke rumah Bapak kok."


"Maaf ya Nak Furqan," ucap salah satu bapak-bapak itu merasa bersalah.


"Iya Pak."


Setelah menyelesaikan kesalahpahaman, Kak Furqan kembali duduk di kursi meja makan.


"Ada apa barusan Kak?" tanya Ica penasaran.


"Pak RT dapet laporan katanya Aku sama Neng berzina di dalam rumah," ungkap Kak Furqan.


Ohookkkkk....


Aku tersedak mendengarnya. Kak Furqan langsung mengambilkan air minum lalu mengusap punggungku pelan.


"Pelan-pelan Neng," peringat nya.


"Terus gimana akhirnya mereka bisa pergi?" tanyaku.


"Ya Kakak bilang nanti udah makan malem kita lapor ke sana. Lagian siapa yang berduaan di dalam rumah, apalagi berzina," kesal Kak Furqan tersirat di wajahnya.


"Maaf ya Kak, jadi bikin runyam," ucapku merasa bersalah.


Ibu Kak Furqan tersenyum melihatku menundukkan kepala. "Neng.... Gak apa-apa, lagian kita gak salah ini."


"Tapi tetep aja Mah, nanti takutnya malah jadi omongan tetangga," ujarku.


"Biarin aja mereka mau ngomong apa, toh Pak RT juga tau kalau kalian gak berduaan. Lagian kamu juga tidurnya sama Ica, bukan sama Kak Furqan kan," ucap Ibunya.


Kak Furqan menggenggam tanganku di bawah meja. Sontak aku menoleh padanya, "Gak apa-apa, nanti kita lapor ke Pak RT abis ini. Sekarang lanjutin dulu makannya," ucap Kak Furqan.


Aku mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2