
Kak Furqan membawaku untuk duduk di sofa ruang tamu bersamanya. Dia memberikan segelas air minum agar aku lebih tenang.
"Aku mau pulang aja! Anterin yuk!" pintaku memaksa Kak Furqan.
Raut wajah Kak Furqan terlihat sedih. Entah ketakutan seperti apa yang dia khawatirkan sekarang.
Aku memainkan kaosnya untuk membujuknya mengantarku pulang. Kak Furqan menghela napasnya berat, "Yaudah ayo pulang!" pasrahnya.
Di perjalanan Kak Furqan hanya diam tidak berbicara sedikit pun. Ada sedikit rasa canggung di tengah-tengah kita berdua.
Sesampainya di depan rumah, Aku menatap Kak Furqan setelah turun dari motornya. "Makasih ya Kak udah nganterin pulang," ungkap-ku dianggukinya.
Tangan Kak Furqan segera aku tahan sebelum dia kembali melajukan motornya. "Kak Furqan."
Sontak mata Kak Furqan langsung menatapku. "Kenapa Neng?" tanyanya.
Aku sedikit ragu dengan pertanyaan ini tapi sepertinya lebih baik daripada terus ditunda. "Kak Furqan yakin sama Neng?" tanyaku menatapnya sendu.
Kak Furqan tersenyum lalu menangkup pipiku. "Emangnya apa alasan yang buat Kakak jadi gak yakin sama Neng?" tanya Kak Furqan.
"Kan Neng gak kuliah, gak kerja juga," ujarku. lagi-lagi dia tersenyum mendengarnya.
"Emangnya Kakak permasalahkan itu?" Tanyanya. "Kalau dari awal masalahnya itu, Kakak gak bakal minta Bang Daffa buat nemuin kita berdua," sambungnya.
Aku hanya memasang wajah sendu, mataku kembali berkaca-kaca mendengarnya. Bagaimana bisa laki-laki seperti Kak Furqan mencintaiku sebesar itu.
"Udah ya jangan nangis lagi!" bujuknya. Aku mengangguk mengiyakan.
"Besok main yuk!" ajaknya.
"Kemana?"
"Kemana aja, Ke pantai kek."
"Emangnya gak istirahat? Emang berangkatnya kapan?" tanyaku beruntun.
Kak Furqan menjepit hidungku gemas. "bawel banget sih lucu."
Aku langsung menepis tangannya kesal, "Apaan sih Kak Furqan," protes dengan rasa malu.
Dia terkekeh mendengarnya. "Kalau sama kamu gak perlu istirahat," ucapnya dengan senyum nakal. "Aku besok malem berangkatnya," jawabnya.
Aku mendelikkan mataku mendengarnya. "Besok aku jemput pokoknya," ucapnya. Dia langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawabanku.
Aku mendecak sembari tersenyum melihatnya.
Mamah yang melihat kejadian barusan pun tersenyum meledek. "Yang udah punya pacar gemes banget."
"Apaan sih Mamah," ucapku tersipu malu langsung masuk ke kamar setelah itu.
Pagi harinya,
Rumah sudah heboh karena Kak Asya sakit. Aku langsung mengabari Kak Furqan tidak bisa pergi hari ini karena Kak Asya harus ditemani berobat.
Sementara Bang Daffa semalam tidak pulang karena banyak kerjaan di tempat kerjanya.
Aku sudah siap memakai baju rapih untuk pergi ke rumah sakit bersama Kak Asya.
Sesampainya di sana, Kita menunggu antrian untuk di periksa ke Dokter. Kak Asya terlihat pucat dan sering muntah akhir-akhir ini.
Dengan rasa khawatirku, aku terus menemaninya. "Kak Asya masih mual gak?" tanyaku.
Dia hanya menggelengkan kepalanya. Tidak lama dari itu, Nama Kak Asya dipanggil oleh seorang perawat untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
Aku ikut masuk karena Kak Asya terlihat lemas. Melihat Kak Asya di periksa oleh Dokter membuatku ikut gugup.
"Gimana Kakak saya Dok?" tanyaku.
"Kakaknya gak apa-apa kok. Dia cuman lagi isi," ungkapnya.
__ADS_1
"Isi?" gumamku tidak mengerti.
Dokter itu terkekeh mendengarnya, "Iya isi bayi," jawabnya.
"Ohhh....." ucapku sembari mangut-mangut santai. Mataku langsung terperanjat ketika sadar.
"Kak Asya hamil Dok?" tanyaku dianggukinya.
"Kandungannya jalan 4 minggu. Jadi harus dijaga dengan baik ya!" pesan Dokternya diangguki Kak Asya dengan senyuman yang tidak luntur sejak tadi.
Setelahnya, Aku pergi menebus obat ke apotek. Sementara itu, Kak Asya untuk menunggu di depan saja.
Aku dan Kak Asya segera pulang ke rumah untuk memastikan keponakanku baik-baik saja di perutnya.
Mamah menghampiri kita berdua setelah turun dari mobil yang kita pesan. "Kamu sakit apa kata Dokter?" tanyanya.
Aku tersenyum tanpa menjawabnya begitupun Kak Asya. Mamah semakin kebingungan melihat ekspresi kita berdua.
Aku membawa Kak Asya untuk istirahat di kamarnya. "Kak Asya istirahat dulu aja ya!" pintaku dianggukinya.
Mamah menungguku di depan kamar Kak Asya dengan wajah khawatirnya. "Kakak kamu kenapa Nur?" tanya Mamah.
Aku tersenyum padanya, "Kakak gak apa-apa Mah. Dia lagi hamil," jawabku.
Mamah langsung terdiam mendengarnya. Dia masih mencerna ucapanku barusan. "Mah," panggilku. "Kok malah melamun."
"Ini kamu gak lagi becanda kan?" tanyanya memastikan.
"Enggak Mamah," jawabku. "Ngapain yang beginian dibuat becanda."
Mamah tersenyum senang mendengarnya, "Alhamdulillah Ya Allah."
"Udah ah aku mau ke kamar dulu!" Aku melengos meninggalkan Mamah masuk ke kamar.
Aku baru saja membuka ponselku, terlihat banyak notifikasi pesan dan telepon dari Kak Furqan sewaktu membuat tidak berdering.
TUTTT.....
"Halo Neng,"
"Assalamualaikum Kak Furqan,"
Kak Furqan terkekeh mendengarnya, "Iya waalaikumsalam Neng. Ada apa?" tanyanya.
"Loh kan tadi Kak Furqan yang teleponin Neng, Kok malah balik nanya," ujarku.
"Oh itu, Kakak cuman mau ngabarin kalau jadinya berangkat nanti sore. Mau ketemu dulu gak?" tanyanya.
"Ini nanya mau ketemu dulu atau emang Kak Furqan modus mau ketemu dulu?" tanyaku membuatnya tertawa.
"Ketebak deh," ujarnya. "Jadi gimana? mau ketemu dulu gak?" tanyanya.
"Emangnya nanti waktu nikahan sepupu, Kak Furqan gak bakal pulang?" tanyaku.
"Pulang."
"Yaudah berarti gak usah ketemu aja, kan 2 minggu lagi ini nikahannya."
"Gak bisa gitu, aku bisa kangen kamu banyak-banyak nanti," protesnya.
Aku tersipu malu mendengarnya, "Kangen banyak-banyak maksudnya apa ya Kak?" tanyaku sembari menahan tawa.
"Iya kangen banyak-banyak itu susah sembuhnya," ujarnya.
"Kak Furqan pasti suka genit sama cewek ya?" sangka-ku.
"Loh kenapa fitnah?"
"Bukan fitnah, tapi Kak Furqan banyak gombalnya," ungkap-ku.
__ADS_1
"Itu cuman sama kamu aja Neng. Aku gak punya yang lain," terangnya.
Aku senyum-senyum mendengarnya. "Oh iya, aku mau ngasih tau kalau Bang Daffa bentar lagi bakal jadi Ayah," ungkap-ku.
"Seriusan?"
"Iya Kak, tadi kan aku yang nganter Kak Asya berobat. Ternyata bukan sakit tapi hamil."
"Kita kapan dong?"
"Apanya?"
"Berobat ke dokternya."
"Kan aku gak sakit ngapain ke Dokter?"
"Ah ngajak becanda kamu malah dibenerin." ucapnya.
Aku tertawa mendengarnya, padahal sejak tadi aku mengerti dengan maksud pembicaraan Kak Furqan mengarah kemana.
"Kapan apanya Kak Furqan?" tanyaku.
"Kapan hamilnya?"
"Emang Kak Furqan mau hamil?"
"Tau ah." ucapnya terdengar kesal.
Lagi-lagi aku tertawa mendengar kekesalannya itu.
"Kak Furqan kalah becanda gak sih?" ledekku.
"Awas aja nanti aku bales!" ancamnya.
Mamah teriak dari dapur menyuruhku untuk segera makan karena tadi tidak sempat. "NUR MAKAN DULU NANTI MASUK ANGIN MANJANYA SAMA MAMAH."
Teriakan Mamah tentu saja bisa terdengar oleh Kak Furqan. "Tuh suruh makan tuh sama Mamah," ucapnya.
"Iya emang mau. Tapi Kak Furqan-nya gak matiin terus teleponnya," ujarku menyalahkannya.
"Yaudah sana aku matiin teleponnya, nanti di rumah aja ketemunya. Sekalian pamit sama calon mertua," ucapnya.
"Terserah Kak Furqan. Nur mau makan dulu ya!" pamit-ku lalu mematikan teleponnya.
Aku berjalan menghampiri Mamah yang ada di ruang tengah. "Mamah kalau teriak liat-liat kondisi dong, tadi Kak Furqan denger tuh," protes-ku.
Mamah malah tertawa mendengarnya. "Dia gak bakal benci kamu juga kok," ujarnya.
"Ya masalah Nur malu, Mah," ungkap-ku.
"Udah sana buruan makan aja," suruh Mamah.
Siangnya, Aku baru saja selesai sholat dhuhur. Kak Furqan terdengar mengucapkan salam di depan teras.
Aku langsung membukakan pintu untuknya. "Waalaikumsalam, Eh kok udah ke sini?" tanyaku.
"Emang gak boleh ke sini lebih awal?" tanyanya. Aku tersenyum mendengarnya lalu mempersilahkannya untuk masuk.
"Mau minum apa?" tawarku.
"Adanya apa?" katanya balik bertanya.
"Paling susu atau kopi," ujarku. "Atau mau air putih aja," sambung-ku.
"Yaudah apa aja deh asal dibikinin-nya sama kamu," ucapnya.
"Apaan dong? Masa aku bikinin gitu aja," tanyaku lagi.
"Kopi aja kopi biar melek liat kamu," jawab Kak Furqan.
__ADS_1